
Pagi-pagi sekali Dini sudah ada didepan rumah Melky dengan membawa satu rantang berisi lauk buatan mamanya. Makanan faforite Melky kalau ia sedang berkunjung kerumah Dini. Ia masih terlalu khawatir dengan keadaan temannya itu. Bahkan semalaman ia sampai tak bisa tidur karena hal ini.
Berulang kali ia mengetuk pintu rumah Melky namun tidak mendapatkan jawaban. Ia pun memutuskan untuk langsung masuk, Syukur saja pintunya tidak dikunci. Didalam ia mencoba mencari keberadaan pemilik rumah. Tapi sepertinya tidak ada orang. "Kemana tante Nora?" gumamnya.
Namun sesaat terdengar samar suara seseorang seperti sedang menangis. Dan suara itu berasal dari dalam kamar Melky. Dini pun langsung bergerak mendekat. Dan benar saja..
"Tan.." Dini langsung masuk kekamar dan meletakkan rantang bawaannya diatas nakas. "Ada apa?" mendekati tante nora yang terlihat sedang menangis disamping ranjang Melky sambil memegang piring dengan isi yang tak tersentuh.
Mama Melky menoleh masih sambil menangis " Dia masih belum mau makan juga Din."
Dini terenyuh melihat kondisi Melky yang begitu sangat menyedihkan." Tante sebaiknya keluar.. Biar aku yang membujuknya." mama Melky mengangguk lalu membiarkan Dini mencoba membujuk Melky.
"Apa kau mau seperti ini terus? Bangun dan makanlah.. ." bujuk Dini. Namun Melky tidak memberi respon apapun. Melky masih meringkuk ditempat tidurnya dengan mata yang terbuka namun tatapannya begitu kosong. "Apa kau tahu kalau kak Cintya kemarin sempat tidak sadar selama tiga hari?" menghela nafas " Tapi kau tidak perlu khawatir, karena sekarang ia sudah sadar. Apa kau tidak ingin menjenguknya? Ia pasti sangat senang kalau melihatmu." berkata panjang lebar tanpa memberi tahu keadaan Cintya yang sebenarnya. Melky masih belum memberi respon.
"Aku tidak tahu apa yang sudah kau alami Mel.. Tapi setidaknya bangkitlah untuk kak Cintya. Sekarang yang dia butuhkan adalah kita. Teman temannya.. " Melky menyeka air matanya yang terjatuh begitu saja saat mendengar kata-kata Dini. "Aku tahu kau sangat mencintainya, tapi kau tidak boleh seperti ini Mel. Bagaimana kalau kak Cintya melihatmu begini.. Dia pasti akan semakin sakit."
"Apa dia baik-baik saja?" Melky membuka suaranya.
Dini tersenyum lega " Hmm.. Dia ingin berjumpa denganmu. Jadi sebaiknya kau segera makan agar kau bisa sembuh dan bisa menjenguknya dirumah sakit." setidaknya ia berbohong demi suatu kebaikan.
"Kau berbohong.. Aku tahu seperti apa keadaannya.. Dia tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi." kata-kata Melky membuat Dini terdiam.
"Sebenarnya apa yang kau ketahui Mel? Apa kau berada di lokasi kejadian saat itu?" Dini merasa heran dengan Melky yang seakan-akan tahu kondisi Cintya tanpa ia pernah menjenguk Cintya.
"Aku melihatnya Din.. Dia sudah seperti mayat hidup.." menangis lemah.
Dini menutup mulutnya. "Kau benar-benar ada disana?" merasa tak percaya. Dini mengira kalau Melky melihat langsung kejadian yang menimpa Cintya.
__ADS_1
"Dia sudah seperti mayat hidup Din..." kata-kata itu terus berulang keluar dari mulut Melky
Waktu itu..
Melky melajukan motornya dengan kencang menuju kealamat yang dikirim dari pesan Cintya.
"Tempat apa ini? Kenapa gelap sekali.." membuka helm dan meletakannya di atas motor, lalu ia segera turun. ia mengecek lagi gps yang ada di ponselnya. Alamatnya sudah benar, tapi ia tidak menemukan apa-apa. Hanya ada jalan yang gelap.
Karena tidak bisa melihat apa-apa Ia mencoba memberi penerangan dari ponselnya. Namun ia malah menemukan sebuah pesan dari Cintya yang ntah kapan masuknya. Dibukanya segera pesan itu. Didalamnya tertulis setelah kau sampai, masuklah kedalam hutan. Kau akan menemukan sebuah gudang. Cintya ada disana. Bergegaslah.
Tak mau berlama-lama, Melky langsung masuk kedalam hutan. Dan benar saja, ia menemukan sebuah gudang. Walau sedikit ragu, iapun segera masuk dengan sedikit mendorong pintu yang memang sudah terbuka sedikit.
Alangkah terkejutnya ia begitu masuk dan menemukan Cintya yang sudah setengah telanjang sambil terduduk dilantai dan juga Daniel dan Reza yang sudah tak bergerak sama sekali.
