
"Sebaiknya kita pulang Cintya.." ucap Melky yang baru saja sampai ke meja Cintya dan Nova
Cintya melihat jam yang melingkar dipergelangani tangannya. Sudah menunjukkan angka sepuluh malam. Sudah terlalu lama mereka disini, dan sudah saatnya untuk pulang. Fikirnya "Oke.." jawab Cintya sambil berdiri dari kursinya.
"Apa kalian sudah mau pulang?" tanya Daniel yang baru sampai.
Cintya menoleh "Iya bang, kami udah terlalu lama disini." jawab Cintya
"Ayo Cin..." Melky meraih pergelangan tangan Cintya tanpa permisi dengan Daniel dan Nova.
"Aku akan mengantar kalian kedepan" ucap Daniel dengan mata yang tertuju kepergelangan tangan Cintya yang masih dipegang oleh Melky. Dadanya terasa sesak melihat orang yang dicintainya dipegang oleh orang lain.
"Aku juga akan mengantar kalian" saut Nova sambil berdiri dari kursinya.
"Aaa... Tidak perlu. Kalian berdua duduk saja disini." tolak Melky.
"Iya.. Kami bisa keluar sendiri kok. gak akan kesasar jugak." ucap Cintya menimpali sambil tertawa untuk menutupi perasaan hatinya yang berantakan.
"Mmm.. Tapi..." belum siap Daniel bicara, Melky langsung menarik lengan Cintya dan membawanya pergi.
Cintya hanya bisa pasrah saat Melky menggenggam tangannya didepan Daniel. Ia hanya tidak ingin mengacaukan rencana Nova. Namun baru berapa langkah mereka berjalan, Cintya merasa bingung saat Melky membawanya bukan kearah pintu keluar.
"Mel, pintu keluarnya disana.." ucap Cintya yang sudah menghentikan langkah kakinya.
"Iya aku tahu.. Tapi sebelum pulang, kita harus nyapa orang yang udah ngundang kita dong. Gak baik kita pulang gitu aja. Biar mereka tahu kalau kita hadir." alasan Melky meyakinkan Cintya.
"Hiiisss... Apaan sih Melky, aku tahu itu cuma alasanmu kan? Kau mau ngapain jumpain mereka??... aku gak mau ah." tolak Cintya. Bagaimana kalau ia gugup saat berada dihadapan Wahyu dan Lea. itu akan terlihat sangat buruk pastinya. Dan ia tidak ingin itu terjadi pada dirinya.
"Sebentar doang Cintya.." paksa Melky. Cintya pun akhirnya mengikuti kemauan Melky dengan detak jantung yang sudah tidak berarturan. "haissss... Dasar Melky sialan.." gerutu Cintya
__ADS_1
"Mau kemana mereka? " tanya Daniel yang merasa bingung saat mengetahui Cintya dan Melky bukan menuju ke pintu keluar. Nova hanya mengangkat kedua bahunya. Tanda kalau ia juga tidak tahu.
Wahyu yang saat itu sedang duduk manis di singgasananya, langsung berdiri saat melihat Cintya dan Melky menuju kearahnya. Sementara Lea menampilkan wajah tak percayanya kalau Cintya benar-benar sangat berani untuk menemuinya sampai kepelaminan.
"Kenapa wajah kalian tegang seperti itu?" ucap Melky sambil menatap kedua mempelai yang ada dihadapannya dengan expresi tengilnya. Melky faham betul dengan expresi wajah Wahyu dan lea saat ini yang tampak tidak senang dengan kehadirannya.. "Kami hanya ingin menyapa.." lanjutnya lagi dengan senyuman menyeringai. "Bukan begitu sayang?.." Melky merangkul bahu Cintya sambil menatap Cintya dengan penuh Cinta. Cintya membalas Melky dengan senyuman manis. Bagaimanapun ia tidak boleh terlihat menyedihkan didepan dua manusia yang bahkan tidak pantas disebut manusia olehnya.
Tatapan Wahyu tidak lepas menatap kearah Melky yang masih merangkul Cintya. Walaupun ia sendiri yang sudah mencampakkan Cintya demi Lea, tapi tidak bisa dipungkiri kalau ia sedikit merasa tidak suka kalau Melky merangkul mantan pacarnya itu. Ditambah lagi, Cintya tampak sangat cantik hari ini. Sial...
" aku tidak mau mendengar ucapan apapun darimu." jelasnya dengan nada yang cukup tegas dan dingin.
"Waaahhh... Kalian yang mengundang kami kemari, tapi kalian tidak mau mendengar ucapan dari kami? Aneh.." balas Melky
"lalu apa alasan kalian megundang kami hmmm?"
Wahyu hanya diam tidak menimpali. Walaupun sebenarnya ingin sekali ia memberi tinjunya kewajah Melky saat ini, tapi ia tidak mau terlihat bodoh diacaranya sendiri dengan membuat kerusuhan. mencoba menghela nafas untuk mencoba mengontrol emosi. Namun lagi lagi....
