
Cintya merasa sangat senang dapat membalas Wahyu dan Lea.
"Makasi ya Mel.." ucap Cintya sesampainya didepan mobil Melky
"Makasi untuk apa?" tanya Melky
"Berkatmu aku bisa melewati hari ini dengan baik." jelas Cintya
Melky tersenyum sambil membalikkan badan Cintya untuk menghadap kepadanya. "Aku cuma bantu dikit... Selebihnya itu karena kau memang wanita kuat. Strong ladis.." ucapnya
"Kenapa kau bisa sebaik ini sih jadi orang Mel..." gumam Cintya dalam hati. "Padahal, aku selalu menolakmu, dan kadang berbicara kasar. Tapi kau selalu ada disaat aku membutuhkan sesuatu. Dan gaun ini...." melihat gaun yang ia kenakan pemberian dari Melky. "Bahkan aku gak nyangka kau akan membelinya untukku." Cintya merasa terharu dengan semua perlakuan Melky kepadanya.
"Hey.. Kenapa kau melamun?" tanya Melky saat melihat Cintya hanya diam saja.
"Hm?.. Siapa yang melamun?" sangkal Cintya
"Kau" jawab Melky sambil menunjuk hidung Cintya " apa yang kau fikirkan?" tanyanya.
Cintya menatap Melky dengan tatapan yang sangat dalam sambil sesekali ia menghela nafasnya. Dan kemudian secara tiba-tiba ia memeluk tubuh Melky, membuat Melky seketika membatu karena merasa tidak yakin kalau Cintya sedang memeluk dirinya.
"Kenapa kau memelukku?" Melky merasa syok
"Aku hanya ingin berterima kasih, karena kau selalu ada untukku disaat aku kesulitan... Kau juga gak pernah ninggalin aku saat aku mengusirmu. padahal sering kali aku berkata kasar padamu, tapi kau gak pernah marah. Aku hanya merasa bersyukur memiliki teman sepertimu... Ku harap kau akan menjadi temanku selamanya." ucap Cintya tulus.
"Kenapa hatiku merasa sakit mendengarnya. Kapan dia akan menganggapku lebih dari sekedar seorang teman." alih-alih bahagia karena mendapatkan pelukan dari Cintya. Melky malah merasa kalau ia sedang ditolak lagi oleh Cintya, bahkan sebelum ia menyatakan cintanya untuk yang kesekian kali. "baiklah kalau memang itu yang kau mau Cintya. Aku akan berusaha untuk menjadi teman terbaik yang selalu ada untukmu. Yang terpenting kau bisa selalu bahagia saat bersamaku. Itu yang terpenting" kebahagiaan Cintya adalah yang utama, walaupun ia harus mengorbankan perasaannya. Menghela nafas panjang sambil membalas belukan Cintya.
"Semoga kau bahagia dengan pilihanmu kelak Cintya.." gumam Melky berdoa
"Kenapa kau diam saja Mel?... Kau tidak mau membalas ucapanku barusan?" Cintya melepas pelukannya karena Melky hanya diam saat dia mengungkapkan kata-kata tulus untuknya.
__ADS_1
"Memangnya kau bilang apa?..." Melky pura-pura tidak mendengarkan ucapan Cintya
"Hisss kaann... Jadi dari tadi kau tidak dengar aku bilang apa?" Cintya merasa kesal ungkapannya tidak didengar.
Melky terkekeh melihat expresi kesal Cintya " Mana mungkin aku gak dengar.. Aku hanya syok aja karena kau tiba-tiba memelukku." jelasnya sambil menarik Cintya kembali kepelukannya.
"Kenapa kau memelukku?" Ucap Cintya
"Kau yang memulainya.." balasnya
Cintya melepaskan kembali pelukan Melky, namun Melky kembali menarik Cintya kepelukannya. Ia hanya ingin memeluk Cintya sekali lagi. Karena mungkin pelukan ini bisa jadi akan menjadi pelukan pertama dan juga terakhir untuknya. "Hanya sebentar saja..." ucap Melky "Aku mencintaimu Cintya.." lanjutnya
Cintya hanya bisa terdiam tanpa kata. Tak terhitung berapa banyak Melky mengungkapkan perasaannya.
