
Hari pun berlalu, Cintya sedang mengemas pakaian serta beberapa barang miliknya. Sudah saatnya ia harus angkat kaki dari kos yang selama ini ia tinggali. Berkat bantuan dari Dini, Cintya mendapatkan tempat yang hampir sama nyamannya dengan yang sekarang.
"Ucapkan say good bay untuk kosan lamaa..." seru Dini sambil tertawa seperti sedang mengejek. Cintya hanya melengos.. Mereka pun pergi menuju ke tempat baru dengan menaiki sebuah becak barang.
Sesampainya di kosan baru, Cintya dan Dini disambut oleh anak pemilik kos yang ditugaskan oleh ibunya untuk memberikan kunci kamar kepada Cintya.
Cintya dan Dini berdiri terpaku melihat tampilan dari orang yang berdiri didepan mereka. Pria dengan Rambut klimis belah tengah, dipadu dengan mengenakan kaca mata tebal yang bertengger dihidung minimalisnya. Juga mengenakan kaus berkerah beserta dasi kupu kupu yang seperti ingin terbang. Sudah seperti ingin menyambut tamu istimewa saja. Dan saat ia tersenyum, sungguh sangat ironis dengan pagar yang bersanggar di giginya. Sungguh penampilan yang sangat dramatis.
Dini tak kuasa menahan tawa saat sudah berada didalam kamar Cintya. Tawanya pecah bahkan ia sampai memegang perutnya.
"Ku do'ai kau berjodoh sama dia." ucap Cintya kesal, karna Dini tak bisa menghentikan tawanya.
"Aih amit-amit.. " sambil mengetuk-ngetuk lantai Dini masih terus tertawa.
"Ih gak boleh gitu tau.. itukan style nya dia."
"Ya gak gitu kali lah kak,, coba bandingin noh sama emaknya. Emaknya aja bisa modis, masak anaknya model begituan "
" Yaaa.. emangnya emak sama anak modelnya harus sama? enggak kan..!" bela Cintya.
"Lucu banget waktu dia ngasih kunci tadi tau kaak, kakak gak liat kawat giginya ada mawarnya." masih terus tertawa.
"Yaelah Din Din, sampek ke giginya pun kau perhatiin." nyinyir Cintya, Dini semakin tertawa.
"Ini kuncinya kak.." kelakar Dini seraya menirukan saat anak pemilik kos memberikan kunci kepada Cintya sambil menonjolkan senyum yang penuh dengan pagar berduri. Cintya hanya geleng kepala melihat kelakuan Dini yang tiada hentinya mengejek anak pemilik kos yang belum diketahui namanya oleh mereka.
Hari berlalu begitu cepat. Setelah melewati hari-hari yang sulit di bulan februari, akhirnya Cintya bisa bernafas legah. Hubungannya dengan Daniel pun sudah ada sedikit kemajuan. Mestipun tidak bisa dipungkiri ada andil dari Tama untuk bisa mendekatkan dirinya dengan Daniel.
Ponsel Cintya berderit setelah mendapat notifikasi pesan singkat yang masuk ke ponselnya.
"Aku udah didepan yah.." Daniel
Cintya pun langsung menghampiri Daniel di depan gerbang kos. Mereka akan pergi mendaki gunung.
"Haii.. " sapa Cintya kepada Daniel sambil melambaikan tangannya. Dan dibalas senyuman oleh yang di sapa.
"Gak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Daniel memastikan.
__ADS_1
Dengan mantap Cintya menggelengkan kepalanya " kayaknya udah ada semua deh. Sesuai dengan daftar apa aja yang abang suru bawa kemaren" jawabnya yakin.
"Soalnya kamu bilang ini pengalaman pertama, aku takut aja nanti kamu kurang nyaman kalau ada yang ketinggalan. Ya kamu pasti tau lah, di atas gunung gak ada yang jualan " ucapnya bercanda.
Setelah menempuh perjalanan 3 jam lamanya, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan. Dan disana sudah ada beberapa teman Daniel yang juga ikut mendaki.
