
Happy Reading...
*****
"Mo minum apa Le?" Tawar budhe .
"Teh hangat saja budhe. " Jawab Mario yang sudah mendudukkan tubuhnya ke kursi di ruang keluarga.
Budhe pun berlalu menuju dapur untuk membuat kan minuman untuk Mario.
Tap... tap... tap. .
"Kakak...... "Raisha pun teriak karena kaget dengan kepulangan Mario.
Dengan berlari, Raisha menghampiri Mario. Ia pun langsung menghambur ke pelukan sang kakak.
" Kakak kok nggak bilang sih kalau mau pulang? " Protes Raisha dengan manja.
"Buat surprise dek. " Balas Mario dengan mengelus lembut rambut adiknya. Hanya Raisha yang ia punya, sehingga apapun akan Mario lakukan untuk kebahagiaannya. Apalagi sejak kecil Raisha tak merasakan kasih sayang penuh dari mama dan papanya.
"Ish kebiasaan kakak itu. " Raisha pun melepas pelukan nya dari Mario dengan cemberut.
"Ini loh yang di kangenin kakak, lihat bibir bebeknya kamu. Kalau lagi cemberut rasanya kakak mo ngucir ni bibir. " Goda Mario dengan memegang kedua bibir adiknya.
"kakak.... " Protes Raisha kembali. Tidak lupa dia mencubit gemas lengan Mario.
Budhe yang melihat pun hanya menggelengkan kepalanya. Saat ini, dia sangat bahagia bisa melihat kesuksesan keponakannya dalam meraih mimpinya. Sikap Mario pun akan berubah 180° ketika bersama keluarganya. Tidak ada Mario yang dingin dan tegas, yang ada adalah Mario yang murah senyum dan selalu menyayangi keluarganya.
"Sudah Raisha, biar kakakmu istirahat dulu. Pasti dia capek habis dari perjalanan jauh. " Budhe Retno pun menengahi. Budhe pun meletakkan secangkir teh hangat dan satu piring pisang goreng yang sempat ia buat sebelum Mario datang.
"Hehhe... iya budhe. " Jawab Raisha dengan cengengesan.
"Bagaimana dek kuliah kamu? " Tanya Mario kepada adiknya.
"Alhamdulillah lancar kak, ini juga baru UAS. " Jawab Raisha dengan mencomot pisang goreng di depannya.
Raisha, gadis cantik yang paras ayunya di dapat dari sang mama Rosa. Saat ini, dia duduk di bangku kuliah semester awal dengan jurusan Keperawatan.
Dulu, dia sempat bercita-cita untuk menjadi dokter tapi apalah daya, mungkin jika kedua orang tuanya masih ada dia bisa mewujudkan nya. Tapi sekarang hanya kakaknya yang menjadi tulang punggung keluarga. Dia hanya gadis biasa tak terlalu cerdas tapi juga tak lemah. Kemampuannya hanya rata-rata saja seperti yang lainnya. Sehingga cukup sulit untuk mendapatkan beasiswa untuk mendaftar ke fakultas kedokteran.
Tapi dia masih bersyukur karena kakaknya masih mampu membiayai kuliahnya. Dia pun sangat kagum dengan kakaknya, dengan tanpa putus asa dan gigih, kakaknya selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga.
Masih ingat di memorinya, dimana ketika dia masih duduk di kelas 2 SD, kakaknya rela memakai sepatu sobek padahal dia sibuk bekerja menjadi loper koran setiap pulang sekolah, hanya untuk melihat adiknya makan. Jadi, dia berusaha sekuat tenaga untuk segera lulus agar tak membebani sang kakak yang sudah banyak berkorban untuk dia dan budhe.
__ADS_1
"Alhamdulillah dek, kakak seneng jika sekolahmu lancar. " Balas Mario dengan mengelus sayang rambut adiknya.
"Oh ya rencana kamu setelah lulus jadi mo ambil profesi dek? " Tanya Mario kembali. Momen ketika mudik seperti ini, di manfaatkan sepenuhnya oleh Mario untuk mengobrol dengan adik ataupun budhe sebagai pelepas rindu.
"Emmm...... belum tahu mas, ini juga baru semester awal masih lama. " Jawab Raisha.
"Ya nggak pa-pa dek di planing sekarang, biar buat semangat kamu juga nanti. Kata teman kakak yang perawat mending sekalian ambil profesi, lebih mudah nyari kerjanya. " Saran Mario untuk adiknya.
"Tapi bayarnya mahal kak, kakak aja udah bayar banyak buat biaya masuk kemarin. Apalagi sebentar lagi juga bayar buat SPP. Nanti Rai bisa kerja dulu kak baru lanjut profesi. " Tolak Raisha yang merasa tak enak.
"Dek, kamu sama budhe adalah tanggung jawab kakak sekarang. InsyaAllah kakak masih mampu biayai kuliah kamu sampai lulus profesi dek. Karena itu sudah menjadi kewajiban kakak sebagai wali kamu. " Jelas Mario kembali.
"Tapi kak? "
"InsyaAllah Allah kasih mudah buat kakak untuk itu. Tabungan kakak masih ada, jadi yang kamu pikirin sekarang adalah kuliah kamu aja. Tidak perlu mikirin biaya. "
"Bener nduk kata kakakmu, sekarang yang harus kamu prioritaskan adalah kuliahmu. Untuk biaya, budhe juga bisa bantu kakak mu untuk biayai kamu. Alhamdulillah warung kelontong kita lumayan hasilnya. Dan budhe juga bisa nabung untuk itu. " Budhe pun menambahi.
