
"Sebenernya kalian kenapa sih? gak biasanya kalian aneh kekgini!" Kanya mulai curiga melihat kedua temannya yang tidak bersuara sedari tadi.
Cintya tidak memperdulikan ucapan Kanya. Ia malah asik dengan ponselnya selepas ia selesai makan. Expresinya juga sangat kecut. Sementara Dini masih seperti tadi, ia masih kelihatan gugup dan canggung. Sesekali ia melirik Cintya yang sama sekali tidak mau menoleh kearahnya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Memang selalu seperti ini keadaannya, kalau Cintya sudah mulai membahas soal masalah hubungannya yang kandas dengan Tama. Mereka akan saling diam sehari dua hari. Setelah itu mereka akan baikan lagi. Ya... begitu lah.
"Gak ada yang mau ngomong ni?" Kanya semakin kesal karna ucapannya tidak ada yang menyambut.
"Yauda lah, aku balek luan aja. Garing tau gak!" Kanya berdiri, lalu berlalu meninggalkan meja.
"Aku ikut kan..!" Cintya malah ikut menyusul Kanya, dan meninggalkan Dini sendiri dimeja.
Dini hanya bisa menghela nafas sambil terus menatap kearah punggung kedua sahabatnya itu sampai akhirny menghilang ditelan tangga eskalator.
"Kenapa sih kak Cintya gak bisa gak ngebahas masalah itu. Padahal dia sendiri uda tau ujungnya bakal kek gimana. Dieman lagi, dieman lagi.." Dini ngedumel sendiri sambil menjatuhkan kepalanya diatas meja dengan beralaskan tangannya yang dilipat.
"Aku harus gimana.. kenapa sih Tam, kau mesti nongol lagi.."
"Aku gak tau harus gimana lagi"
"Aku gak mau pertemananku sampek bubar, kalau aku cerita.."
Dini terus mengoceh, sampai ia tidak sadar kalau ada orang yang sedari tadi duduk didepannya.
"Biar aku yang cerita.." ucap seseorang, dan Dini hafal betul suara itu.
Dini mengangkat wajahnya saat dia mendengar suara yang menyahuti ucapannya.
"Melky..." ucapnya terkejut.
"Iya aku Melky.. belom ganti nama." Balasnya ketus
"Ngapain kau disini?" Dini juga tak kalah ketus
"Duduk.." ucapnya
__ADS_1
"Kan masih banyak meja kosong. Ngapain duduk disini. Sana... Sana ... " usirnya, namun yang diusir tidak bergeming.
"Heh.. aku juga gak mau ya duduk disini. Karna yang ku dengarnya kau tadi ngoceh ngoceh gak jelas makanya aku kemari."
"Yaudah hus sana.. sana.., aku lagi pingin sendiri." Dini kembali menjatuhkan kepalanya kemeja seperti tadi.
"Uda jumpa sama Tama?" tanya Melky, namun Dini tidak menjawab.
"Mendingan kau cerita deh Din ke Cintya. Ketimbang kekgini terus kan! emang kau gak capek? lagian ini kan bukan salahmu.... bukan salah ku juga. Cuma si Tama aja tu yang gak percayaan jadi orang." lanjutnya lagi
"Lagian aku yakin, Cintya pasti akan percaya sama mu. Tama sama Cintya itu beda Din. Jenis kelaminnya aja beda. Bukannya biasanya wanita itu lebih bisa mengerti." saran Melky, namun tidak juga digubris oleh Dini.
"Huffhh..." Melky hanya bisa menarik nafas kesal sambil menyenderkan tubuhnya kesandaran kursi
"Wah... wah... wah..., jadi kau nyari kambing hitam?" ucap Tama sambil tersenyum sinis. Ia berdiri dibelakang Melky dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya.
Tama yang awalnya ingin menemui seseorang di food court, malah menemukan Dini dan Melky sedang duduk berdua disana. Sebenarnya dia ingin tidak memperdulikan dua orang yang pernah membuatnya sakit hati. Sampai-sampai ia memilih minta di rolling jauh agar tidak pernah bertemu lagi dengan dua orang yang sangat menjijikkan dimatanya. Namun ia Mendengar Melky menyebutkan namanya, dan mengatakan kalau dialah yang bersalah karna tidak mau mempercayai penjelasan Dini dulu. Makin mendidih saja dia, dan langsung berbalik menghampiri meja.
