
"Serly..." ucap seorang lelaki yang sedang mencari kucing nya.
"Serly.." ulang nya saat mencari kucing nya di dekat ruangan yang Azizah tempati.
"Tolong..." batin Azizah sedikit sadar dari pingsan.
Pukk... Dengan lemas ia memukul-mukul pintu itu.
"Suara apa itu?" batin lelaki itu seraya mendekati pintu ruangan gelap itu.
"Meong!"
Kucing bernama Serly datang menghampiri nya.
"Serly..dari mana saja kamu?" ucap lelaki itu seraya menggendong Serly pergi dari tempat itu.
"Meong!" Serly melompat turun dan berjalan kearah depan pintu ruangan itu.
"Meong!" Serly terus menerus mengeong di depan pintu itu.
"Ada apa?" tanya lelaki itu.
Tok..Tokk.. Dengan sekuat tenaga Azizah mengetok pintu di dekatnya.
"Tolong..." batin Azizah saat merasakan kepalanya sakit akibat bayangan kejadian tragis itu kembali berputar di dalam otak nya.
"Ayah..hikss.." batin Azizah menangis tanpa suara.
Kreakk... "Apakah disini ada orang?" tanya lelaki itu setelah membuka pintu ruangan gelap itu.
"Ada orang?" batin Azizah kemudian mata nya kembali tertutup.
"Meong!" Serly mengeong di belakang pintu itu.
"Kenapa?" ucap lelaki itu seraya menghampiri nya.
"Azizah?" kejut Rendi saat menyalakan lampu senter hp nya.
"Bagaimana dia bisa disini?!" gumam Rendi seraya menggendong tubuh Azizah ke UKS.
"Kenapa sih, cewek bisu itu pingsan terus!! Dan di tolong cowok tampan seperti itu!" resah para siswi.
"Kenapa dia selalu pingsan??" batin Rendi khawatir seraya terus berlari menggendong Azizah.
Beberapa menit telah berlalu, Azizah perlahan-lahan membuka kedua matanya.
"Inii..." batin Azizah seraya menoleh sekeliling nya.
"Apakah sudah baikan?" ucap dokter Ridwan ramah.
Azizah mengangguk.
"Apakah kepala nya masih terasa sakit?" ucap dokter Ridwan.
Azizah mengangguk pelan.
"Sedikit," batin Azizah.
"Trauma nya jangan terlalu di ingat ya?" ucap Dokter Ridwan setelah mengetahui nya.
Azizah kembali mengangguk.
Ceklek!
Rendi datang membawakan sebotol minuman dan sebungkus makanan.
"Saya permisi dulu," pamit dokter Ridwan.
"Terimakasih, dok," ucap Rendi.
"Hah? Iya," jawab Dokter Ridwan sedikit terkejut karena pertama kali nya seorang konglomerat itu berterimakasih.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Rendi seraya memberikan yang ia bawa kepada Azizah.
"Sudah membaik, terimakasih," isyarat tangan Azizah kemudian mengambil makanan itu.
"Kenapa kau selalu pingsan?" tanya Rendi keheranan karena belum mengetahui trauma yang di alami oleh Azizah.
Azizah terdiam.
__ADS_1
"Jagalah kesehatanmu," nasehat Rendi.
"Kenapa jadi perhatian begini??" batin Azizah terheran-heran.
"Azizah!" di luar terdengar Viona yang sedang mencari Azizah.
"Viona?" batin Azizah terkejut saat mendengarnya.
"Temanmu mungkin mengkhawatir kanmu," ucap Rendi seraya membuka pintu UKS.
"Temanmu ada di UKS," ucap Rendi pelan saat berjalan di samping Viona.
"Di UKS? Bagaimana dia tau??" batin Viona heran seraya berjalan masuk ke dalam ruangan UKS.
"Azizah?!" kejut Viona saat melihat Azizah terduduk di sisi ranjang pasien.
