
Happy Reading......
Mario merasa tidak nyaman dengan sikap Aira sekarang. Ada rasa yang hilang ketika Aira menjauhinya. Ketika Mario mendekat Aira meskipun ada Alex dan Doni yang menemani tapi Aira akan berusaha bangkit dan pergi dari mereka.
Pandangan mata Aira tak pernah mengarah ke arah Mario. Tidak ada senyuman tipis yang bisa ia lihat dari wajah Aira kembali ketika bertemu.
"Ngalamun saja Dan. " Ucap Alex dengan menyenggol lengan Mario yang sedang bertumpu tangan di pipi nya menghadap ke depan. Pandangannya pun kosong tak seperti biasanya.
"Ngagetin aja. Untuk nggak punya penyakit jantung diriku. " Jawab Mario dengan wajah cemberut.
"Kenapa Dan, sepertinya baru banyak pikiran sampai nggak seperti biasanya ngalamun. "Tambah Alex.
" Tidak ada masalah apa-apa. " Jawab Mario pendek.
"Ya udah kalau nggak mau cerita. " Balas Alex sedikit jengkel.
"Oh ya Dan, tadi aku lihat dokter Aira sedang makan bersama dokter yang ganteng itu. " Tambah Alex memanasin Mario.
"Terus? "
"Ya sepertinya mereka semakin dekat. Bisa jadi mereka malah pacaran Dan. " Alex pun tambah memanasin Mario agar dia sadar dengan keangkuhannya dalam memendam perasaannya sebelum terlambat.
"Terus jika mereka jadian apa hubungannya dengan saya? " Jawab Mario dengan tetap berpegang teguh dengan keras kepalanya.
"Ya tidak apa-apa sih Dan, tapi jangan sampai nanti ada yang kecewa dan patah hati saja. " Ucap Alex menyindir.
"Ya sudah. Saya mau kesana dulu Dan, mo bantu-bantu bersih-bersih disana. " Pamit Alex.
"Jangan sampai terlambat komandan... " Teriak Alex ketika meninggalkan Mario yang masih tetap berdiri dengan pandangan yang kosong. Hingga Alex sudah pergi jauh dari pandangan, Mario masih mencerna apa yang di sampaikan Mario tadi.
"Kenapa hatiku tidak rela melihatmu bersama laki-laki lain. Sebelum aku bertemu denganmu kembali, aku sudah pasrah dan berniat menjauh darimu agar tidak bertemu denganmu. Tapi kenapa sekarang hatiku sulit untuk melupakanmu, Aira...... " Ucap Mario dalam hatinya.
__ADS_1
"Saya harus menemuinya. Saya tidak bisa melihat dia menjauh dari saya. " Guman Mario yang hanya bisa di dengar oleh Mario saja karena di sana hanya ada dia seorang.
Mario pun berjalan mencari keberadaan Aira. Dia menuju tenda pemeriksaan pengungsi yang mengeluh dengan gangguan kesehatannya. Dari kejauhan dia melihat seluit seseorang yang tampak seperti Aira. Dengan blouse putih dan di padu padan kan dengan celana kolot abu-abu. Tidak lupa dia juga memakai kerudung abu-abu bermotif yang kontras dengan kulit putih wajah ayunya menambah pancaran aura kecantikan Aira. Wajar, jika dia menjadi seorang primadona yang di sukai banyak orang. Tidak hanya cantik, tapi juga sholehah dan baik terhadap sesama tanpa memandang status.
Untuk sesaat Mario terpesona dengan penampilan Aira. Hingga akhirnya dia bisa mengendalikan perasaannya.
Aira yang awalnya bercanda dengan salah satu pasien perempuan yang berusia 12 tahun yang sifatnya mengingatkannya kepada sang adik Raisha. Aira bercanda dengan tertawa memperlihatkan gigi rapinya, Tiba-tiba berhenti setelah melihat Mario yang berjalan mendekatinya.
Dengan deru detak jantungnya yang berjalan cepat, Aira mencoba menormalkannya dengan bersikap acuh kepada Mario yang semakin dekat dengannya. Berbohong dengan jantungnya, yang berlomba-lomba untuk berdetak ketika dekat dengan Aira.
"Kenapa sih orang itu kesini. " Ucap Aira dalam hatinya.
"Ni juga kenapa jantung nggak bisa berkompromi. " Keluhan Aira.
"Selamat siang dokter Aira. " Ucap Mario setelah sampai di depan Aira.
