CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Lembaran baru


__ADS_3

Lima tahun kemudian


Melky yang baru pulang dari tugas luar kota langsung memasuki sebuah rumah. Karena kinerjanya yang cukup bagus kini dia sudah menjabat sebagai supervisor yang sering bepergian keluar kota.


"Tania.. Daddy pulang. Dimana kau?" teriaknya sambil berjalan .


"Mommy.. Daddy pulang." gadis kecil berumur empat tahun langsung melepas dekapan mommynya saat mendengar suara Daddynya.


"Daddy.." teriak anak perempuan kegirangan sambil berlarian kearahnya.


Dengan senyum lebar Melky menunduk seraya merentangkan tangannya menangkap tubuh kecil itu lalu menggendongnya. "Waaah.. Kesayangannya Daddy makin berat aja." godanya.


"Itu karena mommy selalu menyuruhku makan terus." ucap Tania manyun.


"Tania memang harus banyak makan sayang.. Biar cepat besar. Ntar kalau Tania udah besar, Daddy akan bawa kemanapun Tania mau." ucap Melky berjanji.


"Daddy janji?" Tania kesenangan


"Janji." Melky memberikan kelingkingnya dan dibalas oleh Tania dengan tawa yang tak luntur dari bibir mungilnya.


Melky membawa gadis kecilnya duduk di sofa ruang tv.


"Apa Daddy capek?"


"Hmmm.." Melky mengangguk manja. "Tapi kalau dapat kiss dari kesayangannya Daddy kayaknya capeknya Daddy bakalan hilang deh." menunjuk pipinya sendiri.


Gadis kecil itu pun langsung menciumi seluruh wajah Melky. "Apa Daddy uda gak capek lagi?" tanyanya polos.


"Tentu dong.." Melky memasang wajah bersemangat didepan Tania. "Makasih ya kesayangannya Daddy." memeluk sayang tubuh kecil Tania.


"Daddy.. Daddy.. Besok Tania ulang tahun. Daddy gak lupakan bawa hadiah yang Tania mau." memasang wajah menggemaskan.


"Mana mungkin Daddy lupa sayang. " mencubit kedua pipi cubby itu.


"Mana Dad.. Tania mau lihat." melompat kegirangan diatas sofa.


"Mmm... Kan Tania ulang tahunnya besok. Besok aja yah Daddy kasinya." godanya.


Tania cemberut tidak mendapatkan apa yang dia mau.


Melihat wajah kecil itu cemberut Melky merasa sangat puas berhasil menggoda gadis kecil yang begitu sangat ia sayang.


"Daddy bercanda sayang.. Hadiahnya masih didalam mobil. Nanti akan Daddy kasih setelah Daddy dapat sarapan dari mommy mu." tertawa senang sambil menoel hidung Tania.


"Yeyy..." Tania kembali lompat-lompat kegirangan.


"Mana mommy mu sayang? Apa masih belum bangun?" tanya Melky menarik Tania duduk dipangkuannya.


"Udah. Mommy lagi mau mandi tadi." ujarnya. Melky hanya manggut-manggut.


Beberapa menit berlalu.


Cintya keluar dari kamarnya dan ia melihat Melky yang sedang menemani Tania mewarnai sambil tiduran dikarpet bulu depan tv. Bibirnya tersenyum melihat interaksi anaknya dengan Daddynya.


Cintya pun memilih untuk bergabung. "Waahh.. Banyak sekali pensil warnanya. Siapa yang belikan?" tanyanya pada Tania seraya mengusap lembut kepala anaknya.


"Daddy.." jawab Tania semangat.


"Oya?.. Kalau gitu bilang apa sama Daddy?"


"Tadi Tania uda kiss pipi Daddy." ucap Tania polos

__ADS_1


"Ooh begitu." Cintya tertawa.


"Kau baru pulang Mel?" beralih pada Melky yang masih asik ikut mewarnai.


"Hmm... Kenapa kau lama sekali mandinya. Aku sudah lapar." ucapnya manja.


