CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Ketegangan ayah dan anak


__ADS_3

Hari berganti malam. Cintya sudah masuk kedalam kamarnya. Sementara Melky yang memang memutuskan untuk menginap satu malam dirumah Cintya kini sedang duduk kursi diteras.


Tama datang menghampiri Melky dengan membawa dua gelas kopi ditangannya dan memberikan satu gelas untuk Melky.. " Apa kau sudah lebih baik sekarang?" Tanya Tama sambil duduk disebelah Melky. Melky hanya tersenyum sambil mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Karena kakakku juga sudah sebih baik sekarang. Aku mulai bisa bernafas lega." senangnya.


"Apa kau akan tinggal disini terus?" tanya Melky.


"Hmm.. Setidaknya sampai kakakku menikah (tersenyum miring). Setelah itu.. Aku masih belum punya rencana lain." jawabnya . "Oya, aku dengar kau menolak introgasi polisi. Kenapa? Bukannya kau memang ada di TKP saat itu?" bertanya sambil menyeruput kopinya.


"Aku bukan menolak. Tapi memangnya apa yang bisa ku bantu untuk mereka. Sementara aku memang tidak tahu apa-apa." sarkas Melky lirih.


Tama mengangguk mengerti. "Ya aku faham. Oya, apa aku boleh bertanya lagi?" Melky hanya mengangguk pelan. "Apa gaun yang dipakai kakakku di hari kejadian, kau yang membelikannya?"


Melky terdiam sejenak lalu kemudian mengangguk. "Apa kau percaya kalau aku menghabiskan tabunganku untuk membeli gaun itu?" tertawa sinis.


"Apa kau menyesal sekarang?" mendengus


Melky menghela nafasnya. "Entahlah.. Disatu sisi aku sangat senang melihatnya memakai gaun itu karena sangat pas ditubuhnya dan membuatnya terlihat sangat cantik. Tapi disatu sisi.. (menghela nafas lagi) aku sadar kalau bukan hanya aku yang menikmati keindahan itu." menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin. Tama terdiam menatap raut sedih Melky yang terlihat masih menyimpan banyak sekali kesedihan. "Kau jangan khawatirkan aku.. Aku baik-baik aja sekarang." Melky mengerti maksud dari tatapan Tama padanya. "Apa masih ada yang kau khawatirkan lagi sekarang?"


"Tentu.. Selama pelakunya masih berkeliaran bebas diluar sana, aku gak akan bisa berhenti untuk tidak khawatir. "Tama masih merasa sangat cemas selama pelakunya belum tertangkap.


"Apa Cintya gak pernah sedikitpun cerita tentang pelakunya?" Tanya Melky penasaran.


Tama menggelengkan kepalanya. "Kami pun gak pernah berusaha untuk membahasnya. Bahkan kami selalu mencegah setiap kali polisi datang untuk mengintrogasinya. Setelah kejadian itu kondisinya sangat memprihatinkan. Kami hanya tidak ingin kehadiran mereka semakin memperparah keadaannya." ucapnya menjelaskan. Melky mengangguk mengerti. "Tapi Mel, ada satu lagi yang sangat aku khawatirkan."


"Apa?"


"Aku sangat takut kalau sampai bang Daniel gak akan pernah membuka matanya lagi." ucapnya lirih.


"Apa kau masih sangat berharap dia jadi abang iparmu huh?" tuduh Melky yang sedikit kesal.


"Aku hanya memikirkan kakakku. Kau tau sendiri kakakku sangat menyukainya. Bahkan aku saja baru tahu kalau kegilaannya selama ini sampai dia selalu berusaha untuk mengakhiri hidupnya karena dia berfikir kalau bang Daniel sudah meninggal. Dan setelah dia tau kalau ternyata bang Daniel masih hidup, kau lihat sendiri bagaimana dia sekarang kan? Apa jadinya nanti kalau ternyata bang Daniel benar-benar akan pergi. Ah.. Aku sangat khawatir kalau kakakku bakal kembali seperti kemarin." ucapnya khawatir.


"Tam.." panggil Melky.


"Hm.."


Melky tampak ingin menyampaikan sesuatu. Namun ia sedikit ragu.


"Kenapa kau diam? Ada yang ingin kau sampaikan?" sergah Tama.

