
Happy Reading...
****
"Bagi kami, kesholehan dan kejujuran yang utama untuk mendampingi putriku. Dan itu sudah saya lihat ke kamu." Balas Irsyad
"Dan untuk status kamu, itu tak masalah buat kami. "
"Bener nak, jika memang kamu serius dengan Aira, tolong bawa budhe dan adikmu ke sini. Ajak lah mereka 2 minggu lagi ketika acara ulang tahun Aira. Biarkan saat ini dia merasa jika ayahnya marah dengan dia, dan biarkan dia juga di kurung untuk sementara karena pada hari H kita akan memberikan surprise yang membahagiakan untuknya. " Ucap Salma kembali.
Aira Pove
Tahanan, itu lah istilah yang pas di sematkan untukku saat ini. Hanya di kamar, tanpa alat komunikasi dan tanpa ada orang yang menemani.
Kadang hanya bunda yang menghantarkan makanan dan sedikit berbicara denganku. Entah apa yang terjadi pada ayah hingga beliau bisa melakukan ini kepadaku. Gara-gara foto yang tak benar, tanpa mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya ayah tega membawaku paksa dari tugas muliaku di pengungsian. Tidak hanya itu, beliau juga sudah menyita alat komunikasi ku. Hingga aku tak bisa menghubungi dia lagi.
Entah bagaimana kabarnya saat ini, apakah dia makan teratur dan apakah dia melakukan cara untuk membuktikan kebenarannya? Entahlah. Aku hanya bisa meratapinya dengan tangisan setiap harinya. Hingga mungkin air mata ini sudah habis tuk di keluarkan.
Ayah, yang biasanya bijaksana berubah sekejab lebih garang kepadaku. Beliau yang tak pernah mengambil keputusan sepihak saja, kemarin dengan sepihak beliau mengancamku untuk ikut beliau pulang jika tak ingin aku kehilangan pekerjaanku.
Sedih, marah dan kecewa bercampur aduk dan berkecambuk di hatiku. Aku tak pernah melihat beliau seperti itu dan kemarin beliau tampak kecewa denganku.
Hampir usiaku yang seperempat abad ini, aku tak pernah membuat ayahku kecewa, tapi karena kesalah pahaman yang kemarin yang belum terbukti kebenaranya beliau sampai menyeretku pulang. Dan sampai sekarang ayah tak pernah mengajakku berbicara ataupun menjengukku ke kamar.
Aku hanya bisa pasrah, jika memang jalan cintaku dan mas Mario harus sampai di sini. Perjuangan yang telah aku lakukan, ternyata harus sia-sia. Mungkin ayah juga tak kan Menyetujui hubungan kami. Pasti ayah sudah mem blacklist nama mas Mario atau bisa saja ayah dengan kekuasaannya akan membuang mas Mario sesuka hatinya.
Itu yang aku takutkan. Semoga ayah tak akan sekejam itu. Ah entahlah, yang bisa aku lakukan saat ini adalah memasrahkan semuanya ke pada Sangat Pencipta. Dengan memunajatkan do'a dan memohon pertolongan Nya.
Pove End.
Aira bersimpuh di bentangan sajadah, memohon kepada Sang Khalik tuk bermurah sedikit kepadanya. Ia menangis memohon kepada Sang Pencipta.
Tok.... tok... tok...
"Tak, tolong buka pintunya dulu. " Pinta Salma kepada Sang putri sulung.
Aira yang mendengar suara Sang bunda pun menghapus air matanya segera dan membuka mukenanya sebelum membuka pintu kamarnya.
Ceklek....
Aira pun membuka pintunya.
"Ya bun." Jawab Aira dengan suara parau.
Salma pun melihat sendu wajah putrinya yang sembab. Ia merasa kasihan dengan keadaan putrinya saat ini, wajahnya cerianya yang selalu tampak di wajahnya ketika di rumah, saat ini berubah hanya wadah kesedihan yang tampak.
"Kak, ayo makan malam bersama. Tadi ayah meminta bunda untuk memanggil kakak. " Punya Salma.
"Tumben bun, biasanya ayah hanya membolehkan kakak makan di kamar. " Jawab Aira tak bersemangat.
"Entahlah nak. Mungkin ada yang ingin ayah bicarakan sama kamu. " Balas Salma kembali. Sebenarnya ia sudah tak tahan melihat putrinya seperti ini, tapi ia harus sabar karena sebentar lagi Sang putri akan mendapat kebahagiaan nya.
"Iya bun." Jawab Aira kembali.
"Bentar kakak mau ganti baju dulu. " Tambah Aira dengan lesu.
