CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Keadaan yang mulai berangsur membaik.


__ADS_3

Wisnu sudah sampai di Medan pagi pagi sekali dan berencana akan menemui Reza siang nanti bersama dengan para penyidik.. Syukur saja setelah sadar dari koma panjangnya, keadaan Reza semakin hari semakin membaik dan sudah bisa diajak berinteraksi. Siang ini Wisnu maupun polisi memenuhi ruangan rawat inap Reza untuk mengambil keterangan darinya. Dengan pelan namun pasti, Reza mulai menceritakan secara detile apa yang ia alami waktu itu.


Ditempat lain.


Cintya tampak duduk sendiri sambil memandang indahnya danau. Baik Reza maupun Cintya terlihat sedikit demi sedikit sudah mulai membaik. Membuat orang-orang disekitar mereka sudah bisa bernafas dengan lega karena tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keadaan mereka.


"Kenapa kau hanya berdiri disitu? Apa kau tidak mau duduk disini bersamaku." ujar Cintya tanpa menoleh kepada seorang yang sedari tadi berdiri dibelakangnya.


"Kau tau aku disini?" ucap seseorang merasa terkejut karena Cintya bisa mengetahui kehadirannya yang bahkan sedari tadi tidak ada mengeluarkan sepatah katapun dan hanya diam memandang punggung Cintya dari jarak yang tidak terlalu jauh maupun dekat.


Cintya menoleh kebelakang. "Kenapa kau baru datang sekarang? Apa kau tidak berniat untuk berteman denganku lagi?" ucap Cintya dengan lirih.


Mendengar perkataan Cintya, seseorang itu hanya bisa terdiam sambil tertunduk.


Cintya kembali menghadap kedepan. "Kembalilah nanti saat kau mau berteman denganku lagi. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk datang kesini Aku masih punya banyak waktu menunggumu. Karena aku sangat berharap bisa menjadi temanmu lagi Melky. Sama seperti dulu.." lanjutnya.


Kembali ke RS


Polisi sudah selesai mengambil keterangan dari Reza. Walau dari keterangan Reza mereka masih belum bisa menemukan siapa dalang dari kasus ini, tapi setidaknya mereka mendapatkan sedikit informasi bagaimana dia bisa sampai disana.


Wisnu duduk disamping Reza yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Walau sudah sadar namun dokter masih belum mengijinkan Reza untuk banyak bergerak.


"Melihatmu bisa pulih dengan cepat, aku punya keyakinan besar kalau Daniel juga akan bisa pulih sepertimu." ucap Wisnu penuh keyakinan untuk kesembuhan adiknya.


Reza mengedipkan matanya tanda setuju. "Aku juga berharap begitu." harap Reza dengan suara yang masih terdengar parau karena belum bisa bersuara dengan keras.


"Semoga semuanya akan cepat membaik seperti dulu lagi. Baik untukmu, untuk Daniel, maupun Cintya." ucap Wisnu tulus.


"Apa abang ingin menemui Cintya setelah dari sini?" tanya Reza


Wisnu mengangguk. "Kau tidak perlu khawatir.. Aku tidak akan memaksanya."

__ADS_1


Reza yang sudah mengetahui kalau Cintya juga turut menjadi korban saat itu dan sempat mengalami depresi yang cukup parah, membuatnya merasa sangat prihatin sekali gus terpukul. Mungkin sakit yang ada disekujur tubuhnya tidak akan bisa mengalahkan sesakit apa penderitaan yang Cintya rasakan. Jadi saat tahu kalau Wisnu akan menemuinya, Reza merasa khawatir. Ia takut kalau Wisnu akan berusaha mencari tau kebenarannya dari Cintya tanpa memperdulikan trauma yang dialaminya. "Jangan biarkan dia terluka semakin parah bang. Bagaimana pun hanya dia wanita yang mampu menyembuhkan luka hati Daniel." lirihnya.


"Aku mengerti." Wisnu menggenggam tangan Reza. "Cepatlah sembuh, agar aku punya lawan siff untuk menjaga Daniel." ucapnya dengan tertawa kecil.


Reza ikut tertawa. " Aku akan berusaha sekuat tenaga.." ucapnya sambil mengepalkan tangan lemahnya keudara. Semangat Reza untuk cepat sembuh bukan semata-mata hanya untuk dirinya. Tapi ia berharap bila ia sembuh nanti, ia dapat membantu menyelesaikan semua masalah ini dan memulihkan semuanya kembali seperti awal dulu. Dan yang paling utama saat ia bisa berjalan nanti, ia ingin segera menemui Daniel untuk membangunkannya dari tidur panjangnya.


