
Happy Reading.............
Mario Pov...
"Namaku Mario Adhitama, ya Mario Rosfan Adhitama. Setelah kepergian kedua orangtuaku, aku tidak pernah menggunakan nama tengahku kembali. Bukan karena ingin
melupakan kedua orangtuaku, tapi aku tak pantas menggunakannya. Seperti juga untuk mendekatinya, aku merasa tak pantas dan sebanding dengannya. Wanita cantik, anggun, cerdas dan berpendidikan tinggi. Tidak lupa dengan balutan baju
muslimah, menambah keayunannya.
Setelah kedua orangtuaku tiada, aku bukanlah Mario yang dulu. Mario yang ceria dan ramah dengan orang lain. Banyak kejadian yang menyakitkan yang harus aku alami bersama adik satu-satunya yang selamat dari kejadian mengenaskan tersebut,
Raisha Adelia Putri gadis remaja yang berjarak usia 9 tahun dariku dan saat ini
duduk di bangku terakhir Sekolah Menengah Atas di kota K dimana aku , adik dan
budheku tinggal. Ya, setelah kejadian itu keluarga ayahku mengusir aku dan
adikku. Mereka tidak mau mengurus kami. Untung ada kakak angkat ayahku. Seorang
janda tanpa anak yang sudah ditinggal suaminya meninggal, mengulurkan tangannya ketika kami terbuang tanpa belas kasihan. Dia adalah Tante Reni. Dengan
kegigihannya dan kerja kerasnya mampu menghidupi kami berdua meskipun hanya
bekerja serabutan dan berpindah dari satu kota ke kota lainnya untuk mencari
sesuap nasi. Dan aku, tidaklah berpangku tangan. Yang bisanya hidupku
berkecukupan ketika kedua orangtuaku masih ada, berbanding balik setelah beliau
tiada. Tidak ada baju bagus ataupun makan enak. Sekolahpun kami harus berpindah
di sekolah biasa. Meskipun demikian, aku bersyukur masih bisa mengenyam pendidikan.
Tiap hari aku harus menjadi loper koran dan membantu budhe untuk mengumpulkan sampah bekas sebagai biasa keseharianku. TIdak ada lagi canda tawa di keseharianku,
hanya ada sebuah kerja keras untuk bertahan hidup. selepas SMA, aku memberanikan diri untuk mendaftar ke AKMIL untuk melajutkan mimpi Papa. Ya, papa Irfan dan Mama Rosa adalah orang tua yang sangat luar biasa. Aku bangga terlahir dari mama Rosa yang baik dan papa Irfan yang lucu dan selalu membuat
keluargaku tertawa. mengingat mereka, membuatku terluka. Melihat adikku Raisha,
dengan waktu sebentar untuk bersama papa dan mama membuatku terpukul dan
bersalah. Dengan tekad kuat, aku mencoba mendaftar dan berusaha keras untuk
dapat diterima agar aku bisa membahagiakan budhe dan Raisha. Dan, alhamdulillah
kebahahagiaan itu ku dapat setelah melihat pengumuman juka diriku menjadi salah
satu Casis yang di terima. Ternyata Allah maha adil, di balik musibah yang Dia
beri, membentuk diriku menjadi orang yang kuat dan tekad kuat. Dan akhirnya aku
diterima. Meskipun tidak dengan nilai tertinggi, tapi aku masih bisa di terima
itu sudah menjadi kado terindah untuk budhe atas perjuangannya merawat kami.
AIra, ya gadis cantik yang selalu ada di hatiku tapi tak pantas untuk diriku yang hanya
seorang laki-laki yang tak sebanding dengan dia. Gadis cantik putri sulung dari
salah satu jendral atasanku, dengan pekerjaan dan title luar biasa membuatku
putus asa mendekatinya. Seorang dokter, yang awal pertemuannya membuatku kaget
dengan tatapan matanya kepadaku. Tatapan yang tak pernah lupa dari ingatanku.
