CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Gaun merah maroon


__ADS_3

"Permisi.. ini pesanan ice coffenya" ucap penjaga kantin seraya meletakkan satu gelas ice coffe pesanan Cintya diatas meja kantin.


"Tumben minum kopi." kata Kanya heran


"Nanti gak bisa tidur loh malam." sambung Dini


"Memang itu maksudnya. Aku mau begadang malam ini." jawab Cintya dengan mata yang masih mengantuk. Bahkan beberapa kali ia terlihat menguap.


"Memangnya kau mau ngapai begadang?" tanya Kanya lagi


"Gak ada.. aku cuma gak mau tidur aja."


"Aneh.. terus ngapain kau tadi sampek tidur dimusolah? nyetok tenaga untuk nanti malam begadang?" protes Kanya yang merasa tak masuk akal dengan jawaban sahabatnya.


"Tadi malam aku gak tidur Kanya,, jadi wajar kalau aku ngantuknya sekarang." jelasnya dengan menunduk. Matanya masih saja terus ingin terpejam.


Kanya tampak menemukan sesuatu yang aneh dari Cintya "Kau kenapa? ada masalah?"


Cintya mengangkat wajahnya menatap Kanya "Aku mimpi buruk.." ucap Cintya pelan


"Mimpi apa kak?" tanya Dini


Cintya tampak menghela nafasnya berat. " Mimpi si brengsek Wahyu. Dia datang dimimpiku dua kali berturut-turut hanya dalam waktu tidurku yang hanya sejam. Makanya aku milih untuk gak tidur lagi, aku takut mimpinya bakal berlanjut keronde ketiga dan seterusnya." katanya dengan kesal


Kanya dan Dini terkekeh melihat raut wajah Cintya yang tampak kesal, membuat Cintya semakin kesal saja.


"Aku tau kau mimpi apa tadi malam." ucap Kanya masih dengan setengah tertawa " kau pasti mimpi dateng kepernikahannya kan?" tebaknya yakin "Soalnya kan besok dia mau nikah. Kau pasti kepikiran, makanya bisa sampek kebawak mimpi."


Haisss " Cintya terlihat semakin kesal karena tebakan Kanya tepat sasaran. Tapi bukan itu yang membuatnya merasa sakit hati.


"Tapi bukan itu yang buat aku kesal. Dimimpiku, kami masih belum putus. Kami pergi kencan, nonton, makan Ice krim. Bahkan dia.." Cintya tak lagi melanjutkan ceritanya. Ia benar-benar tidak bisa melupakan mimpinya yang sebenarnya begitu sangat manis,namun berujung pahit.


"Apa dimimpimu kaliann.." Kanya menggerakkan jari tengah dan telunjuknya bersamaan seperti kode tanda kutip.


"Enggak sampek kesitu. Hanya aja, di mimpiku dia sangat romantis. " terangnya dengan raut wajah sedih


"Berarti mimpi indah dong." sergah Dini


"Awalnya iya, tapi setelah itu.." raut wajah Cintya kembali kesal "Arrgg... aku gak mau ingat lagi." Cintya menjatuhkan wajahnya ke meja.


Kanya dan Dini hanya bisa menghela nafasnya karena merasa kasihan.


"Yaudah kalau gak mau diingat lagi.. kita ganti topik aja. Kenapa kau tadi gak marah waktu si Melky tidur disampingmu?" Kanya mengganti topik pembicaraan,agar Cintya bisa melupakan mimpinya tadi malam. Namun ia masih penasaran dengan Cintya yang membiarkan Melky tidur disampinya saat dimusolah tadi.


