
"Waahh... Kenapa kau bisa berpacaran dengan pria brengsek seperti dia Cintya.. Aku benar-benar tidak menyangka.. Tapi aku merasa senang, karena akhirnya bukan kau yang bersanding dengannya dipelaminan.. Apa sih yang kau lihat dari dia" Nova benar-benar tidak menyangka kalau pria brengsek yang pernah diceritakan Cintya kepadanya adalah adiknya sendiri. Adik yang sangat ia benci. (menatap Wahyu dengan tatapan kebencian)
Begitupun dengan Cintya yang juga tidak menyangka kalau saudara tiri yang Nova ceritakan kepadanya dulu adalah Wahyu, mantan kekasihnya.
Dulu Nova pernah cerita tentang dirinya kepada Cintya saat mereka menuruni gunung bersama. kalau ia memilih untuk meninggalkan rumahnya daripada harus tinggal bersama dengan ibu dan saudara tiri yang selalu mencari-cari kesalahannya. Ia benar-benar tidak tahan. Kisahnya tidak jauh berbeda dengan apa yang Cintya dan Tama rasakan. Pantas saja ia merasa kurang nyaman berada disini. Ternyata ia adalah seseorang yang hadir dengan keterpaksaan dari sang papa.
Sementara untuk kehadiran Daniel, sebenarnya Nova meminta tolong kepada Daniel untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Sebab sang papa selalu ingin menjodohkannya dengan anak dari rekan bisnisnya. Ia benar-benar muak dengan papanya yang selalu menjodohkan dirinya disegala kesempatan. Dengan membawa Daniel kehadapan papanya, ia berharap kalau sang papa akan berhenti untuk menjodohkannya lagi.
Dan syukurnya, rencana Nova berjalan lancar. papa Nova langsung percaya begitu saja.
Berbeda dengan pemikiran Cintya setelah mendengar penjelasan Nova. Bagaimana kalau papa Nova bersungguh-sungguh dengan kebohongan yang Nova ciptakan, dan memaksa mereka untuk secepatnya menikah. Apa yang akan terjadi kepada dirinya bila itu benar terjadi dan Daniel tidak bisa menolak permintaan papa Nova. Akankah ia tercampakkan lagi? Atau memang seharusnya ia tidak perlu berharap banyak akan perasaannya kepada Daniel yang bahkan tidak pernah mengatakan cinta kepadanya.
Cintya menghela nafasnya yang terasa sangat berat.
Ditempat lain...
Setelah Daniel tahu kalau ternyata Wahyu adalah mantan kekasih Cintya, ia benar-benar merasa sangat marah pada dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa tidak tau hal sebesar ini..
Ia pun memilih untuk meninggalkan meja dengan alasan untuk mengambil minum.
Daniel duduk terpaku dengan segelas minuman keras ditangannya. " pantas saja, wajahnya (Wahyu) seakan tidak asing dimataku.. Ternyata dia... Aish" Daniel menerutuki dirinya.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang sedang mengutuk dirinya sendiri disini.." ledek Melky yang baru saja menyusulnya dan langsung duduk disamping Daniel
Daniel menoleh sebentar, lalu memghela nafas. " Kenapa dia harus hadir disini?"
Melky tau maksud pertanyaan Daniel. " tentu saja dia harus hadir. Karena dia bukan seorang pecundang." ketus Melky " dan aku yakin seratus persen, kalau si brengsek itulah yang sekarang sedang menyesal karena sudah mencampakkan Cintya. Sangat kelihatan dari expresinya (menatap tajam kearah Wahyu yang terlihat gelisah disinggasananya.)" lanjutnya sambil tertawa sinis. "Kau memang tidak tahu apa-apa.." ledek Melky sambil menyambar minuman yang dipegang Daniel lalu meminumnya " Haisss... Minuman apa ini.." langsung mengembalikan gelas minuman kepada sang empunya. "pahit" . Gerutunya
Daniel hanya terdiam. ia memang tidak tahu apa-apa tentang Cintya. Dan dia merasa sangat bersalah karena tidak banyak mencari tahu soal gadis yang dicintainya itu.