Disepanjang perjalanan mendaki, tak henti Daniel memberikan perhatiannya terhadap Cintya.
"Capek yah?" tanya Daniel kepada Cintya yang terlihat lelah.
"Lumayan.!" jawabnya lesu.
"Mau istirahat dulu?" tanyanya Daniel lagi, dan Cintya menganggukkan kepala. " bro, istirahat sebentar" teriaknya kepada temannya yang lain.
"Hmmm dasar cewek" gumam salah satu teman Daniel saat diminta untuk berhenti sejenak.
"Emang kau gak cewek?" saut teman Daniel yang lain.
"Huuu..." balasnya sambil menggerakkan siku lengannya seperti hendak menyikut.
Kebetulan teman Daniel terdiri dari 6 orang, dan salah satunya adalah wanita yang bernama Nova. Nova adalah wanita tomboi yang sangat menyukai sesuatu yang extrim. Dia tidak begitu suka dengan wanita yang manja dan lemah. Itu kenapa dia lebih suka bergaul dengan para pria.
"Kamu kenapa?" tanya Daniel saat melihat Cintya menggaruk2 sebagian tubuhnya.
"Alergi ku kumat." jawabnya singkat.
"Ya ampun, kamu alergi apaan? perasaan kita belum ada makan apa-apa."
"Aku alergi udara dingin." jelasnya sambil terus menggaruk
"Ya ampun, kenapa kamu gak bilang kamu ada alergi.! tapi kamu ada sedia obat kan?"
"Aku lupa.." jawabnya sudah seperti mau menangis.
"Oh ya tuhan.. " Daniel hanya bisa menghela nafas.
"Ada apa?" tanya Nova yang baru saja lewat.
__ADS_1
"Dia alergi" jelas Daniel cemas. " eh Lo punya obat alergi gak?" tanya Daniel kepada Nova.
........
Malam pun tiba, Daniel dan teman temanya duduk melingkari api unggun, kecuali Cintya.
"Lain x gak usah deh bawak-bawak cewek ketempat beginian. Ribet tau gak.." ucap Nova sedikit kesal.
"Gak sadar diri dia.." sindir Novan salah satu teman mereka
"Ya aku dikecualikan lah, aku kan beda.." balasnya gak mau kalah.
"Transgender dia" saut teman yang lainnya sambil tertawa.
"Eh enak aja.. mau kau ku timpuk pakek kayu bakar? " ancam Nova bercanda.
Mendengar suara ribut Diluar, Cintya terbangun dari tidurnya. Merasa tubuhnya sudah mulai membaik,ia pun memilih untuk ikut bergabung dengan Daniel dkk.
"Hai.. malam.." sapanya seraya duduk di samping Nova.
"Ngapain keluar, emangnya udah baikan?" tanya Daniel.
"Udah mendingan kok, maaf yah udah ngerepotin." ucap Cintya merasa bersalah.
"Lain x kalo gak kuat, gak usah ikut-ikut yah.." ketus Nova
"Hehe.. iya kak,maaf yah. Gak lagi-lagi deh." ujar Cintya sambil cengengesan. "oya, ngomong-ngomong makasih loh ya, udah mau bantuin aku tadi." sambung Cintya
"Ya mau gimana lagi, aku kan masih punya hati dan perasaan" ucapnya bangga.
"Iya deh iya yang masih punya hati. Nanti pulang dari sini aku kasih vocer makan gratis di cafe yah.." ujar Daniel serius sebagai tanda terima kasihnya karna sudah mau membantu Cintya dalam mengatasi alerginya.
"Seminggu.." sambil mengangkat 1 telunjuknya Nova memberi penawaran yang sedikit memaksa kepada Daniel.
"What...? Lo mau buat cafe gue bangkrut?"
"Aku TIDAK perduli.." ucap Nova sambil tertawa.
__ADS_1
"Astaga.. salah ngomong gue.." sambil tepok jidat