Cinta Monyetku

Cinta Monyetku
Foto???


__ADS_3

Happy Reading....


*********


"Ada hal yang ingin ayah tanyakan kepada kakak. " Ucap Irsyad dengan menampilkan wajah serius.


Deg.....


Aira merasakan aura ayahnya yang tak bersahabat. Jika sang ayah sudah menampakkan wajah seriusnya pasti akan ada hal penting atau masalah yang terjadi.


"Tentang apa yah.....? " Tanya Aira yang penasaran.


"Nanti ayah akan nemuin kamu setelah acara ini selesai. " Balas Irsyad tanpa ekspresi.


"Sekarang kamu kembali dulu bertugas, setelah selesai ayah hubungi kamu. " Tambah Irsyad untuk meminta putrinya kembali ke tenda kesehatan.


"Baik ayah, Aira ke sana dulu. " Pamit Aira dengan perasaan tak menentu. Masih ada rasa penasaran karena tak biasanya ayahnya bersikap seperti itu.


Apa ada perbuatan yang salah yang membuat ayahnya bersikap tak biasanya, Aira pun mengingat-ngingatnya. Tapi ia merasa tak pernah melakukannya.


Aira pun kembali ke tenda untuk melanjutkan tugasnya. Disana, sudah ada beberapa pasien yang sedang di tangani oleh dokter Nayla. Aira pun segera memakai Snelli nya untuk segera menangani pasien yang sudah menunggu.


Untuk sesaat, Aira bisa melupakan rasa penasaran dengan sedikit bercanda bersama pasien.


"Gimana Ai, tumben ayahmu manggil kamu dadakan. " Tanya Nayla yang tahu tak biasanya ayah dari sahabatnya memangil dadakan.


"Nggak tahu Nay, aku juga masih penasaran. Tadi ayah cuma bilang ada hal yang ingin beliau sampaikan. " Balas Aira yang kembali lusuh mengingat permintaan sang ayah.


"Mungkin memang ada hal penting yang ingin beliau sampaikan Ai, makanya beliau manggil kamu dadakan. " Ucap Nayla menenangkan.


"Jangan-jangan dokter Aira mo di jodohkan dok, kayak cerita di novel-novel yang aku baca. " Celetuk Jenni yang ikut menimpali.


"Hush, ngawur aja kamu suster Jenni. " Nayla pun memperingatkan.


"Ya maaf dok, itu cuma pendapat saya. " Balas Jenni yang merasa bersalah setelah melontarkan perkataan tersebut.


"Semoga saja tidak Sus. " Aira pun mengeluarkan suaranya. Ada rasa gundah juga dalam hatinya. Dia tidak bisa menerka apa yang akan di sampaikan ayahnya.


"Sabar, pasti ayah kamu nggak akan melakukan seperti itu. " Nayla menenangkan kembali Aira dengan menepuk pundaknya. Dia bisa melihat kegundahan yang sedang di rasakan Aira.


Aira pun menghela napas dalam-dalam sebelum menganggukkan kepalanya.


**


"Kak, ayah sudah selesai. Tolong temui ayah di tenda peralatan. " Irsyad mengirim pesan kepada Aira.


Aira yang membuka pesan ayahnya segera membalas sebelum menghampiri nya.


"Ya yah, ini kakak akan menuju kesana. " Balasan Aira.


Setelah pamit ke pada Jenni dan Nayla, Aira pun berjalan menuju tenda di mana sang ayah berada. Dengan rasa was-was, menahan detakan jantung yang berjalan cepat Aira tak lupa melafalkan do'a.


Lebih menegangkan Bertemu ayahnya dengan wajah serius dari pada mengikuti sidang skripsi.


"Bismillah, pasti nggak ada apa-apa. " Do'a Aira untuk mengurangi rasa tegangnya.


Dia pun merasa was-was jika apa yang di katakan Jenni menjadi kenyataan. Dia berharap itu tak menjadi nyata, setelah perjuangan nya untuk menemukan sahabat sekaligus calon imamnya baru saja bertemu dan apa jadinya jika dia mendapat kabar yang tak mengenakkan seperti itu.

