CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part 21


__ADS_3

"Kakak.." Tama berteriak dari jauh memanggil Cintya yang terlihat sedang bengong berdiri di depan conternya.


Cintya menoleh kearah suara yang sangat familyar dipendengarannya. Tama sudah mendekat mendatanginya. Namun pandangan mata Cintya beralih kearah seseorang yang berada dibelakang Tama. Daniel.


Cintya menautkan kedua alisnya. Ngapain ni dua perusuh nongol kemari.


"Ngapain kemari.." tanyanya sambil memandang kearah Daniel.


" Bang Daniel mau beliin aku baju." Tama yang menjawab dengan wajah kegirangan.


Mata Cintya beralih kepada Tama, lalu menarik tangan Tama masuk kedalam conternya, menjauh dari Daniel.


" Kau tuh apa-apaa sih.. bisa-bisanya mintak dibeliin baju sama bang Daniel. Gak tau diri banget sih kau dek, udah tidurnya numpang dirumah dia, sekarang kau malah mintak di beliin baju." ucapnya pelan namun dengan nada kesal.


"Jangan bikin malu napa dek.."


"Apaan sih, tiba-tiba ngomel gak jelas. orang bang Daniel sendiri yang nawari mau beliin aku baju. Aku udah nolak dengan segenap jiwa dan raga, tapi dianya maksa. Yauda mau gimana lagi.." protesnya


"Hidihh... kayak betol aja." cibirnya


"Memang aku yang ngajak Tama kemari. Kasian dia cuma bawa baju sedikit." ucap Daniel yang sudah berada di belakang Cintya.


Cintya balik badan saat mendengar suara Daniel yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya.


"Gak usah bang, biar dia beli sendiri aja. Lagian salah dia, kenapa bawa baju sedikit."


" Gak apa-apa." balasnya sambil tersenyum.


Cintya merasa terhipnotis dengan senyum Daniel yang sedang memandangnya. Terlihat sangat tulus dan sangat manis. Ntah kenapa, jantungnya tiba-tiba berdegup sangat kencang. Bersamaan dengan itu hatinya seperti mengeluarkan bunga-bunga.


Tama menjentikkan jarinya kehadapan dua orang yang sedang asik saling pandang.


"Woiii... ada orang lain disini." tegurnya


Cintya langsung tersadar dan mengalihkan pandangannya kearah lain. Sementara Daniel masih terus memandangnya dengan senyum yang semakin melebar.


Cintya jadi salah tingkah. "Kenapa dia liatin aku terus sih.. mana senyumnya manis banget lagi.." batin Cintya seraya melirik kearah Daniel.


"Ehem.. ehem.." Cintya tampak berdehem untuk menetralkan suaranya agar tidak terdengar gugup. Karna sungguh, Cintya sangat gugup saat ini. Bahkan tangannya terasa sangat dingin.


" Kau mau cari baju yang gimana.." Cintya beralih kepada Tama.


"Aku mau cari kemeja formal, biar bisa sekalian dipakek untuk kuliah." jawab Tama sambil memilih baju yang ada di pajangan.

__ADS_1


"Abang gak beli juga?" Cintya bertanya tanpa memandang orang yang ditanya seraya memilihkan baju yang cocok untuk adiknya. Dia akan semakin gugup jika harus memandang Daniel lagi.


"Boleh deh.. Tolong carikan yang pas untuk aku yah."


"Mau yang gimana, and mau warna apa?" kali ini Cintya kembali memandang wajah tampan Daniel yang sedari tadi berada disampingnya.


Haduhh... kenapa dia kelihatan ganteng banget hari ini. Mana bajunya harum banget lagi..


"Ini bagus gak untuk aku.." Tama menunjukkan sebuah baju kepada Cintya. Cintya menoleh


"Kayaknya bagus. Coba aja di kamar pas.. Masi ingatkan tempatnya." seru Cintya


Tama tidak menjawab, mala langsung nyelonong pergi menuju arah kamar pas sambil menyambar satu kemeja lagi yang ada dipajangan.


Sekarang hanya tinggal Daniel dan Cintya yang berada disitu.


"Baju untuk aku mana?"


"Mm.. bentar biar aku cari dulu." Cintya memilih milih kemeja yang sekiranya cocok untuk si tampan Daniel. Lalu kembali dengan membawa 3 potong kemeja. " Kalau yang ini gimana.." Cintya menjejerkan ketiga baju yang dibawanya tadi diatas wagon.


Daniel tampak bingung memilih. "Kamu aja deh yang milihin salah satu"


Cintya tampak berfikir sambil memandang kearah baju, lalu beralih kearah tubuh Daniel. Seperti sedang membayangkan baju yang cocok untuk Daniel.


Daniel sebenarnya sedari tadi juga sudah memilih baju itu, namun ia hanya ingin agar Cintya memilihkan baju untuknya yang ternyata selera mereka sama. Dia tersenyum senang.


"Gak mau dicoba dulu." seru Cintya


"Hm.." Daniel mengangguk lalu berjalan menuju kearah kamar pas.


