
#Cara melihat ketulusan dan kejujuran dari seseorang adalah dengan menjauhinya agar ia tahu dan jujur dengan kata hatinya#.
Happy Reading.......
Setelah drama pingsannya Aira, hari ini Aira sudah tampak lebih segar dari kemarin. Dan sepeti biasa, Aira sudah siap untuk melayani para korban yang semakin hari semakin bertambah. Dokter Anton, selalu ketua tim mereka sudah memberikan nasehat kepada Aira agar beristirahat terlebih dahulu. Tapi karena kerasnya Aira yang tidak bisa diam, lebih memilih menjalankan tugasnya. Apalagi dia sangat senang bisa membantu sesama yang memang butuh bantuannya.
Aira berjalan menuju tenda dimana digunakan sebagai tempat untuk memeriksa pasien. Di sampingnya digunakan sebagai rumah sakit darurat yang di huni oleh pasien yang harus di rawat secara intensif.
"Selamat pagi dokter Aira. "Sapa Alex kepada Aira.
" Pagi bang. " Jawab Aira dengan tersenyum tipis.
"Aduh meleleh ini hati abang melihat senyuman manis dari dokter Aira. Rasanya manis gula pun kalah dengan senyuman dokter. " Gombal Alex dengan menaruh tangan kanannya ke depan dada.
"Gombalmu nggak mutu C**." Balas Doni dengan menonyor kepala Alek. "Ingat ada hati yang harus di jaga disana. wkwkkw. "Tambah Doni.
" Wah kamu nggak asyik Don, buka kartu aja. Ini baru berusaha, syukur-syukur dokter Aira menanggapinya biar nanti ada hati yang panas. " Sindir Alex dengan melirik ke arah Mario yang berdiri tak jauh dari mereka.
Sedangkan Aira hanya tersenyum tipis untuk menanggapinya.
"Wah bakalan seru tu kalau ada insiden panas-panasan. " Celetuk Doni menimpali.
"Disini nggak ada musim panas adanya cuma musim hujan. " Ucap Aira sambil terkekeh.
"Ya udah bang, saya kesana dulu soalnya sudah di tunggu. " Pamit Aira.
"Ditunggu siapa ini dok... cie... cie. Wah sepertinya ada yang akan terlambat menyatakan hatinya. " Tambah Alex menggoda Aira.
"Bang Alex bisa saja. "
Aira pun meninggalkan Doni dan Alex menuju tenda periksa tanpa menoleh ke arah Mario.
Mario merasa ada yang beda dengan Aira. Yang biasanya akan melihat ke arahnya meskipun sekilas tapi hari ini dia tak menoleh bahkan enggan bertemu dengannya.
"Mungkin cuma perasaanku saja. " Ucap Mario dalam hatinya. Mario pun kembali bertugas mengarahkan pasukannya untuk membantu membersihkan bekas banjir dan longsor.
Dengan ramah, Aira melayani pengungsi yang mengeluh dengan kesehatannya. Ada yang gatal-gatal, batuk ataupun yang lainnya. Dengan sabar dan telaten Aira mendengarkan keluh kesah para pengungsi.
Aira mengetahui jika sejak tadi dia diperhatikan oleh Mario. Tapi Aira bersikap cuek dan tak memperhatikannya.
"Aku mo lihat kejujuran mu, semoga dengan cara seperti ini kamu mau mengakui siapa dirimu sebenarnya." Ucap Aira dalam hatinya.
__ADS_1
"Dokter Aira ayo istirahat dulu. Sudah waktunya dokter makan siang apalagi keadaan dokter Aira kemarin tampak lemah. " Ajak Jenni.
"Terimakasih sus atas perhatiannya. Ayo kita makan dulu. " Jawab Aira dengan mengajak Jenni menuju dapur umum.
Sebelum sampai dapur, handphone Aira berdering tanda telepon masuk.
"Sus sebentar Handphone saya bunyi. " Aira berhenti sejenak untuk mengangkat handphone nya.
"Oh ya dok, saya tungguin. " Jawab Jenni dengan ramah.
Aira mengambil handphone disaku celananya dan melihat di layar siapa gerangan yang menghubungi nya. Dan tertera nama "Bunda" terpampang disana.
"Assalamu'alaikum Bunda. " Ucap salam Aira dengan ceria.
"*Waalaikum salam kakak." Jawab Salma di seberang.
"Kak, bunda dapat kabar jika kakak sakit apakah benar kak? " Tambah Salma yang mengkhawatirkan keadaan putri sulung nya*.
