
Rumah sakit bandung.
Sesuai dengan prediksi detektif Gabriel dan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh detektif lainnya yang ditugaskan dirumah sakit. Ternyata selama ini obat yang diberikan pada Daniel sudah dimanipulatif. Seharusnya Daniel sudah lama sadarkan diri jika saja ia mendapatkan obat yang semestinya.
Dan tersangkanya utamanya adalah dokter Arya. Dokter sekali gus sahabat yang menjabat sebagai wakil direktur dirumah sakit milik Wijaya. Semua itu terkuak saat penyidik melihat hasil dari vidio cctv yang menampakkan pegawai apoteker menukar obat yang seharusnya dengan obat bius.
Dan begitu penyidik meminta keterangan dari apoteker tersebut akhirnya terbongkarlah siapa saja yang ikut andil dalam kejahatan tersebut.
Dokter Arya berikut para anteknya akhirnya dibawa oleh tim penyidik untuk diintrogasi dan ditahan selama dua kali dua puluh empat jam sampai penyidik mampu mengumpulkan bukti yang lebih banyak lagi.
Diruangannya Wisnu tampak berulang kali mencoba menghubungi detektif Gabriel. Namun sayangnya telfonnya tak kunjung diangkat. "Sebenarnya kemana dia?" menatap ponselnya.
Tok tok tok.. Cklek. Wisnu menatap pintu yang dibuka entah oleh siapa.
"Kau sibuk Wis?" ternyata Daniah yang datang.
"Tidak. Masuklah.." Seru Wisnu
Mereka pun duduk di sofa
"Ada apa kak? " menatap Daniah yang juga sedang menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca namun tetap tersenyum.
"Kakak sudah mendengar semuanya dari papa. Kakak bangga sama kamu Wis. Berkat dirimu, Daniel bisa terselamatkan." ucapnya sudah menangis. Namun menangis bahagia dan juga kebanggaan.
Daniah tahu betul bagaimana gigihnya Wisnu untuk membongkar kejahatan yang dilakukan Dom. Bahkan ia sampai rela menggontorkan dana yang cukup besar dengan uang pribadinya sendiri demi keberlanjutan kasus adiknya.
"Semua ini berkat doa kita semua kak. Allah itu gak tidur." jawab Wisnu. "Tapi semua ini belum selesai kak. Kita masih harus lebih banyak berdoa lagi. Agar Dom bisa cepat tertangkap." ungkapnya. Daniah menggangguk setuju.
Ditempat lain
Rolan tampak mondar mandir didepan mobil dengan wajah panik sambil menggigiti kukunya.
"Haisss.. Duduklah, kenapa kau mondar mandir seperti itu? Membuatku semakin pusing saja. Aku jadi tidak bisa berfikir gara-gara kau." cerca Gabriel yang sudah kesal daritadi.
"Aku hanya takut jika mereka menghabisinya. Haisss.. Sialan memang si Doni." mengerang frustasi
"Makanya kau berhenti mondar mandir seperti setrikaan. Biar aku bisa berfikir untuk membebaskan si bodoh itu dari sana." mulai berfikir apa yang harus ia lakukan. "Sepertinya karirku akan berakhir sebentar lagi." ngenes
Flasback dua jam yang lalu.
__ADS_1
Anak buah Dom menemui Dom diruang kerjanya.
"Tuan.. Ada penyusup." menyodorkan tablet miliknya kepada Dom.
Dom menyeringai licik. "Biarkan saja. Kita lihat, apa yang sedang dicarinya." ucapnya seraya terus memperhatikan tablet tersebut.
Beberapa menit berlalu.
"Apa yang akan tuan lakukan padanya?" tanya Anak buah yang bertugas sebagai pengawas keamanan di mansion itu.
"Apa lagi? Kita akan tunggu dia keluar dari sana." bergerak pergi dari ruangannya dan diikuti oleh anak buahnya dengan ekspresi bingung namun tidak berani untuk bertanya kembali.
Kenapa harus menunggu jika dia bisa menangkapnya langsung. Anak buahnya hanya bisa membatin
Dom sampai diruang tamu dan duduk dengan santai disana.
"Kau duduk lah. Karena kita akan lama duduk disini." ucap Dom dengan senyum yang mengembang menatap tablet yang ada dihadapannya. (vidio dari cctv tersembunyi yang ada diruangan koleksi anggur miliknya) Dom meletakkan banyak cctv tersembunyi di seluruh sudut mansion miliknya.
"Kenapa kita hanya duduk disini tuan? Bagaimana dengan penyusup itu? Bukannya seharusnya tuan menangkapnya?" memberanikan diri bertanya daripada pusing sendiri karena bingung dengan tanggapan dari bossnya yang terkesan sangat aneh. Biasanya kalau ada penyusup maka dengan cepat Dom akan menyuruhnya atau anak buahnya yang lain untuk menghabisinya. Seperti yang dia lakukan belum lama ini. (Menghabisi mata-mata suruhan Wisnu). Lalu ada apa dengannya sekarang?. Berfikir keras
"Bukannya sudah ku katakan padamu kalau kita akan menunggunya keluar?" jawabnya santai.