"Cintya.." panggilnya lemah sambil mendekat. Cintya sama sekali tak merespon "Apa... yang terjadi? Apa semua ini? Kenapa kau...?" melihat kondisi Cintya yang hampir tidak berbusana membuatnya tak bisa berkata-kata. Ia terjatuh lemas disamping Cintya. Menangis... Melky menangis tidak tertahan "Ada apa ini Cintya.. Jawab aku.." berteriak kepada Cintya, namun Cintya hanya diam saja. "Oh Cintya... Siapa yang melakukan ini semua.." hati Melky terlalu sakit melihat wanita pujaan hatinya.
"Haloo.. Tolong.. tolong datanglah kemari. Tolong." ucapnya panik. Terdiam mendengar sautan dari sebrang " Disini ada dua orang yang sudah tidak bergerak, dan satu lagi..." menangis tersedu menatap Cintya " sepertinya dia..." tidak mampu melanjutkan kata-katanya " aku mohon cepatlah datang kemari sekarang." meletakkah ponselnya dilantai dengan sambungan telfon yang masih menyala
"Cintya.. Kenapa kau diam saja?" mengguncang tubuh Cintya. "Apa kau kedinginan?" membuka jaketnya lalu menutupi tubuh Cintya yang masih terus menunduk menatap Daniel."Cintya sadarlah.. Aku mohon.. Aku mohon.." meraih tubuh Cintya kepelukannya. "Oh Cintya... Ya ampun.." tak habisnya Melky menyesali dirinya. Padahal kejadian ini bukanlah kesalahannya, tapi ia merasa sangat menyesal karena tidak bisa melindungi Cintya.
"Apa dia sudah meninggal?" suara lemah Cintya terdengar. Melky melepas pelukanny dan menatap Cintya
"Kau tidak apa Cin? Apa kau bisa memberitahuku apa yang terjadi?" menggenggam tangan Cintya
"Kau..." menatap melky dengan tatapan lemah dan sangat terlihat kesedihan dimatanya. " Apa Kau yang melakukannya? Kau membunuhnya?" bertanya dengan suara pelan
Melky menggelengkan kepalanya cepat. " Apa.. Apa maksudmu Cintya? Aku baru datang. Apa kau tidak tahu siapa yang melakukan ini semua?"
__ADS_1
Sssttt...Cintya meletakkan jari telunjuknya dibibir "Kau bisa membuatnya bangun.. kekasihku sedang tidur." seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya. Diambilnya jaket Melky yang ada ditubuhnya lalu menyelimuti Daniel. "Apa kau kedinginan sayang? Aku disini.. jadi jangan khawatir." menepuk-nepuk pelan dada Daniel. Seperti sedang menidurkan seseorang.
Melky terkulai lemah merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Nafasnya terasa sesak. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Wanita yang dicintainya sudah kehilangan akal sehatnya.
~
"Ayolah Mel, kenapa kau malah menangis? Apa tidak bisa kau menceritakannya padaku?" Dini merasa sangat sedih melihat keadaan Melky yang seperti mengalami depresi berat.
Melky tidak bisa menceritakannya kepada orang lain. Mulutnya seperti terkunci. Dia tidak sanggup mengulang kisah itu lagi. Sebuah kenyataan yang sangat pahit baginya.
"Oh melky.. Ya ampun.." Dini terduduk disebelah Melky sambil ikut menangis. "Kenapa semua ini bisa terjadi." lirihnya sambil menutup wajah dengan tangannya.
Dilain tempat.
Disebuah ruangan VVIP rumah sakit di Bandung
Saat mendengar insiden yang menimpa anaknya dari kepolisian, Wijaya langsung terbang menggunakan helikopter miliknya. Hati wijaya sangat hancur begitu melihat kondisi anaknya yang sudah babak belur dan tak sadarkan diri diranjang ICU rumahsakit.
Akibat pemukulan itu, Daniel menderita cedera yang cukup serius. Ia mengalami pendarahan diotak dan juga beberapa tulang rusuk dan kakinya patah. Sehingga Membuatnya koma tak sadarkan diri.
Keesokan harinya, Wijaya memutuskan untuk membawa putranya kembali kebandung untuk dirawat dirumah sakit miliknya dengan menggunakan helikopter khusus membawa pasien.
"Sampai kapan dia akan terus seperti itu? Ini sudah hampir seminggu. Kau seorang dokter bukan? Setidaknya lakukan sesuatu untuk menyadarkan anakmu.." Delena merasa sangat sedih melihat anaknya yang tak kunjung sadar dari komanya. Ia terus menangis dan memaksa suaminya yang memang seorang dokter juga sekaligus pemilik rumah sakit untuk segera menyadarkan anak laki-lakinya. "Aku mohon lakukanlah sesuatu." tubuhnya terkulai lemah dilantai sambil terus menangis
"Kau tahu aku sudah melakukan semuanya. Kita hanya bisa menunggu sayang." ucap Wijaya menenangkan istrinya. Namun semua ucapan itu hanya seperti sebuah kebohongan bagi Delena
"Aku mohon sadarkan anakku.." memukuli dada suaminya
__ADS_1
Wisnu dan Daniah yang juga ada diruangan itu hanya bisa terdiam tak bisa berkata-kata melihat kesedihan ibunya..