
"Apa kau sekarang sudah ingat? " ucap Kanya dengan nada menggoda.
Cintya menghela nafas dengan expresi wajah yang mengambarkan kekecewaan. Kanya dan Dini hanya bisa saling pandang saat melihat wajah Cintya yang tiba-tiba murung.
"Apa kakak masih belum bisa lupain dia?" tanya Dini prihatin, Cintya hanya membalas dengan tatapan kosong
Kalau ia pergi, hatinya masih terasa sakit. Tapi kalau ia tidak pergi, maka ia akan menjadi pecundang seperti kata Lili. Seperti buah simalakama, Cintya merasakan dilema dengan keputusannya.
"Kalau kakak merasa berat, gak usah dipaksa.." lanjut Dini
" Iya Cin, bener kata Dini." Kanya tiba-tiba kalem. Bagaimana pun Cintya adalah sahabatnya.
Sepersekian detik hati Cintya bergejolak, walaupun hatinya menolak tapi ia merasa kalau inilah jalan yang harus ia lalui, demi untuk kelangsungan hidupnya kedepannya. Mungkin saja, setelah melihat mantannya menikah ia bisa menjadi lebih ikhlas lagi dalam menjalani hidup. Mungkin saja
" Aku akan pergi kok." jawab Cintya dengan senyum dibibirnya.
"Waaah, serius?" tanya Kanya
" Hmmm..." Cintya menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"kalau begitu, apa yang akan kau gunakan nanti malam?" Kanya menjadi excited kembali untuk menanyakan persiapan Cintya kepesta pernikahan sang mantan.
"Kau gak perlu khawatir, aku akan menyiapkannya dengan sebaik mungkin." Jelas Cintya dengan percaya diri
~
Didepan sebuah pekarangan yang sudah disulap dengan sangat cantik, turunlah seorang wanita dari dalam mobil dengan gaun berwana merah maroon. Terlihat sangat anggun dan cantik. dengan percaya diri ia berjalan masuk ke area pesta sambil menggandeng seorang pria bersamanya.
__ADS_1
Sesaat setelah masuk, matanya langsung tertuju pada foto-foto mesrah pengantin yang terpampang disepanjang area pintu masuk. Seketika nyalinya memburuk. Ia takut kalau nanti ia tidak bisa menahan rasa kecewanya dan membuat keributan. Namun ia harus merasa bersyukur karena ternyata ia membawa orang yang tepat untuk berada disampingnya saat ini.
Orang yang benar-benar sangat peka akan perasaannya.
"Jangan takut... Ada aku." ucap Melky dengan tersenyum manis kepada Cintya sambil menautkan tangan Cintya kelengannya.
Dengan menghela nafas panjang, Cintya mulai merasa lebih lega.
Mereka pun menemukan meja kosong untuk mereka duduki..
"Aku mau ngambil minum, kau mau ikut atau tetap disini?" tanya Melky
" Aku nitip aja deh.." jawabnya, dan Melky pun pergi
Mata Cintya berkeliling melihat kesekitar. Dekorasi yang sangat cantik. Persis seperti keinginannya yang sempat terucap ke sang mantan. Kalau suatu saat mereka menikah, ia ingin mengadakan resepsi diluar ruangan (out door). Ouh Cintya, betapa mengenaskannya dirimu mengingat masa lalu. Mana cuacanya benar-benar sangat mendukung. Kenapa gak hujan saja sih, biar Cintya gak sekecewa ini.
"Woi.. Ngelamun ya!!" Melky mengibaskan tangannya diwajah Cintya
"Hmmm, apaan sih.." Cintya menggerutu sambil mengambil minuman yang disodorkan Melky kepadanya
" Kenapa pelaminannya kosong? Apa perlu kita yang duduk disitu Cin?" kelakar Melky mencairkan suasana.
"Kau aja sana.." balas Cintya ketus sambil menyeruput minumannya. Melky semakin tertawa melihat wajah cemberut Cintya.
"Kenapa kau marah... mana Cintya yang begitu sangat antusias untuk datang kemari tadi?" goda Melky tertawa. Cintya menyunggingkan sebelah bibirnya.
" Nanti saat pengantinnya datang, aku mau menyumbangkan sebuah lagu." lanjutnya lagi dengan antusias.
