
Happy Reading...
****
"La betul itu suster Jenni, sekarang yang menjadi prioritas aku saat ini adalah karirku dan memperbaiki diriku menjadi lebih baik. Dan untuk dokter Kevin, aku akan menghindarinya seperti apa yang ia inginkan kemarin."
"Semoga kamu juga akan mendapatkan orang yang terbaik untuk melindungi kamu Nay. "Doa Aira untuk sahabatnya dalam hatinya.
Ketiga wanita dewasa tersebut saling mengobrol hingga waktu istirahat selesai. untung Aira membawa bekal lumayan banyak sehingga mereka bisa makan siang tanpa keluar ruangan.
Setelah selesai mengobrol dan makan siang, Nayla pamit untuk kembali ke UGD untuk bertugas kembali. Sedangkan Aira dan Jenni melanjutkan Pekerjaannya.
"Ai, suster Jenni aku permisi dulu ke UGD. " Pamit Nayla kepada Aira dan Jenni.
"Okey Nay, jangan lupa nanti aku tunggu di rumah. " Balas Aira dengan mengingatkan Nayla yang akan menginap ke kosan Aira. Katanya mumpung Aira belum menikah, dia dan Jenni ingin menikmati waktu lajang bersama.
"Siap." Ucap Nayla dengan mengacungkan 2 jempolnya.
. "Jangan lupa siapin makanan untuk kita berdua. " Nayla pun menambahkan.
Jenni yang mendengar makanan pun mengacungkan 2 jempol tangannya sebagai tanda setuju.
"Okey siap. Beres masalah itu. " Ucap Aira kembali.
Nayla pun membuka pintu ruangan Aira untuk keluar menuju ruangan bertugas untuk dirinya hari ini. Di sepanjang jalan, tidak lupa dia menyapa dengan senyuman ramah kepada staf rumah sakit atau pun para keluarga pasien yang sedang menunggu keluarganya yang sakit.
Tak ada Nayla yang cuek lagi, setelah merelakan dia berubah menjadi sosok yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
"Dokter Nayla? " Panggil dokter Bani salah satu rekan kerjanya.
Nayla yang mendengar namanya di panggil menoleh ke sumber suara.
"Oh ya dokter Bani, ada apa? ' Jawab Nayla.
__ADS_1
" Mau ke UGD ya? " Tanya dokter Bani dengan sopan.
"Iya dok, dokter juga mau kesana kah? " Jawab Nayla dengan kembali bertanya.
"Iya dok, mari bareng sekalian. " Ucap dokter Bani mengajak Nayla bersama.
"Boleh dok, ayo. " Jawab Nayla menerima ajakan dokter Bani.
Mereka berdua pun berjalan bersama menuju UGD.Di dalam perjalanan, mereka saling mengobrol santai dan terkadang tertawa bersama.
Di tengah perjalanan, Nayla bertemu dengan Kevin. Tak ada keinginan di hati Nayla untuk menyapa Kevin. Dia sudah berjanji pada dirinya untuk menghindar dari dokter Kevin.
Mereka berjalan berlawanan arah tanpa saling berbicara. Nayla hanya sebentar melihat ke arah Kevin. Begitu pula dengan Kevin yang melihat ke arah Nayla tanpa bersuara. Mirip seperti orang asing yang tak pernah bertegur sapa.
Dokter Bani pun merasa aneh dengan 2 orang ini. Dokter Bani tahu jika sebelumnya Nayla dan Kevin selalu bersama. Hingga ada kabar keretakan hubungan Aira dan Nayla.
Tapi sekarang kedua orang ini seperti tak mengenal karena tak saling bertegur sapa.
"Dokter Nayla ada problem ya sama dokter Kevin? " Tanya dokter Bani yang penasaran.
"Masak sih dok, tadi kok seperti nggak saling kenal. " Dokter Bani pun masih penasaran dengan mengorek informasi kembali.
"Mo terlambat kita. Pasti sudah banyak pasien yang harus kita tangani. " Nayla pun mengalihkan pembicaraan.
Dokter Bani yang paham jika Nayla sedang mengalihkan pembicaraan, berhenti untuk bertanya kembali. Dia paham jika memang 2 orang ini sedang ada masalah.