__ADS_1


Tak berselang lama, Aira sampai di tenda yang ayahnya tunjuk. Di sana hanya ada sang ayah, sedangkan ajudannya menunggu di luar.


"Silahkan Nona Aira, sudah di tunggu bapak di dalam. " Ucap Bang Martin salah satu ajudan Irsyad.


"Baik, Terima kasih bang. " Aira pun menjawab dengan sopan.


Aira pun masuk dan ingin segera mengetahui maksud dari ayahnya.


"Assalamu'alaikum ayah. " Ucap Aira. Disana sudah ada Irsyad yang sedang duduk memainkan benda pipihnya di temani seseorang.


"Sepertinya saya kenal. " Batin Aira yang melihat sosok yang membelakangi nya yang sedang duduk menghadap sang ayah.


"Waalaikum salam. " Jawab Irsyad tanpa ekspresi.


Deg....


Jantung Aira pun berdetak kencang ketika melihat seseorang yang menengok ke belakang ke arahnya.


"Mas Mario, ada apa ini. " Batin Aira kembali yang semakin bingung dengan situasi ini.


"Duduk." Perintah Irsyad kepada sang putri.


Aira pun mengangguk dan segera mendudukkan dirinya di samping Irsyad. Sedangkan Mario masih tetap duduk dengan tenang. Padahal dia juga sangat gugup.


"Brek... " Suara benda yang di lempar Irsyad.


"Bisa kamu jelaskan dokter Aira? " Tanya Irsyad dengan wajah serius setelah melempar 2 buah foto di hadapan Aira dan Rio.


Aira pun kaget dan segera mengambil foto tersebut.


. Deg.....


"Ini nggak seperti yang ayah pikirkan. " Ucap Aira membela dirinya.


"Apa pantas seorang dokter yang sedang bertugas menjadi relawan malah asyik bermesraan dengan petugas lainnya, maksud kamu seperti itu? " Irsyad pun mengeluarkan suara tingginya.


"Izin Dan, saya bisa jelaskan. Ini tidak sesuai apa yang komandan lihat. Kami tidak melakukan hal yang keji yang bisa merusak nama baik kami. Kami hanya ngobrol biasa. " Mario pun ikut mengeluarkan suara.


. "Apa saya sudah meminta anda berbicara letnan Mario? " Balas Irsyad dengan teguran keras.


"Siap, salah Dan. " Balas Mario kembali dengan memberikan tanda hormat.


"Kamu sangat memalukan. Ayah dan bunda sudah mendidik kamu dengan norma-norma agama di rumah, malah kamu tidak terapkan. Dan tadi malam ayah malah mendapat kiriman gambar yang tak senonoh. Apa ini yang kamu lakukan di luar sana? "


"Hiks..... " Aira pun mulai terisak karena mendengar untuk pertama kalinya ayahnya tidak percaya padanya.


"Benar yah, kakak tidak melakukan seperti yang ayah pikirkan. kakak sama mas Rio hanya ngobrol biasa. " Jelas Aira.


"Rio? " Tanya Irsyad memastikan.


"Iya iya dia" Sambil menunjuk ke arah Rio. "Dia Rio teman kecil kakak dulu. Dia putra om Irfan dan tante Rosa. Yang kakak cari sejak dulu. "


"Apa buktinya jika dia Rio anaknya Irfan? " Gertak Irsyad kembali.


"Izin menyampaikan Dan, mungkin saat ini saya tidak membawa bukti kebenaran tentang saya, tapi saya akan segera menemui komandan untuk menunjukkan kebenarannya. " Ucap Mario.


"Dan maaf Dan, tolong jangan salah kan dokter Aira dengan masalah ini. Karena saya yang pertama kali mengajak dokter Aira bertemu. Jika harus di hukum biar saya saja. " Jawab Mario dengan mantap.

__ADS_1


Mario merasakan sakit di hatinya ketika melihat sang pujaan hati menangis seperti ini.


"Siapa yang sudah mengirimkan foto fitnah seperti ini? " Batin Mario menerka-nerka.


