CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part 31


__ADS_3

Setelah lima jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai juga disebuah kota kecil, kota kelahiran, dan kota yang begitu banyak menyimpan kenangan, baik itu kenangan indah ataupun buruk. Yaitu kota PARAPAT.


Ya,mereka memang lahir disebuah kota kecil yang bernama Parapat, kota dengan beribu pesona keindahan. Kota yang berdekatan dengan sebuah danau besar yang bernama Danau TOBA. Kota yang sering dijadikan sebagai destinasi wisata yang indah dimana pengunjungnya tidak hanya datang dari dalam kota, melainkan dari luar kota, bahkan luar negri.


Ayah mereka juga asalnya asli dari kota kecil ini, namun tidak dengan Bunda mereka yang asalnya dari kota Bengkulu.


Bagaimana mereka bisa berjumpa? Bunda mereka pernah bercerita tentang bagaimana bisa ayah dan bunda mereka bisa bertemu.


Saat itu Bunda mereka merantau ke kota Parapat dan mendapatkan pekerjaan disebuah hotel besar disana sebagai resepsionis. Begitupun dengan ayah mereka yang juga bekerja di hotel yang sama sebagai Exsecutive Housekeeper yang bertanggung jawab atas kebersihan kamar tamu dan area umum yang dimiliki hotel.


Karna seringnya mereka bertemu, sehingga timbullah benih benih cinta diantara mereka dan merekapun menjalin sebuah hubungan. Namun hubungan mereka tidaklah semudah seperti saat mereka menyatakan perasaan mereka masing-masing. Perbedaan keyakinan membuat hubungan mereka semakin rumit. Orang tua dari pihak Ayah maupun Bunda, tidak merestui hubungan mereka bahkan benar-benar menentang hubungan mereka.


Ayah dan Bunda mereka sempat putus karna tidak memiliki jalan keluar atas permasalahan keyakinan ini. Namun sekali lagi, karna seringnya mereka bertemu dan tidak adanya niat diantara mereka untuk mencari pasangan yang lain, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk memperjuangkan cinta mereka mestipun keluar dari keluarga adalah jalan satu satunya.


Jadi lah Ayah mereka yang memutuskan untuk masuk ke agama islam, agama yang dianut oleh Cintya dan Tama saat ini.


Mestipun awalnya Ayah merasa ragu karna harus meninggalkan keluarga dan harus rela keluar dari kartu keluarga bahkan harus rela kehilangan marga, namun ia menguatkan hatinya dan lebih memilih untuk hidup bersama dengan bunda mereka. Itulah cinta harus rela berkorban jiwa dan raga bahkan harta dan tahta.


Tapi bukan berarti sang ayah langsung benar-benar pergi meninggalkan otang tua yang sudah memberikannya hidup selama ini. Ia memilih untuk tetap tinggal di kota kelahirannya dan berdekatan dengan orang tuanya. Bahkan ia memilih untuk keluar dari pekerjaannya dan membuka sebuah usaha tepat disamping usaha kedai makan orang tuanya.


Ia yakin, setiap orang tua pasti tidak ingin berjauhan dengan anaknya mestipun dengan sekuat hati mereka mengatakan tidak ingin melihat wajah anaknya lagi.

__ADS_1


Terbukti, dengan lahirnya Cintya kedunia ini kedua orang tua sang ayah sedikit demi sedikit bisa menerima kehadiran sang Bunda sebagai menantu. Apa lagi saat Tama yang lahir, begitu senangnya mereka karna yang lahir adalah anak laki-laki.


Namun nasi sudah menjadi bubur, marga sang opung doli tidak bersarang di nama sang cucu karna keegoisannya dulu yang menyuru sang anak untuk melepaskan marganya bila ingin menikah dengan pilihannya dan berpindah agama.


Itu lah kisah yang diceritakan oleh sang Bunda kepada mereka saat Cintya bertanya kepada sang Bunda bagaimana bisa Bundanya bisa berjumpa dengan sang Ayah dan kenapa mereka bisa berbeda agama dengan Opungnya.


*****


Karna mereka sampai dini hari, mereka memilih untuk menyewa sebuah kamar untuk beristirahat hingga pagi tiba. Baru lah setelah itu, mereka akan pergi berziarah ke makam sang bunda yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat penginapan mereka.


