
Happy Reading....
**************
Raut bahagia terpancar dari wajah sang suami yang menggendong bayi mungil di dekapannya. Tidak lupa ia mengadzani putranya dengan sedikit isyakan kebahagiaan.
Sedangkan sang ibu, masih di dalam. Setelah dokter Anton, Aira dan Jenni menangani pasien yang sempat kritis dan memberikan rujukan untuk membawanya ke rumah sakit, Mario langsung meminta anak buahnya menyiapkan ambulan untuk membantu evakuasi pasien segera.
Saat ini, Dengan sedikit lemah Aira mengantarkan si ibu, suami dan bayi yang masih merah itu kedalam mobil ambulan. Dengan di papah Jenni Aira menghantarkan mereka sampai depan dimana ambulan yang sudah siap menghantarkan ke rumah sakit.
"Dokter Aira tampak pucat, mari saya bantu untuk kedalam agar dokter segera beristirahat. " Ucap Kevin kepada Aira setelah dia mendekat ke arah Aira. Jangan lupa ada Nayla yang selalu menempel pada Kevin.
"Tidak usah Dok, sudah ada suster Jenni yang membantu saya. Silahkan dokter Kevin melanjutkan untuk memeriksa para korban. " Tolak Aira halus. Meskipun dia merasa pusing dan badannya lemah, ia tetap menolak pertolongan dari Kevin karena Aira tak ingin ada masalah dengan Nayla.
Kevin pun hanya menganggukkan kepalanya. Meskipun ada raut kecewa tapi dia tidak bisa memaksa Aira.
"Suster Jenni, bisa bantu saya ke dalam. Saya ingin istirahat. " Pintar Aira.
"Baik Dok. " Jawab Jenni.
"Mari dokter Kevin, dokter Nayla. Kami permisi masuk dulu. " Pamit Aira.
Tidak lupa Aira melirik sekilas kearah depan dimana ada orang yang sejak tadi memperhatikannya dengan tatapan yang tajam dan datar.
Aira dan Jenni berputar dan mulai berjalan menuju basecamp dimana dia jadikan tempat tinggal sementara. Tapi baru beberapa langkah, Aira sudah tak kuat dan diapun ambruk kebawah karena Jenni yang tidak kuat menahannya.
"Ya Allah, Dokter Aira...... " Teriak suster Jenni dengan berusaha mengangkat Aira kembali. Tanpa reflek, Kevin mendekat ke arah Aira dan mengangkatnya menuju ke dalam.
"Dokter Aira tolong bangun. " Ucap Kevin setelah meletakkan Aira ke atas velbed.
"Suster Jenni, tolong carikan minyak kayu putih. " Pinta Kevin yang panik melihat keadaan Aira.
"Baik Dok. " Jawab Jenni yang segera berjalan cepat mencari minyak angin.
Mario yang melihat Aira tumbang pun mengikuti Kevin yang menggendong Aira. Hatinyapun bergemuruh melihat kejadian di depan matanya.
Panas, ya itu yang dirasakan Mario saat ini ketika melihat Aira berada di gendongan Kevin. Tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Dia hanya diam dan mengikuti Kevin di belakang. Setelah Kevin membaringkan Aira, dia melihat perhatian Kevin kepada Aira menambah rasa gemuruh di hatinya.
__ADS_1
Bohong, jika dia mampu menerima orang yang dicintainya mendapat perhatian dari laki-laki lain. Tapi apa daya, dia hanya diam dengan wajah datarnya.
"Ada apa ini? " Tanya Anton yang masuk bersama Jenni.
"Kemungkinan dokter Aira lemah dan tensinya sangat rendah sehingga dia pingsan. " Jawab Kevin.
"Iya dia tadi baru mendonorkan darahnya untuk ibu yang melahirkan tadi. Dan tadi banyak darah yang harus dia keluarkan pasti dia sangat lemah. Biar nanti saya beri vitamin dan obat penambah darah agar dia cepat pulih. Sekarang dokter Kevin dan Nayla kembali ke depan karena masih ada pasien korban longsor yang butuh penanganan. " Ucap Anton yang menyadari hawa panas setelah melihat ke arah Nayla. Tidak lupa dia juga memperhatikan kearah Mario. Meskipun tampak datar saja, tapi iya tahu ada yang tidak beres dengan Mario.