"Iya bunda, kemarin kakak sempat sedikit kurang enak badan karena kakak mendonorkan darah untuk ibu yang baru saja melahirkan. Tapi alhamdulillah sekarang kakak udah enakkan kok bunda. " Aira pun menjelaskan keadaannya kepada sang bunda. Dia sangat paham dan hafal jika mengetahui Aira sakit pasti bunda nya akan menyusul Aira. Meskipun usia Aira sudah 25 tahun, tapi Salma masih menganggap Aira sebagai putri kecilnya.
"Pokoknya kalau kakak sakit dan belum sembuh mending kakak pulang dari sana. Apalagi disana keadaannya seperti itu kak. Bunda khawatir sakit kakak nggak sembuh-sembuh. " Bujuk Salma.
"Ya sudah, pokoknya kalau bunda mendengar lagi kakak sakit bunda sendiri yang akan menjemput kakak di sana dan bunda bawa pulang kerumah. " Ancam Salma.
Jangan ditanyakan dari mana Salma tahu keadaan Aira, banyak anak buah Irsyad disana jadi wajar jika kabar Aira pingsan sampai ke telinga kedua orang tuanya.
"Siap bunda. Pasti kakak akan jaga kesehatan kakak lagi. "
"Ya sudah kalau begitu, bunda tutup dulu itu adikmu Ila udah teriak-teriak. Assalamu'alaikum kak. " Pamit Salma.
"Waalaikum salam bunda. Salam buat ayah dan adik-adik. Dan bunda dan ayah juga jaga kesehatan disana. " Nasehat Aira sebelum menutup telepon nya.
Setelah selesai, Aira memasukkan handphonenya ke saku celananya dan menghampiri Jenni yang menunggu Aira dengan duduk di bawah pohon mangga dekat pengungsian.
"Sudah dok? " Tanya Jenni.
"Sudah Sus, maaf ya menunggu lama." Pinta Salma.
"Siap dok. " Jawab Jenni.
Mereka berjalan kembali menuju dapur umum. Disana disediakan meja dan kursi untuk digunakan tempat makan bagi petugas maupun relawan.
__ADS_1
Aira dan Jenni mengambil makanan seadanya yang disediakan. Hanya menu nasi, sayur sop dan tempe untuk menu makan siang hari ini. Tak ada rasa sungkan untuk mereka yang hanya menyantap makanan seadanya beda dengan kebiasaan mereka ketika di rumah. Setelah mereka mengambil makanan dan air minum, mereka mencari tempat duduk untuk menyantap makanannya. Disana juga ada beberapa relawan dan petugas yang sedang menikmati makan siang serta sejenak beristirahat.
"Disana saja dok, itu tempat duduknya kosong. " Ajak Jenni dengan menunjuk arah dimana tempat duduk kosong.
"Iya, Sus. " Jawab Aira
Mereka pun berjalan menuju kursi yang kosong. Setelah mendudukkan badannya, mereka mulai menikmati makan siang mereka.
Tak berselang lama, Doni, Alex dan Mario muncul menghampiri mereka.
"Wah pucuk di cinta ulampun tiba. Rejeki nomplok ni bisa bertemu dokter Aira yang sedang makan siang. " Kebiasaan Alex menggoda Aira.
"Oh bang Alex dan bang Doni. Mau makan siang ya? " Jawab Aira. Dia hanya menyebut nama 2 orang saja padahal disana ada Mario.
"Kok kita saja yang disebut namanya dok, kan ada Dan Mario juga." Protes Doni.
"Oh ya maaf. selamat siang komandan. " Tambah Aira menyapa Mario dengan memaksakan senyuman tipis di bibirnya.
"Selamat siang dokter. " Balas Mario datar.
"Kita boleh gabung disini dok? " Tanya Alex.
"Silahkan, tapi maaf saya harus segera kembali karena tadi ada pasien yang menunggu saya. " Aira pun beralasan agar bisa segera pergi dari sana.
"Wah, sayang sekali padahal tadi saya sudah merasa senang bisa makan siang dengan dokter. " Ucap Alex yang menampakkan wajah kecewa. Padahal itu hanya akting belaka.
"Maaf bang Alex, kapan-kapan kita bisa makan siang bareng. " Jawab Aira.
"Kok Alex saja yang diajak, kita tidak ini dok? " Protes Doni.
"Heheh, maksudnya bang Doni dan Pak Mario juga. " Balas Aira dengan tersenyum.
Aira dan Jenni pun akhirnya pergi dari dapur umum tanpa menoleh kembali ke arah Mereka bertiga. Sebenarnya dia senang bisa bertemu dengan Mario, tapi untuk saat ini menjauhinya adalah jalan terbaik untuk dirinya.
"*Aku merasakan jika kamu menjauhiku. "
***************
__ADS_1