__ADS_1


"Emm aku hanya merasa kejadian hari itu terasa sedikit janggal." ungkapnya.


"Apanya yang janggal?" tanya Tama bingung.


Belum sempat Melky menjawab, sebuah mobil masuk kedalam perkarangan rumah Tama. Tama dan Melky memperhatikan mobil itu sampai benar-benar berhenti dan sang pemiliknya keluar.


"Ayah?" sebut Tama saat melihat ayahnya keluar dari pintu penumpang. Dan iapun beralih pada seseorang yang juga ikut keluar dari pintu pengemudi. Siapa dia? Membatin. Tama pun menghampiri ayahnya diikuti dengan Melky yang ada dibelakangnya. "Ayah dari mana? Dan siapa dia?" tanyanya penasaran.


Ayahnya tampak ragu ingin mengenalkan seseorang yang ikut pulang bersamanya. "Emm.. Dia.." gugup


"Kenalkan saya Wisnu." Wisnu memperkenalkan dirinya dengan menjulurkan tangannya kepada Tama .


Walaupun Tama sedikit bingung dengan kehadiran Wisnu yang tidak ia kenal sebelumnya. Ia hanya bisa membalas uluran tangan Wisnu "Tama." ucapnya juga memperkenalkan diri.


"Dia abang kandungnya nak Daniel." ucap Ayah memberitahukan status Wisnu.


Tama terdiam dengan ekspresi terkejut.


"Sebaiknya kita bicara didalam." Ayah pun mempersilahkan Wisnu untuk masuk kedalam rumahnya.


Ayah, Wisnu dan Melky duduk di sofa ruang tamu. Sementara Tama baru saja datang dari dapur dengan membawa nampan yang berisi beberapa gelas teh panas dan menyuguhkannya pada semua orang.


"Apa bang Daniel udah sadar?" Tanya Tama membuka obrolan.


"Apa yang membuat abang jauh-jauh datang kemari?" tanyanya lagi to the point.


"Tadinya aku datang menjenguk Reza yang sudah sadar dari komanya." jelas Wisnu.


"Bang Reza sudah sadar?" potong Melky terkejut karena memang ia belum tahu kabar ini. Dibalas anggukan oleh Tama. "Jadi bagaimana keadaannya bang Reza sekarang setelah sadar? Apa dia masih ingat dengan kejadian itu?" lanjutnya penasaran begitupun dengan Tama. Tapi tidak dengan Ayah Tama.


"Syukurlah cedera dikepalanya tidak sampai membuatnya amnesia." jelas Wisnu.


"Lalu.. Apa polisi sudah datang menemuinya bang?" Tanya Tama


Wisnu mengangguk. "Hmm.. polisi tadi sudah datang untuk mengambil keterangan darinya. Tapi sayangnya.. Reza tidak tahu siapa yang sudah membuatnya sampai seperti ini. Bahkan dia juga tidak tahu kalau Daniel dan Cintya juga turut menjadi korban. Karena dia sudah tidak sadarkan diri begitu sampai ditempat kejadian." terlihat sekali ada raut kekecewaan diwajahnya. "Sepertinya kasus ini akan sulit dipecahkan." lanjutnya lagi tertunduk. "Tapi kalau saja Cintya mau bicara.." masih ingin bicara, namun Tama memotong ucapannya.


"Jadi kedatangan abang kemari ingin membuat kak Cintya bicara tentang kejadian hari itu?" menatap tajam kearah Wisnu. "Apa abang fikir setelah apa yang sudah dilaluinya beberapa bulan ini, dan sekarang ia sudah mulai membaik maka aku akan mengijinkannya?"


"Tapi Tam, hanya dia yang mampu memecahkan kasus..." lagi-lagi ucapan Wisnu dipotong oleh Tama.

__ADS_1


"Aku juga sangat ingin kasus ini segera mendapatkan titik terang bang. Aku juga adalah orang yang paling ingin tahu siapa orang yang sudah berani menyentuh kakakku dan berani mengambil kehormatannya. Tapi.. apa abang tahu apa yang membuat aku selama ini selalu menahan diri untuk tidak langsung bertanya padanya?" Wisnu terdiam mendengar ucapan Tama yang terdengar sangat emosi. "Aku yakin abang pasti tahu jawabannya. Sebaiknya abang pulang saja sekarang. Abang tidak akan mendapatkan apapun dari sini." Mengusir Wisnu.