"Apa abang tahu seberapa besar rasa cintaku untuk Cintya?" lanjut Melky (Daniel menoleh sebentar) "aku rela melakukan apapun untuknya. Walau aku tahu, kalau dia tidak pernah punya perasaan kepadaku... Tapi itu bukan sebuah masalah untukku. Yang terpenting, aku masih bisa berada didekatnya, itu sudah menjadi suatu kebanggaan untukku. Seperti sekarang ini." sebegitu tulusnya Melky terhadap Cintya.
"Lalu apa kau tahu siapa yang ada dihatinya sekarang?" tanya Daniel
Daniel mengeratkan giginya setelah mendengar jawaban Melky. " apa kau fikir bisa semudah itu menyingkirkannya?" Daniel tidak terima dengan kata-kata Melky. Dan dia cukup yakin kalau dirinya lah yang ada dihati Cintya saat ini.
"Aku tahu itu tidak mudah. Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga." jawabnya mantap
Daniel benar-benar terprofokasi oleh Melky. "Waahh, kau benar-benar.." sangking kesalnya Daniel sampai tak bisa melanjutkan ucapannya.
Melky merasa menang saat ini. "Abang lihatkan hari ini kami pergi bersama kepesta pernikahan? Bisa jadi sebentar lagi, kami lah yang akan duduk disana (menunjuk pelaminan)"
"Tidak seharusnya kau sepercaya diri itu." sangkal Daniel sambil terus meminum minumannya nya hingga habis.
__ADS_1
"Begitu banyak pria yang mendekati Cintya... Tapi sekarang abang lihat, siapa yang ada disini mendampinginya?" Melky menunjuk dirinya sendiri "Aku."
"jadi memang sudah seharusnya aku percaya diri"
Daniel sudah merasa tidak tanan mendengar ocehan Melky, yang membuatnya semakin merasa bersalah. Karena seharusnya dialah yang ada disisi Cintya saat ini. Ia pun memanggil pelayan yang sedang lewat untuk memberikannya minuman lagi.
"Teruslah berharap.." ucapnya sambil meneguk minuman yang baru diterimanya dari pelayan. Melky menyunggingkan sebelah bibirnya, merasa menang.
Daniel memandang Cintya dari kejauhan. Ia tahu, Cintya tidak sedang baik-baik saja sekarang. Walaupun bibirnya masih bisa menampilkan senyum yang menawan, namun hatinya pasti sedang terluka. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang? Ia bahkan tidak bisa melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Karena ia juga harus menjaga janjinya dengan Nova. Ingin rasanya ia teriak sekencang-kencangnya. Frustasi.
"Abang lihat apa?" Melky menutup mata Daniel dengan tangannya saat tahu Daniel sedang memandangi Cintya
"Aissh... Kenapa kau tutup mataku?" Daniel menghempaskan tangan Melky dari wajahnya.
"Aku tahu abang sedang lihat apa (masih berusaha menutup mata Daniel) jangan.... Jangan berani melihatnya dengan tatapan itu." ancam Melky.
"Haissss...." Daniel semakin frustasi " sebaiknya kau pergi sekarang, sebelum aku..." mengancam dengan kepalan tangannya.
"Tentu saja. Dari tadi juga aku memang sudah mau pergi dari sini." Melky berdiri dari duduknya. Ia mulai melangkahkan kakinya, tapi seketika ia berhenti dan berbalik menatap Daniel " sepulang dari sini Aku akan mengungkapkan perasaanku kepadanya." ucapnya kepada Daniel sambil tersenyum
Daniel terperangah mendengar ungkapan Melky. Seketika otaknya lumpuh. " mengungkapkan perasaannya? Apa maksudnya?..." masih mencoba berfikir keras, sampai akhirnya otaknya kembali berfungsi dengan benar "Apa dia akan mengatakan Cinta kepada Cintya?" matanya membulat sempurna. "Waahh... Benar-benar si Melky." Merasa tidak percaya sambil berdiri untuk menyusul Melky.
__ADS_1