Melky langsung meloleh kebelakang, dia tidak menyangka kalau ada Tama disana. Sedangkan Dini kembali mengangkat wajahnya, saat mendengar suara seseorang yang sudah dua tahun tidak pernah menyapanya.
"Dasar manusia gak ada otak. Kalian yang munafik, malah seenaknya nyalahin orang" emosi Tama semakin memuncak. Nafasnya sampai naik turun menahankan amarah.
Dini berdiri lalu menggebrak meja. Brakk...
Melky sampai terlonjak kaget. "Apaan sih Din, gebrak-gebrak meja, bikin kaget aja." ucapnya kesal sambil memegang dadanya.
Dini tidak memperdulilan omelan Melky. Ia malah menatap tajam kearah Tama yang saat ini juga menatap tajam kearahnya. Sudah saatnya ia harus meluruskan masalah dua tahun silam.
"Cukup ya Tam. Apa kau bilang? kau bilang kami gak punya otak? apa bukan seharusnya aku yang ngomong kekgitu samamu! kau yang gak punya otak...." Dini murka
"Kalo kau punya otak, kau pasti mau dengar penjelasan orang lain, bukannya malah main langsung marah-marah."
"Terus kau bilang apa lagi tadi? kau bilang kami munafik? dari mana kau bisa bilang kami munafik hah?" Habis sudah kesabaran Dini.
__ADS_1
Sedari dulu sebenarnya ia ingin meluapkan apa yang ada dihatinya. Namun Tama tidak pernah mau mendengarkan penjelasannya. Bahka saat berselisih jalan saja, Tama langsung membuang mukak, atau bahkan ia langsung berbalik arah menjauh. Lalu berselang seminggu Tama sudah dirolling ke Batam, dan tidak hanya itu, ia pun memblokir no Dini dan Melky. Sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
"Anggap aja aku memang gak punya otak. Tapi aku masi punya hati. Dan aku gak pernah main-main dengan hati, apa lagi sampai menyakiti hati orang lain."
"Sementara kau apa! punya otak tapi gak punya hati." ucap Tama dengan penekanan.
Plakk.... Dini melayangkan satu tamparan tepat di pipi kanan Tama.
"Kau... beraninya..." Tama semakin murka, dengan wajah yang semakin merah padam ia ingin membalas perbuatan Dini kepadanya.
Melky langsung berdiri saat Tama ingin mendekat kearah Dini.
"Kau mau apa? santui bro.. " ucap Melky ingin melerai.
Tama beralih menatap kearah Melky. Dengan tangan yang sudah mengepal, ia menatap kearah Melky yang seperti sedang mengejeknya.
Bugg... Melky terjatuh ke lantai setelah mendapat bogem mentah dari Tama.
"TAMA..." teriak Dini, lalu ia bergerak kearah Melky yang terduduk dilantai sambil mengelap sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jarinya.
"Kau gak apa-apa Mel?" tanya Dini, dan Melky hanya mengangguk. "Kau udah kelewatan Tam." teriak Dini penuh amarah kearah Tama.
"Dia memang pantas mendapatkan itu." ujar Tama sambil berlalu.
Food court yang tadinya sepi, kini menjadi ramai karna ulah Tama. Sukur saja tidak ada teman kerja mereka yang berada disitu. Kalau ada, bisa-bisa mereka bakal dipanggil oleh atasan mereka karna pasti bakalan ada yang mengadu.
"Bisa berdiri Mel?" ucap Dini
"Hm.." jawabnya sambil mencoba berdiri.
Dini pun memapah Melky untuk membantunya berdiri .
"Aku gak apa-apa.." ucapnya lirih, dan Dini mengangguk sambil mengusap air matanya. Air mata yang sedari tadi ditahannya sudah tidak dapat dibendung lagi.
__ADS_1
Melihat Dini menangis, Melky menarik tubuh Dini kedalam pelukannya. Diusapnya kepala Dini dengan lembut "Nangis lah, jika itu bisa membuatmu lega." ucapnya.
Mendengar ucapan Melky, Dini semakin menjadi menangisnya. Bahkan ia sudah tidak perduli dengan tatapan orang banyak yang sedang menatap kearah mereka. Hatinya benar-benar sakit saat mendengar ucapan orang yang bahkan sampai saat ini masih ada dihatinya mengatakan kalau dia tidak punya hati.