Pagi menjelang, namun mata Cintya masih ingin terpejam. Tidak ada niat untuk bangkit dari tidurnya apa lagi untuk keluar dari selimut. Udara pagi di kota kecil itu memang sangat lah dingin. Bahkan sangking dinginnya sampai menusuk ketulang.


Namun tidurnya merasa terganggu saat ranjang yang ia tiduri terasa bergetar. Ia membalikkan badannya dan menemukan Tama tertidur dengan tubuh melingkar serta tubuhnya bergetar karna kedinginan. Ya ampun, ternyata Tama tidur tidak menggunakan selimut. Jatah selimut yang hanya satu tanpa sadar dikuasai oleh Cintya saat ia tertidur.


Akhirnya Cintya memilih bangun dan mengambil selimut yang digunakannya tadi untuk menutupi tubuh Tama yang masih bergetar. Diliriknya jam yang menempel di dinding kamar, ternyata sudah pukul delapan pagi.


Ia masuk kedalam kamar mandi. Disentuhnya air yang ada di ember, awalnya dia ingin mandi namun saat menyentuh air yang seperti es itu, ia pun mengurungkan niatnya. Bisa jadi alerginya akan meradang kalau ia memaksa untuk mandi.


Saat ia selesai dari kamar mandi, ia pun bergerak untuk membangunkan adik semata wayangnya yang masih melingkar didalam selimut.


"Tama.. bangunnn... jadi gak ziarahnya." Cintya mengguncang tubuh Tama yang tertutup oleh selimut. Hanya kepalanya saja yang nampak.

__ADS_1


Bukannya bangun Tama malah menutup bagian kepalanya dengan selimut. Hingga seluruh tubuhnya benar benar tertutup oleh selimut.


Hufh.. Cintya menghela nafasnya karna tidak berhasil membangunkan Tama.


"Yauda deh, kakak keluar dulu nyari sarapan. Pokoknya nanti kalau kakak pulang, kau harus udah bangun." ucap Cintya tegas sambil mengambil dompet dan hp dari dalam ranselnya lalu bergerak keluar kamar. Ia tahu kalau Tama sebenarnya sudah bangun dan mendengar ucapannya. Sebelum ia benar benar keluar, ia melirik lagi ke arah Tama lalu berteriak. "Tamaaaa... kakak pergi."


Tama hanya mengeluarkan tangannya dari selimut lalu membuat simbol oke dengan jarinya menandakan kalau ia mendengar ucapan kakaknya.


"Tukan benaran udah bangun.. dasar pemalas.." gerutu Cintya sambil berlalu.


Cintya berjalan menyusuri jalan setapak untuk mencari sarapan yang ada logo Bismillah di stelingnya. Bagaimana pun juga ia harus jeli dalam memilih makanan, karna di sini mayoritas beragama non muslim. Setelah berjalan agak jauh, akhirnya ia menemukan apa yang ia cari.


Namun belum sempat ia masuk, ia melihat sesosok tubuh yang sangat ia kenal sedang membelakanginya.


"Ayah.." gumamnya pelan. Ternyata Ayahnya juga sedang membeli sarapan di warung itu.


Ingin ia menyapa dan memeluk Ayahnya yang sudah tiga tahun tidak berjumpa. Namun ia teringat dengan ucapan sang Ayah saat mereka melangkahkan kaki keluar dari rumah 'jangan harap kalian bisa kembali lagi kerumah ini kalau selangkah saja kaki kalian keluar dari pintu. Dan kalian bukanlah anak Ayah lagi'.


Cintya pun mengurungkan niatnya untuk menegur sang Ayah. Bahkan ia memilih bersembunyi saat Ayahnya membalikkan badan karna sudah selesai dengan pembeliannya.


Cintya mengatur ritme pernafasannya, saat rasa sesak tiba-tiba menghampiri. Bagaimana pun juga ia adalah Ayah kandungnya, tidak semestinya mereka harus berada disituasi seperti ini. Situasi yang sangat menyakitkan menurut Cintya. Namun ia harus bisa tegar dan berusaha agar tidak menangis. Ini semua adalah keputusan yang sudah ia ambil, dan ia harus menerima resiko dari keputusan itu bukan.

__ADS_1


Setelah ayahnya pergi, barulah ia masuk kedalam warung dan memesan dua bungkus nasi uduk beserta dengan dua bungkus teh manis hangat untuknya juga untuk Tama.


__ADS_2