Salma pun tersenyum dan tidak lupa mengelus lembut rambut Aira dengan sayang. Seperti kebiasaannya dahulu.
"Bunda ke bawah dulu ya. " Pamit Salma.
Aira pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Salma pun kembali kebawah menuju ke ruang makan. Disana sudah ada suami dan putri bungsu nya. Sedangkan Adyan, dia sedang menjalankan pendidikan AKMIl. Dia mengikuti jejak ayahnya.
"Sudah bun? " Tanya Irsyad ketika istrinya sudah duduk di kursi samping dirinya.
. "Sudah yah, tapi ya gitu kakak tampak tak bersemangat. " Jawab Salma dengan sendu ketika mengingat wajah putrinya.
"Sabar bun, bentar lagi. Jangan sampai rasa simpati bunda membuat rencana yang sudah kita rencanakan dengan matang gagal total. " Ucap Irsyad kembali. Irsyad pun menenangkan kegundahan Sang istri dengan memegang tangannya.
"Iya, yah. Ayah benar kita harus bersabar dulu untuk kebaikan kakak. " Balas Salma dengan senyum tipis.
"Betul itu, harus. Masak rencana yang udah tersusun rapi harus gatot sich? " Shakila pun ikut menimpali dengan tersenyum. Gadis remaja yang sekarang sudah duduk di kelas 1 sekolah menengah atas itu pun ikut menimpali.
Shakila yang memang anaknya usil dan suka menjahili kakaknya, sangat senang ketika tahu jika kedua orang tuanya sedang mempunyai rencana untuk mengerjai Aira. Dengan semangat dia pun ikut berakting ikut marah terhadap Sang kakak.
"xixixixixi.... " Shakila tertawa karena membayangkan wajah melas Sang kakak.
"Kenapa dek, kok ketawa sendiri? " Tanya Salma yang membuyarkan lamunannya. Salma pun menggelengkan kepalanya karena menatap heran anak sulung nya. Entah nurun siapa dia karena sangat berbeda dengan kakak-kakaknya.
"Tu, anak bungsumu itu bun. Entah dulu kamu nyidam apa waktu hamil dia, bisa jadi kayak gitu. " Sindiran Irsyad kepada Shakila.
"Mana Illa tahu yah, kan yang buat ayah sama bunda. " Jawab Shakila dengan entengnya.
Kedua orang tuanya pun hanya menggeleng kan kepalanya.
Tap.. tap... tap
Bunyi sandal yang beradu dengan ceramik terdengar masuk ke meja makan. Obrolan antara orang tua dan putri bungsunya pun terdiam setelah kedatangan Sang putri sulung.
Dan mereka mulai memainkan peran yang sudah di rencanakan.
Tanpa berbicara, Aira pun duduk di sebelah kiri Irsyad, sedangkan Salma di sebelah kanannya. Dan Shakila berada di samping Salma.
"Kamu mo makan apa nak? " Tanya Salma yang tak lupa melayani Sang putri seperti biasanya.
"Ya sudah nak. " balas Salma dengan tersenyum tipis. Sedangkan Irsyad, dia hanya melirik sekilas Aira tanpa bertanya apapun. Inilah kali pertama Irsyad dan Aira tak bercengkrama. Biasanya, mereka akan saling bertukar pikiran maupun bercanda gurau di meja makan. Dan suasana meja makan akan ramai, apalagi jika di tambah Adyan di rumah. Tak seperti hari ini, meja makan tampak sunyi hanya terdengar dentingan suara sendok yang beradu dengan piring.
Aira mengambil sedikit nasi, sayur capcay dan udah crispi. Malam ini tampak Sang bunda memasakkan makanan kesukaannya. Tapi, bagi Aira menu ini tak dapat ia cerna dengan baik. Ia sedang tak bernafsu dengan makanan. Hanya karena ingat dengan kesehatan, ia tetap makan meskipun di paksakan.
"Makan yang banyak nak. " Pintar Salma kembali.
"Ini sudah cukup bun. " Jawab Aira dengan senyum yang di paksakan.
"Ya udah kalau nggak mau dimakan, mending Illa habiskan saja. Masak masakan bunda yang enak harus di lewatkan. " Sindiran Shakila dengan masih fokus dengan makanannya.
"Ehem.... " Irsyad berdehem sebentar.
"Setelah selesai makan, temui ayah di ruang keluarga " Ucap Irsyad tegas tanpa menoleh ke Aira. Irsyad pun langsung berlalu tanpa mendengar jawaban dari Aira.
"Huh..... " Aira pun menahan sesak di dadanya. Ia pun menundukkan kepalanya dan menyelehkan sendok beserta garpu di piring.
