CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part 22


__ADS_3

Cintya, Kanya, dan Dini adalah 3 orang yang jarang terpisahkan saat istirahat. Kecuali kalau diantara mereka ada yang off.


Seperti saat ini, mereka bertiga memilih untuk mengisi waktu istirahat mereka dengan makan di sebuah food court yang ada di lantai paling atas mol.


Mestipun hari ini adalah weekend, namun food court terlihat masih sepi. Karna pengunjung memang akan ramai di sore hingga malam hari.


"Kita makan apa ni?" Tanya Kanya sambil melihat kearah Dini dan Cintya yang ada di kursi sebrang mejanya secara bergantian.


"Aku mie ayam aja." ucap Dini


"Sama deh" sambut Cintya


"Bukannya kakak bilang tadi pagi kakak gak sarapan yah! jangan makan mie ah, nanti sakit perut. Mending makan soto aja" saran Dini.


Dini memang sahabat yang sangat perhatian. Sampai-sampai Cintya sudah menganggap Dini seperti adik sendiri.


"Lagi males makan soto. Pinginnya makan emi."


"Yauda fix, berarti pesennya mie ayam yah." timpal Kanya sambil berdiri dari kursinya lalu berjalan kearah stand mie ayam.


Dini dan Cintya saling pandang saat melihat Kanya sangat antusias untuk memesan. Biasanya Kanya lah orang yang paling malas untuk disuru memesan makanan. Alasanya capek lah, malas ngantri lah, udah posisi wenak lah. Ini dia malah langsung bergerak. Ada apa... fikir Dini dan Cintya.


"Semangat banget dia..." ucap Cintya


"Iya. Heran aku." Dini sampai garuk garuk kepala.


Hening. 5 menit berlalu, dengan mereka yang masih menunggu Kanya membawakan mie ayam pesanan mereka.


"Din..!" panggil Cintya


"Hm." jawab Dini tanpa melihat Cintya. Karna dia sedang fokus dengan ponselnya.

__ADS_1


"Kau tau kan tadi Tama datang?"


"Tau kak.. kenapa?" Dini tampak kikuk sambil sesekali melirik kearah Cintya yang sedang menatapnya.


"Terus kenapa tadi gak ditegur?"


"Mmm... tadi aku juga masih ada custamer." Jawabnya bohong


"Bohong.." ucap Cintya sambil mendekatkan wajahnya kearah Dini yang masih sok sibuk dengan ponselnya


"Enggak, aku gak bohong.. kalok gak percaya tanya aja sama kak Kanya." balasnya dengan mimik wajah kaku.


"Oya.. kok aku gak percaya yah.." Cintya memicingkan matanya." Sebenernya apa sih yang terjadi sama kalian? padahal aku udah berharap banget loh sama hubungan kalian."


"Capek-capek aku nyomblangi kalian sampek jadian. Eeh... cuma sebulan doang. Uda gitu gak ada yang mau ngasi tau lagi alasan kalian putus.. "


Dini benar-benar berada disituasi yang sangat canggung. Bahkan ia jadi salah tingkah saat Cintya menatapnya dengan tajam. Bagaimana tidak, dia memang tidak pernah memberi tahukan perihal kenapa ia bisa putus dengan Tama dulu kepada Cintya. Setiap kali Cintya bertanya, selalu saja Dini mengelak dengan mengalihkan pembicaraan. Dan sepertinya saat ini mantan calon kakak iparnya itu masih sangat penasaran dengan kisah cintanya dengan adik laki lakinya yang kandas hanya dalam waktu 1 bulan.


..........


Ntah apa penyebab Tama minta di rolling sampai jauh ke Batam. Sampai sekarang Cintya hanya berfikir kalau kepergian Tama itu karna dirinya yang sering marah-marah kepadanya. Sehingga adik semata wayangnya itu lebih memilih pergi.


Cintya lah yang saat itu menjadi mak comblang antara Tama dan Dini. Cintya merasa sangat setuju saat Tama mengatakan kepadanya kalau ia suka dengan Dini. Dimata Cintya, Dini adalah gadis yang baik dan manis dan pantas untuk menjadi pacar adiknya. Hampir setiap hari Cintya mengoceh dengan membanggakan Tama didepan Dini. Walaupun awalnya Dini tidak faham maksud Cintya yang selalu menceritakan kebaikan Tama kepada dirinya, namun lambat laun usaha Cintya berhasil. Dini mulai sering menanyakan perihal Tama kepadanya. Yang itu artinya kalau Dini sudah mulai terpaut oleh seorang Tama Aditya Permana.