Kembali ke Danau.


Kini Cintya sudah tidak duduk sendiri lagi, karena ada Melky yang menemaninya. Mereka hanya duduk dengan tatapan pias kedepan tanpa banyak mengeluarkan kata sekedar untuk bercerita. Walau begitu, tidak bisa dipungkiri kalau sesekali kedua anak manusia itu mampu menunjukkan seutas senyum yang selama beberapa bulan ini tidak pernah terpancar lagi dari bibir mereka.


Langit mulai memerah menandakan senja sudah tiba. Membuat pemandangan danau yang indah dan tenang menjadi semakin lebih indah.


"Apa kau setiap hari selalu disini?" Tanya Melky yang masih belum berani menatap langsung wajah Cintya yang ada disebelahnya.


"Tidak juga. Aku lebih banyak menyendiri di kamarku." jawab Cintya. "Bagaimana denganmu?." menatap Melky, namun yang ditatap tidak berani membalas. "Apa kau baik-baik saja?"


Melky merasa terperanjat dengan pertanyaan Yang dilontarkan Cintya untuknya. Tiba-tiba Melky terkekeh pelan. ia menertawakan dirinya sendiri yang ternyata lebih menyedihkan dibandingkan seseorang yang sudah kehilangan kesucian serta harga dirinya dan bahkan sempat mengalami lost control untuk mengendalikan dirinya sendiri akibat trauma yang mendalam. "Apa aku tampak semenyedihkan itu, sampai-sampai kau menanyakan apa aku baik-baik saja?" tertunduk


"Aku memang bodoh Cintya.. Bodoh karena terlalu mencintaimu (menghela nafas) Bodoh karena gak mampu memilikimu. Dan bodoh karena gak mampu melindungimu." ujar Melky dengan suara sedikit bergetar.


"Jangan menangis... Karena aku gak punya ponsel untuk merekamnya." Ledek Cintya dengan nada datar.


Melky pun tertawa mendengar ucapan Cintya diiringi dengan air mata yang juga jatuh membasahi tangannya karena memang ia masih menunduk saja sedari tadi. Tak tahu perasaan apa yang ada dihatinya saat ini. Apakah sedih, ataukah bahagia. Yang terpenting adalah, akhirnya ia sadar kalau ternyata membuka diri itu tidak sesulit yang ia kira. Selama ini ia berfikir akan lebih baik jika ia tidak usah lagi menemui Cintya karena takut kalau kehadirannya akan membuat Cintya semakin trauma. Sehingga ia memilih untuk menutup rapat-rapat hati serta keinginan besarnya bertemu dengan wanita yang sangat ia cintai walau terasa begitu sangat menyakitkan dan sangat menyiksa dirinya.


Namun perkataan Tante Angel (mama Dini) membuatnya bisa berfikir sedikit lebih jernih dan positif. Dan ternyata juga apa yang tante Angel ucapkan padanya kemarin semua terbukti benar. Betapa bodohnya dia yang terlalu cepat mengambil suatu kesimpulan sendiri tanpa mau terbuka dengan orang lain. Dan sekarang ia merasa begitu menyesal karena tidak ada dimasa-masa tersulit Cintya.


Kemarin setelah selesai makan, Dini sengaja meninggalkan Mamanya dengan Melky berdua di teras belakang rumahnya.


Dini memang sengaja maksa nebeng naik motor Melky dan memintanya untuk mengantarkannya pulang serta mengimingi kalau mamanya masak makanan kesukaan Melky. Padahal semua itu memang sudah rencana yang ia susun dengan mamanya. Tante Angel yang memang sudah dekat dari lama dengan Melky karena Melky adalah sahabat anaknya, merasa kalau ia harus bertindak sesuatu untuk menyelamatkan Melky dari keterpurukannya.


Awalnya Tante Angel hanya bertanya hal yang ringan-ringan dulu. Seperti menanyakan kabar atau kegiatan apa saja yang dilakukan Melky akhir-akhir ini. Walaupun jawaban Melky masih terdengar singkat dan terkesan acuh, namun tante Angel tak putus arah.