Salma pun berdiri dan berjalan menghampiri Sang putri sulungnya.
"Sabar ya nak. " Salma pun menguatkan Sang putri dengan menepuk lembut lengan Aira.
Aira pun mendongakkan kepalanya dan memganggukkan kepalanya.
"Iya bun. Terimakasih. " Jawab Aira dengan tersenyum tipis.
"Aira menghampiri ayah dulu bun. " Pamit Aira.
"Iya kak, sebentar lagi ibu nyusul kesana. " Balas Salma.
__ADS_1
Aira pun berjalan meninggalkan ruang makan untuk menuju ruang keluarga dimana Sang ayah berada.
"Bun, adik boleh ikut kesana? " Pintar Shakila yang penasaran.
"Hush, udah sana masuk kamar dan selesaikan PR mu. " Tolak Salma.
"Yah bun. Bentar aja deh, please? " Tawar Shakila dengan memelas.
"Masuk ke dalam atau uang sakumu bunda potong 50 persen. " Ancam Salma.
"Yah, bunda nggak asyik. " Gerutu Shakila dengan wajah cemberut.
. Dengan terpaksa, Shakila pun masuk ke dalam kamarnya.
Salma hanya menggelengkan kepalanya.
**
"Duduk... " Pinta Irsyad kepada Aira.
"Baik yah" Jawab Aira dengan suara lirih. Aira pun mendudukkan tubuhnya di sofa.
Tak berselang lama, Salma pun datang menghampiri mereka berdua dan ikut duduk di samping Sang putri.
"Ada yang ingin ayah bicarakan dengan mu. " Ucap Irsyad memulai pembicaraannya.
"Apa yang ingin ayah bicarakan kepada Aira? "
"Minggu depan akan ada seseorang yang datang ke sini beserta keluarga nya untuk melamarmu, ayah harap kamu tak mengecewakan dan mencemarkan nana baik ayah kembali. " Jelas Irsyad tanpa basa-basi.
Deg.....
Jantung Aira seperti berhenti berdetak dan kepala Aira seperti di hantam palu besar.
"Mak.... sud a. yah a... pa? " Tanya Aira dengan terbata karena menahan sesak di dadanya.
"Iya, minggu depan ada anak dari sahabat ayah yang ingin melamarmu, ayah harap kamu siap-siap untuk acara ini. " Jelas Irsyad kembali dengan wajah datarnya.
"Kenapa? "
"Kenapa ayah tega kepada Aira. Kenapa yah."Teriak Aira dengan menangis. Sudah tak bisa air matanya di bendung.
" Tega? " Tanya Irsyad dengan menekan.
"Iya, kenapa ayah tega dengan Aira. Kenapa ayah tak mau mendengarkan penjelasan Aira tentang foto tersebut hingga ayah mengurung Aira hampir 3 minggu ini. Dan ayah sekarang dengan teganya ingin menjodohkan Aira dengan laki-laki yang tak pernah Aira kenal. " Ucap Aira kembali dengan terisak.
"Ayah adalah orang tuamu, jadi ayah berhak menentukan kebahagianmu. " Jawab Irsyad.
"Kebahagiaan? Kebahagiaan seperti apa maksud ayah? " Aira pun semakin berani mengutarakan isi hatinya yang sudah ia pendam beberapa hari ini. Rasanya sudah tak bisa ia pendam. Bagai gunung merapi, saat ini pun tiba-tiba meletus mengeluarkan laharnya.
"Tak ada bantahan, minggu depan kamu harus bersiap-siap, jika tidak jangan salahkan ayah untuk menggunakan jabatan ayah mengasingkan dan menunda pangkat laki-laki itu. Dan kamu tahu, karirnya akan hancur. " Ancam Irsyad. Irsyad pun meninggalkan ruang keluarga. Meninggalkan Aira yang menangis terisak.
"Sabar nak. Ikuti keinginan ayahmu pasti itu terbaik untuk mu. " Ucap Salma dengan memeluk Sang putri. Melihat Aira yang menangis terisak, membuat Salma ikut menitikkan air matanya.
"Kenapa bun, kenapa ayah jahat kepada Aira. Padahal Aira tak melakukan kesalahan yang di tuduhkan kepada Aira. " Isak tangis Aira dengan mengadu kepada bunda nya.
"Maafkan bunda nak, bunda harus ikut diam. "
****
Assalamu'alaikum, mohon maaf kemarin tidak up karena masih tak enak badan dan tidur lebih awal. Sebagai gantinya, malam ini up nya panjangan. Jadi tidak ada yang protes lagi masalah up ππ
__ADS_1
Semoga terhiburπππ