
Azizah mencari Intan di setiap lorong Sekolahnya, hingga sampai ke tempat kolam renang pun tidak ada.
"Dimana Intan, Ya Allah". Batin Azizah lelah karena sudah mencari ke semua tempat yang ada di sekolah.
Ada seorang siswi yang melihat kepanikan Azizah, ia merasa kasihan dan menghampiri nya.
" Kamu Azizah kan? Temannya Intan?". Ucap siswi itu.
Azizah mengangguk.
"Kamu jangan bilang siapa-siapa ya? Jika Intan di bawa kerumah sakit". Bisik siswi itu.
Jikalau Azizah bisa berbicara, ia pasti langsung berteriak panik dan melontarkan semua pertanyaan nya kepada siswi itu.
" Untung saja dia bisu, jadi dia tidak berteriak". Batin siswi lega saat hanya melihat wajah Azizah panik.
"Dimana? Dimana rumah sakitnya??". Isyarat tangan Azizah bertubi-tubi.
" Aku ga tau dia di bawa kerumah sakit mana, tetapi yang aku tau tadi dia di bawa oleh Reyhan". Bisik siswi itu.
"Reyhan?". Batin Azizah.
"Mungkin kau bisa mendapatkan informasi jika ke atap Sekolah". Bisik siswi itu dengan berlalu pergi meninggalkan Azizah yang kebingungan.
" Aku harus cepat!". Batin Azizah dengan berlari menaiki di setiap tangga, hingga sampailah ia di atap Sekolah.
"Hey, ada gadis bisu". Ucap Rifki yang menyadarkan Reyfano dan Rendi yang sedang sibuk memainkan hp.
" Dimana Intan?!". Isyarat tangan Azizah yang hanya di mengerti oleh Rendi.
"Apa yang dia isyaratkan?". Batin Reyfano.
" Apakah teman mu itu, meninggalkan mu?". Canda Rendi yang membuat Azizah takut.
"Hah?! Dia ngerti?". Batin Reyfano yang melihat drama mereka berdua sedangkan Rifki hanya sibuk dengan hp nya kembali dan tidak peduli.
" Cepat jawab! Dimana Intan?!". Isyarat tangan Azizah panik.
Rendi yang melihat kepanikan Azizah, menjadi lebih serius dalam bicara.
"Dimana temanmu yang bernama Reyhan?". Isyarat tangan Azizah.
" Dia pergi tadi". Ucap Rendi santai.
"Kemana?!". Isyarat tangan Azizah yang mulai kesal.
" Ga tau". Ucap Rendi kembali santai.
Satu persatu bulir-bulir air mata jatuh dari mata lentik Azizah mengenai pipi cuby nya.
"Astaga! Kenapa dia malah menangis?". Batin Rendi panik.
__ADS_1
" Ada apa Azizah?". Ucap Reyfano dengan melirik kearah Azizah yang menangis.
"Intann..." Isyarat tangan Azizah yang kembali tidak di mengerti oleh Reyfano.
"Aku telfon dia". Ucap Rendi dengan berdiri dan menjauh.
Ddrtt...
" Halo?". Ucap Reyhan.
"Kau dimana?". Ucap Rendi.
" Gue lagi di rumah sakit". Ucap Reyhan.
"Kau sakit?". Ucap Rendi.
" Tidak, temanku". Ucap Reyhan.
"Di rumah sakit mana?". Ucap Rendi.
" Di RS ****". Ucap Reyhan.
Tutt...
Setelah mendapatkan informasi, Rendi langsung menghampiri Azizah.
"Ayuk, kita pergi". Ucap Rendi dengan berlari menuju tangga.
Azizah mengangguk sembari berlari mengikuti Rendi di belakang.
"Kau, ikut atau tidak?!". Ucap Reyfano yang melihat Rifki masih sibuk dengan hp nya.
" Memang ada apa dengan mereka?". Ucap Rifki tanpa menoleh.
