CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part 13


__ADS_3

Suara teriakan Cintya yang cetar membahana, membuat geger para penghuni kos. Mereka berhamburan keluar kamar menuju ke kamar Cintya.


"Ada a.......pa?" suara Nita melemah dibagian ujung kalimat. Nita yang pertama x sampai didepan pintu kamar Cintya merasa sangat terkejut melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Ia sampai tidak bisa berkata kata lagi. Matanya melotot dan dengan susah payah dia menelan salivanya.


"Ada apa.. Ada apa.. " terdengar suara penghuni kos yang lain. Didepan kamar Cintya sudah ramai berkumpul para wanita penghuni kos yang merasa penasaran. Dan saat mereka melihat adegan didepannya, reaksi mereka semua hampir sama. Terkejut.


Namun ada pemandangan unik yang tertangkap oleh mata keranjang Tama. Yaitu pakaian yang dikenakan oleh ciwi ciwi bening itu. Mata Tama mengabsen satu persatu. Ada yang memakai mini daster, sehingga terlihat begitu sexsi menurut Tama. Ada yang masih memakai mukenah, ada yang mengenakan celana pendek dan tangtop seadanya dengan wajah memakai masker. Dan yang lebih parahnya ada yang masih mengenakan handuk dengan rambut yang masih penuh dengan busa. hahahaha sebegitu penasarannya dia sampai memaksakan diri keluar. Tuhan benar benar begitu baik, karna sudah memberinya bonus yang sangat banyak. Tama menang banyak.


Sementara Daniel yang mendapatkan tatapan tajam dari para penghuni kos, merasa sedang menjadi tersangka pencabulan yang akan terkena hukuman penjara seumur hidup. Sungguh naas nasipmu Daniel


Dan jangan tanya Cintya. Wajah Cintya sudah memerah karna menahan malu karna sudah menjadi tontonan oleh teman temannya.


"Astaghfirullah..... Apa yang kalian lakukan..?" teriak pemilik kos yang baru saja sampai dikamar Cintya. Daniel segera beranjak dari posisinya yang masih menindih tubuh Cintya. Dia lalu berdiri tanpa memperdulikan Cintya yang masih tergeletak dilantai. Wajahnya menegang. Bahkan dia tidak bisa berkata apa - apa.


Nita lah yang akhirnya mendekat dan membantu Cintya untuk berdiri." Kakak gak papa kan?" Nita memapah Cintya untuk duduk diranjang.


"Makasih Nit" ucapnya lirih dan dijawab anggukan oleh Nita.


Pemilik kos yang tadinya ingin pergi ke masjid, dipanggil oleh salah 1 penghuni kos dan memberitahukan insiden yang sedang terjadi dikamar Cintya. Rumah pemilik kos yang bersebelahan dengan kos kosan, memudahkan pemiliknya untuk memantau serta mengetahui jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan yang sudah disepakati bersama antara pemilik dan penyewa.


"Ini tidak seperti yang bapak lihat dan fikirkan" Tama yang meyakini kalau yang barusan datang adalah pemilik kos, langsung mencoba menjelaskan.


"Kamu lagi, siapa kamu hah?" tanyanya dengan berapi api.


"Saya adiknya kak Cintya" jawabnya cepat. Nyali Tama menciut mendengar teriakan pemilik kos.

__ADS_1


"Kalian bertiga, ikut saya..!"


~~


Tama dan Daniel duduk bersebelahan disebuah kursi panjang berhadapan dengan pak haji Kodir, pemilik tempat kos Cintya. Sedangkan Cintya duduk dikursi yang lainnya bersampingan dengan bunda Sri, istri dari pak haji Kodir. Mereka berada dirumah pak haji.


Terdengar Pak Haji menghela nafas sebelum ia memulai introgasinya.


"Siapa yang mau menjelaskan kejadian tadi?" Pak Haji menatap Daniel dan Tama secara bergantian


"Emm, jadi begini pak,--" Baru saja tama mau menjawab, sudah dipotong oleh Daniel.


"Saya yang salah pak. Tadi saya main masuk aja kekamar dia. Saya tidak tau kalau disini pria dilarang masuk." Jawabnya secara lantang sambil menatap pak Haji.


Cintya tertunduk lesu, mendengar ucapan bapak kosnya. Pasalnya dia sudah betah tinggal disini.


"Bukannya saya sudah bilang, kalau yang salah itu saya. Kenapa jadi dia yang harus keluar? hukum saya saja." Daniel semakin merasa bersalah melihat wajah Cintya yang seperti mau menangis.