Senyuman dan cemberutnya mengingatkanku di saat kami bermain bersama ketika
orang tua kami tinggal di asrama yang sama. Kejahilanku yang membuatnya
menangis dan ngambek, menjadi salah satu hiburan untuk diriku. Cemburuku yang
luar biasa di saat dirinya di dekati anak laki-laki lain juga kenangan yang tak
bisa aku lupa. Aira Khumaira Az-zahra, yang sat ini menjelma menjadi gadis cantik
__ADS_1
dan dokter muda yang sangat cerdas. Pasti banyak pemuda yang mendekatinya. Terkadang
cemburu itu masih menghinggapiku. Aku kira dia akan melupakanku dan tidak
mengingat mempunyai sahabat sepertiku. 11 tahun, ya 11 tahun kami tidak bertemu
banyak perubahan pada diriku dan Aira, tapi , dia masih ingat dengan diriku.
Akupun mengelaknya karena aku sadar siapakah diriku. Masih banyak lelaki yang
sebanding denganya untuk melindunginya. Bukan diriku yang tak punya apa-apa ini.
Sakit, ya itu satu kata yang aku rasakan ketika harus bersikap ketus kepadanya. Mengelak
jika diriku hanyalah Mario yang bukan bagian dari masalalunya. Cukup melihatnya
dari jauh, itu sudah mengobati kerinduanku terhadapnya. Dan entah hati ini
akankah bisa menerima……..
POV end……………..
“Dan, bengong saja. Kesambet wewe gombel lewat baru tau rasa nanti.” Ucap alex yang memukul lengan Mario untuk menyadarkannya.
“ Apaan, mau di suruh sikap hormat?” Ancam Mario yang sebenarnya untuk bercanda meskipun dengan wajah datarnya.
“ Ampun dan, siap salah.” Jawab Alex dengan menggabungkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda maaf. Alexpun duduk di samping Mario.
“Sok tahu.”Balas Mario dengan wajah datarnya.
“Hahahha, pasti lagi mikirin dokter Aira ka, “ Tebak Alex dengan mengacungkan jari
telunjuk kanannya ke arah Mario.
Mario mengerutkan keningnya, meskipun tebakan Alex benar. Mario mencoba mengelaknya.
Dia tidak mau orang lain tahu apa yang dia rasakan. CUkup biarlah dia yang merasakannya.
“Asal saja kalau bicara.” Elak Mario.
“ Hahahha… ketus banget jawabannya.” Ejek Alex.
Mereka berdua akan bertindak sebagai atasan dan bawahan jika bertugas, tapi akan
menjadi sahabat ketika seperti saat ini. Alex yang mampu memahami Mario membuat
dia bisa dekat denga Mario dan di tambah Doni. Jika sedang berdua ataupun
__ADS_1
bertiga, tak ada mana atasan dan bawahan. Mereka akan melebur menjadi satu tanpa
embel-embel apapun.
“Oh ya Dan, sepertinya ada tu saingan untuk deketin dokter Aira.” Alex mencoba mengompori Mario.
“Maksudnya?” Tanya Mario.
“Maksudnya ada tu rekan dokter yang kayaknya naksir gitu sama dokter Aira. Namanya dokter Kevin. Tiap hari pasti ngintilin saja tu dokter Aira. Sampai dokter Aira rishi di buatnya.” Jelas Mario.
“Ya wajar saja, dokter Aira kan memang cantik dan pintar. Pantas banyak yang naksir.” Jawab Mario dengan santai. Dan jangan lupa wajah datarnya.
“Beneran ni, kamu tidak cemburu gitu?”
“Untuk apa cemburu?”
“Ya mungkin saja kamu juga naksir gitu sama dia.”
“Siapa yang naksir?” Tanya Mario untuk mengelak.
“Ya kamu lah. Tak biasanya aku lihat kamu memandang wanita seperti itu. Hahahah.” Tambah Alex untuk mengejek Mario.
“Sok tahu.” Elak Mario.
“Ya udah, kalau kamu nggak mau menakuinya. Biar aku saja yang mendekatinya dan bersaing
dengan deokter Kevin.” Ucap Alex masih mengomporinya. Alex berjalan keluar
meninggalkan Mario.
“Kayak dokter Aira mau saja ma dirimu.” Jawab Mario dengan ketus yang masih di dengar Alex.
Dan Alexpun terkekeh mendengar jawaban tak terduga dari Mario. Sudah lama dia kenal dengan Mario, dia tahu bagaimana sikap Rio terhadap wanita.
"Aku tahu ada yang kamu sembunyikan Dan, semoga suatu saat kamu akan terbuka dengan semuanya." Ucap Alex dalam hatinya.
__ADS_1
###################