CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Pembalasan dendam (part 1)


__ADS_3

Panik.. Cintya terkena serangan panik saat ia menerima sebuah telfon yang mengatakan kalau Daniel mengalami insiden kecelakaan. Tanpa pikir panjang ia langsung pergi menyusul ketempat kejadian bersama dengan David. Ia sudah tidak bisa berfikir lagi. Hanya satu pertanyaan yang ia lontarkan kepada orang yang berada disebrang telfon "Bagaimana keadaannya?" . Suara disebrang telfon hanya mengatakan kalau ia harus segera datang kesana dan memberikannya sebuah alamat.


Cintya terus menggigiti ujung kukunya. Dan sesekali ia bergerak gelisah. mulut diam, namun hatinya terus melontarkan doa semoga Daniel tidak mengalami cedera serius.


Sesekali David melirik kearahnya namun tidak mengatakan satu katapun. Seakan-akan dia sudah tahu apa yang sedang terjadi.


"Apa disini tempatnya?" Cintya menatap sebentar kearah David saat mobil David berhenti disuatu tempat. Sepi.. Ntah dimana ini. Cintya melihat sekitar sebelum akhirnya ia turun. Sedari tadi dia hanya termenung dengan semua pemikiran yang ada dikepalanya. Sampai-sampai ia tidak begitu perduli dengan mobil yang menuju entah kemana


"Apa kau yakin disini tempatnya?" dengan wajah pias David mengangguk "Tapi dimana bang Daniel? Kenapa sepi sekali?"


Bagaimana tidak sepi, David membawanya jauh kedalam pelosok perkampungan yang bahkan tidak memiliki penerangan sama sekali. Hanya ada cahaya redup rembulan yang menyinari setelah David mematikan lampu sorot mobilnya tadi.


"Dimana bang Daniel?" berkata setengah berteriak.


"Maafkan aku Cintya.." Kata-kata David masih belum dapat Cintya cerna.


"Kenapa? Kenapa kau minta maaf? kau salah apa?"


Tiba-tiba Cintya dikaget kan oleh kedatangan dua pria berbadan besar yang saat ini sudah memeganginnya. "Siapa kalian..?" Cintya mencoba memberontak. Namun sayang, tenaganya tidak begitu kuat untuk mengalahkan kedua pria besar itu. Dia pun diseret masuk kedalam hutan


Berteriak sekuat tenaga meminta tolong kepada David yang hanya berdiri tanpa ekspresi menyaksikan dirinya diseret.


Dua jam yang lalu.


"Baiklah aku akan pergi. Tapi setelah aku pergi, kau langsung masuk oke..?" memberikan senyuman kepada orang yang dicinta, yaitu Cintya.


Senyuman dan lambaian tangan Cintya membuat hati Daniel dipenuhi oleh kebahagiaan. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama begitu ia menerima pesan vidio yang dikirim melalui nomor Reza sahabatnya.


Daniel menghentikan mobilnya dan mulai melihat isi vidio. Matanya membesar sempurna saat melihat yang dividio itu ternyata adalah Reza dengan wajah yang sudah babak belur dan tergeletak tak bergerak dilantai. Setelah menerima pesan Vidio, pesan baru pun masuk yang berkata "Datang lah kealamat ini sekarang kalau kau masih mau melihat temanmu hidup." pesan berikutnya adalah sebuah alamat yang harus Daniel datangi.


Tanpa berfikir panjang Daniel langsung tancap gas menuju ke alamat yang tertera dengan menggunakan aplikasi google map.


Tibalah ia disebuah perkampungan. Mobilnya berhenti saat melihat dua orang pria seperti sedang menghadang mobilnya. Firasatnya mengatakan kalau kedatangannya sudah dinanti daritadi. Ia pun segera turun dari mobil setelah mematkkan mobilnya.


"Dimana temanku?" tanyanya. Seorang pria yang menghadangnya tadi hanya memberi isyarat dengan tangannya agar Daniel mengikuti dirinya.


