
Happy Reading...
****
"Entah apa yang terjadi dengan ku. Sakit ya Allah. Hiks... hiks .. " Ucap Nayla di dalam mobilnya. Dia pun menumpahkan sesak di dadanya di dalam mobil agar tak ada orang Yang mengetahuinya. Biarlah orang-orang tahu jika dia tegar. Biarkan dia merasakan kerapuhan ketika sendiri.
Nayla dengan derai Air mata di wajahnya tetap fokus untuk menyetir mobilnya menuju kos Aira. Setelah menempuh waktu 30 menit, Nayla pun sampai di depan kos Aira. Dia membunyikan klakson agar penjaga di kos Aira membukakan gerbang.
"Malam Pak Abdul. " Sapa Nayla dengan senyuman ramahnya. Dia sudah menghapus air matanya dan menutupi kesedihannya dengan senyuman.
"Malam non Nayla, mo ke kos non Aira ya? " Jawab pak Abdul dengan ramah pula. Pak Abdul sudah mengenal Nayla karena dia sering berkunjung kesana.
"Iya ni pak. Tolong bukain gerbangnya ya. "
"Baik non. " Pak Abdul pun membukakan gerbang rumah agar mobil Nayla dapat masuk.
"Terimakasih pak. " Ucap Nayla dengan menyodorkan selembar uang berwarna biru untuk pak Abdul.
"Wah nggak usah Non. " Tolak pak Abdul yang merasa sungkan.
"Nggak pa2 pak, saya ikhlas nanti bisa buat beli lauk untuk keluarga. " Nayla pun memaksa agar pak Abdul menerima.
"Ya sudah kalau begitu Non, terimakasih banyak ya Non semoga rizki Non Nayla di lancarkan Allah. " Ucap pak Abdul.
"Amin pak. Mari saya masuk pak. " Pamit Nayla.
Nayla pun menjalankan mobilnya kembali memuji tempat parkir yang tersedia.
Setelah memastikan wajahnya tak sembab dengan menutupi nya dengan make up, Nayla pun keluar dari mobilnya setelah mengambil tas di jok samping. Nayla pun mengunci mobilnya dan bergegas untuk masuk kedalam kamar Aira.
Tok... tok... tok
Nayla pun mengetuk pintu kamar kos Aira.
__ADS_1
Ceklek.....
Pintu kamar Aira pun di buka. Muncul lah Aira disana.
"Assalamu'alaikum." Ucap Nayla setelah pintu terbuka.
"Waalaikum salam. " Balas Aira yang membuka pintu.
"Udah datang kamu Nay, aku kira nggak jadi. " Ucap Aira dengan sedikit manyun karena Nayla datang sedikit terlambat.
"Maaf, tadi ada korban kecelakaan jadi yang harus aku tanganin dulu sebelum pergantian shif. " Jawab Nayla.
"Eh kamu habis nangis ya Nay? " Tanya Aira yang peka dengan Nayla. Dia tidak bisa di bohongi. Karena Aira bisa melihat pancaran kesedihan di wajah Nayla.
"Enggak kok, tadi cuma kelilipan saja. " Balas Nayla dan segera bergegas masuk agar tak di introgasi lagi oleh Aira. Sahabatnya itu tak bisa di bohongi.
"Kamu nggak bisa bohongi aku Nay. " Sanggah Aira dengan tampang yang serius.
"Huh.. " Nayla pun menghembus kan nafasnya sambil duduk di kursi sofa di kamar Aira.
Aira pun menarik Nayla untuk memeluknya.
"Sabar Nay, aku ngerti perasaanmu. Memang tak mudah untuk melupakan orang yang pernah kita cintai apalagi kita perjuangkan. Tapi jika memang dia adalah jodohmu, pasti Allah akan kasih jalannya Nay, tapi jika tidak Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. " Aira pun mencoba menenangkan hati sang sahabat.
"Aku paham memang awalnya ini akan sulit Nay, apalagi kalian bekerja dalam satu rumah sakit yang sama. Tapi yakinlah takdir Allah lebih indah. " Tambah Aira dengan menepuk lembut punggung Nayla di dekapannya.