"Aku hanya penasaran bisa berapa lama dia bertahan didalam sana. " jelasnya. "Sekarang berhenti bertanya dan buatkan aku latte dan bawakan juga koran hari ini. " perintahnya. "Aku hanya ingin bersenang-senang sekarang." tertawa penuh arti.
Ditempat lain Gabriel tercengang dengan apa yang baru saja ia dengar melalui penyadap yang mereka letakkan diruangan tamu Dom.
Flashback off
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan caranya?" tanya Rolan yang masih terlihat panik akan nasip rekan seprofesinya itu. Dia tahu bagaimana berdarah dinginnya seorang Dom. Tapi dia juga heran kenapa Dom hanya membiarkan Doni tanpa mau menangkapnya langsung. Sebenarnya apa yang direncanakannya pria rusia itu. Rolan Bertanya tanya
"Tidak ada cara lain. Kita harus masuk kedalam." jawabnya menghela nafas.
"Bukannya kau sudah tahu kalau mereka memasang cctv tersembunyi? Mereka pasti akan tahu kalau kita menyelinap." ucapnya tak setuju.
"Memangnya siapa yang menyuruhmu menyelinap? Kita akan masuk seperti saat kita datang tadi. Lagian apa gunanya kita menyelinap jika mereka saja sudah tahu keberadaan si bodoh itu. Dan apa kau lupa, kalau mereka sekarang sedang menunggu dia keluar?" yang artinya mereka tidak mempunyi cara untuk mengeluarkan Doni tanpa diketahui oleh Dom dan anak buahnya.
"Apa hanya itu cara yang kau bisa?" mengeluh
"Apa lagi? Apa kau punya cara lain?" desak Gabriel
__ADS_1
Rolan menggeleng. "Tapi apa kau yakin, Dom tidak akan mempermasalahkannya? Karena ini sudah masuk kerana hukum. Menyelinap, mencuri.. Haisss aku tidak tahu harus ku apakan si Doni itu." Rolan merasa sangat kesal, tapi ia tidak bisa membiarkan Doni terus berada di kungkungan singa berbisa.
Bagi seorang petugas negara seperti mereka hal seperti ini adalah hal yang sangat fatal. Terlebih lagi disaat mereka melakukannya di negara lain. Bisa-bisa karir mereka bisa berakhir saat itu juga. Dan yang lebih parahnya lagi, tidak hanya Doni yang akan kena sanksi. Gabriel selaku atasan juga akan kena imbasnya.
"Mau bagaimana lagi? Ini sudah resiko yang harus kita tanggung bersama." hanya bisa pasrah. "Karena kita adalah team." bertingkah satu, kenaklah semuanya. Begitu sekiranyaa
Gabriel pun berdiri dari duduknya lalu menghadap pada Rolan.
Rolan kebingungan. "Apa?" mundur dua langkah.
"Kepala atau ekor?" ucap Gabriel.
"Hah?"
Plak.. Memukul kepala Rolan "Ku tanya kau pilih kepala atau ekor?" kesal sambil menunjukkan koin yang ia pegang.
"Jelaskan dulu apa maksudnya. Kenapa kau main pukul aja." mengusap kepalanya
"Ekor pekerjaan dan kepala itu nyawa. Sekarang kau pilih ekor atau kepala?" tanya Gabriel lagi.
"kalau aku pilih ekor berarti?"
"Berarti kau lebih memilih kehilangan pekerjaanmu." jelasnya
"Hah?"
"Haisss kenapa kau bodoh sekali. " menggaruk kepalanya kasar. "Akan jauh lebih mudah membawa si bodoh itu keluar dari sana dalam keadaan hidup. Walau akhirnya karir kita yang akan menjadi taruhannya. Kau mengerti?"
Gabriel yakin kalau Dom akan membawa kasus ini kerana hukum jika mereka bersikeras mengeluarkan Doni dari mansion itu. Dan sebagai imbasnya maka mereka bertiga akan dikenakan hukuman yaitu pemberhentian secara tidak hormat. Sukur-sukur hanya dipecat saja gak sampai dimasukkan kedalam penjara.
Tapi Gabriel juga punya pilihan lain yang mungkin bisa menyelamatkan karir mereka. Namun cara ini mungkin akan menjatuhkan harga dirinya. Yang artinya sama saja dengan kehilangan sebuah nyawa. Gabriel berusaha menghindari kontak senjata. Karena ia tahu posisi mereka yang tidak imbang. Lagipula dia juga ingat pesan sang komisaris atau bukan lain ayah kandungnya untuk bisa kembali hidup-hidup.
Rolan mengangguk mengerti. "Lalu bagaimana dengan kepala?"
"Maka kemungkinannya ada dua. Kalau bukan kita yang kehilangan nyawa, berarti mereka." ucapnya berbohong. Ia yakin kalau Rolan pasti akan memilih ekor. Mana mungkin sudi si gila ini kehilangan nyawanya. fikirnya
"Haisss aku belum menikah." frustasi memikirkan harus mati sebelum menikah. Tapi apa bedanya kalau dia hidup tapi tidak punya pekerjaan? Fikirnya. "Baiklah aku akan memilih kepala." ucapnya yakin. Seorang polisi tidak boleh takut mati. Menyemangati diri sendiri
Gabriel terkejut. Kenapa dia jadi milih kepala bukan ekor?. Speecless
__ADS_1