CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part 32


__ADS_3

Sekembalinya Cintya ke penginapan, ternyata Tama benar-benar sudah bangun. Bahkan ia terlihat sudah mandi dan rapi.


Senyumnya merekah sambil melirik kearah tangan Cintya yang menenteng satu kresek yang isinya pasti sarapan.


"Kakak belik apa?" tanyanya sambil mengambil kresek dari tangan Cintya.


"Nasi uduk.." jawabnya tidak bersemangat sambil duduk di pinggir ranjang.


"Kenapa pulang-pulang mukaknya malah ditekuk gitu? marah, karna tadi aku gak mau bangun?" Tama malah berfikir kalau Cintya marah kepadanya.


Cintya malah tertunduk dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya "tadi kakak jumpa sama Ayah" ucapnya sambil terisak.


Tama tampak menghela nafas sambil menatap intens kakaknya yang masih terisak. "Maaf yah, seharusnya tadi aku aja yang pergi." Tama merasa bersalah.


"Kakak sedih, karna gak bisa meluk Ayah. Padahal kakak kangen banget sama Ayah, tapi kakak gak berani." air matanya malah semakin deras.


Tama duduk disamping Cintya lalu menarik tubuh Cintya kedalam pelukannya, berharap kakaknya bisa lebih tenang. Sebenarnya perasaannya juga ikut sakit saat melihat kakak satu-satunya menangis seperti ini, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka berdua yang memilih pergi, dan mereka tidak akan kembali sebelum Ayah mereka sendiri yang meminta mereka untuk kembali. Tapi apa itu mungkin? fikir Tama.


"Kita ke toko Ayah aja mau gak? aku juga pingin jumpa sama Ayah. Mana tau setelah lihat kita Ayah beruba fikiran." sarannya masih memeluk Cintya, namun Cintya menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.


"Selama Ayah masih sama perempuan itu, Ayah gak akan pernah nerima kita lagi." ucapan Cintya sejalan dengan pemikiran Tama.


Tama melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah kakaknya yang masih terlihat menangis " Yaudah kalau gitu gak usah nangis lagi, mending kita sekarang ke makam Bunda. Kan kita kemari memang tujuannya kesana, bukan untuk bahas tentang Ayah... Tapi sarapan dulu yah, aku laper"


Cintya pun akhirnya mengangguk, dan mereka pun sarapan tanpa ada obrolan yang menyertai.


Mereka sudah sampai di makam sang Bunda yang di nisannya tertulis nama RIANTY RAHAYU binti RAHMAN. Makamnya terlihat sangat terurus, sangat berbeda dengan makam-makan yang lain. Bahkan terlihat basah dan ada taburan bunga yang masih segar. Sepertinya baru saja ada orang yang datang berziarah. Tapi siapa? Apa mungkin Ayah mereka? bisa jadi.


"Kak, baru ada yang ziarah kesini. Tapi siapa..?"Tama mencium bunga yang bertabur di makam Bundanya. Masih segar.


"Mungkin Ayah dek, siapa lagi?" jawab Cintya yakin. Karna keluarga Bunda mereka jauh di Bengkulu, dan hanya suami serta anaknya lah keluarganya disini. Jadi bisa Cintya pastikan kalau Ayah mereka lah yang baru saja datang berziarah.


"Tapi aku heran, kalau memang Ayah sangat mencintai Bunda, kenapa bisa memperlakukan kita seperti ini? dan lebih milih tu si nenek sihir.." ucap Tama berapi-api.


Cintya hanya mengedikkan bahunya, ia hanya berharap kalau Ayahnya akan segera sadar dari perbuatannya.

__ADS_1


"Yaudah lah dek biarin aja. Sini in airnya..." Cintya meminta air mineral yang dibawa Tama untuk menyiram makam sang Bunda.


"Assalamualaikum Bunda... Ini kakak sama Tama datang" Cintya menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya. Mustipun sudah enam tahun Bundanya pergi, namun tetap saja setiap kali ia datang kemakam ini hatinya selalu pedih." Kakak yakin, Bunda udah bahagia disana. Maafin kakak yah Bun, karna belum bisa menjadi anak yang baik. Kakak juga belum bisa jadi kakak yang baik untuk Tama. Tapi kakak janji, kakak akan terus berusaha untuk bisa membuat keluarga kita kembali lagi, kakak pingin kumpul lagi kayak dulu waktu Bunda masih ada" Cintya menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir " Kakak kangen sama Bunda... sama Ayah juga.." tangisnya semakin pilu.


"Udah kak, kasian Bunda kalau lihat kakak sedih kekgini. Nanti Bunda jadi ikutan sedih loh." ucap Tama menenangkan.


Perlahan Cintya mulai bisa mengontrol emosinya. Dibukanya buku kecil yang berisi surah Yasin, lalu mulai melantunkannya diatas makam. Tak lupa ia memfidiahkan surah yang ia baca untuk sang Bunda tercinta agar sang Bunda diberikan ketenangan disisi sang maha pencipta.