"Benar kata dokter Anton, banyak pasien yang menunggu kita. Kita juga disini bertujuan untuk menjadi relawan. Dan dokter Aira pasti tahu cara menangani dirinya sendiri.
Kevin menatap tajam ke arah Nayla.
Dengan lemah dan merasa tak enak, Kevin berpamitan kepada Anton untuk kembali ke tempat pemeriksaan. Dia tidak bisa menolak perintah dokter Anton yang menjadi ketua dari rombongan relawan dari rumah sakit dimana dia bertugas.
Diikuti Nayla yang berwajah cemberut, mereka meninggalkan tenda dimana Aira beristirahat. Entah sudah hilang rasa simpati Nayla kepada sahabatnya. Karena laki-laki, dia melupakan persahabatan mereka dan menganggap sahabatnya menjadi saingan dan musuh baginya.
Setelah Kevin dan Nayla menjauh, Anton mencoba berbicara dengan Mario.
"Saya tahu apa yang anda rasakan saat ini letnan. Ungkapkan lah apa yang perlu di ungkapkan sebelum anda menyesalinya. " Nasehat Anton kepada Mario. Di sana hanya ada Jenni, Anton dan Mario saja. Sehingga Anton berani memberikan nasehat kepada Mario.
"Anda bisa membohongi yang lainnya. Tapi anda tidak bisa membohongi hati anda. " Jawab Anton.
Tak berselang lama, Aira pun bangun setelah hidungnya di tempel minyak kayu putih.
"Huh....... " Erang Aira yang mulai sedikit membuka matanya.
Cahaya yang masuk ke matanya mulai memyilaukan matanya.
"Alhamdulillah, dokter Aira sudah bangun." Ucap syukur Jenni setelah melihat Aira sadar.
"Saya dimana Sus? " Tanya Aira yang masih bingung keberadaannya. Dia juga memegang kepalanya yang terasa berputar.
"Dokter ada di tenda. Tadi habis nganter ibu Ina, dokter pingsan. " Jawab Jenni.
__ADS_1
"Makasih Sus, tadi kepala saya pusing sekali. " Adu Aira.
"Sekarang dokter istirahat dulu biar cepat pulih. Atau dokter mau minum teh hangat? "
"Tidak Sus, air putih saja. "
Mario mengambilkan sebotol aq** dan dia sodorkan ke suster Jenni.
Aira melihat siapa yang mengambilkan air minum. Meskipun ada rasa bahagia karena Mario memperhatikan nya, dia berusaha bersikap biasa saja. dia hanya ingin melihat dan mendengar pengakuan Mario sendiri.
"Terimakasih." Ucap Aira singkat dan datar.
Mario hanya menganggukkan kepalanya.
"Suster Jenni, tolong jaga dokter Aira. Saya sudah membawakan vitamin dan penambah darah untuknya. Biar saya yang bantu petugas lainnya untuk memeriksa pasien. " Pamit Anton kepada sang pujaan hati.
"Baik dokter. Saya akan menjaga dokter Aira. Balas Jenni dengan tersenyum.
" Anda mau masih berada disini atau keluar? " Tanya Anton sedikit menyindir.
"Saya ikut keluar dok. " Jawab Mario singkat.
Anton pun hanya tersenyum.
Mario dan Anton keluar tenda untuk membiarkan Aira beristirahat.
"Sepertinya Letnan Mario ada rasa sama dokter. " Ucap Jenni setelah kedua pria tersebut keluar.
Aira pun mendongakkan kepalanya setelah mendengar pernyataan Jenni.
"Entahlah Sus, biarkan saja. " Balas Aira singkat karena dia merasa lemah dengan tubuhnya saat ini.
"Aku yakin kamu adalah Rio Ku. Kemarin kamu menyangkalnya, dan akupun akan bersikap biasa-biasa aja seperti dirimu. " Ucap Aira dalam hatinya.
Jenni membiarkan Aira untuk beristirahat. Sedangkan dia duduk di kursi plastik samping tempat tidur Aira.
__ADS_1
**Kesempatan tidak akan datang ke dua kalinya. Dan penyesalan akan didapat ketika kita memungkiri apa yang kita rasa. "
********