CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Jangan bermain api kalau tidak mau terbakar


__ADS_3

Reza duduk di kursi makan sambil menikmati soup kaldu yang sengaja dimasakkan oleh Daniel untuk mengurangi pengar akibat hangover semalam. Dihadapannya ada Daniel yang menatap tajam kearahnya dengan melipat kedua tangannya didada. Reza merasa dirinya sudah seperti seorang penjahat yang akan segera diexsekusi. Namun ia tidak perduli, ia tetap menikmati sarapannya.


"Kenapa lo gak ikut sarapan?" tanya Reza tanpa menatap kearah orang yang ditanya.


"Gak laper." jawab Daniel cepat namun dengan mimik wajah yang masih datar


"Soupnya enak, seperti biasa." katanya lagi sambil tersenyum garing.


Dulu saat mereka masih sering minum, hampir setiap hari Daniel membuat sop kaldu untuk menghilangkan mual mereka. Reza selalu suka sop kaldu buatan Daniel.


"Kenapa lo gak ada cerita ke gue?" tanya Daniel to the point tanpa harus menunggu Reza selesai makan.


"Cerita apa?" Reza pura-pura bodoh sambil terus makan.


"Hufh.." Daniel menghela nafas sekedar untuk mengurangi amarahnya. Bagaimana pun ia tidak punya hak untuk memaksa Reza menceritakan masalahnya walaupun ia sahabatnya sendiri. "Habiskan soupnya, gue mau balik" ucapnya sambil berdiri.


"Gue gak mau ganggu kencan lo." ucap Reza saat Daniel sudah berada diambang pintu "Gua gak mau ngerusak kebahagian lo." sambungnya lagi


"Huh, lo tau.. dengan kebodohan lo ini, lo bukan hanya ngerusak kebahagiaan gue, lo juga udah ngerusak kencan gue." kata Daniel tanpa bergerak dari sisi pintu "Dasar bodoh, siapa perempuan itu?" gertaknya


"Maya.." sebutnya lemah dengan kepala yang tertunduk


Otak Daniel berputar-putar mencari Maya mana yang Reza maksud, namun nihil otaknya tidak bekerja dengan baik saat ini. Daniel pun berbalik ke arah meja makan lalu duduk kembali di samping Reza. "Maya mana yang lo Maksud?"


"Maya vokalis band kita." ucapanya jujur


"What? lo gak salah?" Daniel terkejut bukan main.


"Gue khilaf men... gue bingung harus gimana lagi. Dia bilang dia hamil, apa yang harus gue lakuin." Reza tampak prustasi.


"Astaga za, gimana ceritanya lo bisa sama dia?" Daniel tidak habis fikir dengan perbuatan temannya. Dan kalau difikir-fikir Reza hampir tidak pernah terlihat dekat dengan Maya, bahkan saat di cafe sekalipun.


"Gue khilaf.." cuma itu yang bisa ia jelaskan. "Gue gak tau apa yang akan terjadi kalau Bella sampai tau masalah ini."


"Sayangnya dia udah tau Za."

__ADS_1


Reza langsung mengangkat kepalanya menghadap kepada Daniel. Dia tidak berkata apa-apa namun matanya seakan bertanya 'bagaimana kekasihnya bisa tahu akan masalh ini'. Bahkan ia tidak bicara dengan siapa pun. "Maya.." terkanya dengan nada marah. Reza mengira kalau Maya lah yang mengatakannya kepada Bella.


"Lo salah, Bella bukan tau dari Maya. Tapi karna tespek yang dia temukan di ranjang lo." jelas Daniel " Lo lost contak bro, dia khawatir. Awalnya dia ingin ngecek keberadaan lo disini, tapi nyatanya dia malah dapatkan yang bukan dia inginin." sambungnya lagi sambil menepuk punggung Reza untuk menenangkan.


"Apa yang harus gue lakuin sekarang bro..?" erangnya semakin prustasi


"Gimana pun lo harus ngomong ke Bella, jelasin ke dia. Dan soal Maya lo juga harus tanggung jawab, Itu anak lo.." ucap Daniel memberi saran.


"Gue gak yakin Bella mau dengar penjelasan gue." pupus harapannya dapat bersanding dengan Bella.


"Gue gak bisa bantu apa-apa bro, ini masalah hati." bagaimana pun Reza lah yang harus menyelesaikan semuanya. "Jangan sampai kejadian yang menimpa gue, menimpa lo juga." Daniel berusaha tegar saat mengatakannya.


"Tapi gue heran sama lo, sama Bella lo bisa ngejaganya sampek bertahun-tahun. Tapi kenapa sama Maya, lo malah kebablasan?" sambung Daniel lagi.


"Gue gak tau Dan, entah setan apa yang udah ngerasuki gue." ucapnya lemah "Tapi gue harap lo jangan bertanya dimana gue ngelakuinnya."


