
"Dari Rendi?! Apa kamu bisa membela dirimu dari Rendi??" Ujar Kak Aldi yang membuat tangan Uswah seketika terdiam mematung.
"Umi!! Umi kenapa kak??" Isyarat tangan Uswah yang mengalihkan percakapan.
"Kamu dengar Ucapan kakak!" Kali ini, baru pertama kalinya ia mendengar kak Aldi berucap dengan nada tinggi kepada dirinya.
Uswah mengangguk.
"Tidak usah kamu pikirkan umi,,
Kamu juga yang pergi tanpa kabar yang membuat umi jatuh sakit!" Ujar kak Aldi seraya menutup kembali kamar Uswah.
Ceklek! Cek!
"Di kunci?? Apa aku akan dikurung lagi??" Batinnya lelah karena sudah berkali-kali nya ia dikurung oleh Rendi dan sekarang oleh kakaknya sendiri??
Uswah berjalan mendekati jendela kamarnya, dan dibawah ia melihat ada seorang dokter serta suster yang sedang berlari tergesa-gesa menuju pintu berwarna biru besar itu.
"Semoga Umi tidak apa-apa,," batinnya sedih.
"Dok! Bagaimana keadaan umi??" Tanya kak Aldi disebuah kamar dilantai tiga.
"Tidak apa-apa,, hanya butuh sedikit istirahat dan mengurangi pikiran negatif,," ujar dokter Linda.
"Alhamdulillah,," ujar Mba Lisa beserta Diana yang ada disana.
__ADS_1
Whiuu... Whiuu.. (suara ambulance)
"Ambulance??" Batin Uswah saat melihat ada sebuah ambulance yang sedang melaju keluar dari gerbang besar rumahnya.
"Apa jangan-jangan?!! Umi??!" Batinnya seraya berlari menuju pintu.
Krekk... Krekk...
Bughh..
Bughh..
"Buka!!" Teriak Uswah dalam hati dengan mendobrak pintu itu.
"Buka!! Hikss.." batinnya dengan menangis tanpa suara, ia terus mendobrak pintu kamarnya.
"Aakkhh..." Batinnya merasakan pundak nya sakit akibat mendobrak pintu.
"Umi,,, aku Rindu,, aku tidak siap kehilangan orang yang paling ku sayangi lagi..." Batin nya dengan menangis histeris meringkuk diatas lantai tanpa terdengar suara sedikit pun.
"Biarkan dia,," ujar Kak Aldi saat melihat Mba Lisa ingin membuka pintu kamar Uswah yang mendengar suara dobrakan.
"Hhm... Maafkan kami dek, kami tidak bermaksud membohongimu,, tetapi, ini agar bisa mengajari mu akibat dari perbuatan mu,," lirih Mba Lisa.
Flash black On.
__ADS_1
"Jalankan ambulance nya sekarang! Dan bawa kembali kerumah sakit!" Ujar Kak Aldi yang sudah menyiapkan ambulance di belakang rumah besar itu untuk kepentingan mendesak saja, namun ia mempunyai satu ide.
"Untuk apa sayang??" Tanya mba Lisa saat melihat para orang suruhan Aldi itu berlari dengan sigap menuju ambulance.
"Ini untuk mengajarinya sayang,," ujar Kak Aldi lembut dan dimengerti Mba Lisa jika kata 'nya' adalah Uswah.
Flash black Of.
Di lain tempat, tepat nya di sebuah kamar mewah milik seorang pria dewasa sedang terbaring di atas ranjang size besar nya dengan dahi depan nya ditutup oleh kapas akibat luka yang ia alami.
Ia secara perlahan, mulai tersadar dengan kepala nya terasa sakit serta pandang nya yang terlihat buram.
"Mengapa? mengapa semua nya buram?" Batin nya bertanya, yang terkejut saat melihat sekeliling terlihat buram semuanya.
Ceklek!
"Tuan Rendi," Ujar seorang pelayan pria, baru saja datang dengan membawa minuman segar yang dapat merileks kan tubuh.
"Mengapa buram?" Tanya nya lagi, saat melihat ada seseorang yang tadi nya berdiri di ambang pintu itu, kini sedang berjalan menghampiri nya dengan pandangan nya yang masih buram.
"Mata Anda, akan minus untuk sementara waktu," ujar pelayan tersebut setelah menaruh minuman di atas meja nakas, ia memakai 'kan kaca mata kepada Rendi.
"Minus? mengapa bisa begitu?" kejut nya tak percaya. lalu, setelah penglihatan nya kembali normal setelah pelayan itu memasangkan kaca mata. Ia berjalan menuruni ranjang menuju cermin depan lemari nya.
"Setelah tuan mengalami kecelakaan mobil, kata dokter, 'Ada saraf mata tuan yang terbentur sehingga mengakibatkan tuan untuk memakai kaca mata sementara waktu," jelas pelayan tersebut.
__ADS_1
"Tetapi..." Ujar Rendi, yang sedang berkacak pinggang di depan cermin.