"Mungkin mereka berdua memang sedang ada problem. Ya sudahlah itu masalah mereka berdua. " Batin dokter Bani.
Bani dan Nayla pun berjalan kembali untuk bergegas menuju UGD.
Sedangkan di lain sisi, Kevin merasa gundah ketika melihat Nayla setelah kembali dari daerah bencana. Tak ada lagi senyuman ramah dan suara cempreng yang mengganggu Kevin. Dia seperti merasa kangen dengan gangguan dari Nayla. Apalagi dengan perasaanya saat ini yang butuh seseorang untuk berbagi.
"Dia memang benar-benar menghindariku seperti apa yang aku inginkan. " Batin Kevin setelah menatap punggung Nayla yang menjauh darinya.
__ADS_1
"Huh. . " Kevin pun menghembuskan napasnya dalam-dalam.
Dia pun berjalan cepat menuju ruangan nya. Dia berharap, dengan kembali menyelesaikan pekerjaan nya, Kevin akan merasa lebih sedikit melupakan patah hatinya.
**
Jam pun menunjukkan pukul 7. Nayla sudah bersiap-siap untuk pulang. Sesuai dengan janjinya, dia akan ke tempat kos Aira. Sedangkan Aira dan Jenni sudah pulang terlebih dahulu. Nayla harus sedikit terlambat karena tadi ada korban kecelakaan yang baru datang dan harus segera di tangani.
Setelah selesai, dia pun menuju loker untuk bersih-bersih diri dan mengambil tas untuk bergegas pulang.
Nayla berjalan menuju parkiran dimana mobilnya di taruh. Dia pun berjalan santai dengan mendengarkan lagu kesukaan nya di headphone.
Tak berselang lama, dia pun sampai di parkiran. Tak di sangka ternyata Dokter Kevin juga akan pulang. Dia sedang membuka pintu mobilnya yang terparkir di pas depan mobil Nayla.
Pandangan mereka pun saling bertabrakan. Tak ada yang ingin mulai pembicaraan baik sapaan. Kevin berhenti sejenak dan tak jadi membuka pintu mobilnya. Dia berharap Nayla mau menyapa dirinya.
Nayla yang melihat Kevin pun segera mengalihkan penglihatannya ke arah pintu mobilnya. Dia segera mengambil kunci dan membuka pintu mobilnya tanpa memperhatikan kembali keberadaan Kevin.
Setelah pintu mobilnya terbuka, Nayla pun segera bergegas untuk masuk kedalam mobil. Setelah duduk di kursi pengemudi, Nayla pun segera menghidupkan mobilnya dan menjalankannya tanpa mau menyapa Kevin yang masih tetap di posisi di samping mobilnya.
Keinginannya untuk mendapat sapaan Nayla hanya semua belaka. Orang yang pernah mencintainya dan dengan sadisnya ia sakiti dengan kata-kata kasar nya, sekarang benar-benar menjauh darinya. Ada rasa nyeri di hatinya.
Kevin pun segera masuk kedalam mobil setelah melihat Nayla berjalan menjauh dari tempat parkir.
"Huh... maafin aku. " Ucap Kevin dengan menundukkan kepalanya di atas stir mobilnya.
Dia pun sangat menyesal telah menyakiti Nayla karena cintanya kepada Aira. Yang ia tunggu ternyata tak mencintainya dan sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.
Dengan putus asa, Kevin pun bergegas pergi meninggalkan rumah sakit untuk pulang ke rumahnya. Dengan wajah lesu dan tak bersemangat dia menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dia butuh berendam di air panas untuk merelaxkan pikirannya.
Nayla pun sama. Sebenarnya ia juga merasakan sakit ketika harus bersikap cuek kepada Kevin. Dengan cara itu, Nayla bisa menyembunyikan luka di hatinya. Dia sudah tak mau berharap karena takut untuk sakit kembali.
__ADS_1
"Entah apa yang terjadi dengan ku. Sakit ya Allah. Hiks... hiks .. " Ucap Nayla di dalam mobilnya. Dia pun menumpahkan sesak di dadanya di dalam mobil agar tak ada orang Yang mengetahuinya. Biarlah orang-orang tahu jika dia tegar. Biarkan dia merasakan kerapuhan ketika sendiri.
****