
Happy Reading...
****
"Wah mulai modus ni. Awas dek jangan termakan gombalannya. " Mario pun ikut menyindir Alex.
"Welah, usaha dikit nggak pa-pa Dan. " Jawab Alex dengan Pdnya.
Mario dan budhe pun tersenyum melihat gelagat dua orang yang berbeda jenis kelamin tersebut. Kemudian, Alex mengajak budhe untuk naik sepeda motornya untuk menuju ke mess Mario. Sedangkan Mario dan Raisha tetap berjalan dengan santainya.
**
Hari yang di tunggu pun tiba. Pagi ini, Mario sudah siap dengan baju batiknya. Dia tampak gagah dan ketampanannya bertambah berkali lipat dengan memakai baju kebanggaan bangsa Indonesia Indonesia.
Sedangkan Raisha dan Budhe sudah rapi juga dengan dress dan kerudung yang senada. Budhe pun tampak anggun, dan tak mau ketinggalan Raisha tampak cantik dengan polesan make up natural. Ia tak ingin di pandang tak sedap oleh calon istri dan mertua kakaknya.
"Bagaimana sudah siap kah? " Tanya Alex yang juga sudah rapi dengan batiknnya. Dia ikut menghantar Mario untuk melamar sangat pujaan hatinya. Dia tak ingin ketinggalan dengan moment yang sangat penting bagi sahabatnya.
"Sudah ini tinggal nunggu budhe ambil bawaan dulu di dalam. " Jawab Mario yang sedang membenarkan kerah baju batiknya.
"Wah komandan kita tampak lebih tampan ini Lex. " Puji Doni yang tak mau ketinggalan juga.
"Iya Don, tu brewoknya juga sudah di pangkas habis gara-gara ingin nemuin dokter Aira. " Goda Alex.
"Beneran Lex nanti takut kalau nggak di pangkas dokter Aira malah kabur. " Doni pun menambahi.
"Dasar sahabat tak berakhlak, habis muji sampai terbang ke langit terus dah di hembasin ke bawah. " Jawab Mario dengan melempar tisu di sebelahnya.
Doni dan Alex pun tertawa untuk meledek kekesalan Mario.
Budhe dan Raisha pun muncul dari dalam dengan membawa beberapa hantaran yang sudah di susun dan di rias oleh Raisha kemarin malam.
"Subhanallah, beruntungnya aku bertemu bidadari yang jatuh dari langit di pagi yang cerah ini. " Ucap Alex mendramalisir dengan menatap Raisha.
Raisha pun tampak malu-malu mendengar gombalan receh Alex.
"Mata itu di kondisi kan Lex, awas saja masih gombalin adikku aku hukum siap hormat baru tau rasa. " Ancam Mario yang sebenarnya hanya bercanda.
"Dek Raisha jangan percaya gombalan ni orang, tu setiap tikungan juga banyak cewek yang ia gombalin. " Doni pun ikut mengomporinya.
"Sialan, enak aja. Bohong dia deng dek jangan percaya. " Alex pun membela dirinya.
"Iya bang. " Jawab Raisha malu-malu.
"Ini jadi berangkat atau masih mau godain ponakan budhe yang cantik ini? " Budhe pun ikut mengeluarkan suaranya.
"Hehehe, maaf budhe. " Alex pun meminta maaf dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya segera berangkat dong budhe. " Mario pun tak kalah bersemangat.
"Ya udah ayo, budhe dan dek Raisha masuk ke mobil dulu biar kami yang mengambil barang seserahannya. " Ucap Alex.
"ya nak Alex dan nak Doni. Terimakasih ya. " Jawab budhe dengan tersenyum ramah.
Budhe dan Raisha berjalan keluar dari mess Mario menuju mobil milik Mario yang sudah teeparkir di depan. Sebenarnya Mario sudah mempunyai mobil yang ia beli bekas. Tapi karena kemarin ketika mudik dia merasa lelah, dia memilih mudik naik bus untuk bernostalgia pengalaman dia dahulu ketika awal menjadi perwira.
__ADS_1
Alex, Doni dan Mario pun membawa barang bawaan yang akan menjadi seserahan untuk Aira. Ada baju, tas, perhiasan, make up dan beberapa kue yang sempat di buat oleh budhe kemarin. Budhe yang terlampau bahagia dengan kabar bahagia keponakannya, tak merasakan capek karena perjalanan jauh dari rumah menuju asrama. Beliau pun bersemangat membuat beberapa kue yang tampak cantik-cantik.
