CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Pembalasan dendam (part 2)


__ADS_3

Anak buah Dom tidak berhenti memberikan pukulan demi pukulan serta tendangan ke seluruh tubuh Daniel. Tapi semua itu bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit saat mendengat tangisan serta rintihan dari Cintya kekasihnya. Sakit ditubuhnya tidak akan pernah sebanding dengan sakit yang ada dihatinya saat ini. Mendengar Cintya menangis dan terus memanggil-manggil namanya membuat hatinya benar-benar sangat teriris. Tubuhnya sudah tidak bisa begerak, pandangan matanya pun sudah menjadi buram.


"berhenti.." seketika pukulan ditubuh Daniel berhenti saat Dom memberi perintah. Dom yang masih terduduk sambil mengelap darah yang keluar dari hidung dan mulutnya masih sempatnya menyeringai bahkan sedikit tergelak. Mungkin dendam yang sudah tertanam sejak lama menghapus semua kewarasan bahkan rasa sakit ditubuhnya. Ia kemudian berdiri dan mendekat kearah Cintya yang saat itu masih menangis sambil terduduk dilantai.


Ditariknya lengan Cintya agar berdiri. Cintya sudah tidak bisa beebuat apa-apa. Tubuhnya serasa lemas melihat keadaan Daniel yang sudah babak belur, bahkan seperti sudah tidak bergerak lagi. Bang Daniel... Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.


"Apa kau sangat mencintainya huh?" Dom menatap lamat kebola mata Cintya yang masih basah karena air mata.


Cintya yang tidak mengerti pria ini bicara apa kepadanya hanya bisa mengatakan. "Kau bunuh saja aku, tolong bunuh saja aku.." rintihnya karena sudah tidak tahan dengan semuanya.


Dihempaskannya tubuh Cintya ke lantai. Ia mulai membuka tali pinggang yang melingkar dicelananya sambil menyeringai jahat.


Cintya seakan mengerti apa yang akan pria ini lakukan kepadanya. Ia bergerak mundur mencoba untuk melarikan diri. Namun tarikan dikakinya menghentikan pergerakannya. "Aku mohon jangan lakukan itu.." teriak Cintya. pria itu tidak perduli


"Tolong jangan lakukan..." terdengar suara Daniel lemah memohon.


Dom menoleh kearah Daniel lalu mendekat dan berjongkok "Aku akan melakukannya, walau tanpa izin darimu. Jadi tetaplah sadar agar kau dapat melihatnya.." tertawa jahat dan bergerak ingin beranjak, namun kalinya ditahan oleh genggaman tangan Daniel

__ADS_1


"Aku mohon.. jangan lakukan itu." suaranya lemah namun masih bisa didengar oleh Dom.


Dom menghentakkan kakinya dan dengan mudah lepas dari genggaman Daniel lalu mulai melangkah mendekati Cintya kembali.


Cintya yang saat ini sedang dipegangi oleh anak buah Dom terus memberotak agar dilepaskan, namun lagi-lagi usahanya tidak berhasil. Malah membuatnya semakin kehabisan tenaga.


"Lepaskan dia, dia harus bebas agar bisa merasakan kenikmatan yang sesungguhnya. Dan kalian pergilah." anak buahnya pun mematuhi dan pergi.


Cintya terus mencoba menghindari Dom yang saat ini sudah membuka bajunya. Tapi ia benar-benar sudah tidak bisa lolos. Satu cengkraman ditangannya membuatnya tidak bisa lari. Tenaga Dom benar-benar sangat kuat.


Air mata Daniel mulai jatuh melihat apa yang sedang dilakukan Dom kepada Cintya. Dia benar-benar sudah tidak bisa bergerak.


Dom menggendong Cintya dipundaknya lalu meletakkannya diatas meja yang lumayan besar. Gaun yang tadinya hanya robek dibagian atas, sekarang robek hingga kebagian bawah. Yang tersisa hanya pakaian dalam Cintya. Cintya sudah lemas tak berdaya setelah menerima semua serangan awal yang dilakukan oleh Dom. Benar-benar sangat brutal.