"Ayo lah bro, terima ucapan dari kami" ucap Melky sambil memukul bahu Wahyu. Wahyu tampak semakin geram.
"Kami hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian kok... Dan semoga kedepannya kalian akan diberikan keturunan yang baik dan menjadi orang tua yang baik juga. Lagipula, benar kata Melky. Bukannya kalian yang mengundang kami yah?? Apa salah kalau kami mengucapkan selamat?..." giliran Cintya yang berbicara dengan nada santai dengan tangan yang masih menggandeng Melky. Ia harap aktingnya tidak terlalu kelihatan.
"Ternyata kau wanita yang cukup berani ya Cintya... Aku kira selama ini Wahyu memacari seorang pecundang,ternyata aku salah. " balas Lea dengan menyunggingkan sebelah bibirnya "walaupun sangat terlihat jelas kalau kau terlalu memaksakan diri untuk datang kemari dengan berdandan seperti sekarang ini... Tapi okelah... Aku terima ucapan darimu, walau aku tahu kalau ucapanmu itu tidak mungkin tulus keluar dari mulutmu." sambungnya lagi
Cintya terkekeh mendengar kata-kata Lea yang terkesan menghina dirinya. "Waahhh... Kalian benar-benar pasangan sejati.. Pasangan yang paling pandai menilai orang lain hanya dengan melihat dari penampilan luar saja.... (menatap sinis) Tapi sayang, kalian sama-sama tidak pandai menilai pasangan kalian masing-masing. Sungguh pasangan yang sangat ironis."
"Aku tahu kalau kau hanya iri dengan kebahagiaan kami." balas Lea tak mau kalah.
"Ayolah... Jangan rusak riasanmu itu dengan menampakkan sifat burukmu." Ejek Melky kepada Lea yang terlihat sedang mengejek Cintya.
"Apakau bilang?" Lea tidak terima atas hinaan Melky terhadapnya. Namun dengan cepat Wahyu menahan Lea dengan menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian pergi.." usir Wahyu.
Cintya menyeringai "Kami memang sudah mau pergi. Kau tidak perlu hawatir..... Dan aku harap ini pertemuan terahir kita. Kau mengerti?" ketus Cintya sambil melemparkan tatapan tajam kearah Wahyu yang juga sedang menatapnya.
"Kau memang sangat keren sayang..." Melky memberi sanjungan kepada Cintya didepan Wahyu.
"Tapi sebelum kami benar-benar pergi kami ingin meninggalkan kenangan untuk kalian berdua." ucap Melky
"Apa maksudmu.." tanya Wahyu yang tidak mengerti maksud dari ucapan Melky.
"Pak, bisa ambilkan foto kami?" panggil Melky kepada fotografer yang selalu stay di dekat pelaminan., dan dibalas anggukan oleh yang dipanggil. Memang sudah tugasnya. Fikirnya..
Fotografer pun sudah bersiap untuk mengambil gambar.
"Aku tidak mau foto dengan mereka." bisik Lea kepada Wahyu yang sudah mengerti maksud ucapan melky.
"apa kau fikir aku mau huh?... Kalau kau tidak mengundangnya, kita tidak harus melakukan semua ini." balas Wahyu dengan nada marah.
Lea terdiam merasa bersalah. Mau tidak mau ia harus melakukannya untuk saat ini. Toh nanti ia bisa meminta fotografer untuk menghapusnya. Fikirnya..
"dasar bodoh.. Apa kau fikir aku sudi menyimpan foto kalian..? Aku akan segera menghapusnya tepat setelah kalian pergi dari hadapanku. gumamnya sinis
"Oke.. Mari kita ambil foto." ucapnya dengan percaya diri. " lagipula kalian adalah tamu kami, jadi kalian memang harus meninggalkan kenangan kalian disini, agar kami bisa memperkenalkan kalian dengan anak-anak kami nanti."
"Woaahh.. Kau benar-benar sangat bijak untuk memperkenalkan kami dengan anak-anak kalian. Tapi sayangnya kami tidak ingin anak-anak kalian sampai mengenal kami. Karena bisa berdampak buruk untuk masa depan kami." balas Melky nyelekit.
"Sebenarnya Kami hanya ingin foto berdua saja disini. (merangkul Cintya kembali) karena dekornya cukup bagus. Dan juga dengan harapan kalau kami akan segera menyusul kepelaminan seperti kalian sekarang ini." sambungnya lagi.
"Apa kalian bisa menyingkir sebentar..." usir melky dengan menggeser posisi mempelai dengan dirinya dan Cintya dan mulai berpose.
__ADS_1
Cintya hanya bisa mengulum bibirnya menahan tawa yang sedari tadi sudah ingin pecah karena merasa sangat senang dengan apa yang dilakukan Melky kepada kedua pasangan ramjadah yang baru saja tersingkir dari singggasananya. Kali ini Cintya benar-benar merasa apa yang dilakukan Melky sangatlah KEREN...