
Happy Reading....
***********
Setelah menyelesaikan tugasnya, Aira mulai berjalan menuju ke dapur umum tempat untuk beristirahat dan menikmati makan siangnya. Sebelum kesana, Aira menyempatkan dirinya untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Dia mampir di tenda yang di jadikan sebagai Mushola.
Ayah dan bunda nya selalu menanamkan pentingnya mengingat Allah meskipun sesibuk dan sepadat kegiatannya. Percuma kamu banyak uang jika kamu tak ingat siapa yang telah memberikanmu rizki. Itulah kata-kata sang bunda kepada Aira dan adik-adiknya. Bundanya akan berubah tegas jika menyangkut masalah keagamaan.
"Selamat siang dok. " Sapa Mario sedikit ramah yang ternyata juga berada disana. Entah kebetulan atau memang sengaja.
"Siang Letnan. " Jawab Aira datar.
"Tumben banget dia nyapa pakai senyum, kesambet apaan dia? " Ucap Aira dalam hatinya.
"Astagfirullah, ngapain juga ngumpat orang. Ampuni aku ya Allah. Hamba khilaf. " Tambah Aira.
"Dokter mau sholat dhuhur juga ya? " Tanya Mario kembali.
"Iya."
"Silahkan dokter dulu yang ambil wudhu. "
"Baik, terimakasih letnan. "
Aira pun memulai mengambil wudhu tanpa membuka kerudungnya. Untung hari ini dia memakai kerudung instan sehingga memudahkan Aira berwudhu. Sedangkan Mario berada di samping Aira, dia memperhatikan Aira tanpa kedip.
"Subhanallah, cantik sekali kamu. Kecantikanmu bertambah ketika air wudhu ini mengenai wajahmu. " Puji Mario kepada Aira dalam hatinya.
"Letnan.... letnan. " Panggil Aira berkali-kali tapi entah Mario tak bergeming masing fokus dengan pikirannya.
"Maaf Letnan, saya sudah selesai. " Ucap Aira sedikit keras.
"Eh ma...af." Jawab Mario kaget setelah mendengar panggilan Aira sedikit keras. Lamunannya pun buyar. Ia menjadi keki setelah kepergok Aira yang tidak fokus.
"Silahkan Letnan berwudhu, saya sudah selesai dan saya masuk dulu. " Tambah Aira dan pamit masuk ke mushola terlebih dahulu.
"Dokter Aira.. " Panggil Mario.
__ADS_1
"Ya... " Jawab Aira menengok ke arah belakang.
"Bisakah dokter menunggu saya sebentar, kalau tidak keberatan kita sholat bersama. " Pintar Mario.
"Emm..... baik Letnan, saya tunggu di dalam. " Jawab Aira dan kembali membalikkan badannya untuk berjalan masuk. Diam-diam Aira tersenyum simpul mendengar permintaan Mario.
Mario pun sama. Dia tersenyum bahagia mendengar jawaban Aira. Mario mulai mengambil air wudhu dan segera masuk setelah selesai. Didalam, sudah ada Aira yang memakai mukena. Dia duduk menunggu Mario. Mario pun tersenyum simpul.
"Sudah siap dokter. " Ucap Mario menengok kesamping arah Aira berada setelah dia memposisikan dirinya di depan sebagai imam.
"Sudah Letnan. " Jawab Aira yang juga sudah berdiri.
Setelah memastikan, Mario pun mulai melafalkan niat sholat zhuhur. Perlahan-lahan Mario mulai melanjutkan bacaan sholat dengan suara yang lirih dan khusuk.
Aira pun yang menjadi makmum, merasakan kebahagiaan di hatinya. Meskipun belum ada kejelasan siapakah Mario sebenarnya.
"Assalamu'alaikum warohmatuloh..., Assalamu'alaikum Warahmatullah.. " Ucap Salam Mario setelah menyelesaikan sholatnya. Mario memandang Aira yang berada sedikit jauh di samping dengan tersenyum. Aira pun membalas dengan tersenyum tipis di bibirnya.
"Ya Allah, berikanlah kemudahan kepada hamba untuk berkata jujur kepadanya. Jika memang dia jodoh yang Engkau tetapkan untuk hamba meskipun selama ini hamba sudah berusaha menghindari nya, tapi Engkau masih mempertemukan kami maka mudahkanlah niat hamba. Tapi jika dia memang bukan jodoh hamba, berikanlah imam yang baik untuknya. Hamba ikhlas itu akan membuatnya bahagia. " Do'a Mario dalam hatinya. Tak terasa iapun meneteskan butiran air mata di mata elangnya.