"Aku jugak tadi mau nanya itu." tambah Dini yang juga sama penasarannya dengan Kanya


"Kan udah aku bilang aku ngantuk. Aku udah gak punya tenaga lagi kalau harus bertengkar sama dia." jawab Cintya

__ADS_1


Padahal kenyataannya tidaklah begitu. Sebenarnya tadi ia sudah mau mengusirnya saat ia menyadari kalau ada seseorang yang ikut tidur disampingnya. Namun saat ia membuka mata, ia seperti menemukan kedamaian saat melihat wajah Melky yang ternyata sudah tertidur. Lama Cintya memperhatikan wajah Melky. Bagaimana pun Melky adalah pria dengan sejuta pesona, sehingga mampu menaklukkan banyak hati wanita. Tapi tidak dengan Cintya, Ia hanya bisa menganggap Melky sebatas teman. Namun entah mengapa, saat bersama Melky semua masalah bisa seketika lenyap. Mestipun Melky terlihat begitu menyebalkan dan sering bertengkar dengannya, tapi percayalah Melky adalah satu-satunya teman pria Cintya yang selalu ada disaat Cintya senang maupun sedih.


"Hmm padahal tadinya aku berfikir kakak udah beralih ke si Melky, gara-gara bang Daniel gak ada kabar." kata Dini


Sejak kejadian di cafe Daniel memang seperti menjauh dari Cintya.


"Oiya, apa kabarnya bang Daniel? dia masih belum ada kabar?" tanya Kanya kepo


"Udah kok kemaren." jawab Cintya sambil menghela nafasnya. Satu hari ini entah sudah berapa ratus kali Cintya menghela nafasnya.


"Dia bilang apa?"


" Dia cuma minta maaf.."


"Maaf? cuma itu?"


"Hm" jawab Cintya singkat. Namun ada raut kekecewaan diwajahnya, dan Kanya bisa membacanya. "Kayaknya hubungan kami gak ada kemajuan Kan.. apa lebih baik aku gak usah ngarep lagi yah sama dia." sambungnya lagi merasa putus asa


"Yaahhh.. jangan dong kak. Kalian itu serasi banget loh. Jangan langsung nyerah gitu lah." ucap Dini memberi semangat


"Terus aku harus apa?" Cintya merasa frustasi dengan begitu banyak masalah yang muncul dihidupnya " Dia semakin menjauh , dia udah berubah."


"Cinta gak perlu dikejar.. kalau memang jodoh, pasti nanti bakal balik lagi." ucap Kanya seraya berdiri dari duduknya.


"Kakak mau kemana?" tanya Dini yang dengan reflek juga ikut berdiri


"Hmm luan lah.. aku nanti nyusul. Mau ke toilet dulu." saut Cintya, dan diangguki oleh kedua sahabatnya.


~


Setelah menyelesaikan hajatnya di toilet, Cintya segera bergegas kembali ke conternya. Bagaimana pun sudah hampir dua jam ia meninggalkan conternya. Ia juga kepikiran dengan kata-kata Kanya tadi. Bagaimana kalau Doni benar melaporkan dirinya ke ruangan bu Sumi. Bisa gaswat.. fikirnya.


Dengan terburu-buru ia berjalan melewati stand demi stand untuk sampai keconternya. Namun saat ia melewati salah satu stand yang dijaga oleh temannya yang bernama Lili, ia segera berhenti. Matanya tertuju pada salah satu patung dengan gaun berwarna merah maroon yang dipajang di paling depan. Biasanya itu adalah barang baru.


"Cantik.." ucapnya tersenyum sambil mencoba menyentuhnya


"Jangan disentuh kalau gak sanggup beli" ucap seseorang dari dalam, Cintya sontak menarik tangannya lalu kemudian mencari si sumber suara yang ia tau siapa orangnya. Lili, SPG terculas yang pernah ada.


"Yaelah, cuma nyentuh doang" gerutu Cintya


"Nanti kalau kotor gimana, barang brandit tu." kata Lili sambil berjalan kearah Cintya dengan tangan yang dilipat didadanya.


"Hmm ya ya, aku tau yang ada disini semuanya barang mahal."


"Emang.. dan aku tau kau gak bakalan sanggup belinya. Jadi jangan dipegang."


"Iya gak bakalan ku pegang. Aku cuma mau liat doang."

