CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Frustasi


__ADS_3

Disepanjang jalan pulang kekosan Cintya, Kanya dan Dini tidak berhenti tertawa setelah mendengar cerita kejadian di Conter Lili. Cintya yang awalnya sudah kesal karena kejadian yang menimpanya, semakin tidak bisa menyembunyikan betapa kesalnya ia terhadap kedua rekan kerja sekali gus sahabatnya itu.


Entah mengapa ia menceritakan kejadian apes yang dialaminya kepada Kanya dan Dini. Seharusnya sedari awal ia sadar, kalau kedua sahabatnya ini berbeda dari yang lain.


"Apa kalian gak punya rasa simpati huh?" kesal Cintya


" Kenapa kami harus bersimpati mendengar cerita lucu kekgini... Bukannya seharusnya memang harus tertawa ya?" Kanya masih terus tertawa.


" Seharusnya kalian pulang aja sana.. Ngapain sih ikut ke kos ku." Omel Cintya sambil berjalan mendahului Kanya dan Dini . Namun kedua gadis itu seakan tidak perduli dengan omelan Cintya dan masih terus mengikuti Cintya menuju ke kosnya.


Tak lama berselang, ketiga gadis itu pun sampai dikamar kos Cintya. Cintya langsung masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Sementara Kanya dan Dini masih asik dengan gibahannya sambil selonjoran dilantai dengan beralaskan karpet. Bahkan sampai Cintya selesai dari kamar mandipun, mereka belum berhenti membahas keapesan sahabat mereka sendiri, bahkan didepan orangnya langsung. Cintya hanya bisa pasrah sambil menghela nafas panjang.


Dari pada ia terus mendengar gibahan tentang dirinya dari teman-teman lucnut, ia memilih untuk tidur saja. Lagipula matanya memang sudah tidak bisa untuk ditolong. Mimpi buruk yang menimpanya semalam, membuatnya tidak berani untuk melanjutkan tidurnya, berefek rasa kantuk yang tak tertahan hari ini.


"Terserah kalian mau ngapain disini, aku mau tidur. Jadi aku mohon dengan sangat untuk tidak berisik. Oke.." jelas Cintya sambil menghempaskan tubuhnya kekasur tanpa mau mendengarkan sautan dari Kanya dan Dini.


Tiga jam kemudian..

__ADS_1


Cintya menggeliat, matanya mulai terbuka. Dilihatnya jam dinding yang sudah menunjuk ke angka sembilan malam. " Aaaah ya ampun, mataku rasanya masih ingin tertutup. Tapi perutku lapar" gumamnya sambil terus menggeliatkan tubuhnya. " tapi kenapa sepi sekali.." ia mulai teringat kalau ia tidak sendiri tadi. Cintya mencoba mengangkat tubuhnya untuk bangun. Matanya menjuru kesegala penjuru kamar, namun tidak menemukan siapa pun. " apa mereka sudah pulang?" bertanya sendiri sambil masih celingak celinguk mencari.


Cintya pun ingin beranjak dari kasurnya untuk mencari keberadaan kedua sahabatnya itu. Siapa tau mereka ada diluar, karena takut mengganggu tidurku. Fikirnya.


Namun betapa terkejutnya ia, saat ia mulai berdiri dan menemukan lantainya yang sudah dipenuhi dengan bungkus-bungkus sisa makanan yang berserakan dilantai.


Cintya hanya bisa melongo sambil mencoba untuk mencerna apa yang dilihatnya. "daebakkk... sebegininya punya temen ya Allah." menggelengkan kepalanya " mereka memakan makananku, dan akulah yang harus membersihkannya." mulai menggerutu sambil bergerak mengambil tempat sampah yang ada diluar kamar " istighfar Cintya.. Isrighfar.." Cintya mencoba menenangkan dirinya.


Dikutipnya satu demi satu dengan sabar dan dimasukkannya kedalam tempat sampah. Namun ia berhenti pada satu bungkus yang tidak asing dipenglihatannya. Matanya membulat sempurna, dari yang tadinya ia masih mengantuk, sampai ia benar-benar sangat sadar dan Dengan cepat ia meraih laci nakas yang ada disebelah kasurnya " kemana masker wajahku.." masih terus mencari.


Sesuai dugaan, kalau bungkus kosong yang sekarang ada ditangannya, adalah masker wajah miliknya yang dipergunakan Kanya da Dini tanpa seizin sang empunya.


(Didalam taksi online) " kok kupingku panas ya kak" kata Dini kepada Kanya "sama, aku juga" saut Kanya sambil terus memegangi telinganya


Keesokan harinya


Siff pagi dimulai dengan keterlambatan Cintya, Lili dan juga Melky datang ke stannya masing-masing. Semua itu dikarenakan mereka bertiga harus menerima konsekuensi yang belum mereka dapatkan dari meneger toko atas insiden kemarin.

__ADS_1


Cintya dan Lili hanya bisa pasrah karna harus menerima surat Cinta dari sang meneger, dan harus membalasnya dengan kata permohonan maaf, juga berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Sementara untuk Melky, sang menerjer lah yang harus berlapang dada untuk tidak memberinya surat cinta seperti yang ia berikan kepada Lili dan Cintya.


Bukan tanpa alasan, walaupun Melky memiliki kerandoman yang akut namun ia tidak pernah main-main dengan pekerjaannya. Dan semua itu dibuktikan dengan hasil penjualan yang selalu over target. Daebak...


Setelah berpisah dengan Lili, Cintya pun berjalan menuju Conternya. Dari kejauhan ia sudah melihat dua orang penggibah sudah menantikan dirinya. Rasa kesal masih menghampiri, tapi ia memilih untuk tidak membahasnya. Karena bisa dipastikan, kalau mereka pasti punya segudang alasan. Hufh, seharusnya kemarin ia bisa levih cepat sadar untuk tidak menceritakan keapesan yang menimpanya kepada manusia beda alam yang disebut sebagai sahabatnya itu.


"apa kalian sudah pindah brand huh?" sindir Cintya kepada Kanya dan Dini tanpa menghentikan langkahnya untuk masuk kedalam. Dibalas nyiyiran oleh Kanya sambil mengikuti Cintya


"Aku fikir kau gak kerja hari ini.. Makanya aku sama Dini inisiatif untuk memperhatikan contermu. Ucap terima kasih dong" Kanya tidak mau kalah sambil menunjukkan expresi tengil. Cintya melengos .


" Kenapa kau masuk kerja hari ini, bukannya seharusnya libur ya?"


"Sejak kapan di perusahaan ritel, ada libur waktu weekend?.. Lagi pula, setelah masalah kemaren apa kau pikir aku masih bisa ambil libur? Aku masih butuh duit.." balas Cintya


Kanya terkekeh mendengar jawaban cintya " berarti gak bisa kesalon dong hari ini.. "


" Ngapain kesalon.. Memangnya ada acara penting." jawab Cintya yang masih sibuk dengan kegiatannya menyusun kembali pajangan miliknya.

__ADS_1


"Apa kau lupa hari ini hari apa?" Kanya mencoba mengingatkan sesuatu


"Sabtu.." jawab Cintya cepat. Namun seketika Cintya menghentikan kegiatannya karena teringat sesuatu.


__ADS_2