"Kamu kenapa bisa ada disini?!" tanya Viona khawatir seraya menghampiri Azizah.
"Apakah Bianca dan geng nya yang melakukannya?!" marah Viona.
Azizah menggeleng pelan.
"Azizah! Apa kamu baik-baik saja?!" kejut Intan yang baru saja datang karena di beritahukan oleh Rendi.
Azizah tersenyum dan mengangguk.
"Aakh.." rintih Azizah di dalam hati karena lehernya terasa sedikit sakit akibat orang itu, dan telapak tangannya menyentuh lehernya yang tertutup hijab panjang.
"Apa leher mu baik-baik saja?" ucap Intan seraya mengecek nya dengan melipat sedikit kerudung Azizah.
"Ya Allah! Lehermu merah!" kejut Intan.
Azizah kembali menutupi nya dengan hijab.
"Apakah sakit?" tanya Intan khawatir.
"Hanya sedikit," isyarat tangan Azizah.
"Kita kembali ke kelas, 'yuk?" isyarat tangan Azizah menyembunyikan rasa sakit nya dengan berjalan kearah pintu.
"Biar kami bantu," ujar Viona dan Intan seraya memapah tubuh Azizah yang terlihat sedikit lemas.
"Kita gagal lagi!" gumam Bianca saat melihat Azizah baik-baik saja bersama temannya.
"Ternyata usaha kita tidak ada guna nya! Cih!" Gumam Bianca kesal seraya mencengkram kuat telapak tangannya.
"Semoga mereka tidak melakukan kejahatan lagi," batin Azizah saat melihat cengkraman telapak tangan Bianca.
"Bagaimana bisa! aku melakukannya kepada sahabat ku??" batin Viona saat menatap kepada Azizah dengan iba.
Flashblack On.
Di rumah Viona.
"Papah dengar ada anak nya pemilik perusahaan DERLABA GROUP di sekolah mu. Apakah benar?" Tanya pak Cristian yang sedang duduk santai di kursi ruang tamu sembari minum kopi.
"I-iya, pah." jawab Viona berdiri gemetar.
"Papah punya perintah untuk mu," ujar pak Cristian.
"A-apa, pah?" tanya Viona.
"Bawa dia ke tempat seperti biasa! Namun, ingat! Jangan sampai di ketahui oleh orang lain!" tegas pak Cristian.
"Ta-tapi.. Pah!" Kejut Viona.
"Tidak ada bantahan!!" tegas pak Cristian yang menggema keseluruh ruangan seraya pergi menaiki tangga.
"Hikss..Hikss.. Nggak! Aku nggak mungkin melakukan itu kepada Azizah," lirih Viona dengan berlutut di depan kaki papah nya yang baru menaiki beberapa tangga.
"Ternyata namanya Azizah dan kamu dekat dengannya?" Ucap pak Cristian senang seraya menendang tubuh Viona.
Brruk...
"Aakhh..." Rintih Viona saat tubuhnya berguling-guling menuruni tangga.
"Pah! Aku mohon jangan!!" teriak Viona yang kembali berlutut di depan kaki papah nya.
"Kamu keras kepala!" marah pak Cristian seraya kembali menedang keras tubuh Viona hingga...
__ADS_1
Bbughh... Kepala nya mengenai tangga dengan darah yang keluar.
"Pah! Aku mohon jangan lakukan itu, hiks..." lirih Viona dengan menangis kemudian pingsan.
Ada seorang wanita cantik bak model sedang terdiam di balik tembok dan mendengar semua percakapan mereka.
"Aku harus membantu nya," Gumam nya seraya pergi ke suatu tempat.
"Menyusahkan saja!" gumam Pak Crintian saat melihat darah keluar dari kepala Viona.
"Pelayan!!" teriak pak Crintian yang membuat semua pelayan mendatangi nya.
"Ada apa tuan?" Ucap Seorang pelayan laki-laki.
