
"Ck. Kau tidak ada takut-takut nya!". Gumam Rendi dengan kembali memukul tubuh Reno yang masih terduduk di motornya, akhirnya terjatuh ke tanah.
Buughh...
"Astaghfirullah!". Kejut Reno seraya melepas helm dan kembali terjadi nya perkelahian antara mereka.
*Bughh...
Brrukk*...
Selang beberapa menit, mata bagian kanan Rendi telah sempurna memar berwarna biru sedangkan Reno pada bagian mata kiri nya.
Tenaga mereka telah habis terkuras yang membuat tubuh mereka lemas.
"Sudah gue bilang kau akan tau akibat nya!". Teriak Rendi Dengan melayangkan satu tinju kearah Reno yang sama-sama ingin memukul nya.
Deg!
Tangan kedua nya terhenti, tepat dengan jarak yang sangat dekat hampir terkena kedua pipi Azizah.
"Azizah?". Batin kedua lelaki itu saat melihat Azizah berada di depan mereka dengan mata tertutup.
Setelah mengetahui tidak ada suara apapun, akhirnya Azizah memberanikan diri untuk membuka kedua matanya.
"Apa yang kalian lakukan?!". Isyarat tangan Azizah yang telah di mengerti oleh kedua lelaki itu.
Kedua lelaki itu tidak menghiraukan isyarat tangan Azizah memukul satu sama lain saat Azizah berjalan mundur.
*Buggh...
Buugh*...
Azizah memukul sekali perut kedua nya. Hingga, terjungkal ke tanah.
"Kalian seperti anak kecil saja!". Isyarat tangan Azizah dengan wajah kesal dan iba melihat salah satu mata mereka yang berwarna biru.
Rendi dan Reno hanya bisa terdiam membisu dan mengarahkan tatapan kosong nya ke tanah.
"Apa dia mengkhawatirkan ku?". Batin Rendi seraya menatap kedua bola mata Azizah yang mengarah kepada Reno.
"Ck! Ternyata dia hanya khawatir pada cowok sarung itu!". Batin Rendi seraya berdiri dan berjalan ke arah mobil nya.
"Apa dia baik-baik saja?". Batin Azizah saat melihat Rendi berjalan pelan.
Bbruuk...
Kedua lelaki itu kembali terjatuh dengan waktu bersamaan.
"Astagfirullah!". Batin Azizah saat melihat kedua nya yang tidak sadarkan diri.
Ada beberapa warga yang sedang lewat, melihat mereka yang seperti tertidur di tanah.
"Kenapa mereka tidak di situ?". Batin salah satu warga.
"Neng, mereka kenapa?". Ucap seorang pria paruh baya.
"Tolong mereka, pak". Isyarat tangan Azizah.
Semua warga disana mengernyitkan dahi nya.
"Seperti nya mereka abis berantem!". Kejut seorang warga saat melihat mata mereka membiru.
"Cepat kita bawa ke rumah sakit!". Ucap lainnya seraya menggendong tubuh Rendi dan Reno menuju mobil Rendi.
"Kunci mobil nya?". Ucap pria paruh baya.
"Coba di kantong lelaki berjaket coklat". Ujar lainnya yang di maksud adalah Rendi.
"Siapa yang bisa menyetir?". Ucap pria paruh baya setelah mendapatkan kunci itu.
Tidak ada yang menjawab, Azizah mengacungkan jari nya.
__ADS_1
"Antarkan mereka! Mereka teman mu kan??". Ucap pria paruh baya itu.
Azizah mengangguk dan segera mengambil kunci itu.
"Terimakasih, pak". Isyarat tangan Azizah.
ia segera mengendarai mobil menuju rumah sakit terdekat.
Setelah sampai di rumah sakit (tempat Intan di rawat).
Kedua lelaki itu langsung di tangani oleh dokter di dalam suatu ruangan.
"Bagaimana ini? Apa mereka baik-baik saja?". Batin Azizah khawatir seraya mengusapkan telapak tangannya.
Selang beberapa menit, dokter Linda keluar dari ruangan.
"Apa mereka baik-baik saja, dok?". Isyarat tangan Azizah.
"Mereka sudah baik-baik saja dan masih membutuhkan beberapa waktu agar mereka sadar kembali karena pengaruh obat yang kami berikan". Jelas dokter Linda.
"Baiklah, dok. Terimakasih". Isyarat tangan Azizah.
"Kalau begitu saya permisi, nona". Pamit Dokter Linda seraya berjalan keruangan lain.
"Bukankah ini juga ruangan Intan?". Batin Azizah saat melihat no ruangan yang sama saat ia menjenguk Intan.
"Lebih baik aku menjenguk juga". Batin Azizah seraya masuk kedalam ruangan yang ada empat ranjang pasien yang masing-masing tertutup oleh tirai.
"Mereka masih belum sadar". Batin Azizah saat melihat Rendi dan Reno tidur di tempat bersebelahan sedangkan Intan berada sebelah ranjang Reno yang tertutup tirai.
