CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Bu Sumi sang Ibu suri


__ADS_3

lama Cintya memandangi dirinya didepan cermin. Ada rasa senang karna ternyata gaun yang dicobanya benar-benar pas dibadannya. Tapi rasa sedih juga menghampirinya, karena tidak bisa dipungkiri kalau dia harus berfikir berkali-kali untuk membeli gaun ini karena MAHAL.


" Benar- benar cantik" ucapnya.


Lili yang sedari tadi berada diluar kamar pas merasa sangat kesal sekaligus penasaran dengan Cintya yang tak kunjung keluar. Sudah hampir lima belas menit ia menunggu.


" Apa kau tidak mau keluar Cintya?" teriak Lili.


" Mmm, ini juga mau keluar." saut Cintya. Walaupun sebenarnya ia masih ingin berlama-lama mengenakan gaun itu. Tapi ia cukup sadar diri. Masih sukur Lili berbaik hati mau membiarkannya mencoba gaun mahal.


" Lalu kenapa kau belum keluar juga?" kesal Lili


" Aku baru ingin membukaknya Lili.. Harap sabar sebentar." Cintya mulai terpancing. Namun belum sempat Cintya ingin membuka gaunnya, tiba-tiba Lili langsung masuk kedalam kamar pas. " Kenapa kau masuk? " ucap Cintya heran


" Apa kau fikir aq ini satpam huh?.. Aku menunggumu diluar karna ingin melihatmu." balas Lili sambil membawa Cintya keluar dari kamar pas.

__ADS_1


Lilipun sedikit mundur dari hadapan Cintya, agar matanya mampu memandang secara keseluruhan penampilan Cintya. Dengan tangan yang terlipat didadanya, ia mulai menilai. " secara keseluruhan kamu OK." nilainya bak seorang juri. " ternyata kamu memang secantik ini kalau pakai gaun mahal ya Cintya.. Auranya beda gitu." sambungnya lagi.


Cintya hanya bisa pasrah mendengar penilaian Lili yang ia ragukan sebagai sebuah pujian. " kau tau aku gak akan sanggup untuk membelinya. Jadi jangan berusaha untuk merayuku."


"Waaahhh , apa kau fikir aku hanya sembarang memuji Cintya?... Aku hanya mengatakan apa yang ada dikepalaku. Aku juga tau berapa bajet pakaianmu. Dan dari awal aku sudah bilang, kalau kau tidak akan mampu membelinya" ucap Lili sambil tertawa mengejek.


" Aku merasa terhina.." kesal Cintya. Namun ia cukup senang karna bisa mengenakan gaun mahal, walaupun hanya sebatas mencoba.


" Tapi sepertinya akan lebih cantik kalau rambutmu digerai." Lili beralih kebelakang Cintya untuk membuka cepolan rambut Cinya. Dan walaaaa, Cintya sudah seperti princes ala kerajaan modern korea. " woaaa, debaakk..." Lili terpukau. " aku akan mengambil gambarmu." ucapnya lagi sambil berjalan menuju laci untuk mengambil ponselnya.


Lili pun mulai mengambil gambar Cintya dengan pose yang ia ajarkan. Tidak cukup satu dua gambar, Lili benar-benar teropsesi dengan Cintya. Begitu banyak gambar yang ia ambil, sampai membuat Cintya kesal.


" Apa belum cukup juga?... Lagian mau kau apakan fotoku itu?" repet Cintya.


" Mau aku jual sama om om kenalanku" ucap Lili ngablak, membuat mata Cintya membulat sempurna.

__ADS_1


" Apa kau sudah gila?" Cintya yang percaya dengan ucapan Lili mencoba merampas ponsel Lili, namun dengan sigap Lili mengelak sambil tertawa.


" Bukannya lumayan ya?.. Kalau kau laku, kau pasti bisa memiliki gaun itu." Lili masih tertawa dengan candaannya. Membuat Cintya semakin merasa kesal dan semakin berusaha merebut ponsel Lili.


Saat mereka masih asik berebut ponsel, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sangat mereka kenal. " Sedang apa kalian?" ucap orang itu dengan nada marah.


Cintya dan Lili terdiam membatu. " Buk Sumi.." ucap mereka berdua terkejut. " mati kita.." dua gadis itu menerutuki dirinya masing masing.


" Rupanya seperti ini kerjaan kalian yah.." Bu Sumi melanjutkan omelannya dengan tangan yang sudah dilipat didadanya. Pertanda kalau ia benar-benar marah. Namun saat ia ingin melanjutkan omelannya lagi,, seseorang datang memotong ucapannya.


" Ya Allah ya Rabbi, aku lagi ada dimana?.... Apa aku sekarang sudah mati dan masuk kedalam surga?" ucap seseorang yang bukan lain adalah Melky yang tidak sengaja melewati conter Lili dan menemukan Cintya sedang berdiri disana bak seorang bidadari yang sedang melambaikan tangan kehadapannya dengan tersenyum menggoda. Dan tanpa memperdulikan adanya Bu Sumi disana, ia pun langsung mendekati Cintya sambil mencoba menyentuhnya. " Apa kau nyata?.." sambungnya lagi seraya menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya dengan tatapan takjub karena merasa apa yang dilihatnya bukanlah kenyataan.


Cintya dan Lili merasa semakin tertekan dengan kedatangan Melky. Mereka hanya bisa pasrah terhadap kemarahan Bu Sumi.


Melky yang masi merasa takjub dengan apa yang ada dihadapannya, tiba-tiba berteriak saat ia merasakan sakit di telinganya. Seperti ada yang sedang menjewer telinganya. Dan seketika ia mulai sadar kalau ia masih berada di bumi, wajah merah Bu Sumi yang sedang terbakar amarah pun mulai terlihat nyata dihadapannya. " Ibu suri..." sontaknya terkejut dengan mata yang membulat sempurna.

__ADS_1


__ADS_2