
Entah takdir apa yang diberikan tuhan untuknya. Baru saja ia mulai merasakan kebahagiaan yang seutuhnya, tapi dalam sekejap ia mendapatkan rasa sakit yang terasa sangat menyakitkan dan begitu menyiksa. Kenyataan pahit yang ia harapkan hanyalah sebuah mimpi buruk. Tapi sayangnya semua ini adalah kenyataan yang harus ia terima. Sakit ditubuhnya tidak seberapa dibandingkan dengan sakit pada hati dan juga mentalnya. Melihat orang yang sangat disayanginya tak bergerak sama sekali didepan matanya. Padahal sebelumnya orang itulah yang membuatnya berbunga-bunga.
Tangannya tak berhenti menguncang tubuh pria yang baru saja menjadi kekasihnya itu untuk bangun. Namun usahanya tak membuahkan hasil sehingga iapun berfikir kalau kekasihnya itu sudah tidak bernyawa lagi.
Entah sudah berapa lama ia tertidur. Bahkan didalam tidurnya ia sempat bermimpi. Sebuah mimpi buruk yang memaksanya untuk terbangun. Saat ia mulai membuka matanya, terlihat beberapa orang yang sangat ia kenal. Ada ayah yang sudah lama tidak ia temui, Tama adiknya, juga beberapa sahabatnya yakni Dini dan juga Kanya. Wajah mereka semua terlihat sangat bersedih. Apa mereka bersedih karena aku? Apa yang terjadi denganku? Dan dimana ini? Sejenak aku lupa dengan kejadian saat itu. Karena yang aku ingat saat itu hanyalah mimpi burukku yang begitu sangat menakutkan.
Hari berganti hari, dan aku sekarang sudah berada dikampung halamanku. Ayahku membawaku masuk kedalam kamar yang sudah begitu lama tidak aku masuki. Kamar yang memliki sejuta kenangan namun terasa sangat asing bagiku. Mataku berkeliling menatap keseluruh ruangan, tak ada yang berubah dengan kamar ini. Tapi apa yang terjadi? Dimana wanita itu? Wanita yang sudah mengambil alih rumah ini dan wanita yang sudah berhasil membuat kami pergi dari sini? Aku tidak pernah menemukannya. Namun untuk sekedar bertanya aku tidak sanggup. Mulutku terasa terkunci dengan duka yang tertanam dihatiku.
Malam pertama kembali kerumah aku tidak bisa tidur. Beberapa kali ayah dan juga Tama secara bergantian mengunjungiku kedalam kamar. Mereka tidak menanyakan apapun saat datang. Mereka hanya terus berusaha untuk ada didekatku dan seolah-olah ingin menunjukkan kasih sayang mereka. Apa aku semenyedihkan itu? Nyatanya aku memang sangat menyedihkan.
__ADS_1
Kehilangan kesucian juga kehilangan orang yang sangat dicinta secara bersamaan membuatku merasa kalau tidak sepantasnya aku masih berada didunia ini. Apa gunanya aku hidup? Toh sudah tidak ada lagi yang harus aku pertahankan bukan?. Kesucianku sudah hilang diambil oleh pria asing yang tidak aku kenal. Dan kekasihku juga sudah pergi meninggalkanku. Mataku tertuju pada pisau yang digunakan oleh Tama untuk mengupas buah. Apa aku bisa menggunakan itu untuk menyusulnya? Namun sejenak aku tersadar saat Tama memberikan potongan buah dihadapanku. Wajah polos itu terlihat sangat kelelahan.
Hari-hariku terasa sangat hampa. Bayang-bayang kejadian saat itu selalu menghantuiku hampir setiap kali aku menghela nafas. Dadaku selalu terasa sesak dibarengi dengan rasa amarah yang memuncak membuat tubuhku secara refleks bereaksi. Berteriak, menangis, bahkan melemparkan apa saja yang ada dihadapanku. Setelah itu apakah semuanya membaik? Tentu saja tidak. Dadaku semakin terasa sesak, bahkan hampir tidak bisa bernafas. Ini sungguh sangat menyiksaku. Secepatnya aku harus mengakhiri semua ini.