Waktu itu Cintya mengatur pertemuan antara Tama dan Dini di sebuah taman kota. Mestipun awalnya Tama protes 'kenapa mesti di taman kota? di cafe kek, atau di mana. Masak di taman, kuno.' ucapnya sambil manyun. Namun Cintya tetap keukeuh dengan keputusannya.


Tama memang sudah sering berpacaran, namun ia tidak pernah nembak cewe diluan. Biasanya selalu cewe lah yang mengejar-ngejar dia. Dan dengan alasan kasihan, akhirnya Tama menerima cinta cewe tersebut. Namun harus sesuai dengan kriterianya, seperti cantik, rambut panjang, dan juga pintar. Jika tidak sesuai dengan kriteria, dia akan menolak dengan mengatakan kalau dia sudah punya pacar.


Namun kali ini, dia lah yang harus nembak diluan karna Dini sudah membuat hatinya menjadi tak menentu. Sejak Dini menjadi sahabat kakaknya, Dini sering datang bahkan menginap di kontrakan mereka dulu. Ntah kenapa setiap x ia melihat Dini, hatinya selalu saja berdesir-desir tak menentu. Sering ia menepis rasa itu, karna Dini bukan cewe yang masuk dalam kriteria Tama, karna berambut pendek dan tidak terlalu cantik. Hanya saja Dini memiliki lesung pipi, sehingga setiap kali dia tersenyum terlihat sangat manis dan menggemaskan. Dari situ lah Tama mulai menyukai Dini.


"Din, aku sukak samamu" Ucap Tama sambil memegang kedua tangan Dini. Mereka sedang duduk di bangku taman.

__ADS_1


Dini yang merasa gugup saat tangannya dipegang oleh Tama, hanya bisa terdiam terpaku dengan wajah yang sudah bersemu merah.


"Kau mau kan jadi pacarku..?" ucapnya lagi, karna Dini hanya diam sambil menatapnya.


Dini menggangguk pelan. Menandakan kalau ia mau jadi kekasih Tama.


Sejak saat itu mereka pun dinobatkan sebagai sepasang kekasih.


...............


Cintya masih menatap tajam kearah Dini yang sedari tadi tidak mau menjawab pertanyaannya.


Tiba-tiba Kanya nongol dengan membawa tiga mangkuk mie ayam pesanan mereka tadi. Dini pun merasa lega dengan datangnya Kanya. Ia merasa sudah mendapatkan pertolongan untuk terlepas dari tatapan tajam Cintya.


"Ngomongin apaan sih, kok pada tegang gitu?" tanya Kanya yang sudah duduk dikursinya sambil mengaduk mie ayam milikny.


"Gak ada kok.... Ya kan kak?" Dini menatap Cintya sambil tersenyum. Seakan-akan menunjukkan kepada Kanya kalau mereka sedang tidak berada di obrolan yang serius. Dini memang paling pinter ngeles.


Namun kali ini Cintya sudah diambang kekepoan akut. Dini harus cerita sekarang juga. fikirnya.


Dengan Dini selalu menutupi masalah hubungannya dulu, berarti ada sesuatu yang sangat aneh bukan. Bahkan Tama pun enggan bercerita tentang masalah itu dengannya. Cintya hanya merasa kesal karna sudah membuang waktu dengan menjadi mak comblang antara mereka. 3 bulan Cintya nyomblangin mereka sampai akhirnya mereka jadian. Tapi hanya sebulan bertahan. Siapa yang gak kesel.


Mestipun sudah 2 tahun terlewat, tidak menyurutkan niat Cintya yang masih kepo dengan hubungan adiknya itu.


"Jawab pertanyaan aku tadi Din..! ada masalah apa sih kau sama Tama?"


"Aku sih udah gak masalah kalau kau gak jadi sama Tama. Tapi jelasin dong kalian kenapa."


"Masak setiap ditanyak ngeles mulu.!" Cintya tampak semakin kesal


"Gak ada kak! kan aku udah bilang kalau kami cuma gak cocok aja. Jadi untuk apa dilanjutin." balasnya sambil menuangkan saus ke dalam mangkuk mie ayamnya.

__ADS_1


Dini hanya berharap kalau Cintya berhenti mempertanyakan hal itu. Ini semua salah faham, namun Tama gak pernah mau mendengar penjelasannya. Dia takut bercerita kepada Cintya, karna pasti Cintya juga akan ikut salah faham kepadanya. Dan semua akan menjadi semakin runyam, bahkan persahabatan mereka bisa saja hancur.


"Kalian ini bahas apaan sih! aku gak ngerti." Kanya merasa bingung dengan pembahasan dua orang yang ada didepannya.


__ADS_2