Cintya tertawa. "Iya.. Iya.. Aku akan memasak sekarang." ingin bergerak pergi, namun ia tersadar akan sesuatu. Cintya menatap wajah Melky dari dekat. "Ada apa dengan matamu Mel?" terkekeh.


"Aaahhh ini." ikut terkekeh


"Sekarang warna mata Tania dan Daddy sama Mom. Tania suka." ucapnya girang.


"Kalian berdua memang sefrekuensi. " Cintya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil beranjak pergi menuju dapur.


Hanya butuh dua puluh menit untuk Cintya selesai membuat sarapan dan kemudian menatanya dimeja makan.


"Sarapannya sudah siap. Ayo sarapan dulu.." Cintya mengajak Melky dan Tania untuk sarapan.


"Akhirnya.." Melky bergerak duduk. "Sayang.. Ayo kita sarapan." menggendong Tania dan membawanya ke meja makan.


"Sayangnya Daddy mau makan sendiri atau Daddy suapi?"


"Kata Mommy Tania udah gede, jadi harus makan sendiri." jawabnya.


"Uluh-uluh... Kesayangannya Daddy pintar sekali." Melky tidak berhenti gemas dengan gadis kecil yang sedari tadi bersamanya.


"Siapa dulu Mommynya?" sela Cintya membanggakan diri.


"Ck.. Ck.. Ck.. Apa kau tidak punya rumah huh? Kenapa kau selalu makan disini?" ucap seseorang yang baru saja ikut bergabung dimeja makan. Dan orang itu bukan lain adalah Daniel. Suami Cintya dan juga papinya Tania.


"Abang sudah tau jawabannya. Jadi aku gak perlu jawab lagi kan?" balas Melky meledek.


Cintya hanya bisa mengelus dada. Karena pemandangan seperti ini terus terjadi setiap paginya. Punya suami yang pencemburu dan sahabat yang tidak mau mengalah membuatnya harus extra sabar. "Makanlah sayang." menyodorkan sarapan kehadapan suaminya. Daniel pun mulai melahap sarapannya.


"Sayang.. Mulai besok Daddy gak akan makan sama Tania lagi. Daddy dimarahin sama papinya Tania kalau makan disini terus. " Melky mencari simpati dari Tania.


"Papi jangan gitu dong sama Daddy.. Nanti Tania nangis nih." memasang wajah ingin menangis.


Melky tersenyum bahagia mendapat pembelaan dari princes kesayangannya.


"Teruskan aja begitu. Terus bela Daddymu itu." cibir Daniel kesal.


"Mommy..." Tania mengadu pada mommy nya sudah hampir menangis.


"Ck." Cintya berdecak kesal pada suaminya. "Nanti mommy akan memarahi papi. "


"Kenapa kalian semua membelanya." Daniel semakin kesal karena istri dan anaknya tidak ada yang membela dirinya.


"Kaaaak.. Kemejaku yang biru dimana?" teriak Tama yang berlarian menuruni tangga.


"Ini lagi satu..." gerutu Daniel.


"Eh maaf Tam.. Kayaknya kakak lupa masukkan ke pengering semalam." jawab Cintya merasa bersalah. "Kau pakai yang lain aja yah." lanjutnya.


"Eheeeee..." Tama frustasi sambil berlalu naik kembali.


Cintya malah tertawa melihat ekspresi kesal adiknya. "Maaf Tam." teriaknya.


"Tam cepetan.. Meetingnya jam sembilan." teriak Daniel mengingatkan.


Baru saja Daniel selesai mengingatkan, Tama sudah kembali turun dengan keadaan yang sudah rapi.

__ADS_1


"Apa kau ini siluman huh? " ucap Melky yang shock melihat kecepatan Tama dalam bersiap.


"Aku adalah siluman ular..." Tama malah cosplay menjadi siluman ular.


Tania tertawa melihat kerandoman om nya. Sementara Daniel dan Cintya hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Om.. Om.. Besok beneran ada badutnya kan?" tanya Tania semangat.