Entah sudah berapa kali aku mencoba untuk mengakhiri hidupku, tapi lagi-lagi orang-orang ini selalu saja berusaha untuk menghentikan dan menyelamatkanku. Apa mereka tidak tahu seberapa menderitanya aku? Apa mereka tidak tahu kalau sebenarnya sudah tidak ada lagi gunanya aku hidup didunia ini. Duniaku sudah hancur mulai sejak kejadian hari itu. Seharusnya mereka membiarkanku pergi dengan tenang ke atas sana. Setidaknya diatas sana mungkin aku bisa bertemu dengan kebahagiaanku yang sudah terlebih dahulu berada disana. Aku sangat rindu dengannya.. Tapi tidak ada satupun orang yang mengerti tentang keinginanku.
Sampai saat hari dimana sahabatku akhirnya datang mengunjungiku. Aku benar-benar sangat merindukan mereka. Tapi... Aku tidak ingin mereka datang kesini. Aku tidak ingin mereka bersedih melihat keadaanku yang seperti ini. Tolong kalian pergilah.. Namun kata-kata itu tertahan dimulutku.
Aku rasa hari ini adalah hari keberuntunganku. Kanya pergi dan meninggalkan benda itu dihadapanku. Apakah sudah waktunya aku pergi? Aku akan langsung menemuinya diatas sana. Aku meraih gagang pisau dan menatapnya dengan senang. Namun Kanya tiba-tiba masuk dan berusaha untuk mengambil kembali pisau itu. Aku tidak rela.. kali ini aku harus berhasil. Fikirku. Hari ini adalah hari keberuntunganku bukan? Tapi kenapa Kanya tampak tidak senang dengan apa yang akan aku lakukan. Ia masih terus berusaha merebutnya tanpa perduli dengan tangannya yang sudah berdarah karena menggenggam mata pisau. Akhirnya akupun menyerah dan membiarkannya mengambil pisau itu kembali.
__ADS_1
Dan tidak lama kemudian Tama datang dengan berderai air mata dan mengucapkan banyak kata. Maaf karena terlalu sering membuatmu bersedih dan menangis Tam. Tapi aku sudah tidak sanggup lagi dengan semua ini. Tolong mengerti keadaanku. Lagi-lagi suaraku tertahan dan hanya mampu mengatakan "Apa gunanya aku hidup. Jadi biarkan saja aku mati." Tolong biarkan aku mengakhiri semua ini. Tapi Tama adikku seperti tidak memiliki batas atas kesabarannya dalam menghadapiku. Dia pergi dan kembali lagi dengan benda yang sangat aku harapkan tadi. Seakan ia setuju dengan kematianku. Bahkan ia menyodorkan benda itu kehadapanku. Ingin aku meraihnya, namun tiba-tiba ia mengatakan sesuatu yang membuat hatiku bergetar dengan sangat hebat. Yang aku mau hanya aku yang pergi.. Tapi kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Aku tidak mau jika kalian juga ikut pergi denganku. Akhirnya aku mengurungkan niatku dan berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melakukan hal ini lagi. Bagaimana jika apa yang Tama katakan benar-benar akan ia lakukan. Tidak.. Tidak.. Aku tidak mau.
Malam pun tiba, kedua sahabatku sepertinya memilih untuk menginap. Sayup-sayup ku dengar mereka membicarakan perihal Melky di ruang tv. Aku baru tersadar kalau sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Bahkan terahir kali aku melihatnya... Benar, dia ada ditempat itu. Dia menangisiku saat itu. Tapi dimana dia sekarang? Kenapa dia tidak pernah menemuiku bahkan saat aku masih ada dirumah sakit. Apa dia baik-baik saja?. Akupun kembali fokus mendengarkan pembicaraan mereka. Aku begitu terkejut mendengar kalau ternyata Melky juga ikut merasakan trauma yang mendalam setelah kejadian itu. Tapi kenapa? Kenapa dia sampai segitunya?. Apakah perasaannya juga ikut tersakiti setelah melihat keadaanku waktu itu? Padahal sudah begitu sering aku menolak perasaannya, tapi dengan bodohnya dia masih sangat mencintaiku sampai segitunya?. Oh ya ampun Melky... Maafkan aku. Ternyata bukan hanya aku yang menderita dalam kejadian ini. Apa aku begitu egois selama ini yang selalu menginginkan untuk pergi meninggalkan dunia ini? Seharusnya aku juga memikirkan perasaan mereka. Mereka juga pasti merasakan sakit seperti apa yang aku rasakan. Terutama ayah dan Tama. Ya allah maafkan aku... Maafkan aku yang begitu sangat egois.
