
Happy Reading....
πΏπΏπΏπΏ
Pluk... Adyan menaruh sendok dan garpu di atas piring.
"Om Randy, ni centilnya anak om kepada Adyan.... "Adu Adyan kepada om Randy karena sudah jengkel dengan sikap Tisha.
" Sha, jangan gitu sayang. Tuh lihat nak Adyan jadi nggak selera kan makannya. "Ucap tante Nita menegur dengan lembut putrinya.
Tisha pun cemberut dan segera menjauhkan dirinya dari Adyan. Dia segera melahap makanannya dengan wajah cemberut. Sedangkan Adyan, dia kembali fokus dengan makanannya tanpa melihat ke arah Tisha.
" Ma... maem... mam. "Celoteh Maira di kursi makannya menjadi hiburan di ruang makan sehingga mengalihkan kegaduhan tadi.
" Anak mama mau makan ya. "Ucap Aira menyaut ucapan Maira.
" Wah Maira sayang mau makan ya, ini kok tambah cantik sih. Oma Nita jadi pingin bawa pulang. "Tante Nita pun ikut gemas dengan celoteh Maira. Karena hanya mempunyai anak 1, rumahnya menjadi sepi. Apalagi jika Tisha menginap ke rumah opanya, rumah akan semakin sepi tanpa ada kegaduhan yang di buat Tisha.
"Iya dong oma, biar cantiknya nyaingin tante Tisha. " Jawab Aira menirukan suara anak kecil.
"Ih gemesemin banget sih kak Aira. Kemarin kayaknya masih bayi ini udah pinter berceloteh. " Ucap Tisha menimpali. Sejenak ia melupakan perang dingin dengan Adyan dengan melihat ke arah Maira. Balita kecil yang menggemaskan.
"Sini sama oma Nita ya sayang. " Ajak tante Nita dengan mengarahkan kedua tangannya ke Maira.
"Tante makan dulu saja tan, biar Maira sama saya dulu. " Aira sedikit sungkan karena tidak ingin mengganggu tante Nita yang sedang menikmati makan malam.
"Ini tante udah selesai sayang, kamu lanjut makan dulu biar Maira sama tante. " Pinta tante Nita yang memang sudah selesai dengan makan malam nya.
"Baik tan kalau begitu. Biar Aira ambilkan makanan buat Maira dulu. " Jawab Aira dengan mengambilkan makanan yang sudah ia siapkan untuk Maira di dapur. Sedangkan Maira sudah berada di gendongan tante Nita. Karena dia anak yang anteng dan mudah dan ceria membuat orang dewasa yang dekat dengan dirinya pun ikut berbahagia.
"I... kan, I... kan. " Ucap tante Nita yang menggendong Maira dengan menyuapi nya. Mereka sedang berada di akuarium besar milik ayah Irsyad. Ada ikan Arwana yang di pelihara beliau.
"Kan...... kan..... " Maira pun merespon ucapan tante Nita. Saking bahagianya, bocah kecil itu ikut bertepuk tangan melihat ke arah ikam Arwana di depannya.
"Ayo sambil lihat ikan, maem lagi ya. "
__ADS_1
"Ha..... " Aba tante Nita kembali dengan menyodorkan sendok ke mulut Maira.
Mairapun membuka mulutnya dan mulai memasukkan makanan tersebut.
"Pinternya cucu oma Nita. " Balas tante Nita dengan mencium pipi gembul Maira. Meskipun dulu beliau terkenal angkuh dan sombong, apalagi beliau tak seramah sekarang jika bertemu anak kecil, tapi kehadiran Tisya dan cobaan yang menghampiri hidupnya membuat beliau berubah menjadi lebih baik. Tidak ada Nita yang arogan dengan kekuatan dari papanya. Sekarang beliau menjadi seorang ibu pimpinan yang ramah dan mau berbaur dengan lainnya. Apalagi setelah hubungan tante Nita dan bunda Salma terjalin dengan apik, membuat kedua ibu paruh baya ini semakin dekat untuk saling belajar bersama. Coba jika mama Rosa masih ada pasti ketiga ibu paruh baya ini akan semakin terdepan.
"Wah pinternya anak mama. Maem sama oma Nita ya. " Aira yang sudah selesai dengan makan malamnya segera menghampiri tante Nita. Ia tidak ingin anak nya rewel.
"Iya dong mama. Kan Maira anak yang cantik dan pintar. " Tante Nita pun menjawabnya.
Mairapun hanya tersenyum melihat mamanya datang dengan menepuk kedua tangannya. Maira bisa merasakan mana orang yang baik dan jahat. Sehingga jika ada orang yang tak baik menggendongnya, maka ia kan mengeluarkan jurus menangis nya. Meskipun mereka salah satu kerabat Aira.
