Cinta Monyetku

Cinta Monyetku
Kegalauan Nayla..


__ADS_3

Happy Reading....


🍂🍂🍂🍂


"Benar juga ya, syukur-syukur dapat yang satu asrama tu ma dirimu. jadi kita masih bisa tu ngrumpi bareng lagi. " Nayla pun berkhayal.


"Tapi udah move on belum ni dokter Nayla? " Tanya Jenni.


"Bohong dong Sus, kalau aku bilang udah bisa move on. Tapi aku sedang berusaha untuk menata hatiku lagi kok. Jadi, biar bisa menerima kedatangan pangeran baru dengan hati yang bersih tanpa ada lagi nama seseorang di hatiku. " Balas Nayla dengan menerawang isi dari lubuk hatinya.


"Maaf ya Nay, gara-gara aku kamu malah jadi gini. " Ucap Aira yang merasa tak enak dengan sahabatnya. Gara-gara Kevin menyukainya, hingga membuat Kevin mengabaikan ketulusan sahabatnya.


"Ini bukan salahmu kok Ai, kan kita tahu jika hati seseorang tidak bisa di paksakan. Meskipun aku sudah sangat berusaha untuk mengetuk hati nya, jika memang dia nggak menyukaiku ya sama saja aku yang berjuang sendiri. Padahal berjuang sendiri itu sangat menyedihkan. " Jelas Nayla dengan tegar.


. "Wah benar itu dok, suatu saat dokter pasti akan menemukan seseorang yang benar-benar mencintai dokter dan mau memperjuangkan dokter. " Jenny pun menimpali untuk memberikan semangat untuk Nayla.


"Amin Terima kasih. Memang kalian adalah sahabat yang paling baik. Bodohnya aku yang dulu sampai bisa menyakiti kalian gara-gara aku yang di butakan oleh cinta. " Ucap Nayla dengan memeluk Aira dan Jenny.


"Kami akan selalu ada untuk mu kok Nay, meskipun nanti aku sudah nggak disini, pasti kapanpun aku akan mendengarkan keluh kesahmu. " Jawab Aira.


Mereka bertiga pun kembali bercanda menghabiskan waktu istirahat sebelum banyaknya pasien yang harus mereka kunjungi maupun periksa.


Setelah selesai dengan mengobrol dan mengobati rasa kangen mereka terhadap Aira mumpung Aira masih bekerja, Jenny dan Nayla keluar dari ruangan Aira untuk kembali memeriksa pasien.


Tap.... tap.... tap


Bunyi sepatu Nayla bergesekan dengan lantai putih rumah sakit. Dia dengan santai berjalan melewati lorong-lorong dan bangsal rumah sakit. Karena jam menunjukkan waktu untuk pasien beristirahat, suasana lorong sangat sepi. Para petugas keamanan menjaga pintu depan untuk mensterilkan ruangan agar pasien tidak terganggu ketika beristirahat. Hanya ada keluarga pasien saja yang menunggu.


"Dokter Nayla.... " Panggil seseorang dari belakang.


Nayla pun menengok ke belakang untuk melihat dan memastikan siapa yang memanggilnya. Meskipun dia sudah hafal siapa dia.


"Iya ada apa dokter Kevin. " Balas Nayla dengan datar tanpa ada wajah ramah seperti biasanya.


"Bolehkah kita berbicara setelah nanti selesai bertugas? " Pinta dokter Kevin dengan ragu-ragu.


"Maaf mau berbicara apa ya dokter Kevin? " Tanya Nayla kembali masih dengan mempertahankan wajah datarnya. Sebenarnya dia merasa kasihan dengan Kevin, tampak kurus dan tak terawat seperti biasanya.

__ADS_1


"Mungkin dia masih terluka karena Aira. " Batin Nayla setelah melihat penampilan dokter Kevin.


"Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan, tapi jika tidak mengganggu dokter. " Jawab Kevin yang sebenar kan berharap Nayla mau menemuinya.


"Baik dokter. InsyaAllah saya bisa. "


"Terimakasih dok. "


"Ya, kalau begitu saya kembali bertugas dulu. " Pamit Nayla.


Nayla pun segera bergegas meninggalkan dokter Kevin yang masih berdiri melihat kepergian Nayla.


"Memangnya dia mo bicara apa sih. Tumben banget. Dulu aja dia nggak mau di ajak bicara. Aneh. " Guman Nayla yang penasaran dengan dokter Kevin dan hanya di dengar oleh dirinya.


Nayla pun segera bergegas menuju ruangannya untuk mengambil peralatan pemeriksaan. Siang ini, dia akan melakukan kunjungan pasien di bangsal.


