Cinta Monyetku

Cinta Monyetku
Centilnya anak om


__ADS_3

Happy Reading....


🌿🌿🌿🌿


"Ya kayak kamu nggak kenal Illa aja. Pasti dia sekarang ada dikamar. Paling juga sedang tidur ya. " Balas Bunda Salma. Beliau tidak heran dengan kebiasaan putri bungsunya yang suka tidur. Mungkin itu juga karena kegiatan di sekolahnya yang padat, sehingga membuat dia tidur setelah pulang sekolah.


"Paling dia kecapean bun. " Bunda kan tahu gimana aktifnya Illa di sekolah. Sampai semua ekstra dia ikutin." Aira yang tahu kebiasaan Illa membelanya.


"Iya kata oma, dia mirip tante Nadia. Paling cerewet dan pecicilan. Tapi bunda sangat bersyukur dia masih bisa menjaga dirinya. " Ucap bunda Salma kembali.


"Karena memang ini hasil didikan bunda sama ayah yang berhasil. Aira juga sangat beruntung mempunyai ayah dan bunda dan juga mana Aisyah yang udah melahirkan Aira. Tanpa didikan dan kasih sayang yang luar biasa dari bunda, kakak, Adyan dan Illa tak akan menjadi adak yang sukses seperti ini bun. " Puji Aira dengan memeluk bunda Salma.


"Bunda dan ayah juga bangga mempunyai kalian nak. " Anak dan ibu ini saling berpelukan dan bik Siti yang melihatnyapun ikut bahagia. Selama beliau bekerja di sini, tak pernah sekali pun dia melihat keluarga ini berdebat dan tak akur.


"Kakak...... " Suara cempreng gadis yang sudah beranjak dewasa menuju ke dapur. Siapa lagi jika buka Shakila anak bungsu dari ayah Irsyad dan bunda Salma.


"Ish adik itu loh teriak-teriak kayak di hutan. "Bunda Salma memprotes putri kecilnya.


" He... he... maaf bunda. " Ucap Illa dengan mengacungkan 2 jarinya membentuk huruf V ke arah sang bunda.


"Bunda kab tahu adik kangen sama kakak, apalagi sama keponakan Illa yang cantiknya super ngalahin mamanya. " Cerocos Illa lagi. Jika di bandingkan dengan Aira, Illa lebih cerewet dan pecicilan. Beda dengan Aira yang tampak anggun.


"Eh tapi kok Illa nggak lihat si gembul kak? " Ucap Illa kembali dengan mencari keberadaan sang keponakan.


"Lagi di belakang dek sama papanya. " Jawab Aira.


"Wah harus di samperin ni, kalau nggak bisa di sarbotase sama abang. " Ucap Illa. Dia tahu jika abangnya pulang pasti dia nggak bisa menggendong atau mengajak Maira main. Setelah kehadiran Maira, membuat keluarga besar ayah Irsyad menjadi berwarna Maira yang lucu dan menggemaskan pasti akan menjadi hiburan buat keluarga.


"Eh.. eh, ni anak gadis bunda. Bantu bunda dulu di dapur baru nanti ke sana. " Bunda Salmapun menarik baju putrinya.


"Yah bunda, adik kan mau maen sama Maira. " Illapun cemberut.


"Nanti aja, sekarang bantu bunda dulu buat nyelesein ini. " Tolak bunda Salma.


"Tu bantu kakak buat ngupas timun. " Perintah bunda Salma.


Illapun dengan cemberut menghampiri kakaknya. Dia mulai mengambil timun dan mengupasnya. Ketiga wanita yang ada di sana pun tersenyum melihat tingkah Shakila. Bunda Salma selalu mengajarkan ke putra putri nya untuk mandiri. Khususnya untuk Aira dan Shakila. Meskipun sudah ada ART, tapi sebisa mungkin bunda Salma mengajarkan putrinya untuk bisa memasak. Agar suatu saat jika mereka berumahtangga, mereka bisa memasak untuk keluarganya.


"Ma.. ma.. ma... ma.. hiks... hiks.. hiks. " Suara tangisan Maira menghentikan bunda Salma, Aira dan Illa dalam memasak.


"Loh kok anak mama nangis ini, ulu... ulu... " Ucap Aira. Sebelum menghampiri putrinya, dia mencuci tangannya terlebih dahulu. Sedangkan Maira menggerakkan tangannya untuk menggapai sangat mama.

__ADS_1


"Kayaknya dia haus kak." Ucap Adyan yang sedang menggendong Maira. Sedangkan Mario masih di belakang bersama ayah Irsyad.


"Uluh-uluh kesayangan onty kok nangis, pasti di nakalin om Adyan ya. " Shakila pun ikut menghampiri Maira.


"Pasti ini tadi di nakalin abang. " Tuduh Illa.


"Enak aja, bilang aja iri abang bisa gendong Maira. " Jawab Adyan membantah tuduhan adiknya.


"Kalian itu ya kalau bersama pasti berantem melulu. " Ucap Aira menengahi adik-adiknya.


Aira segera mengangkat putrinya dari gendongan Adyan.


