
Happy Reading
*****
"Maafin ayah nak, bukannya ayah tak percaya denganmu, tapi ayah ingin melihat kegigihan dia untuk mendapat restu dari kami. Dulu kamu sudah berjuang tanpa putus asa menemuinya, dan sekarang biarlah dia juga berjuang untuk mendapatkanmu. "
Didalam mobil, hanya ada keheningan. Tak ada suara yang menghiasi dalam mobil kecuali suara deru mesin dari mobil itu sendiri.
Aira, dia hanya diam membisu dan lebih melihat kearah jendela luar. Melihat pemandangan desa yang sedang porak-poranda karena di terjang banjir.
Di dalam diamnya, ia hanya bisa teriak di dalam hati tanpa bisa menyuarakannya. Irsyad hanya memandang sang putri dengan tatapan yang sulit di artikan. Sekali-kali dia akan menengok ke arah sang putri. Sebenarnya dia juga merasa sakit ketika harus memarahi sang putri, tapi biarkanlah untuk sesaat kondisi seperti ini.
"Maafin ayah nak, maafkan. Ayah tak bermaksud menyakiti mu. Aisyah, maafkan lah aku yang sudah melukai hati putri kita. " Ucap Irsyad dalam hatinya.
Mobil pun terus berjalan menjauh dari desa yang penuh kenangan untuk Aira. Disini, dia menemukan cintanya dan disini juga dia kembali bisa menjalin persahabatan dengan Nayla.
"*Selamat tinggal desa Sukajaya, Terimakasih karena disini aku bisa menemukan cintaku dan kembalinya sahabatku. " Batin Aira dengan meneteskan Air matanya.
Irsyad PoVe*
Malam itu, ketika aku sedang menyelesaikan pekerjaanku aku mendapat info jika esok pagi aku akan melakukan kunjungan bersama beberapa pejabat pusat maupun rekan-rekan ku di mana putriku ikut menjadi relawan. Bahagia, ia aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika aku bisa mengunjungi putriku yang sudah lama tak jumpa karena kesibukan dia maupun diriku.
Aku juga menyampaikan kabar ini kepada istriku. Dia sangat antusias dan merengek untuk ikut serta dalam kunjungan. Sama dengan diriku, diapun merasakan rindu yang terdalam terhadap putri sulung kami. Meskipun dia hanya ibu sambung untuk putri sulung ku, dia tak pernah membeda-bedakannya. Dia menganggap semua anak-anaknya sama seperti yang biasa lahirkan dari rahimnya.
Tapi karena, esok adalah kunjungan penting dan tak melibatkan istri-istri tuk mendampingi, akhirnya aku pun menolak permintaannya karena profesionalitas ku terhadap pekerjaanku. Hingga akhirnya dia pun menerima dengan syarat setelah kunjunganku, dia juga ingin mengunjungi putriku. Aku pun mensetujuinya.
__ADS_1
Tak berselang lama, anak buah ku menghadap kepadaku. Dengan rasa cemas, dia mulai berbicara kepadaku untuk menyampaikan kabar penting. Awalnya aku berfikir jika kabar itu berhubungan dengan masalah pekerjaan, tapi dengan takut dia menyodorkan handphonenya untuk menunjukkan foto yang ada di dalamnya.
Dia mendapat foto tersebut dari temannya yang juga menjadi relawan di tempat putriku bertugas. Kaget?, tentu sebagai ayah aku kaget dengan foto tersebut. Awalnya aku ingin marah dan langsung menuju lokasi untuk menghajar si laki-laki. Tapi istriku menahanku, dia memintaku untuk berfikir dingin. Dia juga meminta untuk mencermati foto tersebut dengan seksama.
Anak buah ku pun sangat ketakutan ketika melihat marahku. Tanpa berfikir panjang, aku meminta kepada anak buah ku untuk mencari tahu siapa laki-laki itu sebenarnya. Akhirnya diapun mencarikan informasi itu.
Tak berselang lama, dia pun mendapat informasi tentang si laki-laki. Kagetnya diriku ketika mengetahui siapa laki-laki yang sedang bersama putriku. Foto yang terlalu dekat, akan tampak jika mereka sedang melakukan hal-hal yang tak bermoral.