"Ini bukan pasal siapa yang benar dan siapa yang salah. Hanya saja peraturan ditempat ini memang seperti itu. Kalau saya membiarkan nak Cintya tetap disini, bisa jadi kejadian seperti ini akan terulang lagi. Dan jawaban anda tadi bisa saja dijadikan alasan bagi yang melakukan pelanggaran. Bukan begitu?" jawaban pak Haji membuat Daniel tidak bisa berkata kata.


"Tapi kan pak, --" Tama mencoba memberi tanggapan, namun sayangnya ucapannya kembali dipotong Daniel


"Saya mengerti akan peraturan yang bapak buat untuk tempat ini. Tapi setidaknya berikan dia 1 kesempatan lagi. Bila perlu, saya akan bicara dengan penghuni kos lain. Agar tidak ada salah faham. Saya hanya tidak mau, karna kesalahan saya orang lain yang menjadi korban." ucapnya lagi.


"Makanya, lain kali kalau mau bertindak itu harus difikirkan dulu matang - matang. Jangan kamu bertindak sesukamu ditempat orang lain. Kamu pikir tempat ini punya bapakmu? kamu bisa masuk kapan saja kamu mau. Saya menyewa kan kamar kepada mereka yang mau menerima peraturan disini. Dan saya tidak main main dengan peraturan itu." jelasnya panjang lebar. " Pokoknya kepustusan saya sudah bulat. Mau yang salah itu kamu ataupun tidak, nak Cintya tidak bisa lagi tinggal disini." lanjutnya lagi dengan sedikit meninggikan suaranya. Begitulah pak Haji Kodir. Dia selalu konsisten dengan segala keputusan yang diambilnya.

__ADS_1


Cintya sudah tidak bisa membendung lagi air matanya. Bunda sri yang melihat Cintya menangis, hanya bisa mengusap punggung Cintya. Dia tidak bisa membela Cintya ataupun menentang keputusan suaminya. Kalau suaminya berkata tidak, ya akan tidak selamanya.


Melihat Cintya menangis, Daniel semakin merasa bersalah. Dia sudah tidak tau harus berkata apa lagi.


"Apa saya sudah boleh berbicara? Daritadi ucapan saya dipotong mulu." Tama memandang Daniel dengan tatapan tajam. Yang dipandang hanya acuh.


"Tolong kasih waktu untuk kakak saya sampai akhir bulan. Mencari tempat kos kan gak segampang membalikkan telapak tangan pak. Takutnya karna terburu2 mencari, dapatnya tempat yang tidak baik atau kurang nyaman. Kakak saya hanya sendiri dikota ini, saya tidak mau kalau kakak saya kenapa napa. Biarkan kakak saya mencari tempat yang sesuai untuknya dulu. Saya hanya minta waktu sampai akhir bulan." ucapnya memohon.


Pak Haji tampak berfikir.


"Ia pak, kasian nak Cintya kalau sampai dapat tempat yang gak nyaman." Bunda Sri mendukung ucapan Tama.


"Baiklah kalau begitu. Hanya sampai akhir bulan." Pak Haji akhirnya setuju.


"Naah gitu dong, kan enak dengernya." Tama cengengesan."Tapi apa saya boleh meminta tolong satu lagi?" ucapnya. Pak Haji hanya mengangguk." Apa saya boleh menginap disini malam ini?"


Permintaan Tama berhasil membuat mata pak Haji melotot, dibarengi dengan wajahnya yang memerah karna menahan rasa kesal.


Tama yang merasa sudah salah bicara, langsung pura pura tertawa. Seakan akan permintaannya tadi hanyalah becandaan saja.


"Hahahaha.... Saya bercanda pak Haji.." ucapnya sambil menepuk pundak Daniel yang ada disebelahnya. " Yakan, yakan, aku cuma bercanda." Hanya Tama yang tertawa, sementara yang lain hanya menatap malas Tama.


"Garing banget." ketus Daniel dengan menatap Tama sebentar lalu beralih menatap Cintya. Ada rasa perih dihatinya saat melihat Cintya bersedih. Apa lagi karna dialah penyebab kesedihan itu.


"Ini sudah malam. Kalian bisa pergi dari sini." usir pak Haji. "Gara gara kalian saya sampai terlambat sholat magrib dan isha." omelnya sambil berdiri dan mempersilahkan Daniel dan Tama untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2