"Tentu dong sayang.. Om udah siapin tiga badut sekaligus." menunjukkan tiga jarinya.


"Yeeyyyy..." Tania kegirangan. "Papi.. Om Tama mau bawa badut tiga ke ulang tahun Tania." melapor.


"Papi masih ngambek." jawabnya Daniel ketus sambil terus memakan sarapannya.


"Mommy..." lagi-lagi Tania mengadu.


"Tania kasih kiss deh ke Papi, pasti Papi gak ngambek lagi." ucap Cintya lembut.


Tania mengikuti saran mommy nya. "Papi.. Tania mau kiss Papi biar gak ngambek. " menarik lengan Daniel agar menunduk.


"Papi gak mau. Pasti tadi Tania udah kasih kiss luan sama Daddy Tania itu kan?.."


Tania melirik Daddynya yang sedari tadi tertawa penuh kemenangan.


"Benerkan?" tanya Daniel lagi. Tania mengangguk cemberut. "Yaudah.. Ngapain Tania mau kasih kiss ke Papi. Dan satu lagi, papi gak jadi ngasih adik buat Tania." ancamnya.


"wuaaaaa mommy..." Tania nangis kejer.


"Iihhh apaan sih sayang.." Cintya memukul lengan Daniel yang sepertinya puas sekali mengerjai gadis kecilnya itu.


"Gak apa-apa sayang. Kalau papi Tania gak mau ngasih adik buat Tania, biar nanti Daddy yang ngasih." bujuk Melky mendiamkan.


"Cari binik aja gak bisa, gaya-gaya mau buat anak." cibir Daniel mengejek.


"Tania maunya adiknya keluar dari perut mommy." ucapnya masih terisak.


"Oh kalau itu akan lebih gampang lagi sayang." ucap Melky dengan santainya tertawa.


Tok.. Daniel mengetok kepala Melky menggunakan sendok makannya. "Enak aja lu.." sarkasnya tak terima.


"Awww sayang, kepala Daddy benjol" Melky pura-pura nangis memegangi kepalanya.


"Aisss ramenya... Mendrama terosss tiap pagi..." cerca Tama tak habis fikir dengan kehidupan dirumah besar milik kakak iparnya itu.


"Papi nakal.. Tania mau tinggal sama Daddy aja." semakin menangis.


"Uluh-uluh sayang.. Cup.. Cup.. Papi cuma bercanda sayang." Daniel membawa Tania duduk dipangkuannya dan menghapus air mata yang mengalir deras dipipi anak tersayangnya itu. "Jangan nangis lagi oke? Papi minta maaf." memeluk sambil mengusap lembut kepala gadis kecilnya yang masih menangis.


"Nunggu nangis dulu baru puas. " ketus Cintya kesal.


Daniel tidak perduli dengan omelan istrinya. Yang penting dia senang. Fikirnya. Membuat gadis kecilnya menangis setiap pagi adalah kesenangannya. Walau pada akhirnya dia juga yang mendiamkannya dengan berbagai cara yang cukup merepotkannya.


Begitulah keceriaan sekaligus kegaduhan yang tercipta setiap kali Melky dan Daniel berjumpa. Dan begitu pula dengan tangisan Tania yang selalu menjadi akhir dari perselisihan antara papi dan daddynya.


Pelangi hanya akan keluar selepas hujan berhenti. Pepatah itu yang selalu dipegang teguh oleh Cintya dimasa-masa sulitnya dulu. Dan kini ia memetik hasil dari keteguhannya itu. dikelilingi oleh orang-orang tersayang membuatnya bisa lebih baik lagi dalam menjalani kehidupan dan sedikit demi sedikit bisa mengikhlaskan apa yang pernah terjadi padanya.


Kini hanya ada senyuman di wajah cantiknya bersama dengan kebahagian yang selalu menghiasi setiap relung hati.


Cintya merasa sangat beruntung bisa membuka lembaran baru bersama dengan orang-orang tersayang.


Masih bersambung 😉

__ADS_1


__ADS_2