Cinta Monyetku

Cinta Monyetku
Patah Hati


__ADS_3

Happy Reading...


****


"Terimakasih mas, lamaran mas ke Aira itu sudah cukup menjadi hadiah terindah buat Aira mas. Tak ada hadiah yang paling indah yang Aira dapat selain hadiah di ultah Aira di tahun ini. " Aira pun membalas Mario dengan tersenyum. Ada binar bahagia di wajah cantiknya.


"Mungkin ini awal dari hubungan serius kita dek, mas harap kita akan selalu bersama meskipun banyak badai yang akan menghantam kita kelak. " Ucap Mario dengan senyuman hangat di wajahnya.


Hari ini adalah hari kebahagiaan Aira dan Mario. Perjuangan dan penantian mereka selama hampir 10 tahun ini tak ada yang sia-sia. Akhirnya mereka bisa menapakkan ke jenjang yang lebih serius. Meskipun baru 1 langkah dan masih ada beberapa tahapan lagi yang harus mereka hadapi baik izin menikah ke kantor yang berbeda dengan pernikahan warga sipil biasa.


Meskipun awalnya Mario ingin berusaha sendiri untuk pengajuan pernikahannya dengan Aira, tapi Ayah Irsyad memaksa untuk membantu mereka. Sehingga karena the power of Ayah Irsyad, pengajuan pun tak seribet dari pengajuan anggota yang lainnya. 3 minggu lagi pernikahan mereka akan dilaksanakan. Dan para wanita seperti bunda Salma dan saudara-saudaranya saling membantu untuk menyiapkan semua keperluan untuk pernikahan mereka di waktu yang sangat singkat.


**


Setelah proses lamaran dan pengajuan pernikahan, Aira mendapat izin dari sang ayah untuk kembali ke rumah sakit. Awalnya dia akan mengajukan cuti kembali, tapi karena banyaknya pasien yang perlu di tangani oleh Aira, dia pun merubah skema cutinya yaitu 4 hari sebelum hari H. Apalagi kemarin dia sempat break karena sang ayah yang tak membolehkan nya untuk kembali bekerja.


"Wah dokter Aira semakin cantik aja. " Puji Jenni yang pagi ini menemani Aira bertugas seperti biasa.


"Suster Jenni bisa saja. suster jiga tambah cantik loh. " Jawab Aira yang juga memuji Jenni.


Aira pun sudah siap memakai Snelli dan stetoskop yang ia kalung kan di leher. dengan duduk manis, Aira menunggu antrian pasien yang akan berobat.


Jenni pun sama, dia sudah siap dengan buku dan bulpen untuk menulis apa yang disampaikan oleh dokter Aira.


Mereka berdua saling bekerjasama untuk menjalankan tugas mereka pagi ini. Tak ada rasa sedih lagi di wajah cantik Aira Yang ada hanya senyuman cerah menambah kecantikan Aira berkali-kali lipat.


"Ehem, sepertinya dokter Aira tampak bahagia banget setelah kemarin hampir sebulan tak nampak di rumah sakit. " Ucap Jenni yang belum tahu kabar bahagia dari Aira. Jangankan Jenni, Nayla yang notabene nya sahabat Aira pun belum tahu kabar bahagia ini. Yang tahu hanyalah kepala rumah sakit dimana Aira bertugas ketika ia akan pengajuan cuti kembali.


"Biasa saja Sus, mungkin karena kemarin lumayan lama di rumah ya jadi bahagia gini " Balas Aira yang masih menyembunyikan statusnya.


"Tapi ada yang beda deh? " Tanya Jenni yang merasa ada yang beda dengan Aira. Dia pun menelisik dengan mengamati Aira dengan seksama.

__ADS_1


Deg....


Mata Jenni pun melihat ada benda baru yang sedang di pakai Aira. Yaitu cincin manis yang terpasang cantik di jari manis tangan kanan Aira.


"Bentar-bentar deh dokter. Sepertinya ada yang baru ini. " Tambah Jenni dengan mendekati Aira.


. "Nah, ini yang baru itu. " Ucap Jenni kembali dengan memegang jari manis Aira.


"Hayo ada kabar apa ini. Sampai sama saya aja di sembunyikan. " Goda Jenni untuk meminta penjelasan kepada Aira.


"Suster Jenni jeli banget lihatnya. Padahal udah saya sembunyikan loh. " Jawab Aira dengan malu-malu.


"Bisa ceritain ini dokter? " Jenni pun yang kepo meminta penjelasan.


"Sebenarnya saya sudah di lamar Sus. " Jawab Aira dengan malu-malu.


"What??? " Jenni pun berteriak karena kaget dengan kabar yang ia dapat dari Aira.


