
Di ufuk timur kunantikan datangmu
Kehangatan sinarmu dipagi itu
Menerpa cerah secerah harapanku
Menjalani liku hidup di masa ini
Rona suryamu kian elok
Namun kadang membuatku terbakar
Sengat panasmu sampai kulitku
Menoreh pilu umpama luka
Berharap penuh sinarmu hadir
Menghias pagi dan siang hari
Tanpa balas dan ikhlas
Tulus murni umpama kasih ibu
Sepanjang waktuku......
Seminggu kemudian...
DI SMA SERAJA 1 (PERPUSTAKAAN)
Beberapa hari dilewati dengan banyaknya tugas-tugas dari sekolah yang membuat mereka harus bekerja dengan sangat keras.
"Aku capek!" keluh Viona seraya mengelap keringat yang bercucuran di tepi rambutnya.
Brukk...
"Sama!" keluh Intan seraya menaruh semua buku di atas meja.
"Jangan ngeluh! kita harus semangat!!" isyarat tangan Azizah seraya kembali membaca buku.
"Eehh... Azizah, kok aku jadi ingat siswa yang memberi mu kertas bulan lalu," Ucap Intan.
Azizah yang masih fokus membaca, hanya menganggukan kepalanya.
"Emang siapa?" Tanya Viona penasaran.
"Siswa yang selalu memakai sarung itu," Ucap Intan.
"Ehh..Apakah dia suka sama Azizah?" Goda Viona.
Intan mengangkat kedua bahunya.
"Sudah! jangan bergosip!" isyarat tangan Azizah seraya kembali membaca buku.
"Nih! untukmu..." Ucap Rendi yang datang sendirian seraya memberikan sebotol minuman dingin kepada Azizah.
Azizah yang terkejut, hanya bisa diam menatap minuman dingin itu.
"Minumlah!" Ucap Rendi sedikit cuek seraya kembali pergi dari perpustakaan.
"Wahh.. ternyata si Rendi juga naksir sama Azizah.." bisik Viona kepada Intan.
"Iya, hahaha..." tawa mereka berdua pecah yang membuat Azizah kembali terkejut.
"Ada apa dengan kalian?" isyarat tangan Azizah.
"Tidak apa-apa, hehehe..." jawab mereka cengengesan.
"Ouh ya, Azizah. aku telah memutuskan untuk masuk kedalam agama Islam. bolehkah, kamu membantuku?" Ucap Viona.
"Alhamdulillah..."isyarat tangan Azizah seraya tersenyum.
"Baiklah, aku akan membantumu," isyarat tangan Azizah.
"Wahh..benarkah, Viona?" Tanya Intan gak nyangka.
"Iya, aku sudah yakin!" jawab Viona dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak terpaksa?" isyarat tangan Azizah.
"Tidak, itu kemauan ku sendiri," jawab Viona.
"Nanti ikutlah aku kemasjid," isyarat tangan Azizah.
"Baik!" jawab Viona senang.
DI MASJID AL-IKLAS.
Azizah membawa Viona untuk berhadapan dengan seorang ustadz yang sudah berumur disana.
"Assalamu'alaikum, ustadz," isyarat tangan Azizah dan di mengerti oleh pak Ustadz Yusuf yang ia kenal sejak Azizah kecil. karena sewaktu muda dulu pak ustadz Yusuf bekerja sebagai sopir pribadi ayahnya.
"Wa'alaikumussalam, Neng Azizah..." Ucap Pak Ustadz Yusuf gak nyangka.
"Sudah besar sekarang, ya?" Ucap Pak ustadz Yusuf seraya mengatupkan kedua tangannya.
"Iya, Ustadz. Dan ini teman saya," isyarat tangan Azizah seraya memperkenalkan Viona.
Pak ustadz Yusuf tersenyum kepada Viona.
"Namanya siapa Neng?" Tanya pak ustadz Yusuf.
