
Happy Reading.....
*******
"Aku tunggu mas untuk nemuin ayah dan bunda agar tak ada laki-laki lain yang mengejar Aira. " Tambah Aira yang saat ini berwajah serius ketika mengutarakan keinginannya.
"Pasti dek, mas akan secepatnya nemuin Dan Irsyad dan tante Salma agar bisa segera meminang mu. " Balas Mario dengan menampilkan senyuman bahagia di wajahnya.
"Oh ya mas, boleh nggak Aira bertemu Budhe dan Raisa. Apalagi udah lama juga aku nggak ketemu Raisha, dulu lihat Raisha terakhir kali masih kecil. Ucap Aira dengan menampakkan raut sedih mengingat terakhir kalinya dia melihat Raisha masih kecil menangis terisak di gendongan bundanya ketika peristawa meninggalnya orang tua Mario.
Mario yang melihat wajah sedih Aira pun, memegang tangan Aira.
"Entah apa yang terjadi dulu dek ketika mama dan papa di semayamkan di tempat terakhirnya. Aku hanya bisa melihat kedua gundukan tanpa melihat langsung wajah papa dan mama untuk terakhir kalinya. " Ucap Mario yang juga menampakkan wajah sedih nya mengingat kejadian yang menyakitkan.
"Aduh malah jadi sedih gini kan." Ya udah cobaan kemarin buat motivasi kita ya mas untuk menjalankan kehidupan kita di akan datang."Dan Aira minta maaf udah ngingetin sesuatu yang menyedihkan buat mas dan Raisha. Makanya sekarang Aira ingin ketemu dia. Apakah dia secantik almarhumah tante Rosa. "
"Silahkan dek, tapi maaf jika nanti adek lihat rumah ku nggak seperti dulu. " Jelas Mario menerangkan.
"Bagi ku mo di manapun tempat sama saja mas, yang beda hanyalah orang yang tinggal di dalamnya. Jika rumah kecil di huni orang-orang yang saling mencintai dan menghargai, maka rumah itu juga akan terlihat seperti surga. Dan sebaliknya, jika rumah megah di huni orang-orang yang tak saling mencintai maupun menghargai, rumah itu akan terasa seperti neraka." Jawab Aira.
"Benar dek aku setuju dengan pendapatmu. " Balas Mario kembali dengan senyuman yang selalu mengembang di bibirnya. Wajah gahar sudah tak nampak di dirinya ketika ia bersama dengan sang pujaan hati.
Gadis yang hanya bisa ia impian dan berharap tak ia temui karena keminderannya akan hidupnya saat ini, ada di depan matanya dan merubah pendiriannya.
"Ini udah malam, ayo kita pulang dek. Besok kita juga harus kembali bertugas. " Ajak Mario setelah mereka selesai menyantap nasi goreng sederhana.
Aira pun mengangguk tanda setuju. Kemudian, dengan menggandeng tangan Aira Mario berjalan menuju si bapak penjual nasi goreng untuk membayar makanannya.
"Berapa pak jadinya? " Tanya Mario kepada si bapak.
"Tiga puluh 5 ribu mas semuanya. " Jawab si bapak.
"Silahkan ini pak uangnya. " Ucap Mario dengan menyodorkan 1 lembar berwarna biru untuk membayar.
"Iya mas, ini kembaliannya. " Balas si bapak dengan mengambilkan uang kembalian untuk Mario.
"Tidak usah pak, buat bapak saja Kembaliannya. " Ucap Mario menolak uang kembalian dari si bapak.
"Tapi mas..? " Si bapak merasa sungkan.
"Tidak apa-apa pak. Buat bapak saja. " Balas Mario.
"Kalau begitu Terima kasih mas, semoga mas dan istri di lancarkan rizkinya. " Do'a si bapak kepada Mario dan Aira.
Mario dan Aira saling pandang karena di anggap pasangan suami istri.
__ADS_1
"Amin, Terima kasih do'a nya pak. " Balas Mario. Dia pun ikut mengamini do'a si bapak yang menganggap dia dan Aira sepasang suami-istri.
"Semoga Allah menghijabah do'a kami. " Ucap Mario dalam hatinya.
Aira pun juga tersenyum dan ikut mengamini di dalam hatinya. Setelah selesai membayar, mereka berjalan menuju parkir di mana motor yang Mario pinjam berada. Setelah, Aira naik di atas motor, Mario mulai menstater motornya dan mulai menjalankan menuju tempat pengungsian.
Bulan pun ikut merasakan kebahagian yang sedang di alami pasangan ini dengan memancarkan sinar yang berkilauan.
**
Pagi ini, Mario mendapat informasi dari komandannya Mayor Rahmat jika akan ada peninjauan dari atasannya.
Mario mengerahkan seluruh anak buahnya untuk membersihkan tempat pengungsian dan juga mempersiapkan apa saja untuk menyambut kedatangan dari pemimpinnya. Mereka belum mengetahui siapakah gerangan pimpinan yang akan meninjau lokasi bencana.