"Biar Aira lanjutin tante. Semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga. "
"Nggak papa Ra, tante malah seneng nyuapin Aira. Tante udah lama pingin dengerin suara anak bayi di rumah tante, tapi kami tahu sendiri Tisha masih kecil. " Jawab tante Nita jujur.
"Alhamdulillah tante kalau tante tidak repot nyuapin Maira. Kadang dia usik kalau di suapin tan, jadi Aira takut baju tante kotor terkena makanan Maira. "
"Kan ada air Ra, kenapa harus takut. "
"Ya gitulah Ra. Tapi tante bangga ma dia, di usia yang masih remaja ini dia udah punya usaha kecil-kecilan ra. Dulu aja tante di usia dia masih suka bermain dan hang out ke luar, tapi dia alhamdulillah beda dari tante. " Jawab tante Nita menceritakan putri tunggalnya.
"Wah hebat tan, kalau boleh tahu dia usaha apa tan? "
"Dia jual baju online gitu Ra sama preloved baju dia yang udah nggak ke pakai."
"Wah, kayaknya dia jiwanya berbinis tan. " Ucap Aira kembali dengan tersenyum.
"Sepertinya juga gitu, beda jalur sama tante yang dokter ini. " Balas tante Nita ramah.
"Oh ya gimana sekarang karir kamu Ra?"
"Masih tetap jalan Tan, tapi nggak seperti dulu. Sekarang Aira cuma bantu-bantu di klinik asrama. Sayang kalau ilmu yang kita dapat nggak di manfaatkan untuk membantu masyarakat Tan. " Balas Aira.
"Aira juga lagi bahagia banget melihat perkembangan Maira sendiri. Jika Aira tinggal kerja, kok sayang sekali gitu Tan nggak bisa mendampingi masa keemasan Maira. Apalagi tante tahu sendiri jika jadi dokter pasti mau jam berapapun kita harus standby untuk di hubungi rumah sakit. "
__ADS_1
"Benar kata kamu Ra, dulu tante juga berhenti sejenak untuk merawat Tisha sendiri. Makanya tante salut dan bangga dengan ibu di luaran sana yang bisa membagi waktunya untuk bekerja dan mengurus keluarganya. Dulu tante yang nggak bisa karena om Randy harus berpindah-pindah tugas. Jadi tante juga harus mengikuti kemanapun beliau bertugas. "
"Oh ya, dengar-dengar Mario juga mau pindah tugas ya? " Tanya tante Nita memastikan kabar tersebut.
"Kemarin mas Rio bilang seperti itu Tan, tapi ya memang dia sudah di sumpah untuk bertugas di manapun. Jadi Aira ikut saja di manapun suami Aira bertugas. Seperti bunda sama tante dahulu. " Balas Aira ramah.
"Semakin pangkat naik, pasti suamimu akan di pindahkan kemana saja. Tapi, nasehat tante jadilah seorang istri dan ibu pemimpin yang ramah Ra. Jangan pernah meremehkan atau membeda-bedakan yang lainnya. Pasti besok akan ada orang yang mencari muka ke kamu dengan jabatan yang di pangku Rio, tapi berusahalah untuk adil dengan lainnya. " Nasehat tulus tante Nita.
"Iya tan, InshaAllah Aira akan ingat pesan bunda dan tante Nita. Pasti nanti saya akan banyak bertanya sama tante dan bunda. " Balas Aira kembali.
" Mama, di cariin papa tuh. " panggil Tisha menghentikan curhatan Aira dan tante Nita.
"Bentar Sya, mama nyelesein nyuapin Maira dulu. " Jawab tante Nita.
"Wah si cantik lagi maem ya. Ih ini nanti tambah gembil deh kalau maemnya banyak. " Tisha tak segera kembali ke ruang tamu malah menggoda Maira.
"Ma... em.... maem..... " Maira pun berceloteh ria.
"Biar Aira lanjutin aja Tan. Tante udah di cari om Randy itu. "
"Tante Nita pun menyerahkan Maira ke gendongan Aira untuk menghampiri sang suami. Semakin tua, om Randy semakin manja seperti bayi besar. Tak ada hari tanpa ada tante Nita di sampingnya.
" Kak, kami ke sana dulu ya. Nanti kalau sudah selesai makan ajak Maira ke sana. Aku pingin maen sama dia. " Pinta Tisha.
"Siap onty Tisha, nanti Maira susul ya. Maira mau maem dulu. " Jawab Aira dengan menggoyangkan tangan kanan Maira di gendongannya.
Tisha pun menyusul mamanya untuk bergabung kembali dengan Shakila, putri bungsu keluarga ayah Irsyad.
****
Assalamu'alaikum, bagaimana kabar kakak-kakak semuanya. Sudah lama tak bertegur sapa karena kesibukan author di dunia nyata.
Semoga masih ada yang menunggu cerita Aira ya. Mohon maaf kemarin harus di gantung karena memang sedang tidak bisa melanjutkan cerita.
πππ
__ADS_1