"Apakah nanti dokter Aira ada waktu sebentar? " Tanya Mario pelan dan ragu-ragu dengan mengatur rasa gugupnya. Baru kali ini dia merasa gugup berhadapan dengan orang. Sebelumnya, dia terkenal dengan seorang yang tegas dan berwibawa. Tapi di hadapan Aira saat ini, nyalinya menciut.
"Ada apakah gerangan Letnan bertanya apakah saya ada waktu? " Balas Aira. Padahal hatinya sedang berbunga-bunga. Hampir 3 minggu disini, Mario baru pertama kali mengajak dia mengobrol, biasanya hanya tatapan datar saja.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda dokter, tapi jika dokter tidak ada waktu tidak apa-apa. " Jawab Mario dengan menggaruk rambut di belakang kepalanya.
"Nanti saya jam 1 istirahat. Jika Letnan berkenan bisa temui saya di dapur umum karena saya akan beristirahat disana." Balas Aira dengan masih melihatkan wajah datarnya.
"Rasain memang enak di cuekin. " Ucap Aira dalam hatinya menertawakan wajah Mario yang masam karena mendengar ucapan Aira yang datar menirukan dirinya.
"Baik dokter, sampai jumpa di sana. Kalau begitu Saya pamit dahulu mohon maaf jika. mengganggu waktu dokter untuk memeriksa pasien. " Pamit Mario sopan. Dengan keberanian, akhirnya dia bisa menemui Aira. Meskipun harus menahan detak jantungnya yang menggila, dia bisa merasa sedikit lega.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa berbicara dengannya. " Ucap Mario dalam hatinya.
__ADS_1
Mario berjalan kembali meninggalkan Aira di tenda pemeriksaan. Sedikit, dia bisa tersenyum tipis. Dengan langkah yang ringan dia berjalan menuju tempat untuk memantau anak buahnya yang sedang membantu warga.
Disana juga ada Alex dan Doni yang sedang saling membantu. Meskipun berbeda seragam, mereka tetap bekerja sama untuk memulihkan kembali daerah yang tertimpa musibah. Tidak ada rasa ingin menang sendiri, hanya ada rasa saling menghormati dan bekerja sama untuk menjaga negara ini.
"Ehem.... Don, tahu nggak tadi ada yang bilangnya nggak peduli dengan seseorang mo dekat sama siapa saja. Tapi ternyata diam-diam tadi ada menemuinya loh. " Sindir Alex. Sebenarnya ketika Alex izin kembali bertugas, dia tidak nyata. Alex masih mengamati gerak-gerik atasan sekaligus sahabatnya tersebut. Dia merihat keresahan di wajah Mario ketika Alex memanasinya.
Hingga akhirnya, dia melihat Mario beranjak dari tempatnya semula berjalan menuju suatu tempat. Tanpa di ketahui Mario, Alex mengikutinya hingga senyum tipis terpatri di bibirnya ketika melihat arah tujuan Mario sebenarnya.
"Diam-diam aku termakan juga dengan omonganku. " Ucap Alex. Alex pun menuju tempat dimana tujuan awalnya setelah memastikan apa yang di lakukan Mario.
"Wah yang bener Lex, bagus dong kalau akhirnya dia peka dengan perasaannya. " Jawab Doni juga menyindir Mario.
Untung jarak mereka dengan petugas lain agak jauh, sehingga mereka bisa menyindir habis sahabatnya.
Mario yang disindir pun hanya bersikap biasa saja. Dengan tetap menampakkan wajah datarnya dan tak merasa terganggu dengan sindiran para sahabatnya, Mario kembali membantu bawahannya membersihkan bekas longsoran.
"Bused, tu wajah apa papan. Datar saja bentuknya. Di sindir pun nggak peka banget." Gerutu Alex yang bisa di dengar Doni dan Mario.
"Ngomong apa kamu, mau saya suruh sikap hormat? " Ucap Mario garang, meskipun bercanda.
"Mulai deh sikap kuasanya keluar. " Balas Alex.
Doni yang mendengar hanya ketawa cekikian melihat sikap kedua sahabatnya.
*************
Ye... ye... I'm back. Di temani rintikan hujan yang deras, aku sempatin nulis buat kakak-kakak semua. semoga terhibur ya. Selamat siang dan selamat beraktivitas. 😇😇😇😇
Author mo pamit dulu diajakin bambang Mario ngopi. Pas dengan cuaca hari ini 🤣🤣🤣
__ADS_1