Keesokan paginya. Kanya dan Dini masuk kekamarku. Mereka mengatakan akan kembali kemedan pagi ini, dan mengatakan akan lebih sering lagi datang berkunjung. Aku tidak mampu mengucapkan sepatah katapun kepada mereka. Mataku tertuju pada tangan Kanya yang sudah terbalut oleh perban. Aku merasa sangat bersalah padanya, tapi aku tidak berani untuk meminta maaf. Rasanya tidak pantas. Tapi tiba-tiba Kanya memeluk tubuhku, dan Dini pun juga ikut memelukku. Rasanya nyaman sekali, sampai-sampai air mataku mengalir begitu saja. Menumpahkan segala kegundahan hati yang selama ini aku pendam sendiri. Akhirnya aku memantapkan diri untuk akan tetap bertahan hidup demi mereka. Demi mereka yang begitu sangat menyayangiku.
Dan setelah akhirnya aku mulai ingin mencoba membuka diri dan ikhlas untuk menjalani semua ini. Allah memberikanku banyak sekali bonus tambahan.
Hariku mulai sedikit membaik. Tama juga sering membawaku keluar sekedar untuk berjalan-jalan ketempat yang aku ingin datangi. Begitu juga dengan ayahku, aku sudah bisa melihatnya tersenyum lagi sekarang. Ternyata melihat orang lain senang bisa membuat hati kita juga ikut senang. Dan aku juga berfikir sebaliknya.. Berarti selama beberapa bulan ini, mereka juga merasa sedih karena melihatku bersedih.
__ADS_1
Hari itu Tama mengajakku pergi keluar dan menyakan aku inginnya kemana. Dan aku memilih untuk pergi ke hutan pinus. Aku memilih untuk datang kesana karena aku ingin mengenang mimpiku semalam. Mimpi yang sangat indah dan juga menyakitkan bagiku. Tanpa sadar aku pun menceritakan mimpi itu pada Tama. Sekuat tenanga aku menahan untuk tidak menangis, tapi nyatanya pertahananku begitu sangat lemah kalau mengingat tentang dia. Tama memberikan pelukannya untukku. Tapi hatiku masih merasa sangat sedih, dan air mata ini tidak mau berhenti mengalir. Tamapun akhirnya membawaku pulang dan menutunku masuk kedalam kamar. Aku menjatuhkan tubuhku diatas kasur sambil memejamkan mataku namun tidak tidur. Aku masih merasakan kehadiran Tama dikamarku. Sepertinya dia enggan meninggalkanku sendiri. Aku tetap dalam posisiku dan membiarkannya tetap berada dikamarku.
Ponsel Tama berdering saat ada yang menelfonnya. Tama sedikit menjauh dariku namun masih berada didalam kamar. Dengan jelas aku mendengar percakapannya. Ternyata ia berbicara dengan polisi yang menangani kasusku. Walau aku tidak mendengar apa yang polisi itu katakan, namun aku sedikit faham dengan maksud dari pembicaraan mereka. saat ini mereka membicarakan tentang bang Reza. Ternyata bang Reza sudah sadar dari komanya. Syukurlah.. Fikirku. Namun setelah itu Tama mengatakan sesuatu yang membuatku sangat terkejut. Aku langsung membuka mataku dengan perasaan tidak percaya. Tama mengatakan kalau dia juga berharap kalau bang Daniel juga akan segera sadar dari tidur panjangnya. Deg.. Berarti selama ini.. Dia masi HIDUP.