
Jarum jam sudah menunjukkan ke angka jam 3 dini hari. Dimana seharusnya orang pada umumnya sudah hanyut dalam buaian mimpi indah. Namun tidak dengan Daniel dan Cintya.
Disebuah meja, rumah makan Padang yang buka 24 jam. 2 Anak manusia itu masi saja tetap terjaga. Mereka sedang menunggu makanan yang mereka pesan. Ahh... makanan Padang memang selalu menggugah selerah. Selain enak, makanan Padang ini pun harganya sangat terjangkau. Cocok untuk semua kalangan.
"Waaahhh.... ini nih enaknya kalo makan di rumah makan Padang, lauknya dikeluarin semua !" Cintya menatap semua makanan yang baru saja dihidangkan oleh pelayan. "Debaaakk ... ayo makan bang." ucapnya semangat, dan mulai mengambil beberapa lauk yang ia inginkan.
"Kamu laper atau doyan ?" Daniel melihat piring Cintya yang sudah penuh dengan berbagai lauk
" Laperr...!" ucapnya sambil mulai memasukkan suapan pertamanya. Daniel hanya terkekeh mendengar jawaban singkat Cintya
Daniel pun mulai memasukkan beberapa lauk kepiringnya. Dan mereka makan dengan tenang tanpa ada 1 obrolan pun
" Yaampun baang, aku kekenyangan " Cintya duduk bersandar sambil mengelus elus perutnya
" Gapapa,, biar cepat gedek " balas Daniel sambil tertawa
"Udah kayak mau puasa aja kita ya bang, makannya jam segini !" ucapnya sambil tersenyum.
" Yaudah Sekalian puasa aja. mana tau dengan puasa bisa ngobatin sakit hati " seloroh Daniel, dan dianggap serius oleh Cintya
" Emang bisa gitu ?"
" Hahahah....mana lah aku tau. kan tadi aq bilangnya mana tau bisa. " Daniel makin terkekeh "oya, kamu gak dicariin sama ibu kamu juga , kayak si Melky ?"
Terdengar Cintya menarik nafas " ibu kandung aku dah ninggal bang, yang ada hanya ibu tiri. Mana ada ibu tiri yang mau nyariin anak tirinya. Lagian mereka gak tinggal disini " jawab Cintya ketus " Hoaaammmm..." Cintya menguap "Habis makan bawaannya ngantuk ya bang. " Cintya mengalihkan pembicaraan
" Yaudah deh, ayok kita pulang. " Daniel tau Cintya enggan mengumbar masalah keluarganya.
Setelah berada didalam mobil, Daniel pun menanyakan kemana dia harus mengantar Cintya. Bukannya menjawab, Cintya malah jadi teringat pada kunci kamarnya yang tertinggal di Cafe
" Oya bang, tadi di meja cafe abang ada nemu kunci gak ?"
" Kunci ..!" Daniel mencoba mengingat
"Pak, ini kunci bapak ketinggalan" kata seorang pelayan yang menghampirinya diarea parkir cafe disaat ia ingin membuka pintu mobilnya. " ada dimeja bapak tadi waktu saya berishkan meja" lanjutnya sambil menunjukkan sebuah kunci. Merasa itu bukan miliknya,ia pun menggelengkan kepalanya "itu bukan punya saya " jawabnya, lalu masuk kemobilnya
" Ohh jadi itu punya kamu..!" Daniel menatap Cintya
" Jadi memang ketinggalan disana ? huffhh... syukurlah " Cintya lega " Terus mana kuncinya bang? itu kunci kamar kos aq. Kalo gak ada itu, aq gak bisa masuk bang " jelasnya sambil menengadahkan tangannya
__ADS_1
Daniel bingung harus jawab apa " mmmm... gimana ya Cin, kuncinya ada di cafe " ucapnya merasa bersalah. Membuat Cintya jadi lesu
" Yaaaah, gimana dong." ucapnya lirih sambil menatap Daniel " Aku harus tidur dimana !"
" Emangnya gak ada temen kamu yang bisa ditumpangi ? "
Terdengar Cintya menghela nafas " Yaudah de bang kita pulang aja dulu, nanti aku numpang dikamar temen aku aja." Cintya pun memasang sabuk pengamannya.
Daniel pun mulai menghidupkan mesin mobilnya. Bersamaan dengan kepergian mereka, hujan jatuh mengguyur dengan derasnya. Membuat Cintya yang memang sudah sangat mengantuk, tak bisa lagi menahan matanya untuk tidak terpejam.
Tidak sampai setengah jam, mobil Daniel sudah sampai didepan gerbang sebuah kos kosan kecil. Hujan masi sangat deras pagi itu, dan Cintya masih tertidur. Hanya Daniel yang saat ini masih terjaga, tanpa ada terlihat mengantuk. Sejenak Daniel memandang wajah Cintya yang sedang tertidur. Ingin rasanya Daniel mengelus wajah mulus Cintya, namun ia segera tersadar. Tangannya yang saat ini sudah hampir menyentuh wajah Cintya, segera ditariknya kembali
" Apa aku sudah gila " gumamnya. Dan Daniel mencoba membangunkan Cintya. " Cin, Cintya.. bangun, udah sampek " Daniel menepuk nepuk bahu Cintya
Bukannya bangun, Cintya malah semakin pulas dengan menjatuhkan kepalanya kebahu Daniel dan memeluk erat tangan Daniel. Membuat si empunya tangan jadi grogi, namun ia membiarkannya saja
.
Pagi yang deselimuti oleh hujan deras, kini sudah berganti menjadi siang yang sangat terik. Namun tidak ada tanda tanda Cintya akan bangun dari tidurnya. Dia masih saja tidur dengan pulasnya.