Srekk...
"Ternyata dia juga tidur". Batin Azizah saat melihat Intan tertidur lelap.
Ia keluar dari ruangan untuk membelikan makanan buat mereka.
Selang beberapa lama setelah Azizah keluar, Rendi tersadar.
"Ck. Dia masih selamat ternyata!". Batin Rendi seraya ingin bangun dari tidur nya.
"Aakkhh..." Rintih nya karena seluruh tubuhnya serta mata yang tertutup sebelah terasa sakit.
"Suara apa itu?". Batin Intan terbangun saat mendengarnya karena ia hanya tau jika di ruangan itu hanya ada seorang pasien wanita yang bersebelahan dengan kasurnya.
"Hm..." Gumam Reno seraya membuka secara perlahan matanya.
"Kau, sudah bangun!". Tajam Rendi yang tak berdaya di kasur nya.
"Kau, Masih hidup?!". Kesal Reno seraya menatap tajam kepada Rendi.
"Cih! Kau kira gue akan mati hanya karena pukulan kecil mu itu?!". Kesal Rendi.
"Iya, bisa saja". Ucap Reno santai.
"Ck! Ternyata pukulan gue belum cukup membuat mu nyerah!". Gumam Rendi seraya kembali bangun dari kasurnya dan berjalan pelan menuju Reno walau dengan tubuh yang terasa sakit.
Bugh..
Rendi memukul pelan pipi kiri Reno karena tenaga nya yang telah habis.
"Aakh..." Rintih Reno karena pukulan Rendi tepat mengenai luka lebam pada wajahnya.
"Kau, kembali ke kasur mu!". Kesal Reno seraya mendorong pelan tubuh Rendi.
Rendi yang telah hilang tenaga hanya bisa terus memukul pelan Reno.
Terjadilah pukul-pukan kecil yang mereka lakukan satu sama lain dengan tubuh lemas.
"Kau, sangat mengganggu!". Kesal Reno.
"Jangan sampai ku membunuhmu! Jika kau tidak menjauh dari Azizah!". Ancam Rendi.
__ADS_1
"Suara nya seperti....". Batin Intan seraya membuka sedikit tirai di sampingnya.
"Jangan berisik!". Marah pasien wanita yang sedang tertidur.
"Suara apa itu??". Kejut kedua lelaki itu karena tidak tahu, jika ada orang lain di ruangan itu.
"Mereka kenapa bisa ada disini?". Batin Intan seraya kembali menutup tirai nya.
Ceklek!
Azizah masuk membawakan tiga bungkus bubur ayam.
"Kenapa dia berjalan-jalan?!". Batin Azizah khawatir, ia refleks langsung memapah tubuh lemas Rendi kembali ke kasur.
"Jangan berjalan dulu". Isyarat tangan Azizah.
"Baik". Ucap Rendi nurut.
"Cih! Anak kecil!". Gumam Reno seraya menatap tajam kepada Rendi.
"Biarin!". Ledek Rendi seraya menjulurkan lidah nya kearah Reno tanpa terlihat Azizah karena ia sedang sibuk menyiapkan makanan.
Azizah membagikan satu persatu bubur ayam kepada mereka.
"Mereka kenapa?". Tanya Intan saat Azizah memberikannya makanan.
"Berantem". Isyarat tangan Azizah.
"Be...rantem?". Ucap Intan karena ia hanya sedikit paham bahasa isyarat.
Azizah mengangguk.
"Kenapa mereka berantem?". Ucap Intan.
Azizah mengangkat kedua bahunya seraya tersenyum.
"Apa karena kamu?". Gumam Intan yang tidak di dengar oleh Azizah.
"Astagfirullah! Itu udah ada satu-satu". Kesal Reno karena Rendi mengambil makanan milik nya yang ada di meja dekat mereka.
"Kau, gausah makan! Biar mati saja!". Ucap santai Rendi seraya memakan habis makanan milik Reno.
"Huhh..." Reno mendengus kesal.
"Ada apa ini?". Isyarat tangan Azizah.
"Dia mengambil makanan milik ku". Kesal Reno.
Azizah menoleh kearah dua mangkok bubur yang telah habis terkuras tanpa tersisa.
"Kamu habiskan semuanya?". Isyarat tangan Azizah.
"Iya, hehehe...". Ujar Rendi cengengesan.
"Tunggu dulu, kenapa gue jadi seperti anak kecil di depannya??". Batin Rendi keheranan.
Ceklek!
Seorang perawat wanita datang membawakan makanan rumah sakit yang pasti nya hanya sebuah bubur tanpa rasa.
"Tuh! suster datang, kau makan itu saja!". Ketus Rendi seraya membenarkan tubuhnya untuk kembali tidur.
"Ck. ". Kesal Reno seraya menerima makanan itu dengan ramah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**ALHAMDULILLAH AKHIRNYA DI TERIMA KONTRAK😍
TERIMAKSIH TELAH MAMPIR😘
JANGAN LUPA TEKAN LIKE NYA...😊👇**
__ADS_1