Menyusuri semak belukar sampai akhirnya mereka sampai disuatu tempat. Seperti sebuah gudang yang sudah lama tidak terpakai, namun masih memiliki pencahayaan listrik didalamnya.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya Daniel saat masuk kedalam dan menemukan Reza yang sudah tidak sadarkan diri.


"Za.. Apa yang terjadi." mencoba membangunkan Reza dengan menaruh kepala Reza dipangkuannya.


Matanya menyusur keseluruh sudut ruangan, dan menemukan satu sosok pria yang sedang duduk disebuah kursi sambil menatap tajam kearahnya. Daniel mengenal sosok itu. "Dom" Kakak kandung dari mantan kekasinya. Jovanca


"Kau..." Daniel tidak menyangka dalang dari ini semua adalah Dom.


Dom beranjak dari kursinya dan mulai mendekat kearah Daniel. Mata mereka bertemu


(Anggap saja pembicaraan menggunakan bahasa rusia yang sudah diartikan kebahasa indonesia.)


"Kau masih mengenalku?" dengan senyum sinis Dom bertanya kepada Daniel yang sepertinya masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa denganmu? Apa yang sedang kau lakukan?"


"Apa kau fikir masalah kita sudah selesai?" tertawa sinis " aku tidak sebaik itu untuk membiarkan kematian adikku. Dan aku sudah menunggu terlalu lama untuk membalasmu."


"Kau tahu bukan aku pelakunya. Lalu apa ini?" seingat Daniel Dom sudah menerima dengan lapang dada semua laporan tentang kematian Jovanca dari kepolisian Singapur. Bahkan ia sendiri yang menutup kasus Jovanca dengan mengatakan kalau semua ini hanya sebuah kecelakaan dan menerima semua bukti yang dikumpulkan oleh kepolisian.


Daniel masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Dom.


"Kau masih belum mengerti apa kesalahanmu?" Daniel hanya terdiam " Kalau saja kau masih mau menerimanya dulu, mungkin saat ini dia masih hidup." mimik wajahnya berubah menjadi sangat menyeramkan


Daniel mereka ulang semua ingatannya lima tahun lalu. Saat ia mengusir Jova yang merengek untuk kembali kepadanya dan mengaku kalau ia sedang hamil dari apartemennya. Benar kata Dom, kalau dialah penyumbang nomor satu penyebab kematian Jova kala itu. Daniel tertunduk sedih, bahkan ia sampai meneteskan air matanya mengingat semua itu adalah kesalahannya.


"Apa sekarang kau sudah ingat hah?" sebuah tendangan yang cukup keras dari kaki Dom berhasil membuat Daniel tersungkur disebelah Reza. Pelipis Daniel berdarah, dan seketika pandangannya ikut buram.


"Ikat mereka." perintahnya kepada anak buahnya.


Daniel dan Reza diikat bersebelahan disebuah tiang penyangga gudang.


Daniel tersadar dari pingsannya saat mendengar suara dari orang yang sangat dikenalnya.


"Lepaskan aku... Aku mohon" Cintya masih terus teriak sambil menangis. Entah apa kesalahan yang ia perbuat sampai ia harus menerima semua perlakuan ini.


Tubuh Cintya dihempaskan kelantai. Tubuhnya terasa sangat sakit karena benturan dari lantai.

__ADS_1


"Cintya.." Daniel berusaha ingin mendekat kearah Cintya. Namun ia tidak bisa bergerak.


Cintya menoleh dan menemukan Daniel yang wajahnya sudah dipenuhi oleh darah yang berasal dari pelipisnya yang robek.


"Bang Daniel.." Cintya mencoba berdiri ingin mendekat kearah Daniel. Namun sebuah tarikan dirambutnya membuatnya mengerang kesakitan dan terhenti seketika.