"Ya Allah, berikanlah petunjuk dan jalan yang terbaik untukku. Jika laki-laki yang ada di depan hamba adalah teman kecil hamba, bukakanlah hatinya, ketuklah hatinya untuk bisa berbicara jujur siapakah dia sebenarnya. Tetapi hati kecil hamba berkata dialah Rioku. Entah esok apa yang akan terjadi dengan kami, kami pasrah kan kepada Engkau ya Rabb. Hamba yakin takdir dan rencana-Mu lebih indah dari pada rencana yang hamba buat. Amin.. " Aira pun berdo'a dalam hatinya.
Aira berjalan keluar setelah selesai merapikan kerudungnya.
"Oh Letnan masih disini. " Ucap Aira setelah keluar dari mushola.
Mario menoleh ke belakang untuk melihat seseorang yang sedang bersuara.
"Iya dokter. Sekalian menunggu dokter. Setelah ini kita juga sama-sama akan pergi ke dapur umum. " Balas Mario dengan tersenyum.
"Okey.. "
Aira memakai kembali sepatunya. Setelah Aira selesai, mereka pun berjalan berdua untuk menuju dapur umum untuk mengambil makan siang mereka.
Untung hari ini dapur umum tak seramai seperti biasanya. Itu di sebabkan jam sudah menunjukkan pukul 2 kurang. Masing-masing petugas sudah kembali bekerja.
Aira dan Mario berjalan menuju stand makanan yang tersedia disana. Para relawan akan mengambil makanan sendiri. Menu hari ini masih tetap sederhana. Hanya ada nasi, telur, tempe goreng, sayur sup dan sambal. Karena Aira membawa tas yang berisi mukenanya, ia sulit untuk mengambil air minum. Dia hanya bisa membawa piring yang berisi makanan yang ia ambil.
__ADS_1
"Biar saya bawakan minumannya dokter. " Tawar Mario.
"Terimakasih Letnan. " Balas Aira.
Mereka pun berjalan untuk mencari tempat duduk menyantap makan siangnya. Hanya keheningan ketika mereka berdua menikmati makan siang mereka. Hanya ada deru sendok dan garpu yang terdengar.
Mario makan dengan cepat karena itu sudah menjadi kebiasaan dia ketika berada di kesatuan. Sedangkan Aira makan dengan perlahan. Mario menikmati pemandangan didepannya. Ada rasa bahagia di hati nya.
"Ehemmmm," Aira berdehem karena grogi di pandang Mario.
"Eh... "
"Maaf Letnan apa ada yang salah dengan wajah saya sehingga Letnan melihat saya seperti itu? "
"Tidak ada kok dokter, saya hanya senang bisa melihat dokter Aira makan dengan lahap. " Jawab Mario jujur.
"Tapi tolong jangan pandan saya seperti itu, saya jadi nggak enak untuk menghabiskan makanan saya. " Balas Aira dengan ketus.
"Tidak tahu aja dia, jantungku berdetak kencang ketika dia memandangku seperti itu. Dan apalagi itu, dari tadi senyam-senyum terus nggak seperi biasanya. " Ucap Aira dalam hatinya.
"Ehem... Letnan kenapa dari tadi senyum-senyum. Biasanya juga ketus dan datar gitu jika bertemu dengan saya. " Aira mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf jika sikap saya membuat dokter Aira tidak nyaman. " Jawab Mario dengan menggaruk belakang kepalanya jika merasa gugup.
"Pasti ada apa-apanya ini. Sejak awal kita bertemu Letnan ketus gitu waktu saya tanya terus 2 hari yang lalu sikap Letnan juga masih sama tapi kenapa sekarang berubah ya. " Tambah Aira yang masih penasaran.
"Oh ya tadi pagi Letnan katanya mau berbicara sama saya, kalau boleh tahu berbicara apa ya? "
"Ehem.... " Mario mencoba menetralisir kegugupannya..
"Dokter Aira, saya ingin berkata jujur dengan dokter. Sebenarnya saya......... "
*************
Hayo..... hayo.... sebenarnya saya apa ya 😄😄😄😄
__ADS_1
Ya kan abang Mario pusing sendiri sekarang karena takut dedek Aira di tikung sama dokter Kevin. 🤣🤣🤣