"Karna lo ngomong gitu, gue jadi makin penasaran dimana lo ngelakuinnya." kata Daniel


Reza kemakan omongannya sendiri. "Hehe.. mending lo gak usah tau deh."


"Diruangan lo." ucap Reza sambil nyengir.


Mulut Daniel menganga karna tidak bisa berkata-kata. "Wah parah lo men, parah lo sumpah." Daniel bahkan sampai menggebrak meja makan sangking kesalnya.


"Kejadiannya memang disana, gue bisa apa." ucapnya tanpa dosa "Kan tadi udah gue bilang lu jangan bertanya. Lo maksa, ya gue jawab." sambungnya lagi sambil terkekeh melihat wajah sahabatnya yang seperti tidak terima karna ruangannya dijadikan tempat mesum.


"Lo tau, gue jadi nyesal udah nyariin lo semalaman. Tau gitu mending gue pergi kencan aja sama Cintya." Daniel benar-benar kesal.


"Kan gue gak mintak lo nyariin gue. Gue juga gak manggil lo datang kesana karna gue tau lo ada janji kencan sama Cintya. Jadi kenapa sekarang lo malah nyalahin gue." kata Reza tak terima.


"Hufh, harusnya gue hajar aja loh ya pas Hangover semalam." geram Daniel


"Iya seharusnya lo hajar gue semalam, kan gue gak bisa ngelawan." Balasnya


"Huh, dasar somplak.." gumam Daniel "Jadi apa rencana lo sekarang?" tanyanya

__ADS_1


"Yang pertama, biarin gue habisin soupnya dulu biar otak gue bisa mikir." jawabnya sambil meneruskan makannya.


Benar, setelah Reza selesai makan otaknya benar-benar dapat bekerja dengan baik. Dia berkata kalau ia akan menyelesaikn semuanya hari ini juga.


Pertama-tama ia akan mengajak Maya periksa ke dokter kandungan terlebih dahulu, untuk memastikan kebenarannya. Jika memang benar Maya hamil, dan bisa dipastikan kalau anak yang ada dikandungan Maya adalah betul anaknya, maka bisa dipastikan hubungannnya dengan Bella akan berakhir. Dan ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk bertanggung jawab menikahi Maya.


Mustipun berat, tapi inilah resiko yang harus ia hadapi atas khilafnya itu. Ia juga tidak mau menjadikan Maya sebagai korban atas tindakannya.


Daniel hanya bisa mendukung setiap apa yang akan dilewati sahabatnya. "Gue dukung semua keputusan lo. Gue yakin lo bisa melewati ini semua." ucap Daniel memberi semangat.


"Terus gimana hubungan lo sama Cintya? gue yakin dia pasti marah karna lo batalin kencannya." bagaimana pun Reza tetap khawatir dengan hubungan percintaan Daniel yang bahkan belum ada kata sepakat.


"Lo gak usah mikirin gue, gue yakin dia bisa ngerti sama penjelasan gue." ucapnya yakin.


"Gimana gue gak khawatir. Lo uda jomblo 5 tahun bro, gue gak mau lo jomblo selamanya." ucapnya prihatin


"Gak usah diperjelas juga Za... lo pikirin aja lah cewe cewe lo itu. Ururan Cintya biar gue yang urus. Ribet banget lo." ketus Daniel karna dikatain jomblo.


"Sensi banget lo Dan.. Iri lo kan karna bentar lagi gue mau punya anak." ejek Reza


"Waahh resek.. gue gak bisa bayangin kalau lo punya anak. Yang ada Gue takut nanti anak lo kayak lo jugak. Gak cukup dengan satu perempuan." balas Daniel terkekeh


"Ah sialan lo, lo nyumpahin anak gue? tenang aja, nanti begitu anak gue lahir langsung gue masukin pesantren." katanya sambil tertawa.


"Bagus deh kalau gitu.." tambah Daniel tertawa sambil memberikan dua jempolnya


"Menurut lo Dan, anak gue lakik apa perempuan?" tanya Reza


Daniel mengangkat bahunya " Mana gue tau, lo kira gue mbah dukun." Daniel melempar serbet ke wajah Reza


"Anak perempuan imut kali yah." Reza sudah sibuk menerka-nerka anak yang bahkan belum terbukti kebenarannya. Bahkan ia sudah sangat bersemangat untuk bisa memiliki anak perempuan.


"Ia imut banget. Habis itu jangan lupa kasih namanya Bella yah." kata Daniel. Reza langsung terdiam. "Kan lagi tren tu nama mantan dijadikan nama anak." lanjut Daniel sewot


Wajah Reza langsung kembali lesu saat mendengar nama Bella. Entah apa yang akan ia jelaskan kepada Bella nanti.

__ADS_1


Daniel langsung mengerti saat melihat perubahan expresi wajah Reza. "Makanya Za, jangan bermain api kalau tidak mau terbakar" Daniel malah memberikan Reza sebuah pepatah lama.


__ADS_2