"Bun, Aira ke kamar dulu ya buat nyusuin Maira. " Pamit Aira.


"Iya kak, kasihan cucu oma kalau nggak segera kamu susuin. " Jawab bunda Salma lembut.


Illa mengikuti kakanya dari belakang.


"Eh... adik mau kemana? " Suara bunda Salma menghentikan langkah Illa.


"Mau nemenin kakak nenenin Maira bun. " Jawab Illa dengan cengengesan,


"Yah, bunda nggak asyik. " Shakila menjawab dengan mengerucutkan bibir nya. Dia pun segera membantu kembali sang bunda.


"Anak perawan itu harus rajin, tu kayak kakak. Ini pulang sekolah malah di kamar mulu. Nah syukurin sekarang di strap bunda. " Adyan pun meledek Illa sebelum ia kembali lagi ke taman belakang.


. "Bunda, ni abang resek. " Teriak Illa yang jengkel dengan abangnya. Bunda Salma pun hanya tersenyum menanggapi tingkah kedua anaknya. Sedangkan si pelaku utama sudah berlari karena takut di lempar tomat.


**


Malampun tiba. Tamu undangan ayah pun sudah tiba. Mereka adalah om Randy beserta keluarganya. Karena perpindahan tugas om Randy di daerah sini, membuat ayah mengadakan jamuan kepada keluarga om Randy.


Semua orang sudah kumpul di meja makan. Tak terkecuali si kecil Maira. Disana sudah ada 10 orang dewasa.


"Mah, aku duduk dekat abang Adyan yah. " Suara cempreng gadis yang 1 tahun lebih muda dari Adyan. Ya, dia adalah Tisha. Putri semata wayang om Randy dan tante Nita.


"Udah disini aja sayang, toh juga sama aja. " Jawab tante Nita.


Bunda Salma yang mendengar pun meminta Illa berpindah tempat.


"Adek, kamu geser duduk nak biar kak Tisha duduk di samping kamu. " Pinta bunda Salma.

__ADS_1


"Eh mbak, nggak usah. Ini Tisha biar disini saja. " Ucap tante Nita yang merasa sungkan.


"Nggak papa mbak. Biar Tisha duduk samping Adyan dan Illa. " Balas bunda Salma lembut.


"Terimakasih tante. " Ucap Tisha yang sangat bahagia.


Aira yang melihat Tisha berpindah tempat duduk pun tersenyum karena ia tahu jika anak gadis om Randy sangat menyukai adiknya yang super dingin dan selalu tak nyaman jika di dekati Tisha. Kedua orang tersebut sangat lah berbanding terbalik, yang satu pendiam dan tak tersentuh dan yang perempuan ceria dan sangatlah centil.


"Hi Illa, maafin kak Tisha ya. Gara-gara kak Tisha kamu jadi pindah. " Ucap Tisha lembut.


"Nggak papa kok kak, Illa juga nggak mau dekat dengan abang Adyan yang resek. "Jawab Tisha sambil menjurkan lidahnya mengecek sangat abang.


" Adyan pun hanya melirik tajam ke arah adiknya. Saat ini Tisha jadi berada di tengah-tengah antara Adyan dan Illa.


"Abang Adyan bagaimana kabarnya, berapa lama ni liburan di rumahnya? " Tanya Tisha dengan wajah ceria. Gadis yang memakai blouse motif bunga tanpa lengan dan rok di atas lutut ini tersenyum bahagia melihat ke arah Adyan..


"Alhamdulillah baik. " Balas Adyan datar. Dia pun kembali fokus ke makanannya.


Semua orang pun sedang fokus dengan hidangan yang sudah tersedia di atas meja. Sedangkan Maira, dia di duduk kan di booster seat agar Aira juga bisa menikmati hidangan.


"Mbak Salma dari dulu memang pintar memasak. Akhirnya aku bisa ngerasain lagi ni makanan enaknya mbak. " Puji Tante Nita kepada bunda Salma.


"Mbak Nita berlebihan memujinya, padahal masakan mbak juga enak loh. " Ucap bunda Salma merendah.


"Tapi lebih enak masakan mbak, coba lihat itu mas Randy aja sampai nambah. " Ucap tante Nita kembali menunjuk ke arah suaminya.


"Maklum Ma, emang dari tadi belum makan karena tahu pasti tante Salma masakin enak buat kita. " Jawab om Randy tanpa malu.


Semua orang pun tertawa mendengar ucapan om Randy.


"Abang kok nggak jawab sih pertanyaan Tisha. Abang berapa lama liburannya? " Bisik Tisha pelan kepada Adyan. Dia pun sedikit mencodongkan badannya ke arah Adyan.


Adyan pun tampak risih dengan sikap Tisha. Sejak dulu, dia tidak pernah suka jika ada pertemuan keluarga besar ayah Irsyad dan om Randy karena tak suka dengan sikap Tisha yang secara terang-terangan mengejar dirinya.


Tisha yang tak pantang menyerah pun terus mendekati Adyan hingga.


Pluk... Adyan menaruh sendok dan garpu di atas piring.


"Om Randy, ni centilnya anak om kepada Adyan.... "


🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2