"Maksudnya dokter Aira akan segera menikah? " Tanya Jenni untuk memastikan.


"Dengan siapa dokter, terakhir kali kan dokter Aira di paksa pulang oleh ayahnya dokter sampai Letnan Mario aja di usir oleh ayah dokter. Dan saya bisa lihat bagaimana kacaunya letnan Mario setelah dokter Aira pulang. " Ucap Jenni menjelaskan situasi di daerah pengungsian setelah kepergian Aira.


"Jadi yang melamar dokter siapa? "


"Yang melamar saya ya letnan Mario dong Sus, masak siapa sih. " Jawab Aira dengan santai.


"Kok bisa sih dok bagaimana ceritanya? " Jenni pun shock mendengar kabar tersebut. Dia tak menyangka jika Aira di lamar oleh orang yang ia cintai padahal mereka sempat terpisah setelah kabar tak baik menimpa mereka.


Aira pun bercerita apa yang ia alami setelah pulang di rumah. Sampai dia juga sempat tertekan karena keluarganya sudah bersekongkol untuk memberikan surprise padanya. Hingga akhirnya dia bisa di lamar oleh Mario.


"Jadi gitu Sus, awalnya saya jiga nggak nyangka jika yang akan melamar saya adalah letnan Mario. Awalnya saya pikir ayah akan jodohin saya dengan anak sahabatnya yang lain. " Tambah Aira kembali dengan duduk bersandar.

__ADS_1


"Hehe... tapi lucu deh dokter jika saya bisa lihat bagaimana ekspresi dokter ketika di bohongin sama keluarga dan bagaimana ekspresi dokter ketika tahu ternyata letnan Mario yang melamar dokter. " Jenni pun tersenyum geli membayangkan wajah Aira.


"Nggak udah di bayangin deh Sus, untuk kemarin penata rias pilihan bunda paling top jadi bisa menyamarkan mata pandai dan wajah sedihku Sus. " Aira pun sedikit jengkel ketika mengingat hari itu.


. "Hahha..., but congratulations dokter atas lamarannya. Semoga dokter dan letnan Mario bisa di lancarkan sampai hari H. " Ucap Jenni dengan memeluk Aira.


"Terimakasih sus, semoga suster juga cepat nyusul dengan dokter Anton. " Jawab Aira dengan memeluk suster Jenni.


Dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mendengar obrolan Aira dan Jenni. Dia pun tak jadi untuk masuk ke ruangan Aira. Diapun berjalan keluar menuju ke taman.


Dokter Kevin pun merasakan sakit di dadanya. Seperti ada remasan yang kasar yang membuat sesak. Orang yang ia cintai dan berharap dapat ia ajak untuk bersanding di mahligai pernikahan, harus pupus setelah mendengar percakapan antara Jenni dan Aira.


"Tuhan mengapa aku harus terlambat. " Teriak Kevin di dalam hatinya. Ia merasakan sakit dan patah hatinya.


"Apakah ini karma untukku yang sudah menyia-nyiakan orang yang sudah mencintaiku. " Tambah Kevin dengan melihat ke arah kolam ikan di dekat taman. Kevin terduduk lesu menghadap ke depan di kursi panjang bercat putih. Biasanya kursi ini di gunakan para pasien untuk menghirup udara yang segar ketika bosan di dalam kamar.


Rasanya seperti ada sebilah pisau yang menancap di rongga dadanya.


"Apa yang harus aku lakukan Tuhan. " Ucap Kevin lirih dengan menundukkan kepalanya.


Nayla yang tak sengaja melintas di samping taman melihat Kevin yang sepertinya sedang ada masalah.


"Kenapa tu dokter, tak biasanya penampilan nya kacau. " Ucap Nayla dengan memandang Kevin.


"Eh tapi kemarin waktu Aira nggak masuk dia juga sudah kacau sih, tapi tak separah ini padahal kan Aira sudah masuk. " Tambah Nayla yang ngedumal dan hanya dia yang mampu mendengarkannya.


Meskipun awalnya dia sakit karena di tolak oleh Kevin, akhirnya dia pun bisa ikhlas dan sekarang dia sudah tak merasakan sakit kembali ketika melihat Kevin. Dia hanya menjaga jarak saja tak seperti dulu yang akan menempel terus dengan Kevin. Sekarang, dia lebih memilih tak bekerja sama dengan Kevin ataupun harus satu shift, Nayla sudah bisa bersikap profesional. Dia akan bersikap seperti orang asing ketika selesai bekerja.


Deg.....


Kevin pun menoleh kesamping pas dengan Nayla yang sedang menatapnya juga. Pandangan mereka pun bertemu dan terkunci.

__ADS_1


"Dia.... "


****


__ADS_2