Dom pun mulai menurunkan celananya dan mulai melakukannya. Tubuh sexsi Cintya semakin membuatnya sangat bergairah. Tak perduli dengan darah yang masih mengucur didaerah wajahnya dan teriakan serta rintihan dari wanita yang tidak bersalah itu. Ia terus melakukannya hingga akhirnya ia pun mulai mengerang sesaat ia menanamkan benih kedalam rahim Cintya. Puas... itulah yang Dom rasakan saat ini. Dendamnya terbalaskan sudah. Sudah tidak ada lagi rasa kemanusiaan didalam dirinya.


Kehancuran dari seorang Daniel adalah sebuah kebahagiaan yang tiada tara untuknya. Dan mungkin ia akan bisa tidur dengan nyenyak setelah ini. Dipakainya kembali semua pakaiannya sambil bergerak kearah Daniel. Daniel sudah tidak bergerak, matanya menutup. Hanya tersisa bulir air mata yang masih menetes dari ujung matanya. "Kau juga harus merasakan kehilangan seperti yang aku dan keluargaku rasakan. Bisa saja aku membunuhmu dari lama, namun bukan itu yang aku inginkan. Aku ingin membuatmu merasa tersiksa dan memilih untuk membunuh dirimu sendiri. Seperti yang ibuku lakukan. " membalikkan tubuh Daniel dengan telunjuknya dari yang awalnya meringkuk menjadi telentang "Tetap lah hidup.. Dan rasakan apa yang sudah aku rasakan." mencengkram dagu Daniel lalu menghempaskannya. Lalu bergerak pergi meninggalkan tiga orang yang sudah pingsan akibat ulahnya.

__ADS_1


Cintya tersadar dari pingsannya. Entah berapa lama ia tak sadarkan diri. Seketika ia tersadar dengan apa yang sudah terjadi kepadanya. Menangis.. Bahkan tangisannya sudah tidak bersuara. Hanya air mata yang terus mengalir dipipinya. Cintya mencoba bangun dan meraih gaun yang susah robek untuk menutupi sebagian tubuhnya. Matanya menatap jauh kearah Daniel dan Reza yang sudah tidak bergerak. Tubuhnya semakin lemas saat fikirannya mengatakan kalau orang yang dicintainya sudah tidak bernyawa sekarang.


Ia mulai turun dari meja dan bergerak mendekat kepada Daniel. Terduduk disamping Daniel dan mencoba membangunkan Daniel dengan mengoyang-goyangkan tubuh Daniel namun tidak ada respon sama sekali. Cintya terdiam seribu bahasa sambil terus menatap Daniel. Tidak ada teriakan, rintihan bahkan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hanya diam


Pagi pun datang. Matahari mulai menunjukkan sinarnya yang masuk melalui cela pintu gudang. Namun Cintya masih berada pada posisinya. Terdiam sambil menatap kearah Daniel. Sudah seperti mayat hidup.


Tiba-tiba pintu gudang didobrak oleh seseorang dan mulai beranjak masuk. Polisi.. Entah siapa yang memberi tahu polisi keberadaan mereka. Seseorang polisi wanita menyelimuti tubuh Cintya dengan selembar kain. Cintya tidak bereaksi, masih tetap seperti tadi. Seakan-akan ia sudah berada didunia lain.


Dan saat ia sadar... Ia sudah berada di suatu ruangan rumah sakit.


Terdengar suara Tama adiknya berteriak memanggil dokter. Entah sejak kapan Tama berada disampingnya. Dan entah sudah berapa lama ia sudah tidak sadarkan diri. Bukan itu yang ingin ia ketahui.. Melainkan apa yang Daniel lakukan sekarang? Apakah ia sudah merasa tenang dialam sana setelah meninggalkan dirinya sendiri didunia yang sangat mengerikan ini?. Kenapa Daniel begitu tega pergi meninggalkannya? Kenapa? Apa kesalahannya sehingga ia harus menerima semua ini?.


Dokterpun mulai berdatangan dan mulai melakukan pemeriksaan..


Mata Cintya terbuka, namun seperti orang yang masih kehilangan kesadaran. Namun air matanya masih terus mengalir dengan wajah yang tak berekspresi. Bahkan suara Tama yang sedari tadi memanggil namanya tidak terdengar oleh telinganya.


"Sebaiknya kita bicara diruangan saya." ucap dokter kepada Tama setelah beberapa kali menghela nafasnya saat memeriksa keadaan Cintya. Tama mengangguk mengerti dan mengikuti langkah dokter dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2