"Kau tidak perlu menjawabnya Cintya, karena aku sudah tahu apa jawaban darimu.. "Terdengar Melky menghela nafasnya "Aku hanya berharap kau tidak melarangku untuk terus mencintaimu... Aku kira seiring berjalannya waktu, kau bisa membuka hatimu untukku dan mulai menganggapku lebih dari sekedar teman. Tapi belakangan ini aku mulai bisa menerimanya Cintya. Dan aku benar-benar berharap kalau kau akan bahagia dengan pria pilihanmu. Sebagai seorang teman, aku juga akan selalu berada disampingmu disaat kau butuh. Kau gak perlu sungkan untuk meminta apapun dariku. Oke..." Melkypun melepas pelukannya
Melky menyeka air mata Cintya dengan ibu jarinya. "Kau jangan menangis.. Terlebih karena aku... Aku baik-baik saja. " ucapnya dan Cintya pun mengangguk lalu mencoba tersenyum lagi.
"Kau memang teman terbaik.." ucap Cintya sambil berusaha untuk menghentikan air mata yang terasa sulit untuk dibendung. "Apa kau akan menyimpan foto kita tadi?" tanyanya. Maksud Cintya adalah foto dirinya dan Melky saat diatas pelaminan. Melky memilih untuk mengambil Foto mereka dengan menggunakan ponsel miliknya. Karena ia tahu, kalau ia menggunakan kamera yang tersedia, sudah bisa dipastikan akan dengan mudah dihapus oleh Lea ataupun Wahyu.
"Tentu saja... Kenapa aku harus menghapusnya." jawabnya sambil terkekeh mengingat ia mengambil foto dengan mengusir yang punya tempat. " Aku akan membesarkannya, dan mengunggahnya ke akun sosialku. Dengan hasteg coming soon..." lanjutnya. Cintya pun jadi ikut tertawa mendengar guyonan Melky.
"Syukurlah kalian belum pulang." Suara Daniel mengalihkan pembicaraan antara Melky dan Cintya.
"Bang Daniel... "Cintya terkejut
"Sebenarnya tadi aku ingin mengantar kalian keluar, tapi aku tertahan dengan orang tua Nova." jelasnya "Tapi syukurlah, karena kalian masih disini." lanjutnya.
"Ada apa bang?" tanya Cintya yang merasa heran melihat Daniel terlihat begitu cemas diraut wajahnya.
__ADS_1
"Hmmm gak apa-apa.." jawabnya tersenyum
"Mel, boleh aku yang mengantar Cintya pulang?" ucap Daniel kepada Melky
Melky menatap Cintya sejenak, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. Tugasnya sudah selesai hari ini, dan ia hanya berharap kalau Daniel dapat menjaga Cintya lebih baik dari dirinya. Lagi pula, Melky tahu kalau Daniel lah yang ada dihati Cintya saat ini. " kau boleh pulang dengannya." ucapnya kepada Cintya.
"Terima kasih Mel.." balas Cintya.
Melky pun berpamitan dan kemudian pergi.
~
Di mobil, Daniel hanya fokus dengan jalanan tanpa banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Apa abang baik-baik saja?" tanya Cintya kepada Daniel yang terlihat sangat aneh.
Daniel menoleh sebentar, lalu kembali fokus kejalanan "Sedari tadi aku tidak baik-baik saja Cintya." jawabnya ketus.
Cintya terdiam sesaat mendengar ucapan Daniel. "Apa yang terjadi?... Apa rencana kalian berantakan?" Cintya mengira kalau Daniel mengalami kesulitan saat menghadapi orang tua Nova. Namun Daniel hanya diam. " atau aku yang membuat kesalahan?" lanjutnya mencoba menjawab sendiri pertanyaannya.
Terdengar Daniel menghela nafasnya lalu kemudian menepikan mobilnya ke trotoar jalan. Cintya yang bingung, menjadi sedikit linglung.
"Kenapa.. Berhenti..." belum selesai Cintya bertanya, Daniel langsung mendaratkan sebuah kecupan kebibir Cintya. Cintya membatu dengan mata yang membulat sempurna. "apa barusan dia menciumku..." otak Cintya masih mencoba mencerna yang barusan terjadi. Syok, itu lah yang ia rasakan saat mendapat serangan mendadak dari Daniel. Bahkan saat ini jantungnya serasa tidak berdetak sama sekali.
"Apa kau baik-baik saja Cintya? " Wajah Cintya yang tiba-tiba memucat membuat Daniel khawatir. Ditambah lagi, Cintya tidak mengedipkan matanya dari saat ia mengecupnya.
"Apa kau barusan... Menciumku " Cintya tidak bisa melanjutkan ucapannya dan malah menyentuh bibirnya
"Hufh... Ku kira kau terkena serangan jantung Cintya." Daniel merasa lega, karena ternyata Cintya akhirnya bergerak. "
__ADS_1