Setelah Kepergian Daniel, Cintya langsung memegang dadanya dengan kedua telapak tangannya. Berharap degupan jantungnya bisa normal kembali. Namun ternyata tidak ngaruh.Ya ampun, kenapa aku segugup ini.. biasanya jugak, gak pernah kekgini setiap x jumpa dia." Ya tuhan, bantulah hambamu ini agar terbebas dari rasa gugup yang menyiksaku." Cintya merapalkan doa didalam hati dengan menunduk sambil menutup matanya.


Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang.


"Gimana.. Bagus gak?" Daniel meminta pendapat dari Cintya saat ia mengenakan kemeja pilihan Cintya tadi.


Cintya membuka matanya lalu memandang dari atas lalu kebawah. Lagi-lagi Daniel membuat Cintya terhipnotis dengan ketampanannya. Bukannya menjawab, Cintya malah bengong didepan Daniel tanpa berkedip.


Wajah tampan, tubuh ideal, kaya lagi.. Apa kekurangannya.. Fikir Cintya


"Helloowww..." Daniel menjentikkan jarinya dihadapan Cintya, membuat Cintya tersadar dari lamunannya. Sepertinya hari ini Cintya lebih banyak melamunnya dibanding kerjanya.


"Udah siap belom mandangnya.. jangan lupa ngedip."

__ADS_1


Cintya jadi salah tingkah mendengar ucapan Daniel yang seperti sedang menyindirnya karna sudah berani memandangnya tanpa berkedip.


"Bang Daniel ganteng banget pake itu." Tama yang baru datang, ikut mengomentari.


"oya? bukannya aku pake baju apapun tetap ganteng yah?" balasnya dengan pedenya.


"Astaga... muji diri sendiri dia." cibir Cintya dengan menaikkan sudut bibirnya.


"Hahaha..." Daniel tertawa mendengar cibiran Cintya.


"Aku juga mau dong baju kekgitu." pintanya " Aku kok gak ada nemu ya tadi baju yang itu." serunya sambil garuk-garuk kepala.


"Jangan dong.. masa kita kembaran.." protes Daniel.


"Lain warna deh.." bujuknya lagi


"Udah, yang itu aja sama kau. Kau gak cocok pake baju mahal." sambung cintya sambil menyambar baju yang ada dilengan Tama. Cintya tidak tau aja kalau kemeja pilihan Tama ternyata lebih mahal dari kemeja Daniel" Yang mana satu ni yang mau diambil?" teriak Cintya dari dalam conter saat ingin membuat nota pembayaran.


"Dua-dua nya aja.." sambut Daniel, sambil mendekat kearah Cintya lalu ia membuka kancing kemeja yang dicobanya tadi, dan diserahkan kepada Cintya. "Yang ini jugak."


"Waah.. aku di beliin dua ni ceritanya.." Tama senang bukan main karna ia mendapatkan 2 kemeja sekali gus tanpa harus mengeluarkan duit sepeser pun. Apalagi kemeja yang dijaga oleh kakaknya itu adalah brand terkenal dengan harga yang cukup mahal. Tanpa discon lagi. Keluaran baru. Makin mengembang saja senyumnya..


Mata Cintya terbelalak saat melihat harga dari kemeja Tama. Cintya tampak berfikir saat ingin menulis kedua baju yang diperuntukkan untuk Tama. Daniel bakal keluar uang banyak hanya untuk baju doang. Fikirnya. Jika orang lain yang membelinya, ia pasti akan terlihat senang saat menulis bonnya. Namun saat Daniel yang membelinya, ia takut kalau Daniel nanti akan menyesal setelah membayar. Kalau dihitung-hitung harga ketiga baju ini mencapai sejuta lebih. Karna tidak ada discon untuk barang baru. Cintya jadi menyesal karna membiarkan Tama memilih baju dengan harga mahal.


Daniel menatap bingung kearah Cintya yang seakan tampak ragu saat menuliskan kode kemeja di bon.


"Kok gak ditulis?"


"Mm... Untuk Tama bajunya yang lain aja lah ya."


"Kenapa? kamu pikir aku gak sanggup bayar?" Daniel tampak tersinggung.


"Tapi ini mahal banget. Malah lebih mahal dari kemeja yang punya abang."


Daniel tersenyum melihat expresi Cintya yang seperti segan kalau ia harus mengeluarkan uang banyak untuk adiknya. Ia jadi semakin yakin, kalau Cintya adalah gadis yang cocok untuknya.


"Gak pa pa.. tulis aja ketiganya."


Akhirnya Cintya hanya bisa menurut dan mengacungkan nota bon kepada Danel setelah ia selesai menulis kode dan harganya.


Namun saat Daniel ingin menerimanya, Tama langsung menyambar nota bon, lalu menarik tangan Daniel untuk segera pergi dari conter Cintya. Tama takut kalau sampai kakaknya berubah fikiran dan tidak membiarkan Daniel membelikan 2 baju untuknya.


"Makasih ya kak.. kami tunggu dikasir." teriaknya sambil tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Huuu... Dasar laki-laki tak tau diri." Cintya hanya biaa mengomel sendiri melihat kelakuan adeknya yang ternyata sangat matre.


__ADS_2