CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Penyesalan Reza


__ADS_3

Hanya satu kata yang bisa menggambarkan isi hati seorang Reza saat ini, MENYESAL. Walaupun Bella adalah wanita yang sangat posesif, namun percayalah hanya Bella yang ada dihati seorang Reza.


Sungguh sangat memilukan nasipnya kali ini. Dimana ia harus menerima nasipnya untuk menikahi wanita yang tidak dicintainnya namun sudah mengandung anaknya. Sungguh sangat miris memang, tapi itu semua akibat perbuatannya sendiri.


Bukan tidak sulit untuk melakukan itu, hanya saja ia juga tidak mau menjadikan Maya sebagai korban dari perbuatannya dan harus menanggung beban karena sudah hamil. Biarlah Bella yang harus menerima kenyataan pahit kalau usahanya selama ini menjaga agar Reza tidak terpaut oleh wanita lain sudah gagal total.


Reza duduk termenung disofa apartemennya sambil memandang lurus kearah meja. Yang dimana diatas meja tersebut terletak sebuah kotak kecil dengan cincin didalamnya. Cincin yang sengaja ia buat untuk melamar Bella di hari ulang tahunnya tahun ini. Tapi apalah daya, rencananya harus batal karna insiden di ruangan Daniel kala itu.


"Aaaaahh.." teriak Reza sambil mengusap wajahnya dengan gusar. "Dasar bodoh, kenapa harus kekgini sih ceritanya." Reza merasa marah dengan dirinya sendiri.


Diambilnya ponselnya lalu ia melakukan panggilan telfon dengan Daniel. Dan tidak butuh waktu lama sampai Reza tersambung dengan Daniel


"Hmmm.." jawab Daniel dari sebrang telfon


"Apa lo ada waktu malam ini bro?, gue mau lo temenin gue minum." ucapnya lemah. Sepertinya dengan minum dan mabuk-mabukan dapat melupakan sejenak masalahnya. Tapi kali ini ia tidak mau minum sendiri, ia ingin ditemani oleh sahabatnya.


"Nanti gue telfon lagi." Jawab Daniel pelan. Bahkan sangking pelannya Reza hampir tidak mendengar apa yang Daniel ucapkan.


"Kenapa suara lo pelan banget?" tanyanya heran. Baru saja ia ingin bertanya kembali kepada Daniel, tapi tiba-tiba terdengar suara dari seseorang yang sebenarnya sangat dirindukannya.


"Apa itu Reza yang menelfon?" Bella.


Deg


Jantung Reza seakan berhenti berdegub. Suara wanita yang sebenarnya sangat ia hindari namun sangat ia rindukan itu akhirnya terdengar. Reza hafal betul suara Bella, namun yang membuatnya semakin sakit adalah suara Bella tidak terdengar seperti biasanya. Suaranya parau dan seperti sangat menyedihkan.


Sesaat ia mematung, bahkan suara Daniel dari sambungan telfon seperti tak terdengar lagi ditelinganya. Namun seketika ia tersadar kembali saat Daniel seperti akan memutus sambungan telfon mereka. Sejenak keegoisannya muncul, ia ingin mendengar suara wanita yang sekarang sudah menjadi mantannya itu lebih lama lagi. Sebenarnya bisa saja ia menelfon Bella langsung jika ia memang ingin. Hanya saja ia tidak ingin membuat Bella semakin sakit hati, sehingga ia memilih untuk mengalihkan semua panggilan telfon dari Bella.


"Tunggu bro, tolong jangan dimatikan. Gue masih ingin dengar suaranya." pintanya

__ADS_1


Sukur saja Daniel langsung mengerti dan tidak memutuskan sambungan telfonnya. Tidak lama suara Bella terdengar lagi.


"Apa kalian udah jadian?" Bella


"Belum" Daniel


"Apa lo mencintainya Daniel?. Jaga dia Daniel, jangan sampai dia berpaling darimu." Bella


Deg, kata-kata Bella seperti tamparan keras buatnya karna sudah menyakiti hati wanita yang sudah rela memberikan seluruh hatinya kepadanya. Tidak terasa air matapun menggenang dipelupuk matanya. Entah sudah seperti apa rasa penyesalan yang ia rasakan saat ini. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Sebenarnya yang paling ia takutkan adalah kejadian yang menimpa mantan kekasih Daniel akan menimpa Bella juga. Tapi kembali lagi hatinya meyakini kalau Bella tidaklah selemah itu. Mestipun kelihatannya Bella manja tapi sebenarnya Bella adalah wanita yang kuat.