"Serda Alex, tolong perintahkan yang lainnya untuk mendirikan tenda di samping pusat kesehatan. " Pinta Mario kepada Alex selalu bawahannya.
"Siap laksanakan komandan. " Jawab Alex dengan sikap hormat.
"Dan yang lainnya, silahkan saling membantu agar persiapan ini segera selesai." Pinta Mario kepada yang lainnya.
"Siap laksanakan, Dan. " Jawab semua pasukan dengan lantang dan kompak.
"Baik, setelah saya bubarkan kalian mulai berbenah. "
Setelah selesai apel pagi ini, Mereka semua sudah membubarkan diri untuk mulai mengerjakan apa yang sudah di perintahkan.
Tak hanya dari bawahan Mario yang bekerja, pasukan Polri juga ikut membatu saling bahu-membahu membersihkan tempat yang akan di kunjungi para pimpinan. Tidak hanya pimpinan dari TNI, pimpinan dari Polri juga akan ikut meninjau lokasi.
Karena perintah yang mendadak, Mario tak sempat mengabari atau memberikan gambar pada Aira. Dia melihat Aira yang sedang berjalan menuju ke pusat kesehatan dengan Nayla dan Jenni.
"Dokter Aira... " Panggil Mario.
"Iya... " Jawab Aira dengan tersenyum setelah tahu siapa yang memanggilnya.
Mario pun berjalan mendekat ke arah Aira dengan wajah yang ceria seperti juga dengan Aira.
"Dok, saya dan dokter Nayla masuk dulu Ya. " Pamit Jenni dengan menarik tangan Nayla. Yang belum paham hanya menaikkan alisnya. Tapi dengan cepat Jenni memberikan tanda dengan mengedipkan matanya.
"Oh ya, aku dan suster Jenni masuk dulu. " Nayla pun ikut pamit meskipun dia masih belum paham dengan situasi ini.
"Iya, maaf ya saya temuin Letnan Mario dulu. " Izin Aira yang sebenarnya merasa tidak enak dengan sahabatnya.
Nayla dan Jenni pun menganggukkan kepalanya. Kedua orang tersebut berjalan masuk menuju ke ruang pemeriksaan meninggalkan kedua sejoli di luar.
"Ehem... " Suara Mario berdehem.
__ADS_1
"Maaf belum ngabarin kamu dek pagi ini. " Ucapan permintaan maafan Mario kepada Aira.
Setelah memastikan Nayla masuk, Mario memanggik Aira dengan sebutan Adik.
"Iya mas, Aira paham kok mas pasti lagi sibuk. " Balas Aira.
"Oh ya, ini ada apa mas kok tumben pagi-pagi anak buah mas sudah pada sibuk. " Tanya Aira.
"Oh itu, tadi subuh mas ada info dari atasan jika akan ada peninjauan lokasi bencana oleh pimpinan. Jadi, mereka semua sedang menyiapkan penyambutan. " Jelas Mario.
"Terus mas kok nggak bantu mereka? "
"Kan mo nyapa bidadariku dulu sebelum bertugas. " Jawab Mario malu-malu dengan menggaruk belakang kepalanya.
"Boleh dong. " Jawab Aira yang juga tersipu malu.
"Ya udah, gih sana bantuin mereka. Nanti malah mas di laporin ke atasan mas kalau nggak mau bantuin bersih-bersih. "
"Kok ngusir sih dek, kan mas masih kangen. " Rajuk Mario yang mirip seperti anak kecil yang meminta permen.
"Mas nggak pantes merajuk kayak gitu, udah kayak anak kecil aja. " Ucap Aira dengan tersenyum geli.
Mario pun ikut tersenyum dengan ledekan yang Aira berikan kepadanya.
Setelah saling melepaskan rindu, Aira dan Mario pun kembali ke tugasnya masing-masing. Cukup dengan sapaan dan pembicaraan singkat, menambah energi mereka ketika bertugas.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan siang. Semua persiapan sudah selesai. Para relawan maupun petugas sudah bersiap menyambut kedatangan para pejabat yang akan meninjau lokasi bencana.
Mario sudah mengkoordinir para anak buahnya untuk menyiapkan diri. Mereka juga bekerja sama dengan Polri untuk memastikan keamanan para pejabat yang akan datang.
Tak berselang lama, iring-iringan mobil memasuki tempat pengungsian yang di kawal oleh Polri.
Mario, Mayor Rahmat dan Ipda Marchel sudah berdiri di depan untuk penyambutan. Mobil pun berhenti dan para pengawal membukakan pintu mobil untuk pimpinan mereka.
Aira dan relawan lainnya juga mengikuti acara penyambutan. Aira juga berdiri di baris depan untuk penyambutan.
Para pimpinan sudah berjalan ke depan. Ada salah satu orang yang memakai seragam TNI lengkap berjalan menuju ke depan. Tampan gagah dan kharismatik di usianya yang tak lagi muda.
Deg......
"A..... yah..........
*******
Assalamu'alaikum, cerita Adyan sudah up juga ya. Silahkan di baca di cerita Bunda untuk Aira. 😇😇😇
__ADS_1