"Ck. Kau, cepatlah". Ucap Reyfano dengan merangkul tangannya di depan leher Rifki dan menyeretnya.
" Hei! Kau ingin membunuhku?!". Ucap Rifki marah.
"Sudahlah, diam!". Ucap Reyfano.
Sesampai nya Di RS ****.
" Hey!". Panggil Reyhan saat melihat mereka masuk ke dalam.
Mereka menoleh dan menghampiri Reyhan.
"Siapa yang terluka?". Ucap Rendi saat ia melihat di depannya adalah ruang operasi.
" Teman dia". Tunjuk Reyhan kepada Azizah.
"Astagfirullah! Berarti Intan berada di dalam?!". Batin Azizah terkejut dengan telapak tangannya menutup mulut.
__ADS_1
butiran bening kembali turun dengan deras dari mata sang empu yang sedang sedih.
" Kenapa hati ku sakit, saat melihatnya menangis?". Batin Rendi saat melihat Azizah.
Lampu bagian atas pintu operasi telah mati yang menandakan operasi telah selesai.
Seorang dokter wanita keluar dan menghampiri mereka.
"Dengan keluarga pasien Intan?". Ucap dokter Linda.
Azizah mengangguk.
" Operasi berjalan dengan lancar". Ucap dokter Linda.
"Alhamdulillah". Lega Reyhan.
" Setelah pasien di pindahkan ke ruangan biasa kalian boleh menjenguk nya satu persatu di karena kan tubuh pasien yang masih lemas akan membuat nya setres jika banyak orang yang mendatangi nya". Jelas dokter Linda.
Azizah mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi". Pamit dokter Linda.
Setelah melihat ranjang pasien dipindahkan ke ruangan biasa, Azizah seorang diri menjenguk nya kedalam.
"Intan..." Batin Azizah dengan berlari ke arah Intan yang sudah tersadar lalu memeluk nya dengan erat.
"Jangan dekat-dekat! Aku takut! Hikss...hikss..." Teriak Intan dengan mendorong kasar tubuh Azizah hingga membuat Azizah terjatuh di lantai.
"Hikss...hikss...Tolong jangan dekati aku!!". Teriak Intan dengan menutup mata dan menutupi kedua telinganya dengan tangan.
"Ada apa dengannya??". Batin Azizah khawatir dan mencoba kembali mendekati nya.
"Aakhh...cepat pergi!!". Teriak Intan dengan tubuh yang masih sangat lemah.
"Kamu kenapa?". Isyarat tangan Azizah.
"Cepat pergi! Dasar bisu!". Teriak Intan.
Slepp...
Bagaikan panah yang tertancap sempurna di hati Azizah setelah mendengarnya rasa nya tuh sakit.
"Ya Allah, semoga dia baik-baik saja". Batin Azizah dengan berjalan ke luar ruangan.
"Aakhh...sakit! " Lirih Intan yang merasakan semua tubuh nya sakit akibat pukulan dari geng girls beautiful.
Azizah keluar ruangan dengan air bening memenuhi sudut matanya.
"Ada apa?". Ucap Rendi khawatir.
Azizah tidak menjawab, ia hanya berlari ke arah ruangan dokter Linda.
__ADS_1
"Dok, apa yang terjadi dengan sahabat ku?". Isyarat tangan Azizah kepada dokter Linda yang telah ia kenal sejak pertama beliau menjadi dokter di rumah sakit milik keluarga nya ini.
"Begini Nona, sahabat Nona telah mengalami trauma mendalam kepada orang berbaju SMA/putih abu-abu. saat ia melihatnya, ia akan terus merasakan rasa sakit yang ia alami sekarang. Kondisi nya yang masih sangat lemah setelah operasi membutuhkan beberapa hari untuk mengetahui keadaan nya yang sudah membaik atau tidak". Jelas dokter Linda.