CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Depresi


__ADS_3

Setelah berkonsultasi dengan dokter dan mendapat ijin untuk membawa Cintya pulang, Tama dan ayahnya langsung berkemas. Ada juga Kanya dan Dini yang turut membantu.


"Apa Cintya akan kembali lagi?" tanya Kanya


"Kita lihat dulu perkembangannya sebulan ini." ujar Tama " lagipula barang yang ada dikos kak Cintya gak kita bawak kok. Semoga ada perubahan. Tapi kalau memang masih tidak ada perubahan, kemungkinan besar kak Cintya akan menetap di sana. Begitu juga dengan aku." jelas Tama.


"Kau juga akan menetap disana?" Dini


Tama mengangguk.." aku gak akan meninggalkan kakakku lagi. Aku akan selalu ada disampingnya." menatap Cintya yang hanya terdiam dengan pandangan kosong.


"Sekali-sekali datang lah berkunjung melihat Cintya." sambung ayah Tama. Kanya dan Dini mengangguk bersamaan.


"Bagaimana keadaan Melky? Apa sudah ada perkembangan?" Tama merasa sangat prihatin saat mengetahui keadaan Melky dari cerita Dini dan Kanya.


"Masih belum ada perkembangan.. Aku gak tega lihatnya." ujar Dini prihatin. "Melihat dia yang biasanya ceria, jadi orang yang gak bisa ditebak sama sekali. Sampai kapan dia akan seperti ini? Ku harap semuanya akan segera membaik dan kembali seperti semula. " harap Dini


"Semoga.." gumam Tama


"Kalau kalian pulang, bagaimana kelanjutan kasus Cintya?" Tanya Kanya penasaran.


"Kasusnya akan terus berjalan sampai pelakunya tertangkap. Detektif sudah menyimpan nomor ponselku, dan berkata akan segera menghubungiku jika ada sesutu yang penting" jelasnya. Bagaimanapun kasus kakaknya harus segera menemukan titik terang. Dia begitu penasaran dengan orang gila yang sudah sangat berani melakukan semua ini kepada kakaknya.


"Kira-kira siapa ya pelakunya?" Dini menatap Tama." Kenapa polisi lama sekali menangkap pelakunya.."


"Entah lah. Andai saja kak Cintya mau bicara, pasti polisi akan lebih mudah menemukan pelakunya." Tama menatap Cintya sendu


"Tapi yang aku gak habis fikir bagaimana caranya mereka membawa Cintya sampai disana? Setahuku, malam itu Cintya pegi ke pernikahan Wahyu bersama dengan Melky. Tapi kenapa malah bang Daniel dan bang Reza yang ada ditempat kejadian? Terus melihat keadaan Melky sekarang, membuatku semakin bingung. Sebenarnya apa yang terjadi?" Kanya sampai menautkan alisnya sangking merasa penasaran dengan kasus yang menimpa sahabatnya.


"Sebaiknya kita banyak-banyak berdoa untuk kelangsungan kasus ini. Dan berharap Cintya ataupun kedua teman pria yang turut menjadi korban akan segera sembuh." harap ayah Tama. Dini, Kanya dan Tama mengangguk setuju.

__ADS_1


Kini mereka sudah berada di lobi rumah sakit menunggu Ayah yang sedang mengambil mobil diparkiran. Dini dan Kanya tidak bisa menahan air matanya saat melihat mobil yang dikemudi oleh ayah sahabatnya itu mulai menjauh.


~


Dua bulan berlalu, namun belum ada perkembangan atas kasus yang menimpa Cintya, Daniel dan Reza. Selain karena tidak ditemukannya bukti di tempat kejadian, para korbanpun tidak bisa diambil keterangannya untuk membantu berjalannya penyelidikan. Daniel dan Reza masih terlulai tak sadarkan diri di dua rumah sakit yang berbeda. Tak jauh bedanya dengan kedaan Cintya yang semakin hari semakin sangat mengkhawatirkan.


Trauma yang mendalam atas apa yang sudah menimpa dirinya, membawanya pada tingkatan depresi akut. Dimana Cintya selalu berusaha untuk mengakhiri hidupnya. Berbagai cara sudah ia lakulan, mulai dari memotong urat nadinya menggunakan pecahan kaca, mencoba menggantung dirinya sendiri, ataupun mencoba menenggelamkan dirinya kedalam danau. Namun lagi-lagi usahanya untuk melenyapkan nyawanya sendiri itu selalu diketahui oleh Tama adiknya ataupun ayahnya.


Dan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan lagi, Tama serta ayahnya memilih untuk mengurung Cintya didalam kamarnya yang kini sudah diubah layaknya kamar orang yang sedang direhabilitasi. Walaupun begitu, Tama tak pernah sedikitpun meninggalkan kakaknya. Dengan telaten dia mengurus semua keperluan kakaknya, dan ia juga sering mengajak Cintya untuk mengobrol. Mestipun Cintya tidak pernah menanggapi, tapi Tama tidak pernah menyerah. Ia sangat yakin, kalau mukjijat itu akan selalu ada bagi orang yang tak pernah mengenal kata menyerah.


Indahnya pemandangan danau saat sore hari selalu memanjakan mata para penikmatnya. Terpantau seseorang yang tak pernah absen untuk sekedar menikmati pemandangan indah itu. Setidaknya hanya pemandangan ini yang mampu memberi penyemangat sekaligus penyembuh luka didalam hati.