"Iya den, teman aden masih belum bangun juga. Apa perlu bibi bangunkan? soalnya udah siang loh den, kasian nanti kelaperan " terdengar samar sama suara orang yang sedang berbicara. Dan suara itu berhasil membuat Cintya mengerjapkan matanya. Cintya pun mencoba untuk bangun dari tidurnya, dengan mengucek matanya lalu ia duduk.
Dan betapa terkejutnya dia setelah mengingat bahwa semalam ia bersama dengan Daniel. Fikiran Cintya langsung berada di mode on. "Hotel... apa ini hotel .! aaaaaaaaa....." Cintya berteriak dengan kerasnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya
Tiba tiba pintu kamar terbuka dan seseorang masuk begitu saja.
"Ada apa non ? apa non baik baik saja ?" seorang wanita paruh baya datang menghampiri Cintya dengan wajah cemas.
Mendengar suara wanita, reflex Cintya menyingkirkan tangan dari wajahnya lalu menatap kearah suara. " Ibuk siapa?" tanyanya dengan wajah yang sudah pucat
Melihat wajah Cintya yang pucat, wanita itu dengan segera mengambilkan air putih yang berada diatas nakas " Minum dulu non " wanita itu memberikan segelas air putih kepada Cintya. Mestipun ragu, Cintya menerima gelas yang berisi air putih itu, namun enggan meminumnya.
" Ibuk siapa ?" tanyanya lagi
" Oohh... saya pelayan dirumah ini Non.." jawabnya dengan tersenyum ramah
ooooh jadi ini rumah, bukan hotel. Cintya sedikit lega
"Ini rumah siapa ? kenapa saya bisa ada disini ?" Cintya masi syok
__ADS_1
" Ini rumahnya den Daniel. Kenalkan saya bi Mina, pelayan dirumah ini " Ucapnya cepat
" Terus Danielnya dimana ? kenapa saya bisa ada dirumahnya ? " Cintya hampir saja mau menangis
" Den Daniel nya udah pergi dari tadi non,katanya ada urusan bentar di cafe. Nanti kalo urusannya udah kelar, katanya dia langsung pulang kok. " Bi Mina menjelaskan panjang lebar. Sementara Cintya masi terlihat bingung
Yaa ampun,apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang udah dia lakukan sama aq ?
"Saya mau pulang buk " Cintya beranjak turun dari ranjang sambil mencari sepatu miliknya " Sepatu saya dimana ya buk?" Cintya menatap Bi Mina
"Kata den Daniel, non nya jangan pulang dulu " Ucap Bi Mina ragu. Namun Cintya tidak menggubris ucapan Bi Mina. Dia masih saja mencari dimana sepatunya
"Buk, tolong bantu cari sepatu saya. Saya harus pulang "
"Tapi non nya makan dulu yah. Udah siang loh, tadi non kan gak sarapan. Bibi udah masak tadi " Bi mina membujuk Cintya
Karna tak kunjung mendapatkan sepatunya, Cintya pun terduduk di sofa yang berada dikamar. Tiba tiba air matanya jatuh, dan Cintya menangis terisak. Fikiran Cintya sudah kalut
Melihat Cintya menangis, membuat Bi Mina kebingunan. Namun dengan cepat iya segera menghubungi majikannya
Halo den, temennya aden udah bangun. Tapi temen aden malah nangis, bibi jadi bingung.. diam sejenak sambil melirik kearah Cintya. Ohh iya den iya .. ucapnya lagi, lalu mendekati Cintya dan menyerahkan ponselnya kepada Cintya
" Den Daniel mau ngomong non " Bi Mina pun langsung pergi setelah memberikan ponsel miliknya kepada Cintya
"Halo Cintya, kenapa kamu nangis ?" tanya Daniel dari sebrang sana
"Apa yang udah kamu lakukan sama aku hah, kenapa aku bisa ada dirumahmu?" Cintya masi terisak
"Ya ampun Cintya, apa yang ada difikiran kamu ?, sebentar lagi kerjaan aku kelar, aku akan segera pulang oke.. kamu jangan kemana mana. Tunggu aku " Daniel pun langsung mematikan sambungan telfonnya
Tak berselang lama, Bi Mina masuk lagi kedalam kamar dengan membawa nampan berisi makanan.
" Makan dulu ya non. Non pasti laper." Bi Mina meletakkan makanan yang dibawanya di meja sofa. "Bibi tau apa yang ada difikiran non, tapi bibi berani jamin kalo den Daniel gak akan melakukan hal yang tidak sepantasnya" Bi Mina duduk disamping Cintya dan menggenggam tangan Cintya. Dan kata kata itu sudah seperti obat bagi Cintya.
"ibu yakin ?"terlihat sedikit kelegaan di mata Cintya saat menatap Bi Mina
"Bibi yakin non, karna Bibi tau den Daniel itu gimana. Bahkan ini untuk pertama x nya dia bawa wanita kerumahnya." Bi Mina tampak tersenyum bahagia "Non nya jangan khawatir yah !" Bi Mina menepuk2 tangan Cintya "yaudah non makan dulu. Bibi masi ada kerjaan di dapur " ucapnya lalu bergegas pergi
Cintya tampak tertunduk malu sambil menggenggam erat tangannya sendiri. Seandainya apa yang dikatakan bi Mina memang benar, betapa malunya dia sudah menuduh Daniel yang tidak tidak. Toh, dia tidak merasakan ada yang aneh pada tubuhnya, bahkan dia masi menggunakan baju yang sama.
__ADS_1
Tapi mengapa dia membawaku kerumahnya ??