"Mau kemana kau ******..(masih menggunakan bahasa rusia)" Dom menarik rambut Cintya dan kemudian menahan leher Cintya dengan lengannya.


Cintya mencoba berontak, namun lengan Dom semakin erat menahan leher Cintya. Sampai Cintya merasakan sesak karena tidak bisa bernafas. Ia terus memukul lengan Dom dengan tangannya, sampai akhirnya Dom mulai melonggarkan cekikan melalui lengannya.


"Jangan sakiti dia.." teriak Daniel dengan nada sedih


"Kenapa? Apa dia kekasihmu? Kau mengantikan tempat adikku dengan wanita ****** ini huh?" berkata keras seakan akan sedang meluapkan semua amarah yang ada dihatinya. "Aku tidak akan membiarkan kau bahagia dengan wanita manapun. Kau akan menderita selamanya, bahkan setelah kematian menjemputmu. Kau mengerti?"


Cintya hanya bisa menangis tanpa mengerti apa yang sebenarnya di bicarakan oleh Daniel dan pria yang sedang menahannya.


"Tapi aku mohon lepaskan dia. Dia tidak bersalah.. Aku mohon kepadamu." Daniel sampai menangis melihat orang yang dicintainya kesakitan. Semua adalah kesalahannya, tapi kenapa orang lain harus mendapatkan akibatnya juga. Reza, Cintya.. Apa kesalahan mereka. "Bunuh saja aku jika kau mau, tapi aku mohon lepaskan mereka." masih terus memohon


"Apa kau sangat mencintainya?" Menempelkan pipinya ke pipi Cintya sambir menyeringai sinis


"Lepaskan dia.. Dasar kau bajingan." Marah Daniel memuncak melihat Dom menyentuh wajah Cintya


Dom tertawa puas tanpa melepaska lengannya dari lehar Cintya. " Memang ini yang ku tunggu. Tidak percuma aku menunggu hingga lima tahun. Akhirnya aku akan segera melihatmu menderita atas apa yang kau sudah perbuat untuk adikku." satu tarikan tangannya berhasil membuat gaun yang Cintya kenakan robek sehingga membuat tubuh bagian atas Cintya terexpos secara nyata.


Cintya semakin menjerit sekuat tenaga sambil berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. Dom tidak perduli sengan suara teriakan Cintya. Yang ia rasakan saat ini hanyalah sebuah kepuasan untuk membalas dendam atas kematian adiknya.


Daniel merasakan lemas diseluruh tubuhnya. Ia tidak berdaya. Ia tidak mampu menolong orang yang dicintainya. Teriakan Cintya seakan membius tubuhnya untuk tidak bergerak. Otaknya blank dengan mata yang sudah berkaca-kaca menatap kearah Cintya yang sudah setengah telanjang.


"Hei.." Dom menendang kaki Daniel. " kau mau melihat sebuah pertunjukan?" menyeringai lagi saat Daniel menatap kearahnya dengan tatapan kosong


Dom meremas buah Dada Cintya tepat dihadapannya sambil tertawa puas.


"Kau.."geram Daniel. Daniel sudah tidak bisa mengontrol amarahnya lagi. Bahkan ia mengerahkan seluruh tenaganya sampai tali yang mengikat tangannya terlepas hanya dengan satu hentakan. Bug. Satu pukulan mendarat tepat diwajah Dom. Dom tersungkur. Cintya pun sudah terbebas dari lengan Dom. Daniel bertumpuh diatas tubuh Dom dengan kedua lututnya lalu secara membabi buta memberikan banyak pukulan kewajah Dom yang masih sempat-sempatnya tertawa walau sudah banyak mengeluarkan darah.


Belum puas Daniel memberikan bogemnya, dua orang pria mulai menyeretnya dan mulai memukulinya hingga ia meringkuk kesakitan diatas lantai.


"Bang Daniel.." rintihan Cintya benar-benar menyayat hati Daniel mengalahkan semua rasa sakit yang ada ditubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2