Tama menarik nafasnya panjang, lalu kemudian ia buang secara perlahan. Pandangannya jauh menatap hamparan air yang begitu luas. Bibirnya mencoba untuk tersenyum, namun tidak dengan hatinya. Cobaan ini terlalu berat untuknya dan keluarganya. Walau begitu ia selalu berusaha tegar demi kakaknya


"Kopi.." tawar seseorang kepada tama sambil menyodorkan satu cangkir kopi panas.


Tama menoleh lalu kemudian tersenyum saat tahu siapa orang yang sudah berbaik hati memberinya secangkir kopi. "Kapan kau sampai Din?" tanya Tama sambil menerima kopi pemberian Dini


Tama tersenyum mendengar ucapan Dini. "Kau bisa tinggal disini kalau kau mau.. Dirumahku juga masih ada kamar kosong. Kau boleh menempatinya. Tapi tidak gratis." ucapnya bercanda


"Yaahh.. Aku maunya yang gratis.. Gimana dong?.. " ucap Dini membalas candaan Tama sambil tertawa kecil.


"Kalau begitu menikahlah dengan pemilik rumah agar kau dapat tinggal dengan gratis. Kau boleh memilih.. Ada dua pria tampan dan lajang yang menempati rumah itu." ucap Tama sambil tertawa.


"Dasar kau ini.." Dini memberikan pukulan bertubi-tubi kelengan Tama. Yang dipukul semakin tertawa puas. Hufh... Dini menghela nafasnya setelah puas memberikan pukulan kepada Tama. " Rasanya sudah lama aku tidak melihatmu tertawa lepas seperti ini." menatap Tama sambil tersenyum.


Tama menganggukkan kepalanya. " Memang sudah lama sekali." gumamnya pelan sambil menyeruput kopinya.


"Bagaimana perkembangan kasus kak Cintya? Apa ada perkembangan?"

__ADS_1


Tama menggeleng. "Belum.. kata penyidik, akan lebih mudah bila salah satu korban bisa membantu. Tapi sayangnya bisa kau lihat sendiri.. Belum ada tanda-tanda kalau bang Reza dan bang Daniel akan segera sadar dari komanya. Sementara kak Cintya..." terdiam sebentar menghela nafas. " Semakin hari dia semakin menggila.." menundukkan kepalanya. "Menurutmu, kapan semua ini akan berakhir?" lirihnya bertanya.


Dini faham dengan penderitaan yang dialami oleh Tama dan juga Cintya. "Aku yakin, semua ini akan segera berakhir. Kau jangan terlalu khawatir. Oke.." setidaknya hanya kata-kata ini yang bisa Dini ucapkan sebagai penyemangat. " Kau sudah melakukan semua yang terbaik untuk kak Cintya. Semua orang tau itu. Lagi pula, tuhan tidak tidur kan..?" menepuk pundak Tama menenangkan.


"Hmm.. Kau benar." mengangguk setuju. "Oya.. Kau sudah ketemu dengan kak Cintya?"


"Udah.. aku menemuinya tadi sebelum datang kemari. Sekarang dia lagi sama kak Kanya." Jawab Dini dengan tersenyum getir. Tak terasa air matanya pun jatuh begitu saja, dan dengan cepat dia menghapusnya. "Maaf.. Karena aku baru bisa datang menjenguk sekarang." ucapnya terisak sambil menundukkan kepalanya. Rasanya ia tidak sanggup melihat keadaan sahabatnya itu.


"Begitulah keadaannya sekarang. Bukannya membaik tapi malah jadi Semakin parah.. " jelas Tama sendu. "Kau tidak perlu minta maaf.. Aku tahu kau juga punya kesibukan sendiri.. Oya, bagaimana kabar Melky?"


"Entahlah.." ucap Dini pelan. "Sampai sekarang, dia gak pernah mau cerita ada apa dengannya. Di kerjaan juga dia cuma diam dan sering mendapat panggilan dari bagian SDM. Ya begitu lah... " Dini bingung menjelaskan. "Oya, kemarin aku dan kak Kanya menjenguk bang Reza dirumah sakit." Dini memberitahukan kunjungannya kerumah sakit


"Oya? Apa ada perkembangan?" Tanya Tama. Dini menggelengkan kepalanya. "Sepertinya kasus ini memamg akan sulit dipecahkan." Tama tampak semakin putus asa.


"Bagaimana dengan bang Daniel? Apa kau ada mendengar kabarnya?" Dini juga penasaran dengan keadaan Daniel karena tidak dapat menjenguk secara langsung.


"Aku dengar dari detektif.. Katanya bang Daniel sempat sadar sebentar. Tapi kemudian.. Dia mengalami kejang dan sekarang kembali koma lagi." menghela nafas.


Tiba-tiba ponsel Dini berdering, ia mendapat panggilan dari Kanya. "Kak Kanya nelfon. Aku angkat bentar.." Tama mengangguk.


Dalam panggilan telfon. "Iya kenapa kak?" tanyanya


"Din bawa Tama pulang sekarang.." suara Kanya terdengar panic.


"Ada apa kak.. Kenapa kau seperti panic begitu?" ucap Dini bingung.


"Cintya ngamuk Din.." terdengar juga suara seseorang sedang berteriak.


"Kak Cintya.." memandang Tama dengan ekspresi tegang.

__ADS_1


Tama seakan mengerti maksud dari pandangan Dini kepadanya. Dengan cepat ia langsung berlari pulang dan diikuti oleh Dini dibelakangnya.


Bersambung


__ADS_2