"Sudah semuanya kan? " Tanya Doni memastikan agar tak ada barang bawaan yang tertinggal.
"Sudah Don. Terimakasih ya untuk kalian berdua yang sudah membantu kami. " Jawab Mario.
"Santai Dan, kita kan harus saling mendukung kebahagiaan masing-masing dari kita. " Balas Alex dengan merangkul pundak Doni dan Mario bersamaan.
Mereka pun tersenyum bersama. Doni pun menutup bagasi mobil. Kemudian mereka semua masuk ke dalam mobil menyusul Raisha dan Budhe.
"Oh ya tadi pak Rahmat dan ibu nunggu kita di depan rumahnya. Beliau juga sudah siap. " Ucap Alex yang sudah duduk di samping pengemudi. Sedangkan Doni, dia yang akan menjadi supir Mario saat ini. Kata dia, yang mo nikah tak boleh bawa kendaraannya sendiri. Cukup duduk anteng saja di belakang. Mario pun menyetujui, lumayan dia bisa menetralkan kegugupan nya untuk bertemu Aira yang sudah lama tak dia temui maupun di hubungi. Dia sudah tahu jika HP Aira sedang di sita oleh ayahnya.
"Ya Lex makasih infonya. " Balas Mario.
"Sudah siap semuanya? " Tanya Doni yang sudah siap menghidupkan mesin mobil Mario.
"Bismillah siap. " Jawab semua orang yang ada di mobil. Tidak lupa mereka membaca do'a agar di mudahkan sampai tempat tujuan. Butuh 1 setengah jam menuju kediaman Irsyad.
"Okey, let's Go. " Ucap Doni kembali dan kemudian menancapkan gas mobil.
Setelah sampai di depan rumah Dan Rahmat, ternyata beliau juga sudah siap di dalam mobilnya. Beliau dan istri ikut menghantar Mario menuju ke rumah Irsyad sebagai perwakilan untuk melamar Aira. Dan Rahmat sangat dekat dengan Mario, dia pun menganggap Mario tidak hanya juniornya tapi ia juga menganggap Mario sebagai adiknya. Jadi ketika beliau di minta tolong oleh Mario untuk melamar Aira pun, beliau langsung menyanggupinya. Bahkan istrinya juga membantu budhe menyiapkan hantarannya. Beliau tak menyetir sendiri, beliau membawa anak buahnya untuk membawa mobilnya.
Mereka semua dengan mengendarai 2 mobil mulai meninggalkan asrama Mario untuk menuju ke rumah Aira. Jalanan yang masih sepi dan belum banyaknya kendaraan motor, membuat udara masih sejuk.
**
Kediaman Aira
Pagi ini, Aira bangun dengan tak bersemangat. Di usianya yang bertambah saat ini seharusnya di rayakan dengan suka cita seperti biasa bersama keluarga, tapi lagi ini berbeda ayahnya ingin menjodohkan dia dengan anak dari sahabatnya. Entah siapa yang akan di jodohkan dengannya, Aira pun hanya pasrah. Hanya menangis dan berdo'a agar ada keajaiban untuknya saat ini.
Didalam kamar, Aira sudah di make up oleh menata rias terbaik di kota tempat tinggal Aira.
"Sudah ini bu. Kurang sedikit saya oleskan lipstipnya dulu. " Sang penata rias yang menjawab. Sedangkan Aira hanya diam dengan pandangan kosongnya.
"Baik mbak. Terimakasih atas bantuannya ya. " Ucap Salma kembali.
"Siap ibu, kehormatan bagi saya bisa merias wajah putri bapak Irsyad dan ibu. " Jawab Si perias dengan tersenyum ramah. Dia pun masih fokus memoleskan lipstik di bibir tipis Aira sebagai sentuhan terakhir.
"Nanti mbak Aira jangan nangis lagi ya, nanti ngrusak make up nya. " Saran Si mbaknya.
Aira pun hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab dengan suara.
"Baik bu, kalau begitu saya pamit dulu ya semoga di lancarkan untuk acaranya. " Pamit mbak perias setelah selesai merias Aira.
"Iya mbak, terimakasih ya. " Balas Salma dengan ramah.
"Siap ibu. " Mbak perias pun menata make up kembali ke dalam tas. kemudian dia keluar dengan di antar Salma sampai depan.
Setelah menghantar, Salma pun kembali lagi menuju kamar putrinya.
