
Happy Reading...
πΏπΏπΏπΏ
" Shut... "Mario menempelkan jari telunjuknya ke bibir Aira.
" Dengerin mas, ini bukan salah adik. Tapi ini sudah takdir, mungkin putri kita Maira sudah tak sabar untuk melihat dunia. Maka ia memaksakan untuk lahir cepat. "Mario menenangkan istrinya yang merasa bersalah dengan kelahiran putrinya.
" Terima kasih mas. Hiks... hiks... "Airapun menangis bahagia di dekapan sang suami. Dia sangat bersyukur masih di beri keselamatan untuk melahirkan Maira. Masih terbayang di ingatannya bagaimana Jasmine dengan tega mendorong dirinya yang sedang ingin memberi bahan untuk membuat pudding hingga dia harus merasakan sakit pada perutnya. Untung ada om Agung yang melintas di sana tepat waktu, jika tidak dia tidak bisa membayangkan keadaannya saat ini. Masalah Jasmine, dia belum berani melaporkannya kepada sang suami. Alasan pertama karena dia masih merasa lemas dan sakit di bagian perutnya dan alasan kedua, dia tidak ingin membuat Mario naik pitam. (Padahal di belakang dia, ayah Irsyad sudah melakukan tindakan tegas untuk Jasmine dan Jordan).
"Mas, Aira boleh lihat putri kita? " Rengek Aira dengan mendongakkan wajahnya dari delapan Mario.
"Bentar, mas coba tanya suster dulu di luar ya. " Pamit Mario dengan mengelus lembut rambut Aira yang sudah tertutup hijab instan.
"Terimakasih mas. "
Ceklek...
Pintu ruangan Aira terbuka sebelum Mario keluar.
"Assalamu'alaikum kakak, alhamdulillah hiks... hiks. kakak sudah siuman. " Ucap bunda Salma setelah masuk ke ruangan Aira bersama sang suami. Beliau melihat sang putri sedang terduduk dengan menempel di headbed kasur perawatan. Beliau langsung berjalan cepat menuju ke ranjang Aira.
"Hiks.... Ya Allah. Maafin bunda ya kak, harusnya bunda bisa menjaga kakak. " Bunda Salma langsung memeluk Aira dengan menangis Beliau sangat mengkhawatirkan keadaan putri sambungnya ketika berada di meja operasi.
"Hiks... bunda jangan nangis dong. Kan kakak baik-baik saja. " Airapun ikut menitikkan air matanya melihat bunda nya menangis. Dia sangat bersyukur mempunyai bunda sambung seperti bunda Salma. Yang sama-sama menyayanginya seperti putri kandungnya sendiri.
"Bagaimana keadaan kakak? " Ayah Irsyad ikut bertanya tentang kondisi sang putri. Beliau juga ikut mendekat ke arah sang putri di seberang bunda Salma.
"Alhamdulillah ayah, kakak sudah baik. " Balas Aira dengan lembut.
"Terimakasih ya nak, udah memberikan cucu cantik kepada ayah dan bunda. Ayah masih tidak menyangka sekarang sudah menjadi seorang kakek. Dan Maira sangat cantik seperti kami. " Ucap ayah Irsyad kembali dengan berganti memeluk sang putri.
"Alhamdulillah ayah, kakak bahagia jika ayah dan bunda juga bahagia akan kelahiran putri kami. Tapi, sebelumnya maafin Aira yah, bun karena kecerobohan Aira, putri kami harus lahir tidak di waktunya. "
. "Kamu bicara apa nak, yang paling penting buat kami itu adalah keselamatan kakak dan Maira. Kami sangat khawatir ketika mengetahui keadaan kakak. " Bunda Salma pun menjawabnya.
"Pasti mama dan papa juga akan bahagia melihat cucu mereka lahir seperti ayah dan bunda. " Ucap Mario dalam hatinya dengan menitikkan air mata bahagia ketika melihat kedua mertuanya sangat berbahagia melihat kelahiran putrinya.
"Bund, yah saya mau ke luar sebentar untuk meminta izin suster membawa Maira kesini. " Pamit Mario yang masih berdiri di sana melihat kedua mertuanya sedang memeluk sang istri.
"Oh ya Yo, tadi ayah dan bunda sudah melihat Maira di ruangan Inkubator. Semoga sudah bisa di ajak kesini agar mamanya tahu bagaimana wajah putrinya. " Balas ayah Irsyad.
__ADS_1
"Baik yah. " Jawab Mario kembali. Mario pun segera keluar dari ruangan Aira.
Tak berselang lama, Mario pun masuk kedalam ruangan Aira dengan menggendong sang putri dengan di ikuti salah satu suster.
"Assalamu'alaikum mama. Maira udah kuat loh seperti mama. " Ucap Mario dengan menirukan suara anak kecil.
"Putri ku. " Ucap Aira lembut dengan memberikan kode kepada sang suami untuk membawa sang putri ke sampingnya. Dengan bantuan bunda Salma dan perawat, Maira sudah berada di dekapan Aira.
"Kita lakukan IMD dulu ya dokter Aira, untuk melatih pendekatan dokter Aira dengan si cantik " Ucap suster tersebut.
"Baik Sus. " Balas Aira dengan lembut.
Maira pun di taruh di atas d***Aira agar Maira bisa mencari sendiri dimana letak tempat menampung asupan makanan untuk dia. Dengan perlahan, Maira pun dengan isntingnya langsung mencari keberadaan p***** sang mama. Mariopun dengan takjub melihat usaha sang putri. Sedangkan ayah Irsyad duduk di sofa karena dia tidak ingin melihat sang putri malu. Meskipun dia putrinya, tapi sekarang dia sudah dewasa.
