
Happy Reading.....
🌿🌿🌿🌿
Tak berselang lama, bankar yang berisi Aira di dorong beberapa perawat untuk di bawa ke ruang operasi. Aira sudah tampak memejamkan matanya. Mario dan om Agung pun mengikutinya setelah Mario menyelesaikan administrasi.
"Ya Allah tolong selamatkan istri dan anak saya. Jangan biarkan saya kehilangan mereka berdua. "Do'a Mario dalam hatinya. Tubuhnya luluh lantah sampai merosot ke bawah karena melihat wanita yang ia cintai berjuang dalam hidup dan matinya untuk melahirkan sang buah hati.
" Tenang Dan. Dan Mario harus tenang dan sabar, ibu adalah wanita yang kuat pasti beliau bisa melewati ini semua. " Ucap bang Agung yang menghibur atasannya.
"Mengapa bisa begini bang, tadi pagi istri saya masih baik-baik saja ketika saya pamit untuk bertugas, tapi belum saya tinggal 1 jam kenapa dia bisa jadi seperti ini. " Mariopun sampai menitikkan air matanya. Dia masih ingat bagaimana istrinya tadi pagi yang menemaninya untuk sarapan dan juga mengantarkan dia sampai depan rumah.
"Banyak berdo'a Dan. Pasti Allah akan selamatkan ibu dan anak Dan Mario. "
"Iya bang. Terima kasih sudah mengantarkan istri saya ke rumah sakit. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama istri saya, tapi terimakasih abang sudah menyelamatkan istri saya. " Ucap Mario dengan tulus. Saat ini mereka berdua sudah berasa di depan pintu ruang operasi. Lampu merah sudah hidup, itu bertanda jika operasi sedang berlangsung.
"Tadi saya dari depan Dan, dan saya mendengar ada orang yang meminta tolong di jalan dekat lapangan badminton. Akhirnya saya cari sumber suara dan melihat ada perempuan yang sudah terduduk di aspal dengan memegang perutnya. Jadi saya tidak tahu awal mula itu bisa terjadi. " Bang Agung pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi dengan Aira ketika ia menemukannya.
"Kok bisa bang, padahal tadi dia ada di rumah. " Mariopun kaget mendengar cerita bang Agung.
"Say.... " Ucapan Agung terhenti ketika suara handphone Mario berbunyi.
"Assalamu'alaikum yah. " Ucap salam Mario ketika mengangkat telpon dari ayah mertuanya. Dia tadi sampai lupa menghubungi kedua orang tua Aira karena hatinya yang sedang kalut. Yang hanya ada dalam pikirannya adalah keadaan sang istri.
"Walaikum salam. Sekarang kamu dimana? kenapa kamu tidak menghubungi ayah dan bunda jika istri kamu masuk rumah sakit. Apa kamu tidak menganggap saya sebagai mertuamu? " Ucap ayah Irsyad dari seberang dengan nada marah. Beliau sangat kecewa karena mendengar kabar tentang keadaan putrinya dari orang lain yaitu ajudannya yang di perintahkan bunda Salma untuk mengawasi Aira.
"Ma.... maafin Mario yah, bukan maksud Mario seperti itu, Mario baru tahu keadaan dek Aira baru saja jika bang Agung tak mengabari Rio. Ini tadi saya akan berangkat ke kota S, tapi di tengah jalan Rio dapat kabar ini sehingga pikiran Mario kalut yah. Tolong maafkan saya. " Ucap Mario dengan suara lirih.
"Yah tolong tenang, tidak hanya ayah saja yang kalut, Rio dan bunda juga ikut merasakannya yah. Sekarang tolong jangan saling salah-salahan, yang paling penting adalah keselamatan putri kita. " Dj dekat ayah Irsyad pun terdengar suara bunda Salma yang sedang menenangkan suaminya. Meskipun terdengar suara serak seperti menangis, tapi bunda Salma masih berfikiran jernih. Berbeda dengan ayah Irsyad, beliau kalut karena tidak ingin kehilangan sang putri seperti beliau kehilangan mama Aira, mama Aisyah.
"Sekarang Aira di rawat di mana? " Akhirnya ayah Irsyad pun merendahkan suaranya setelah mendengar nasehat sang istri.
"Di klinik ******** Yah, sekarang dek Aira berada di ruang operasi." Jelas Mario.
Setelah mengetahui dimana sang putri di rawat, Ayah Irsyad pun segera mematikan telponnya setelah mengucapkan salam. Sedangkan Mario, berdiri dengan harap-harap cemas menunggu kabar sang istri.
**
__ADS_1
"Yah, ayah harus sabar. Bunda yakin kakak pasti kuat mempertahankan buah hatinya. " Ucap bunda Salma lirih dengan mengusap lembut bahu sang suami. Beliau sedang berada di mobil menuju ke klinik yang di sebutkan Mario. Penampilan ayah Irsyad sama seperti Mario saat ini, bajunya sudah kusut dan wajahnya yang murung karena sedih mendengar kabar sang putri sulung.
Flashback
"As.... salamuakikum I..... bu. " Ucap bang Beno, salah satu ajudan ayah Irsyad yang bunda Salma minta untuk melindungi Aira. Tapi pagi ini tubuhnya gemetar dengan keringat dingin keluar dari tubuhnya karena dia lalai melindungi putri atasannya.
"Walaikum salam bang Beno, ada apa pagi-pagi menemui saya. " Jawab bunda Salma yang masih ramah kepada ajudan sang suami.