__ADS_1


"Kapan liburmu Mel? " tanya tante Angel.


"Besok tan." lagi-lagi Melky memberikan jawaban singkat.


"Apa kau tidak ingin menemui Cintya?" Tante Angel mulai to the point. Melky hanya terdiam dengan ekspresi dingin. Tante Angel mengelus pundak Melky sebentar untuk sekedar memberikan rasa nyaman layaknya seorang ibu. "Bersedihnya jangan telalu lama.. Nanti bakal susah nyembuhinnya. Tante sangat faham dengan bagaimana perasaanmu Mel.. Tapi setidaknya lebih terbukalah untuk dirimu sendiri. Jangan fikirkan bagaimana orang lain.. Tapi fikirkan dulu bagaimana diri kita sendiri. Kau boleh bercerita pada tante tentang hal apapun yang mungkin kau enggan bercerita kepada orang lain. Tante kangen sama kamu yang dulu Mel. Tante berharap kau bisa kembali menjadi dirimu sendiri.." lanjutnya memberi nasehat dengan tulus.


Melky menatap sendu kearah tante Angel. "Aku hanya tidak ingin membuatnya semakin terpuruk tan. Dan aku rasa, apa yang aku lakukan untuk saat ini sudah sangat tepat."


"Mungkin menurutmu begitu. Tapi setidaknya cari tahu juga pendapat orang lain. Tidak selamanya apa yang menurut kita benar, benar juga untuk orang lain kan? Tante yakin sekali kalau Cintya pasti akan sangat senang bila bisa bertemu denganmu. Tante dengar keadaan Cintya sekarang sudah mulai berangsur membaik. Temuilah dia... Setelah itu kau bisa menilai sendiri. Apakah keputusanmu selama ini menjauhinya sudah benar atau ternyata malah salah. Tidak ada salahnya mencoba sekali Mel.. Bukannya tante ingin memaksakan kehendak tante padamu, hanya saja melihatmu seperti ini membuat tante sangat sedih. Tante sangat menyayangimu sama seperti tante menyayangi anak-anak tante. Jadi tante mohon padamu, segeralah kembali seperti dulu. Kembali menjadi Melky anak tante yang periang dan juga menyebalkan." ujar Tante Angel dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


"Apa kau menangis sambil tertawa Mel?" ejek Cintya dengan tersenyum.


Melky akhirnya memberanikan diri untuk menatap Cintya. "Ternyata kau gak pernah berubah ya Cin, masih tetap cantik." godanya.


"Sebelum menggodaku dengan kata-kata gombalmu, elap dulu hingus dan air matamu." cerca Cintya menahan tawa.


Melky memasang wajah cemberut. "Ah.. Kau tidak tau aja bagaimana kehidupanku akhir-akhir ini karena ulahmu." sambil bergerak ingin menyeka air mata yang sudah berlinang sedari tadi.


Namun dengan cepat Cintya mengambil alih wajah Melky dan mengusap air mata Melky dengan menggunakan kedua ibu jarinya. "Kau jelek saat menangis. Jadi jangan pernah menangis lagi. Kembalilah menjadi seperti Melky yang dulu." malah Cintya yang mencoba menguatkan Melky.


"Kenapa sepertinya semua ini terbalik.. Bukanya seharusnya aku yang memberi semangat untukmu." ucapnya heran.


"Kau gak perlu memberiku semangat. Kau hanya perlu sering mengunjungiku disini aku udah merasa sangat senang." Cintya merentangkan tangannya. "Sahabat..." ucapnya.


Melky menatap Cintya dengan matanya yang memerah dan juga seutas senyum dibibirnya. "Aku maunya lebih." menarik Cintya kedalam pelukannya.


"Jangan ngelunjak.. Kau tau sendiri aku cinta matinya kesiapa." membenamkan wajahnya kedada Melky. Walau aku tidak yakin apa dia masih bisa menerimaku lagi atau tidak.


"Tapi kau juga tau kan aku cinta matinya samamu." balas Melky tak mau kalah. "Tapi dari mana kau tau kalau aku dibelakangmu tadi. Padahal aku tidak ada bersuara sedikitpun." tanya Melky keheranan.


"Aku masih sangat hafal dengan harum parfummu." jawabnya.

__ADS_1


Melky tersenyum senang. "Ternyata ada gunanya juga aku konsisten dengan parfumku." Cintya mengangguk setuju.


__ADS_2