"Astaga! Nona!" kejut para pelayan wanita.
"Cepat urus dia!" perintah pak Cristian seraya kembali berjalan menaiki tangga.
Para pelayan menggendong tubuh Viona dan membawa nya ke kamar milik nya, setelah itu satu pelayan memanggil dokter pribadi keluarga ALDINO.
Flashblack Of.
"Azizah, nanti aku akan mengantar kan mu pulang, 'ya?" tanya Viona.
"Iya, biar kamu baik-baik saja," ujar Intan.
Azizah menjawab dengan anggukan kepala.
Pulang sekolah....
"Dadah... Hati-hati di jalan!" teriak Viona saat melihat Intan menggoyahkan sepeda nya melewati gerbang seraya melambaikan tangannya.
"Iya! Tolong jaga Azizah, 'ya?!" jawab Intan dengan teriak karena jarak mereka yang sangat jauh.
"Iya! Sampai jumpa," jawab Viona.
"Azizah, 'Ayuk?" ajak Viona seraya mengulurkan tangannya saat melihat Azizah hanya diam di tempat berdiri nya.
"Hah?! I-iya," isyarat tangan Azizah menerima uluran tangannya dan berjalan di sebelahnya.
"Kenapa perasaan ku gak enak??" batin Azizah seraya menatap wajah Viona yang tersenyum gembira.
"Mungkin, 'kah?" batin Azizah.
"Kita mau kemana?" isyarat tangan Azizah setelah mereka telah masuk kedalam mobil dan ia melihat jalan yang berbeda.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," jawab Viona seraya menghentikan mobil nya di depan rumah tua yang sangat kecil dan jauh dari permukiman warga.
"Ini dimana?" isyarat tangan Azizah keheranan.
"Udah, ikut saja. Aku punya hadiah untuk mu," ucap Viona seraya turun dari mobil dan menggandeng tangan Azizah menuju rumah tua itu.
"Buat apa kita kesini?" isyarat tangan Azizah yang sudah memilik firasat buruk.
"Halo! Selamat datang, nona. Azizah kanaya putri anak pemilik perusahaan DERLABA GROUP." Ucap seorang lelaki yang baru saja keluar dari balik pintu rumah tua itu.
"Apa maksud nya?!" batin Azizah seraya memberontak dari pegangan Viona. Namun, Viona tidak melepaskannya melainkan mengencangkan pegangannya yang mengunci kedua tangan Azizah.
"Apa yang kamu lakukan?!" batin Azizah seraya menoleh kearah Viona yang terdapat senyuman kecil dari kedua sudut bibir nya.
Viona membawa Azizah seperti seorang polisi yang menangkap maling.
"Masuk!" tegas Viona karena saat mereka ingin masuk, Azizah menahannya dengan kaki di sisi pintu.
Bughh... "Masuk!" ucap Viona setelah memukul kaki Azizah yang sedang menahan nya masuk.
"Ada apa denganmu?" kedua bola mata Azizah bagaikan mengisyaratkan hal itu di tambah dengan bulir-bulir air mata turun secara perlahan mengenai pipi nya.
"Ini untuk kebaikanmu, Azizah," batin Viona sedih saat melihat Azizah menangis.
Brukk... Viona mendorong Azizah di lantai dengan kedua tangannya yang terkunci oleh borgol.
"Aakhh..." rintih Azizah dalam hati saat merasakan kaki nya sakit dan juga leher nya yang belum pulih sempurna.
"Akhirnya kita bertemu," ucap pak Cristian setelah melihat Azizah.
Azizah mengedarkan pandangan nya ke sekeliling dan ia melihat hanya ada tiga orang berbadan besar yang mengelilingi nya. Namun, kedua bola mata lentik nya masih dapat melihat Viona yang menangis di belakang tiga orang berbadan besar itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
**JANGAN LUPA TEKAN LIKE YA😘😍
TERIMAKSIH TELAH MAMPIR.😋😍**