"Nak dengerin bunda ya, pasti apa yang di rencanakan ayah pasti terbaik untuk kakak. Percayalah. " Nasehat Salma dengan menepuk lembut pundak putrinya.
Aira pun hanya menganggukkan kepalanya. Rasanya sudah lelah untuknya menangis. Jika memang ini takdir untuknya, dia akan ikhlas.
Aira pun tampak cantik dengan kebaya brokat peach dengan bawahan rok batik. Mata pandanya pun sudah tertutup oleh riasan. Tak di pungkiri memang benar jika penata rias tang di pilih Salma tak salah, hasil riasannya pun sangat menakjubkan.
__ADS_1
Tidak lupa kerudungnya pun senada dengan bajunya dan ditambah selendang batik yang senada dengan roknya menambah keanggunan Aira.
Tok... tok....
Pintu kamar Aira pun di ketuk seseorang.
"Masuk." Ucap Salma mempersilahkan seseorang yang mengetuk pintu untuk masuk.
"Bun, itu tamunya sudah datang. " Ucap Shakila yang sama cantiknya karena diapun berdandan untuk acara yang bersejarah bagi kakak tertuanya.
"Ya dik, bunda dan kakak segera turun. " Balas Salma.
"Okey bun, adik ke bawah dulu. " Shakila pun pamit untuk menuju ke bawah di mana di sana sudah di tata dan di rias untuk hari lamaran putri tertua Irsyad. Banyak bunga dan dekor yang cukup minimalis tapi masih tampak elegan dengan serba warna putih berpadu dengan warna peach kedukaan Aira.
"Kakak, tamunya sudah datang. Ayo kita ke bawah. " Ajak Salma.
"Iya bun. " Jawab Aira dengan malas.
"Bismillah ya kak, bunda jamin pasti kamu akan suka sama orang nya. " Bisik Salma untuk menyemangati putri nya.
Aira pun hanya diam tanpa menanggapi ucapan bundanya. Ada rasa sedih dan gugup bercampur menjadi satu. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya lah siapakah gerangan laki-laki yang akan di jodohkan dengan dia. Apakah dia baik dan sholeh seperti Mario.
Mamikirkan itu, malah membuat Aira bertambah sedih maupun merasa jahat kepada Mario. Setelah kejadian terakhir kali, dia tak bisa menghubungi Mario karena semua akses baik handphone maupun telpon rumah di kamar Aira di putus oleh ayahnya.
Aira di gandeng sang bunda untuk berjalan menuju ke lantai bawah menuju di ruangan yang di gunakan sebagai acara. Yaitu ruang tamu yang sudah di dekor dengan sangat indah. Di sana juga sudah hadir oma dan opa Aira yang sudah renta yang dulu merawat Aira ketika kecil. Untuk orang tua Salma, beliau tak bisa hadir karena kondisi kesehatan yang sedang tak baik. Hanya di wakili tante Airin kakak dari bunda Salma beserta suami dan anak cucunya.
Abang Adam saat ini sudah menikah. Dia menjadi penerus sang ayah yang seorang advokat sedangkan istrinya adalah seorang dokter seperti Aira. Dulu istri Adam adalah teman Aira di sekolah.
Sedangkan Aina, dia juga sudah menikah dengan seorang pengusaha muda yang bergerak dalam bidang properti. Aina dulu sempat bekerja di kantor suaminya sebelum dia menikah, dan akhirnya mereka jatuh cinta dan mereka memutuskan untuk menikah.
Untuk keluarga dari Irsyad, ada tante Nadira, om Maulana beserta keluarga besar mereka.
Mereka semua sudah kumpul menjadi satu di ruang tamu.
Tap.... tap.... tap
Bunyi sepatu hak tinggi yang di pakai Aira.
Semua mata pun memandang kearah Aira. Banyak yang memujinya tak terkecuali Mario yang tanpa kedip melihat ke arah calon istrinya.
"Jangan di pandang terus, sebentar lagi juga halal kok. " Ucap Alex membuyarkan Mario.
Mario pun terkesiap dan menetralkan detak jantungnya yang mulai berdetak cepat.
Masih dengan menundukkan kepalanya, Aira di antar sang bunda menuju tempat duduk khusus dirinya. Tapi sebelumnya Salma meminta sang putri untuk melihat kedepan.
"Kak, coba deh kakak lihat ke depan. " Punya Salma.
Aira pun terpaksa mendongakkan kepalanya untuk mengikuti saran sang bunda. Dan...
Deg.....
"Mas..... Ma... RI...o... "
__ADS_1
***