"Tahu apa kamu tentang putri saya, kamu hanya laki-laki yang ia temui di sini. Dan sekarang dia malah menjadi perempuan yang tidak bisa menjaga kehormatan nya setelah bertemu kamu. " Ucap Irsyad kembali.


"Ayah, tolong jangan berkata seperti itu. Ayah sudah kenal kakak dan tahu sifat kakak seperti apa. Mana mungkin kakak akan berbuat sesuatu yang akan merugikan ayah, bunda dan sekaligus kakak sendiri. Dan tolong percaya sama kakak jika foto itu adalah fitnah. " Jelas Aira kembali dengan suara parau.


"Ayah tidak mau dengar, sekarang juga kamu ikut ayah pulang. Tadi ayah sudah bilang sama dokter Anton jika kamu akan ikut ayah pulang hari ini." Irsyad pun tak mau mendengarkan penjelasan sang putri.


Jlep.....


Bagai petir yang di siang hari, Aira dan Mario saling pandang karena kaget dengan keputusan Irsyad.


"Yah tolong jangan gitu yah, Kakak masih ingin membantu di sini. Masih banyak pasien yang harus kakak tangani. " Rengek Aira.


"Izin Dan, jika memang perlu di salahkan biar saya saja. Tolong jangan hukum dokter Aira seperti ini. " Mario pun sangat bersalah kepada Aira. Dia tidak menyangka jika menemui Aira kemarin akan menjadi bencana untuk hubungan mereka.


"Kamu diam. Tidak usah ikut campur cara saya mendidik putri saya. "


Mario pun diam setelah Irsyad membentaknya.


Irsyad pun berdiri untuk meninggalkan tenda. Sebelum meninggalkan Aira dan Mario, Irsyad menoleh ke arah sang putri dan memberikan pilihan.


"Jika kamu masih ngotot tinggal disini, jangan harap kamu bisa bekerja kembali di rumah sakit. Ayah tunggu 10 menit untuk segera mengemasi barang-barang mu. " Keputusan Irsyad sepihak dan kemudian meninggalkan sang putri.


Aira pun menangis terisak mendengar keputusan sang ayah.


"Dek, dengarin mas. Mas akan cari bukti siapa yang ngirim foto fitnah itu. Dan mas akan mencari cara agar ayah adik percaya lagi sama adik. " Ucap Mario menenangkan Aira.


Aira pun tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa menangis dan menganggukkan kepalanya.


"Sekarang adek tenang dan untuk sementara ikuti kemauan ayah, agar ayah tidak tambah marah. " Tambah Mario kembali.


"Ta... pi mas, Ai... ra masih ingin disini. " Balas Aira dengan terisak.


"Adek sayang mas kan? " Tanya Mario.


Aira pun menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan Mario.


"Jika adik sayang Mas, Adik sekarang ikutin kemauan ayah adik. Mas berjanji nggak akan menyerah meskipun harus banyak rintangan yang mas hadapin untuk mempersunting adik. "


Tangis Aira pun pecah mendengar perkataan Mario. Ia tak menyangka, jika cobaan mereka belum berhenti di sini. setelah mereka di coba dengan susahnya mereka bertemu, sekarang mereka di coba dengan fitnah yang membuat ayah Aira marah besar.


"Udah, sekarang adik tenang. Hapus air mata adik. Dan segera beberes barang-barang adik biar ayah adik tidak marah lagi." Nasehat Mario.


Sama halnya dengan Aira, Mario juga merasakan kesedihan mendalam perpisahan dahulu hingga pertemuan yang baru beberapa hari harus kembali terpisahkan dengan fitnah seperti ini.


"Aku janji dek akan mencari kebenarannya. " Ucap Mario dalam hatinya.


Setelah Aira menghapus air matanya, Aira dan Mario segera meninggalkan tenda. Aira pun pamit kepada Mario untuk segera berkemas-kemas barangnya sebelum ia harus pulang bersama sang ayah.


******


Jeng.... jeng........


Kita buat konflik dikit ya, paling besok udah selesai. Biar ada greget2 nya dulu ya. hehehe.

__ADS_1


🤣🤣🤣


__ADS_2