Di sela pemeriksaan, dia masih penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh dokter Kevin. Untung dia masih bisa mengendalikannya agar tidak berakibat fatal bagi pasien yang ia tangani. Dia harus bersikap profesional karena pekerjaanya menyangkut dengan nyawa pasien. Itulah resiko pekerjaan yang dia jalani. Tapi Aira dan Nayla sangat menikmatinya karena ini sudah menjadi cita-cita mereka sejak kecil.


Balik lagi dengan janji dia yang ingin bertemu dengan dokter Kevin, Nayla semakin galau. Ia ingin meminta pendapat kepada Aira, tapi ia masih bimbang.


"Apa aku minta saran Aira saja ya. " Guman Nayla setelah selesai memeriksa pasien.


"Ah nanti ajalah.. " Gerutu Nayla yang sedang galau dengan suara yang cukup keras.


"Ada apa dok? " Suster Mira yang menemani Nayla pun kaget dan bertanya kepada Nayla.


"Oh nggak papa Sus. Maaf. " Nayla pun menjawab dengan sedikit kikkuk.


**


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 7. Nayla pun segera bergegas membersihkan diri dan mengambil tasnya untuk segera pulang.


Tidak lupa ia mencuci mukanya dan sedikit memakai bedak dan lipstiknya agar tak tampak kucal. Maklum dari pagi, Nayla sudah berkutat dengan pasien.


Setelah bercermin dan melihat dirinya yang sudah tapi, Nayla pun bergegas menuju ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Tadi, dokter Kevin sudah mengirim pesan bahwa mereka akan bertemu di Kafe X.


Setelah sampai di parkiran, Nayla pun segera bergegas menjalankan mobilnya menuju ke kafe yang di tuju. Di perjalanan pun dia selalu melafalkan do'a agar pertemuannya dengan Kevin tak akan membuat dirinya sakit kembali.

__ADS_1


Tak terasa, Nayla pun sudah sampai di kafe yang di tuju. Di parkiran, ia melihat mobil Kevin sudah terparkir di sana.


"Bismillah." Ucap Nayla setelah turun dari Mobilnya.


Dengan mantap, ia pun segera berjalan masuk menuju nomer meja yang Kevin maksud.


Setelah menengok ke kanan dan ke kiri, dia melihat dokter Kevin yang sudah duduk dan melambaikan tangannya ke arah Nayla. Tidak lupa dia tersenyum menyambut kedatangan Nayla.


"Akhirnya dokter datang juga, saya kira dokter tidak jadi datang. " Ucap dokter Kevin basa-basi.


"Karena janji seorang muslim adalah hutang, maka saya hari menempati janji saya. " Jawab Nayla dengan masih mempertahankan wajah datarnya. Nayla pun segera duduk di kursi dan berhadapan dengan Kevin.


"Maaf dokter, langsung saja apa yang ingin dokter sampaikan kepada saya? " Tanya Nayla to the point.


"Saya sudah pesan kan makanan untuk dokter, jadi kita makan dulu saja sebelum berbicara. " Ajak dokter Kevin dengan ramah.


"Saya pesanan steak kesukaan dokter. Maaf jika saya lancang tanpa bertanya kepada dokter terlebih dahulu. " Ucap Kevin kembali.


. Nayla pun menghembuskan napasnya kasar. Entah apa yang edang Kevin rencanakan. Sikapnya berbeda dengan sebelumnya.


"Iya nggak papa. " Jawab Nayla dengan pasrah. Jika menolak, dia pun merasa sungkan.


Pesanan yang di pesan Kevin pun sudah datang. Mereka berdua pun menikmati steak sebagai makan malam mereka dengan diam. Nayla pun yang biasanya cerewet, mendadak diam setelah penolakan Kevin sebelumnya.


"Dokter Nayla, sebelumnya saya minta maaf dengan sikap saya yang sangat keterlaluan kepada dokter. " Ucap dokter Kevin setelah ia selesai menyantap makan malamnya.


Nayla pun menaikkan alisnya karena kaget dengan apa yang di sampaikan Kevin.


"Mungkin saya memang pria brengsek dan tak berperasaan dengan dokter. Sampai saya menyakiti hati dokter yang tulus mencintai saya. Sehingga saya pun mendapat karmanya yang juga merasakan rasa sakit yang amat dalam. " Tambah dokter Kevin menjelaskan.


"Saya sudah memaafkan dokter. Dan sadar kok perasaan seseorang itu tidak bisa di paksakan. Dan saya juga tidak membenci dokter karena menolak saya. Saya saja yang kegatelan dan tidak malu dulu mendekati dokter. " Jawab Nayla dengan tertawa karena mengingat kebodohannya.


"Huh...... "


"Apa masih ada kesempatan untuk saya memperbaikinya? "......


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Maaf ya ceritanya di selingi cerita dokter Kevin dan Nayla dulu. 🙈🙈🙈


__ADS_2