"Viona, pak." jawab Viona sopan.
"Dia ingin masuk Islam," isyarat tangan Azizah kepada Ustadz Yusuf yang terlihat gak nyaman dengan cara berpakaian nya Viona yang kurang bahan.
"Kalau begitu, tolong ya neng. pakai mukena dulu," Ucap ustadz Yusuf seraya mempersiapkan nya.
Setelah Viona memakai pakaian tertutup, ia duduk di depan pak ustadz Yusuf.
"Apakah Anda tidak ada keterpaksaan?" Tanya pak ustadz Yusuf.
"Tidak ada!" jawab Viona tegas.
"Baiklah, mari kita mulai," Ucap Pak ustadz Yusuf seraya menuntun Viona secara pelan-pelan untuk mengucapkan dua syahadat.
"Assyadu 'alaailaha illahallah," Ucap Viona lancar setelah sebelumnya masih terbata-bata.
"Alhamdulillah, selamat kamu sekarang telah menjadi mu'alaf," jelas pak ustadz Yusuf.
"Alhamdulillah.." Batin Azizah senang yang terduduk di dekat Viona.
Malam harinya... Dirumah Viona.
Brangg...
"Apa kamu sudah gila?!!!" Marah pak Cristian seraya melemparkan vas bunga disana kearah Viona.
"Aakhh..." Rintih Viona saat merasakan tubuhnya terluka akibat vas bunga itu yang pecah setelah mengenai tubuh mungil nya.
"A-a..." Ucap Viona gugup.
"Kenapa kamu berpindah agama tanpa sepengetahuan papah?!!" Teriak pak Cristian menggema keseluruh ruangan, dan membuat semua pelayan nya ketakutan mendengarnya.
"Kamu harus di beri pelajaran!!" tegas pak Cristian seraya mendekati Viona.
Plakkk... Satu tamparan mengenai pipi kanan Viona hingga keluarlah darah segar dari sudut bibirnya.
"Aaaakkhh..." rintih Viona seraya menyentuh pipi kanan nya yang terasa perih.
"Papah telah salah untuk membebaskan mu bergaul, mulai detik ini! jangan dekati Azizah atau teman-temanmu itu!!" Ucap Pak Cristian kesal saat mengingat kak Aldi dapat kembali menarik semua saham yang ia miliki dan sekarang DERLABA GROUP Kembali menjadi milik keluarga pak Hamzah.
Plakk... Plaakk... kedua, dan ketiga tamparan keras terus mengenai pipi mulus nan putih Viona yang kini telah berubah memar membiru dan darah telah bercucuran dengan deras dari kedua sudut bibirnya.
"Pah! Hentikan!!!" teriak Kak Sintya yang baru saja keluar dari balik tembok seraya menghampiri mereka.
Satu tangan pak Cristian yang ingin kembali menampar Viona, akhirnya melemas.
"Apa yang papah lakukan pada anakmu?!" tegas kak Sintya yang kini telah berada di depan Viona sebagai pelindung.
"Kakak..." lirih Viona saat melihat kak Sintya berdiri tegak di depannya dengan badan yang lebih tinggi darinya.
"Dia harus di beri pelajaran!" jawab pak Cristian kesal seraya mengusap kasar wajahnya.
"Viona! Kamu masuk ke kamarmu!" tegas kak Sintya seraya menoleh kearah belakang.
__ADS_1
"Hiksss...Hikss.. kakak.." lirih Viona seraya berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Kak Sintya tersenyum melihat Viona yang telah hilang dari pandangannya.
"Pah... jangan terlalu keras padanya," Ucap Kak Sintya yang berusaha merujuk.
"Tapi, nak. Papah ingin yang terbaik untuk kalian..." jawab Pak Cristian yang kini kemarahan nya sedikit hilang.
"Dia masuk agama Islam tanpa persetujuan papah, nak." ulang pak Cristian.