"Makasih Ai, aku merasa lebih baik setelah bercerita denganmu. " Ucap Nayla dengan melepaskan dekapan Aira. Dia pun sudah merasa sedikit tenang.
"Sama-sama Nay, mumpung aku belum jadi milik orang kamu bebas ni mo curhat sama aku sambil tidur ni ma diriku. " Goda Aira kepada Nayla agar suasana sedih itu segera pergi.
"Kamu bisa aja Ai, tapi memang benar Ai sebentar lagi kamu akan nikah dan otomatis ikut suamimu ke asrama jadi kita akan jarang ni berkumpul kayak gini. "
"Mungkin memang jarang kedepannya Nay, tapi jika kamu sedang butuh teman untuk curhat kapanpun aku akan siap mendengarkan. "
__ADS_1
"Okey siap bu komandan." Ucap Nayla dengan sikap hormat menirukan para prajurit yang hormat kepada atasannya. Aira pun tertawa melihat sahabatnya.
"Oh ya ini si Jenni kok nggak ada? " Tanya Nayla yang baru sadar jika Jenni tak di dalam. kamar Aira.
"Tadi dia udah kesini, tapi tadi dokter Anton jemput dia katanya ada acara keluarga gitu dan dokter Anton mo ngajak Jenni buat datang katanya untuk di kenalin sama keluarga besarnya. " Jelas Aira.
"Oh begitu. " Ucap Nayla ber oh ria.
"Kapan ya aku juga di kenalin sama keluarga besar seseorang. " Nayla pun sedikit cemberut karena merasa iri dengan sahabatnya.
"Suatu saat kami juga akan seperti itu Nay, cukup bersabar dan jangan berhenti berduka, jika sudah waktunya pasti akan segera di pertemukan. " Nasehat Aira kepada sahabatnya.
Nayla pun tersenyum. Mereka pun menghabiskan waktu berdua untuk saling mengobrol. Banyak hal yang mereka obrolkan sampai tengah malam.
**
Hari bahagia untuk Aira pun akan tiba. Esok hari, Aira dan Mario akan mengikat janji untuk membangun mahligai pernikahan.
Acara ijab kabul akan di lakukan di rumah Aira. sehingga pagi ini rumah Aira sudah ramai dengan kedatangan sanak saudara baik dari keluarga ayah Irsyad maupun bunda Salma. Bahkan nenek Aira dari bunda Aisyah pun datang untuk menyaksikan cucunya akan di persunting oleh seseorang. Rumah Aira pun menjadi sangat ramai. Bahkan sudah ada tenda yang terpasang di sana.
Pagi ini, Aira tak di perbolehkan untuk keluar kamar. Bunda Salma memanggil tukang salon langganannya untuk merawat tubuh Aira. Baik dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aira pun hanya pasrah ketika sang bunda sudah bertitah. Dia pun mengikuti kemauan sang bunda, toh ini juga untuk kebaikan nya agar calon suaminya juga senang.
"Cie yang lagi perawatan." Goda Shakila yang menemani sang kakak di dalam kamar.
"Ih apaan sih dek ganggu aja. " Jawab Aira dengan wajah tersipu malu.
"Cie kakak malu ni ye. " Shakila pun semakin menggoda kakaknya.
"Bunda itu adik di suruh keluar aja, gangguin kakak aja ni, " Lapor Aira kepada bunda Salma yang juga ada disana.
"Kebiasaan kamu itu dek, gangguin kakak aja. Udah sana keluar aja sama kak Aina dari pada di sini godain kakakmu terus. " Bunda Salma pun memperingatkan putri bungsunya yang memang paling jahil di antara kakak-kakaknya.
"Ih bunda nggak asyik. " Shakila pun keluar dari kamar sang kakak dengan wajah cemberut.
__ADS_1
Bunda Salma dan Aira pun tersenyum melihat Shakila yang memanyunkan bibirnya.
****