"Ma..... maaf ibu, karena keteledoran saya, mbak Aira se.... sekarang di bawa ke... ru... mah Sa.. kita. " Ucap bang Beno dengan terbata-bata ketika menjelaskan kejadian yang baru saja ia dengar. Karena tadi pagi ia di minta untuk mengantarkan istri dari komandannya selagi dia kembali ke asrama, malah membuat Aira harus mengalami kejadian ini. Dia belum sempat mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Diapun segera menuju ke rumah ayah Irsyad untuk memberi tahu kabar ini.
Deg......
"Maksud bang Beno apa? " Bunda Salma pun kaget mendengar kabar ini.
Bang Beno pun menceritakan apa yang terjadi dengan Aira hanya sebatas apa yang baru dia dengar saja.
Pyar....
Bunda Salma pun menjatuhkan piring dari genggaman tangan beliau ketika mendengar berita buruk yang menimpa anak sulung beliau.
Bang Beno pun menunduk karena merasa bersalah.
"Ada apa bun, kok ayah dengar suara piring pecah. " Ayah Irsyad yang mendengar suara piring pecah pun segera menuju ke dapur.
"Yah, hiks.... hiks.... kakak yah..... " Bunda Salma berjalan berhati-hati menuju ke arah suaminya. Beliau langsung menghambur ke pelukan ayah Irsyad.
. "Kenapa bunda nangis, ada apa? " Ayah Irsyad masih tidak mengerti mengapa sang istri menangis.
"Begini bapak...... " Bang Beno menceritakan kembali apa yang terjadi dengan Aira. Awalnya ayah Irsyad kaget dengan apa yang dilakukan sang istri di belakangnya. Dia tidak menyangka jika bunda Salma begitu sangat mencintai dan menyayangi putrinya Aira seperti anak yang lahir dari rahim beliau. Beliau pun memeluk erat sang istri untuk menenangkan.
Ayah Irsyad dan bunda Salma segera naik mobil untuk menuju ke klinik meskipun beliau belum tahu dimana putrinya di rawat. Beliau akan menelpon sang menantu untuk menanyakan dimana Aira dirawat. Sedangkan bang Beno, dia mendapat tugas dari ayah Irsyad untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Aira sebenarnya. Dia pun kembali ke asrama untuk menyelidiki apa yang terjadi.
Flash End.
Tak berselang lama, kedua orang pasangan paruh baya ini telah sampai di klinik yang Mario jelaskan. Mereka berdua segera berjalan menuju ke arah ruang operasi setelah bertanya kepada petugas administrasi.
Setelah sampai, mereka melihat penampilan sang menantu yang sangat kusut dengan tubuh melorot di lantai bersandar dengan dinding. Tampak Mario yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena frustasi.
__ADS_1
"Nak Rio. " Panggil bunda Salma.
Mario pun mendongakkan kepalanya.
"Ayah bunda. " Panggil Mario setelah berdiri. Dia pun segera menghampiri mertuanya. Tidak lupa dia menyalami dan mencium kedua tangan sang mertua.
"Sabar nak, bunda yakin kakak kuat. " Bunda Salmapun memberikan semangat untuk Mario meskipun hatinya juga sedang tak tenang.
. "Iya yah dan bunda. Maafkan Rio tidak menjaga dek Aira seperti amanat dari ayah dan bunda. "
"Sudah, ayah tidak marah sana kamu nak. Anak ayah pasti kuat. " Ayah Irsyad ikut mengeluarkan suaranya.
Tak berselang lama, lampu berubah hijau sebagai tanda operasi sudah selesai. Dokter Rahma dan satu orang suster keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana istri dan anak saya dok? " Tanya Mario yang sudah tak sabar mengetahui keadaan sang istri.
"Alhamdulillah bapak, operasi sudah berhasil dan dokter Aira bisa melahirkan putri bapak dengan keadaan selamat. Sekarang silahkan bapak masuk ke dalam untuk mengazani putri bapak. Dan untuk dokter Aira, beliau masih dalam pengaruh obat bius jadi masih belum sadar. Tapi nanti setelah obat bius habis, pasti beliau akan sadar. " Jawab dokter Rahma menjelaskan keadaan Aira.
"Alhamdulillah." Ucap syukur semua orang disana, tak terkecuali Mario yang sudah kembali menitikkan air matanya.
"Kamu masuk dulu nak, segera kumandangkan adzan untuk cucu kami. " Pinta ayah Irsyad dengan menepuk lembut bahu sang menantu.
"Baik ayah. " Jawab Mario dengan menganggukkan kepalanya. Dia pun masuk kedalam ruang operasi setelah mengganti bajunya dengan baju steril.
Ting......
Hp ayah Irsyad berbunyi. Ayah Irsyad pun segera mengambil HP di dalam saku celananya dan segera membukanya.
"Selamat siang komandan. Izin menyampaikan hasil investigasi saya, ternyata mbak Aira tidak terjatuh sendiri, tapi hasil CCTV yang sudah saya periksa mbak Aira di dorong oleh Jasmine adik dari Dan Jordan sehingga membuat mbak Aira pendarahan. " Isi pesan dari bang Beno. Dia memang ajudan yang bisa di andalkan. Baru berapa menit, dia sudah bisa menemukan pelaku yang sudah menyakiti putrinya.
Deg....
Wajah ayah Irsyad berubah garang dengan rahang mengeras menahan amarah di dadanya.
"Dasar perempuan iblis....... "
🌿🌿🌿🌿
__ADS_1