"Dan kamu tahu kan, kadang budhe juga dapat pesanan kue ataupun makanan ringan dari tetangga, itu juga bisa buat menambah biaya kamu esok. "
"Terimakasih kasih Kak, budhe. Raisha sangat bahagia masih mempunyai kalian di hidup Raisha. Mungkin memang Raisha tidak bisa merasakan kasih sayang dari mama dan papa lama, tapi saat ini kasih sayang besar itu tergantikan dari budhe dan kakak. " Ucap Raisha yang terharu dengan kasih sayang budhe dan kakaknya. Raisha pun memeluk budhe nya dengan menitikkan air mata.
Dia masih bersyukur, masih mempunyai keluarga dan dapat merasakan pendidikan yang tinggi meskipun dia sudah menjadi anak yatim piatu. Masih banyak orang di sekitarnya yang tak seberuntung darinya.
"Sudah-sudah jangan gini dong, ni kakaknya pulang kok kita malah sedih-sedihan kayak ini. " Ucap Budhe untuk mengalihkan suasana yang sedih.
"Maaf ya kak. " Ucap Raisha yang merasa bersalah.
"Nggak pa-pa dek. Kakak nggak sedih kok tapi malah bahagia masih bisa melihat budhe dan kamu sehat. " Balas Mario dengan lembut.
"Oh ya, ayo le kita makan siang bareng. Tadi budhe udah bilang masak makanan kesukaanmu, eh ternyata feeling budhe benar jika kamu mo pulang. " Ajak Budhe.
"Ayo budhe, Rio juga sudah lapar. " Jawab Mario. Mario menggandeng adik dan budhenya untuk menuju ke ruang makan yang mungil. Cukup jika di gunakan untuk makan 4 orang.
Mereka pun makan dengan lahap. Menu yang sederhana tak menjadikan masalah untuk mereka. Momen seperti ini sangat di rindukan Mario ketika berada di asrama.
"Kak, ni kursi kita di ruang makan ada empat. Tapi masih ada satu yang kosong, kapan ni kursi di samping Raisha ada yang dudukin. " Raisha pun menggoda adiknya.
"Uhuk... uhuk... " Mario pun tersedat makanannya karena kaget mendengar pertanyaan adiknya yang tiba-tiba.
"Aduh pelan-pelan le makannya.Ni minum dulu. " Nasehat budhe dengan memberikan segelas air putih untuk Mario.
"Terimakasih kasih. " Balas Mario setelah meminum air putih.
__ADS_1
"Kamu juga nduk, jangan bertanya dulu kalau lagi makan. Kan kakakmu jadi tersedst. " Budhe pun menasehati keponakannya.
"Hehehe.... maaf budhe. Kan Raisha sudah kepingin punya kakak perempuan jadi wajar dong. Raisha tanya begitu sama kakak. Apalagi kakak sudah pas kalau menikah. " Jawab Raisha dengan cengengesan.
Mario pun tersenyum mendengar perkataan adiknya.
"Budhe dan dek, nanti habis makan Rio ingin berbicara sedikit serius. " Ucap Mario setelah meletakkan piringnya di depan karena sudah habis ia makan.
Raisha dan Budhe pun saling pandang, mereka saling tersenyum samar mendengar permintaan kakaknya.
"*Jangan-jangan kaka Mario mo ngelamar cewek lagi. " Batin Raisha.
"Apa keponakanku sudah menemukan pujaan hatinya*? " Tanya budhe di hatinya.
**
Dan disinilah mereka sekarang, di depan ruang keluarga kembali. Mario sudah siap untuk menjelaskan kepada adik dan budhenya tentang rencana dan keinginannya.
"Budhe, sebenarnya Rio pulang tidak hanya kangen dengan budhe dan adek, Tapi ada hal penting yang ingin Rio sampaikan. " Mario pun mulai mengungkapkan maksud dirinya.
"Ya Le, kamu sampaikan saja maksud kamu. " Balas budhe dengan mendengar kan Mario seksama.
Raisha pun ikut mendengarkan apa yang ingin di sampaikan oleh kakaknya.
"Sebenarnya, Rio sedang dekat dengan seorang gadis dan 2 minggu kemarin Rio sudah mengunjungi rumahnya."
"Alhamdulillah, yang benar kak. Kakak sudah punya pacar? " Ucap syukur Raisha mendengar kakaknya sudah punya tambatan hati. Dia tak menyangka jika kakaknya yang dingin dan tak tersentuh bisa menemukan tambatan hatinya.
"Iya dek alhamdulillah. " Balas Mario dengan tersenyum.
"Gini budhe waktu saya bertemu orang tuanya, beliau meminta saya untuk segera membawa keluarga Rio ke rumah beliau. Beliau meminta saya untuk melamar dia segera. " Mario pun menjelaskan.
"Apa keluarga gadis itu tahu keadaan kamu le? " Tanya budhe yang sedikit takut.
"Alhamdulillah beliau tahu budhe. Nggak hanya tahu tapi beliau sangat tahu siapa saya sebenarnya. "
"Maksud kamu Ke? " Budhe bertanya dengan mengerutkan keningnya.
"Huh..... Mario melepaskan napasnya dalam-dalam.
" Beliau adalah sahabat papa dan mama budhe. Ketika papa dan mama masih ada, kami atau pun keluarga beliau sering mengadakan kumpul keluarga bersama jadi kamu sudah akrab sejak kecil. "Mario pun menerangkan.
" Apa...... jangan bilang itu kakak Aira? "....
__ADS_1
*****