"Wah putrinya pinter ya dok, dengan cepat bisa mencari letak pabrik makanan untuk dia. Dan alhamdulillah juga asi dokter sudah keluar cepat. " Puji sang suster kepada Maira.
"Alhamdulillah Sus. " Jawab Aira dengan tersenyum bahagia. Meskipun awalnya dia meringis ketika sang putri menyedot p*** d******, tapi itu tidak mengurangi rasa bahagian di hatinya.
"Wah anak papa rakus juga ya minum asinya. Sehat-sehat ya Maira sayang. " Mariopun memuji sang putri. Dia pun ikut mendekat ke ranjang Aira.
"Iya dong, cucu nenek harus kuat nyusunya biar cepat besar ya sayang. " Bunda Salma jiga ikut menimpali.
Merekapun sangat berbahagia melihat pemandangan ini. Akhirnya anggota keluarga merekapun bertambah dengan kehadiran Maira di tengah-tengah keluarga. Untuk budhe Retno, Mario sudah mengabarinya. Dan beliau serta Raisha akan segera ke tempat Mario setelah mendengar kabar kelahiran Maira. Alex yang akan menjemput mereka.
"Mas nggak nyangka dek, akhirnya kita sudah menjadi orang tua. " Ucap Mario dengan ikut duduk di ranjang dengan posisi memeluk sang istri dari belakang.
"Iya mas, Aira tidak menyangka akhirnya Aira bisa menjadi seorang ibu. " Jawab Aira dengan menempel di dada sang suami. Sekarang hanya tinggal mereka berdua, sedangkan ayah Irsyad dan bunda Salma sedang izin pulang untuk mengabari Illa serta keluarga besar mereka. Beliau juga akan mengambil pakaian ganti Aira di asrama Mario.
"Semoga kedepannya keluarga kita selalu bahagia ya dek. " Harapan besar Mario.
"Amin mas. "
Tok.... tok... tok...
Pintu ruangan Aira pun di ketuk dari luar.
"Siapa itu mas? " Tanya Aira ketika mendengar pintu di ketuk.
"Nggak tau dek. Coba mas lihat dulu. " Jawab Mario dengan turun pelan-pelan dari ranjang istrinya.
Mariopun berjalan menuju ke pintu untuk membukanya.
__ADS_1
Ceklek...
"Selamat sore letnan Mario. " Sapa Jordan setelah pintu terbuka dengan penampilan sedikit berantakan tak seperti biasanya.
. "Selamat siang Dan, maaf Dan Jordan kok tahu istri saya di sini. " Mariopun menjawab dan kaget dengan kedatangan Jordan. Padahal selama ini Jordan tak akrab dengan dirinya berbeda dengan Dan Rahmat yang sudah Mario anggap sebagai kakaknya.
"Boleh saya masuk dulu? " Pinta Jordan.
"Silahkan Dan. " Mariopun memberikan izin agar Jordan bisa masuk menemui istrinya.
"Aira yang melihat Jordan datang menemuinya awalnya sangat kaget. Dia tahu siapa Jordan, jadi dia masih berfikir mengapa Jordan datang ke ruangannya.
"Selamat sore dokter Aira, sebelumnya selamat atas kelahiran anak dokter dan letnan Mario. " Ucap Jordan dan menjeda ucapannya dengan menghembuskan napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
"Dan saya, meminta maaf atas nama adik saya Jasmine karena sudah membuat dokter Aira seperti ini. " Ucap Jordan kembali dengan menundukkan kepalanya.
Deg....
Mariopun kaget mendengar perkataan Jordan.
"Maksud Dan Jordan apa? " Tanya Mario yang masih belum paham situasi ini.
Jordan pun mengerutkan dahinya setelah mendongakkan kepalanya karena kaget ternyata Mario belum tahu perbuatan Jasmine kepada Aira.
"Huh....... "
"Saya minta maaf sebesar-besarnya karena Jasminelah yang sudah membuat istri anda seperti ini. Saya tidak menyangka jika dia bisa berbuat senekat ini. " Akhirnya Jordanpun menjelaskan duduk perkaranya.
"Jadi, adik anda itu yang sudah membuat istri dan putri saya hampir meregang nyawa. " Mariopun menjadi emosi ketika mendengar fakta sebenarnya. Mariopun menarik kerah atasannya. Dia tidak peduli jika orang yang di depannya adalah atasannya. Ia sangat marah ketika tahu sebenarnya sang istri pendarahan karena di celakai oleh Jasmine.
"Mas, udah mas. Sabar jangan seperti ini. Jaga emosi mas. " Aira pun ikut bersuara mencoba mencegah agar tidak terjadi keributan. Dia hanya bisa duduk dengan menempel di headbed ranjang karena kondisinya tidak memungkinkan untuk turun dari ranjang.
Mario yang mendengar nasehat sang istri pun mulai sedikit mendinginkan pikirannya. Diapun melepaskan cengkraman kedua tangannya dari kerah baju Jordan.
"Maaf... " Jordanpun meminta maaf kembali dengan menundukkan kepalanya sebagai rasa penyesalan baginya.
"Maaf karena saya sudah gagal mendidik adik saya. "...
πΏπΏπΏπΏ
Mohon maaf kakak2, karena tiba-tiba idenya ngeblank jadi sedikit lama untuk up. Semoga kakak-kakak masih menunggu kelanjutannya.
__ADS_1
Oh ya aku baru nggeh ni dengan nama anak Aira dan Mario. Awalnya aku nggak hanya suka aja dengan nama Maira karena artinya yang bagus. Tapi setelah kesini aku baru nggeh loh, ternyata nama Maira bisa juga singkatan dari nama Mario dan Aira. π π π π