__ADS_1
"Lakukan yang kau mau Mel,." ucap Cintya " namun saat kau menaiki pangung itu aku akan menghilang seperti peri. Kau tau.." lanjutnya lagi dengan nada mengancam.
"Kau bukan peri Cintya, tapi malaikat.." balas Melky sambil mengedip-ngedipkan matanya.
~
Sudah hampir satu jam mereka disitu, namun sang empunya acara belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Cintya sudah mulai merasa bosan, dan ingin cepat-cepat mengakhiri malam ini. Namun tidak dengan Melky, menunggu disebuah acara pesta adalah hal yang sangat membahagiakan baginya. Karena ia dapat menyicipi semua hidangan yang tersedia. Bahkan di meja mereka hampir penuh makanan yang beraneka ragam.
Tepat satu jam mereka ada dipesta, akhirnya sang raja dan ratu sehari pun keluar dengan berjalan bergandengan tangan dan diikuti oleh orang tua, serta para sanak saudara dibelakangnya. Para undangan seketika berdiri untuk menyambut mempelai dan keluarga. Pengantin dan rombongannya melewati para undangan sambil sesekali melemparkan senyum dan melambaikan tangan untuk sekedar menyapa.
Aura kebahagiaan sangat terlihat jelas dari kedua mempelai dan keluarga yang mendampingi. Namun tidak dengan Cintya. Ia tidak tahu harus apa saat melihat sepasang sejoli itu hampir sampai dihadapannya. Reflex, tubuhnya berbalik membelakangi mempelai yang akan lewat.
Mempelaipun akhirnya sampai di singgasana, dan tamu undangan sudah kembali duduk di kursinya masing-masing. Cintya masih tertegun di kursinya. terbesit rasa cemburu dan kebencian didalam hatinya. Namun ia mencoba untuk sadar dan kembali pada kenyataan, kalau pria itu bukanlah jodohnya.
Dengan nafas yang masih menderu, ia mencoba untuk tetap tenang. Dan saat ia merasa sudah jauh lebih baik iapun mencoba mengangkat wajahnya yang sedaritadi hanya menunduk.
Cintya specles mencari orang yang baru saja berada dihadapannya tiba-tiba hilang entah kemana meninggalkan dirinya. Namun belum lama matanya mencari, suara orang tersebut bergema dari atas panggung.
Mata Cintya membulat sempurna, ternyata Melky bener-bener naik keatas panggung. Dengan cepat Cintya menutupi wajahnya, merasa sangat malu andai-andai Melky membuat kerusuhan diatas sana dan orang-orang mengetahui kalau ia datang dengannya tadi.
"Ampun Melky...." ucap Cintya frustasi.
~
"Tes... Tes..." Melky tes mic yang akan ia gunakan. " Selamat malam semua (sambil melambaikan tangan) saya ingin menyumbangkan sebuah lagu untuk para undangan yang hadir hari ini. Dan terkhusus untuk mempelai yang sedari tadi sudah saya tunggu kehadirannya" ucapnya." Apa kalian tau kalau saya sudah satu jam menunggu kalian disini? " lanjutnya dengan nada candaan. Membuat Wahyu dan Lea menoleh kearahnya dengan expresi terkejut. " Sebelum saya menyumbangkan sebuah lagu, saya ingin sedikit memperkenalkan diri." bicara santai. " saya bukanlah teman dari kedua mempelai ataupun kenalan dari keluarga mempelai. Saya datang kemari bersama dengan seorang wanita Cantik yang berada disana." Melky menunjuk kearah Cintya yang terlihat masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Cintya menjadi pusat perhatian para tamu dan juga kedua mempelai. "Sayang, ku mohon jangan kau tutupi wajah cantikmu itu.. Apa kau takut, kalau wajah cantikmu itu dapat mengalihkan mempelai pria?" ucapnya sambil tertawa, tanpa memperdulikan expresi dari mempelai pria yang susah tampak pucat. Cintya semakin nelongso.
__ADS_1
"Dasar Melky gila.." gerutu Cintya dalam hati
"Ahhh.. Kau memang sangat cantik hari ini Cintya. Aku sungguh tergila-gia olehmu." gombalan yang terdengar sangat tulus dari seorang Melky untuk sang pujaan hati yang selalu menolak perasaannya.