__ADS_1


"Liat pun jangan, kalau gak ada niat beli."


"Ya ampun Li, segitunya banget." Cintya sudah cemberut


"Apa kau tau Cintya, baju ini hanya dibuat sebanyak setengah lusin? " jelasnya, sementara Cintya tidak menanggapi " dan hanya ada satu dikota Medan."


Seperti tidak mengindahkan semua ucapan Lili, Cintya malah asik terus memandang kearah gaun. Entah mengapa ia begitu sangat tertarik dengan gaun itu.


"Berapa harganya?" tanya Cintya penasaran


"Dua kali lipat gajimu." jawab Lili santai


"Yaela Lili, itu harga baju atau harga motor seken?" Cintya merasa tak percaya dengan harga dari sebuah gaun. Yang mustipun Cintya mengakui kalau gaun itu benar-benar sangat cantik.


"Kan tadi aku udah bilang, kalau kau gak akan sanggup belinya. Gak sembarang orang mau beli barang mahal kekgini."


"Tapi kan aku cuma liat doang."


"Liat pun jangan. Karna setelah liat, nantinya jadi terobsesi untuk punya, padahal gak bisa beli. Ujung-ujungnya nanti jadi nyuri, atau bahkan bisa jadi jual diri." katanya sambil mengangkat kedua alisnya kearah Cintya.


"Kau kira aku kayak kau." balas Cintya ketus, namun tidak marah.


Cintya tahu betuk sifat Lili. Selalu sesukanya dalam berbicara dan mengemukakan pendapat. Namun Cintya juga tahu, kalau Lili hanya buruk diucapannya saja, berbanding terbalik dengan hatinya yang begitu perasa.


"Memangnya kalau kau bisa beli gaun ini, mau kau pakek kemana?" tanyanya penasaran


"Entah lah, aku juga gak tau mau pakek gaun kekgini kemana. Rasanya berlebihan kalau hanya dipakek untuk sebuah acara biasa." ujar Cintya seraya menghela nafas


"Memangnya kau mau pergi keacara luar biasa dimana?" ejek Lili yang mengetahui kalau Cintya bukanlah orang yang memiliki teman sosialita. " kalau menurutku nih ya, gaun ini cocok digunakan di acara pernikahan mantan." sambungnya memberi saran sambil terkekeh, Cintya hanya melengos mendengar saran dari Lili.


"Aku punya banyak gaun dirumah. Kalau kau mau aku bisa pinjamkan satu untuk mu. Acaranya besok kan?" katanya lagi, namun Cintya malah terlihat tidak menggubris walaupun ia tahu kemana arah pembicaraan Lili.


"Gaun yang seperti itu jugak ada. Hanya aja agak sedikit lebih murah dan juga beda warna." tawarnya lagi.


"Aku gak ada niat pergi." jawab Cintya


"Oya? ternyata kau cuma pecundang ya Cintya." cercah Lili, namun tetap tidak membuat Cintya marah.


"Terserah.." sautnya santai


"Apa kau mw mencobanya?" kata Lili dengan mata yang sudah melirik kearah gaun.


"Opa kau gila? gimana kalau nanti gaunnya lecet. Aku gak mau buang-buang uang hanya untuk sebuah gaun." sebenarnya Cintya sangat ingin mencobanya, namun ia takut kalau nanti saat dikenakannya, gaunnya benar-benar pas ditubuhnya. Dan ia akan merasa sangat sedih karena tidak sanggup untuk membelinya.


"Jarang-jarang aku besikap baik sama orang, dan aku hanya menawarkan satu kali. Tapi terkhusus untukmu kali ini, aku akan menawarkannya dua kali." ucap Lili "Kau mau mencobanya atau enggak?" tawarnya lagi dengan nada yang sedikit meninggi, dan Cintya dengan cepat menganggukkan kepalanya.


aaahhh" dasar Cintya bodoh." gumam Cintya dalam hati.

__ADS_1


♡♡jangan lupa Vote, Like, dan komen 🥰🥰


__ADS_2