"Iya, pah. tetapi itu sudah menjadi keputusannya. yang pasti sudah ia ketahui akibatnya," Ucap Kak Sintya.
"Papah telah capek! menghadapi sifat keras kepalanya!" Ucap Pak Cristian dengan terus mengusap kasar wajahnya.
"Dia sangat mirip dengan ibu, pah." jawab Kak Sintya yang membuat pak Cristian lemas.
"Iyaa.. dia sangat mirip dengannya, yang bodoh!" lirih pak Cristian sedih seraya menduduki tubuhnya di sofa berwarna emas.
"Mamah gak bo*oh, pah! Mamah hanya ingin kita bisa terus hidup dengan bahagia," jawab Kak Sintya seraya berjalan mendekati papahnya.
"Sudahlah, nak. kamu kembali lah ke kamarmu," Ucap Pak Cristian seraya menatap kedepan dengan tatapan kosong.
Kak Sintya tau jika papah nya membutuhkan waktu, untuk kembali berbicara. akhirnya ia memutuskan untuk menaiki tangga menuju kamar Viona.
"*Mamah gak bo*oh pah! mamah hanya ingin kita bisa terus hidup dengan bahagia,"
"Kata-kata itu... ternyata dia sudah dewasa, sayang," Batin pak Cristian saat kembali mengingat sang istri*.
Kreeakk...
"Hikkss...Hikss..." tangis Viona yang menenggelamkan wajahnya di bantal.
"Sudah..." Ucap Kak Sintya lembut seraya mengelus rambut Viona yang kini semakin panjang.
Saat merasakan kelembutan, Viona mengangkat wajahnya dan langsung memeluk kak Sintya.
"Kakakk... kenapa papah sekejam itu, hikss.." lirih Viona yang masih menangis tersedu-sedu didalam pelukannya.
"Itu untuk kebaikan mu, dek." jawab kak Sintya seraya melepaskan pelukannya dan langsung mengobati luka Viona dengan obat luka yang telah sedia di sana dari para pelayan.
...----------------...
***Keluarga selalu menjadi tempat pulang ternyaman. Harta yang paling berharga adalah keluarga. Begitulan cuplikan lirik yang menceritakan keluarga. Meskipun, di dalam keluarga sering sekali terjadi pertengkaran daj perselisihan. Tetapi, keluarga adalah tempat berlindung dari segala ancaman. Sejauh apapun kita melangkah, keluarga akan menjadi titik akhir dari perjalanan. Keluarga yang akan menjadi tempat untuk berkeluh kesah dari segala masalah.
Keluarga itu terdiri dari ayah, ibu dan anak. Di mana anak-anak terdiri dari kakak dan adik. Kakak adalah anak tertua di keluarga. Kakak pertama, kakak kedua, kakak ketiga ataupun kakak-kakak lainnya. Meskipun, kakak terlihat galak dan tegas, kakak menyayangi adik-adiknya. Terkadang kakak rela memberikan benda kesayangannya untuk adiknya.
Kakak dan adik sering kali diibaratkan seperti tom and jerry. Selalu bertengkar tetapi aslinya saling menyayangi.
...****************...
Aku mempunyai seorang kakak perempuan
Tak pernah seharipun tak mengomel
Selalu memberikan siraman rohani di pagi hari
Membuat hari-hari tak lagi sunyi
Kakak perempuan adalah manusia yang paling menyebalkan
Selalu mengatur dan memberikan perintah
Tak pernah mau sedikitpun mengalah
Padahal, jelas-jelas dia yang salah
Kakak perempuan selalu mengajak bertengkar
Hal ringan pun bisa menjadi bahan keributan
Selalu memancing kemarahan dan kemurkaan
Tak pernah sekalipun diam dengan tenang
Meskipun kakak perempuan adalah makhluk menyebalkan
Tetapi, dia adalah si paling penyayang
__ADS_1
Selalu memberikan perhatian
Tak pernah meninggalkan adik sendirian.