~


Jadi gimana, apa lo udah merasa tenang?" tanya Daniel kepada Bella yang sepertinya sudah bisa mengikhlaskan Reza yang lebih memilih wanita lain.


"Hmmm... sepertinya begitu." jawabnya tertawa. "Sekali lagi makasih ya Dan. Lo udah mau ngeluangkan waktu lo yang sebenarnya sibuk itu untuk dengerin curhatan gue." lanjutnya lagi, dan dijawab anggukan oleh Daniel.


Bella kembali menyeka air mata yang tiba-tiba menggenang dipelupuk matanya. Entah mengapa ia merasa terharu saat Daniel mengatakan kalau sekarang mereka adalah seorang sahabat.


"Kenapa lo nangis lagi.." ucap Daniel prihatin


"Gue terharu sama ucapan lo." ucapnya kembali tersenyum " Tapi lo tenang aja, gue janji ini tangisan gue yang terakhir. Setelah ini gue gak akan nangis lagi." ucapnya sungguh-sungguh..


"Gue percaya sama janji lo." balas Daniel


"Baiklah kalau begitu sahabat. Sebaiknya aku pulang sekarang." Bella berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangannya kearah Daniel. " gue mau mengesahkan persahabatan kita dengan berjabat tangan" sambungnya lagi.


"Hmm baiklah, sekarang kita sudah sah menjadi sahabat." kata Daniel sambil menyambut uluran tangan Bella.

__ADS_1


"Terima kasih Daniel." ucap Bella lagi sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan Daniel.


"Hufh.." akhirnya Daniel bisa bernafas legah saat melihat Bella seperti sudah baik-baik saja. Daniel mengambil kembali ponselnya yang sengaja ia letak diatas meja. Ternyata sambungan telfonnya dengan Reza belum terputus.


"Halo Za.. lo masih disana?"


"Hm.. gue masih disini." jawabnya lemah." apa dia udah pergi?"


"Iya, baru aja. Lo baik-baik aja kan?" Sebenarnya Daniel sudah tahu kalau Reza dalam keadaan yang tidak baik-baik saja saat ini, tapi ia tetap bertanya hanya untuk sekedar memastikan.


"Hm gue baik-baik aja. Setidaknya saat gue dengar dia udah bisa tertawa. Makasih Dan" ucapnya tulus


"Dia wanita kuat. Lo gak perlu terlalu khawatir. Nanti malam gue ketempat lo setelah tutup cafe, oke."


"Hmm.." jawabnya, lalu sambungan telfonnya pun terputus.


"Semoga aja setelah ini semuanya dapat kembali seperti semula." doa Daniel dalam hati.


Mustipun bukan dirinya yang berada dalam masalah ini, tapi ia juga bisa merasakan bagaimana sakit hatinya Bella sebagai orang yang dihianati. Seperti dirinya dulu. Namun ia tidak bisa menyalahkan Reza, bagaimanapun Reza juga sangat terpuruk akibat perbuatannya sendiri. Dan sepertinya kisah mereka hampir sama. Namun yang Daniel harapkan endingnya akan berbeda dengan apa yang ia alami dulu. Semoga


Tok tok tok...


Baru saja Daniel ingin memejamkan matanya sambil bersandar di sofa, tapi pintunya sudah ada yang mengetuk.


"Masuk.." serunya malas


Pintu pun terbuka "Permisi pak Daniel." ucap seorang perempuan dengan wajah yang tertunduk.


"Maya.." Daniel langsung berdiri saat mengetahui Maya lah yang datang menemuinya. "Sedang apa kamu disini?" tanyanya kaget.

__ADS_1


"Saya hanya ingin berbicara dengan anda pak. Apa boleh?" matanya terlihat merah, dan raut wajahnya memperlihatkan ada kecemasan disana.


"Ya ampun.. apa lagi ini?" gumamnya sambil menghena nafas. Baru saja ia selesai menenangkan Reza dan Bella, mengapa sekarang Maya juga datang menemuinya. Ya ampun.. Reza yang buat masalah,tapi malah dirinya yang harus menghadapi semuanya. Sial


__ADS_2