Lettu Mario Adhitama, nama yang familiar dengan ku. Wajahnya pun mengingatkan ku dengan seseorang yang tak akan pernah terlupakan. Aku pun meminta biodata lengkap tentang nya. Dan saat itu aku pun sangat lemas ketika tahu siapa laki-laki itu sebenarnya.
Mario Adhitama, ternyata putra dari almarhum sahabatku. Irfan dan Rosa. Putra pertama dan juga sahabat kecil putriku, yang selama ini di cari putriku. Entah itu kebetulan ataupun takdir dari Sang Kuasa, mereka pun di pertemukan ketika sama-sama melaksanakan tugas sosial.
Begitu bahagianya diriku mengetahui siapa laki-laki itu, yang sedang duduk dengan putriku. Untuk memastikannya, akupun kembali menatap foto tersebut. Dengan bantuan anak buah ku, foto tersebut di cetak agar bisa dengan jelas untuk memastikan apakah foto itu benar atau hanya fitnah belaka.
Anak buahku pun tak tinggal diam. Dia membantuku mencari tahu kebenarannya. Dia pun mendapat info kembali jika teman yang mengirim foto kepadanya merasa iri akan prestasi yang di miliki sahabat kecil putriku. Dan, akhirnya kami pun tak menanggapi terlalu dalam foto tersebut.
Tak berselang lama, aku pun punya ide untuk menguji putra sahabatku. Aku berpura-pura marah akan foto yang aku Terima dan meminta putriku untuk kembali ke rumah meninggalkan tugas mulianya di daerah bencana. Awalnya istriku tak menyetujui nya, tapi dengan perlahan aku jelaskan maksud aku sebenernya hingga dia mau ikut membantuku dalam sandiwara ini.
Meskipun aku tahu siapa orang yang menyebar fitnah, tapi aku ingin melihat kegigihan putra sahabatku untuk mencari tahu kebenaran tersebut. Dan aku pun ingin melihat kegigihannya untuk mendapat restu dari ku dan istriku. Apakah dia benar-benar mencintai putriku atau hanya untuk main belaka.
Pove End
Dengan menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, Irsyad dan Aira telah sampai di rumah dinas Irsyad. Seperti biasa, ajudan Irsyad akan membukakan pintu untuk Irsyad dan Aira.
Dengan tentunduk lesu, Aira pun menyeret kopernya yang sudah diturunkan si ajudan untuk bergegas masuk kedalam rumah tanpa menoleh ke arah sang ayah.
__ADS_1
Ia masih merasa kecewa karena ayahnya tak mempercayainya. Selama ini ia tak pernah melakukan sesuatu yang merugikan keluarga, tapi karena sebuah foto membuat sangat ayah marah dan tak mau mendengarkan kebenarannya.
"Assalamu'alaikum bunda. " Ucap Aira dengan suara lemah.
"Waalaikum salam kak. " Jawab Salma yang bangkit dari duduknya untuk menghamoiri sangat putri.
Sedih, itu yang ia rasakan ketika melihat putrinya sembab karena menangis dan wajahnya yang selalu ceria, hari ini tampak raut sedih di wajahnya. Ingin Rasanya ia mengucapkan jika sang ayah hanya tak bermaksud menyakitinya, tapi ia ingat janjinya kepada sang suami untuk tak mengatakan sebenarnya. Ia pun hanya bisa melihat kesedihan sang putri.
"Bun, kakak masuk ke kamar dulu. " Pamit Aira yang tak ingin berlama-lama di ruang tamu. Ia ingin sendiri terlebih dahulu.
"Iya nak, gi kamu masuk dulu istirahat. " Jawab Salma dengan berat hati.
Aira pun masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya.
Sedangkan Irsyad hanya menganggukkan kepalanya untuk memberikan tanda kepada sang istri untuk membiarkan sang putri sendiri terlebih dahulu.
"*Maafkan bunda nak, bunda hanya ingin melihatmu bahagia. ".....
****
Yeah, akhirnya terjawab* sudah ya siapa yang ngirim. Kebanyakan pada ngira jika yang ngirim adalah dokter Kevin. Tapi zonk ya 😅😅😅😅
Dan untuk yang menjawab rekan Irsyad yang melapor, author kasih jempol 2 karena tebakannya benar. 😇😇😇
Maaf karena ide ku seperti ini. Dan untuk dokter Kevin, disini aku nggak mau menggambarkan ia menjadi penjahat. ☺☺☺
__ADS_1