Setelah selesai berziarah mereka pun pergi meninggalkan area makam. Mereka memang berencana setelah pulang dari makam mereka akan pergi mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Medan


Mereka pun singgah di salah satu gerai pakaian. Dimana disana ada banyak model pakaian baik itu untuk pria maupun wanita.


"Kakak mau ngasi apa untuk bang Daniel?" ucap Tama sambil memilih-milih baju untuknya.


"Mm.. gak tau. Bagusnya kasih apa ya.." Cintya meminta saran dari Tama


"Nih, kasih ini aja." Tama memberikan dua buah kaus couple berwarna putih dengan corak batik dibagian lengannya, tak lupa juga ada tulisan LAKE TOBA dibagian belakang.


Namun dahi Cintya mengerut saat membaca bagian depan baju yang bertuliskan HUSBAND dan WIFE di masing-masing baju.


"Ucapan itu adalah doa.. jadi gak ada salahnya kakak ngasih ini sama bang Daniel. Ya moga-moga bang Danielnya mau jadiini kakak biniknya. Kan mayan.. jangan sok nolak deh.." ucapnya seraya memanggil pemilik gerai untuk membungkus dua baju yang dipegang Cintya. "tenang aja, aku yang bayar.." Tama mengeluarkan uang dari dompetnya.


Cintya hanya geleng-geleng tidak habis fikir dengan pemikiran adiknya.


Oleh-oleh untuk Daniel sudah dapat, tinggal untuk Melky, Kanya dan Dini yang belum. Mereka pun pindah ke gerai yang lain untuk mencari oleh-oleh yang berbeda.


Butuh waktu hingga tiga jam lamanya untuk mereka berkeliling mencari oleh-oleh. Setelah merasa cukup merekan pun memutuskan untuk pergi berjalan-jalan menikmati keindahan Danau untuk sekedar melepas kangen.


"Dek fotoin kakak disitu" pintanya sambil memberikan ponselnya kepada Tama.


Cintya berpose dengan gaya berdiri membelakangin danau yang membentang luas. Tidak bisa dipungkiri, Tama memang ahlinya dalam mengambil gambar dengan kamera. Setiap hasil jepretannya selalu saja bagus.


"Wuihhh... bagus yah, ternyata adekku ada gunanya juga." ucap Cintya tertawa sambil mengacak rambut Tama.


"Aku memang selalu berguna dimana pun aku berada. Kakak aja yang gak pernah mau mengakuinya." protesnya pura-pura ngambek.

__ADS_1


"Hehe.. iya iya"balasnya " Eh dek, ada bule ganteng. Udah lama gak liat bule, minta foto yok." Cintya menarik tangan Tama mendekati bule yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka. Sepertinya bule tampan itu sedang menikmati indahnya pemandangan Danau Toba.!


"Hello mister, boleh minta foto --" ucap Cintya polos menggunakan bahasa indonesia.


Tama menyikut lengan Cintya "Kakak kira dia ngerti ucapan kakak?" potongnya setengah berbisik.


Merasa ada yang menyapa, bule itu pun menoleh "Saya mengerti sedikit bahasa indonesia" jawab bule tersebut.


"Woaaa..." Cintya kegirangan "kalau begitu boleh foto bareng?" pinta Cintya dan dijawab anggukan oleh bule itu.


Cintya memeluk pinggang bule tampan yang tingginya hampir dua meter tersebut dengan sebelah tangannya dan bule itu pun menyambut pelukan Cintya dengan merangkul bahu Cintya. Gaya yang sangat santai dan seperti sepasang kekasih. Kapan lagi bisa foto bareng bule cakep kalau bukan disini!, pasalnya di Medan jarang bisa nemu yang beginian.


"Thank you" ucap Cintya tersenyum sambil mengatupkan kedua tangannya setelah Tama sudah berhasil mengabadikan foto dirinya dengan sang bule.


"It's okey.." bule itu juga tersenyum kepada Cintya.


"Ow yeah.. What is your name?" tanyanya lagi sambil menjulurkan tangannya mengajak berkenalan.


"Owh.. my name Cintya, C I N T Y A.." Cintya sampai menyebut satu persatu huruf namanya sambil menyambut tangan bule tersebut. Ya ampun, halus bener tangannya, gumamnya saat tangan mereka bersentuhan.


"And you?" bule itu beralih kepada Tama.


"Tama!" jawab Tama sambil menyambut tangan bule ramah itu.


"Senang bercemu dengan kalian" ucap bule itu lagi.


"Owh sama-sama mister? --" Cintya pingin tau nama bule itu .


"David" jawabnya cepat


" Semoga kita bisa bertemu lagi dilain hari mister David" lanjutnya lagi


"Owh tentu, tidak lama lagi kita akan segera bercemu kembali" ucapnya yakin sambil tersenyum.


" Owya? haha.. oke-oke mister David" balas Cintya sambil tertawa. Cintya tidak menanggapi serius ucapan bule tampan bermata biru yang mengaku bernama David itu.

__ADS_1


__ADS_2