"Tapi Tam.. Tidak ada salahnya untuk mencoba. Cintya sudah baik-baik saja sekarang." Ayah mencoba membujuk Tama.


Tama mengerutkan dahinya mendengar ucapan ayahnya sendiri yang seakan-akan mendukung apa yang akan Wisnu lakukan pada kakaknya. "Ayah mendukungnya?" bertanya dengan suara bergetar menahan tangis dan emosi di dadanya.


"Bukan begitu nak.." masih berusaha berkata dengan lembut


"Apa ayah ingin melihat kak Cintya kembali seperti kemarin?" teriaknya emosi. "Aku tahu ayah tidak benar-benar menyayangi kami.. Tapi setidaknya cobalah untuk sedikit prihatin dengan keadaan anak ayah sendiri." berdiri menatap tajam kearah ayahnya.


"Tama.." giliran ayahnya yang berteriak sambil berdiri. Dia tidak terima dibilang tidak menyayangi anak-anaknya. Bahkan matanya sampai berkaca-kaca mendengar tuduhan anaknya sendiri. Hatinya merasa sangat sedih


Wisnu yang melihat ketegangan diantara ayah dan anak itu, mencoba untuk menjadi penengah. "Pak.. Sebaiknya anda tenang dulu." menenangkan Ayah Cintya dan memberikannya segelas teh.


Ayahpun berusaha menahan emosinya, namun ia tidak bisa memungkiri kalau hatinya begitu sangat sakit. Ternyata kebodohannya tempo hari masih akan terus membekas dihati anaknya yang berfikir kalau ia tidak menyayangi anak-anaknya. Sekarang ia hanya bisa menyesali semua perbuatannya.


"Tam.." Melky juga berusaha untuk menenangkan Tama dengan menarik tangan Tama agar mau duduk kembali. Tama yang masih merasa emosi menghempaskan tangan Melky dari lengannya dan bergerak ingin pergi. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara kakaknya memanggil namanya.


"Tam.." panggil Cintya yang ternyata sudah berada di ruang tamu.


Tama dan semua orang langsung menoleh kearah Cintya.


"Kak Cintya.. Bukannya kakak sudah tidur?" ucap Tama panik. Pasalnya tadi ia sempat mengecek keadaan kakaknya dikamar dan memastikan kalau Cintya sudah tidur.


"Kakak belum tidur Tam.. Dan kakak mendengar semua obrolan kalian." jawabnya


Tama semakin panik mendengar jawaban kakaknya. "Kau mendengarnya?" gugup plus takut.


Cintya bergerak mendekat dan memeluk tubuh Tama. "Tidak apa-apa. Kau tidak perlu takut kalau aku akan kembali seperti kemarin. Aku akan memberi keteranganku pada polisi." ucapnya


Tama dan seluruh orang yang ada diruangan itu terdiam mendengar ucapan Cintya. Cintya pun melepaskan pelukannya dan mengajak Tama untuk duduk kembali di sofa.


"Kakak gak harus melakukannya kak." Tama berusaha mencegah Cintya untuk tidak melakukan apa yang akan membuatnya mengingat kejadian hari itu.


"Kakak udah baik-baik aja sekarang." menggenggam tangan Tama sambil tersenyum. "Apa abang akan menginap disini malam ini?" beralih pada Wisnu.


"Emm.. jika masih ada kamar kosong." jawabnya pelan dan terbata. Sebenarnya ia sudah memesan kamar hotel untuk ia tempati malam ini, namun entah mengapa ia malah berkata seperti inii saat Cintya bertanya padanya.


"Kaaak.." Tama masih belum yakin dengan keputusan kakaknya.

__ADS_1


"Melky bisa tidur dikamarmu. Dan bang Wisnu bisa tidur diruang tamu. Dan sebaiknya pembicaraan ini kita lanjut besok saja." bergerak berdiri dan langsung pergi masuk kedalam kamarnya kembali.


Tama menyandarkan tubuhnya kesandaran sofa sambil memejamkan matanya. Apa kak Cintya benar-benar akan baik-baik saja? Kecemasan masih terus menghantuinya.


__ADS_2